Saturday, October 31, 1998

Jurnalis Melawan "Teroris"

Di era reformasi, para insan pers justru harus berhadapan dengan para "teroris", yang mengancam akan melakukan tindakan kekerasan, bahkan siap membunuh.

JEMBER dan Banyuwangi di Jawa Timur bukanlah daerah bergolak seperti Bosnia-Herzegovina atau Lebanon Selatan. Tapi, bagi para jurnalis, risikonya sekarang sama saja. Sewaktu-waktu, jika lengah dan bernasib nahas, mereka bisa saja kehilangan nyawa. Itulah risiko profesi yang dihadapi para jurnalis sekarang.

Sesudah aksi pembantaian di Jawa Timur terhadap kiai Nahdlatul Ulama, aktivis Partai Persatuan Pembangunan, dan kalangan masyarakat kecil dengan tuduhan "dukun santet"-yang terkesan sistematis, terorganisasi rapi, dan dilakukan orang-orang terlatih kini giliran para jurnalis diteror dan diancam dibunuh.
Lebih buruk lagi, meski dengan latar belakang kasus yang berbeda-beda, aksi kekerasan terhadap jurnalis juga muncul di Ujungpandang, Manado, dan Tanjungbalai (Sumatra Utara).

Kelompok antireformasi pelaku pembantaian di Jawa Timur tampaknya mulai gerah dengan pemberitaan gencar media massa, yang mulai memojokkan dan membatasi ruang gerak niereka. Maka, dengan mengatasnamakan Alim Ulama Jember dan Rakyat Jember yang Cinta Damai, mereka menyebarkan selebaran yang menuduh pemberitaan media elektronik dan cetak "berlebihan" dan "hanya memuat yang negatif.

Lebih spesifik, selebaran yang ditempelkan di tempat-tempat umum sejak 19 Oktober itu menuduh, di belakang para wartawan itu terdapat sisa-sisa Partai Komunis Indonesia. Disebut juga sejumlah nama wartawan, yakni Eko (RCTI), Didik (Surya), Andung (Jawa Pos), dan dari Kompas (tidak disebut nama wartawannya). Selebaran yang berjudul "Imbauan kepada Masyarakat Jember" itu diakhiri dengan seruan seram: "Mari, wahai warga Jember, kita bunuh dan habisi penyiar kabarbohong (wartawan) yang ditulis di
atas!"

Kepada D&R, sejumlah wartawan Eko Suryono, Didik Masyhudi, Andung Kurniawan, dan Syamsul Hadi (Kompas) yang disebut dalam selebaran menyatakan keheranannya. Menurut mereka, berita yang mereka tulis masih biasa-biasa saja. "Dan, semua koran juga memberitakan, mengapa hanya nama tertentuyang disebut di selebaran," ujar Didik.

Didik tidak percaya selebaran itu dibuat alim ulama Jember. Bantahan juga sudah dinyatakan pimpinan Pondok Pesantren Darus Shalah di Jember, K.H. Yusuf Muhammad. Menurut tokoh yang biasa dipanggil Gus Yus itu, ada kelompok yang ingin mengadu domba wartawan dengan ulama.

Apa pun kasusnya, yang jelas, rumah Syamsul sempat didatangi dua orang tak dikenal, beberapa jam setelah "selebaran teroris" itu dipublikasikan. Untungnya, Syamsul sedang tak ada di rumah. Namun, setelah kejadian itu, Syamsul terpaksa mengungsi ke rumah orang tuanya.

Eko juga terpaksa tidur berpindah-pindah, terkadang di Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Pokoknya, kata Eko-yang menelepon dari penginapannya di Banyuwangi-ia harus bergerak terus. Pasalnya, meski Didik dan Andung merasa tidak ada masalah, Eko khawatir ancaman dalam selebaran itu betul-betul diwujudkan.

Jangan Menjelekkan Pemerintah

Para kuli tinta di Jember belum merasa perlu minta perlindungan aparat keamanan. Tapi, para wartawan di Surabaya sudah khawatir karena mereka juga diteror. Wartawan Tempo yang juga Pelaksana Harian Ketua Aliansi Jurnalis Independen Jawa Timur. Jalil Hakim, diancam lewat telepon oleh seseorang yang tak mau
menyebutkan namanya.

Retno dari Reuters Surabaya juga diancam lewat pemilik rumah kontrakannya. Seorang pria berpakaian rapi, berjas hijau tua. mengatakan kepada pemilik rumah: "Tolong katakan kepada dia (Retno), "Kamu mesti hati-hati, jangan menjelek-jelekkan pemerintah. Pokoknya, jangan macam-macam. Kalau tidak, habis nanti dia."

Karena berbagai teror itu, Komite Solidaritas untuk Keselamatan Wartawan (Kostrat) di Surabaya sudah meminta gubernur, Panglima Komando Daerah Militer V/Brawijaya, serta Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur memberi jaminan keamanan. Kostrat juga mengirim surat ke Serikat Penerbit Suratkabar dan pemilik media, agar memberi jaminan keselamatan kepada wartawannya. Misalnya, jika lebih aman memakai mobil dalam peliputan, ya, mobil itu harus disediakan.

Jalan menuju reformasi ternyata masih sangat panjang bagi kalangan pers Indonesia, apalagi kalau di sepanjang jalan banyak teroris menghadang. Bagi para jurnalis yang independen hanya ada satu kata: lawan!

Satrio Arismunandar/Laporan: Suma Atmaja (Jember) Abdul Manan (Surabaya), Patria Pombengi (Manado). Edrin Adriansyah (Medan)

D&R Edisi 981031-011/Hal. 74 Rubrik Media

Pers di Kibar Panji-Panji Partai

Sejumlah media corong partai terbit. Bos kelompok Jawa Pos, Dahlan Iskan, menjadi investornya.

PANJI-panji partai politik telah dikibarkan. Genderang perang sudah mulai terdengar. Wajar saja karena toh pemilihan umum berlangsung tahun depan. Banyak cara yang dilakukan para calon kontestan untuk sounding alias siar. Mulai dari memasang spanduk di mana-mana, mengiklankan diri di media massa, hingga mengadakan tablig akbar. Kini muncul modus baru: menerbitkan media massa.

Partai Amanat Rakyat (PAN) meluncurkan tabloid Amanat. Partai Demokrasi Indonesia (PDI)-Perjuangan menghadirkan tabloid Demokrat. Adapun Partai Kebangkitan Bangsa sedang membidani Duta Masyarakat. Partai-pautai lain kemungkinan besar bakal menyusul. Dengan demikian, bukan hanya koran Suara Karya (Golkar) lagi yang menjadi organ atau media yang diterbitkan partai.

Media is the power. Moto itu disadari betul oleh mereka yang menggagas partai baru, sebagai terobosan terhadap sistem politik Orde Baru. Untuk memperkenalkan partai serta programnya ke khalayak, mereka harus punya corong yang siap dipakai setiap saat. Terutama untuk membangun basis dukungan seluas-luasnya ditengah perpacuan dengan waktu. Seperti diketahui, rencananya, pemilihan umum nanti berlangsung sekitar Mei 1999.

Dengan adanya media sendiri, sebuah partai politik bisa menghemat biaya kampanye. Hal ini, menurut Harsono Suwardi, guru besar yang mengajar komunikasi politik di Program Pascasarjana Universitas Indonesia, akan meringankan beban partai, politik yang tak punya duit memadai padahal harus menjangkau semua pelosok negeri.

Selain lebih irit, partai politik juga bisa menyosiahsasi nilai-nilainya secara langsung. "Lewat organisasi masyarakat bisa tahu sikap partai yang sebenarnya. Tanpa bias, seperti yang terjadi kalau diberitakan pers umum," kata Sekretaris Jenderal PAN, Faisal Basri.

Bahwa partai menerbitkan media sendiri, memang benar bukan hal ganjil, termasuk di Indonesia. Jauh sebelum Golkar menerbitkan Suara Karya, pada zaman Demolaasi Liberal misalnya sudah ada Harian Rakyat (Partai Komunis Indonesia), Pedoman (Partai Sosialis Indonesia), Suluh Indonesia (Partai Nasional Indonesia), Abadi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), Bintang Timor (Partai Indonesia), atau Duta Masyarakat (Nahdlatul Ulama). Yang menarik sekarang, kemunculan media partai itu pada saat banjir bandang media massa nasional dan di tengah krisis parah ekonomi politik. Pertanyaannya: bagaimana prospek bisnis serta pembiayaan organ itu.

* Jawa Pos

Kalau melihat realitas bahwa yang menerbitkan organ itu adalah partai-partai besar, di atas kertas, pengelolanya tidak akan terlalu susah nanti. Sebab, sentimen partai bisa digunakan. Itulah keyakinan Nuah Torong, Pemimpin Redaksi Demokrat, tabloid bermoto "Yang penting serudukannya, Bung." "Demokrat adalah koran asli PDI-Megawati. Maka, simpatisan Mbak Mega lebih bagus membeli koran sendiri saja, bukan punya orang lain," katanya.

Amanat yang pemimpin redaksinya Amien Rais pun wajar optimistis. Juga Duta Masyarakat yang pemimpin umumnya Gus Dur dan pemimpin redaksinya Gus Mus (K.H. Mustofa Bisri). Amanat berbasis di Muhammadiyah, sedangkan Duta Masyarakat di Nahdlatul Ulama. Masing-masing organisasi Islam terbesar di Indonesia itu punya anggota puluhan juta jiwa. Sepuluh persen saja anggota ini yang melanggani terbitan tadi atau separonya .... Ya, kalau bisa.

Yang menarik dari organ yang sudah dan akan terbit ternyata didanai investor yang sama: Dahlan Iskan bos kelompok Jawa Pos, Surabaya. Bagaimana bisa?

Dahlan menyebut, keterlibatan Jawa Pos di Amanat, Duta Masyarakat, Demokrat dan beberapa organ yang akan terbit sekadar mengantarkan, sampai investor didapat kelak. Dahlan lebih suka disebut penyedia fasilitas dibanding investor. Karena, yang dia sediakan lebih merupakan peranti, seperti komputer dan percetakan. "Kami kan punya peralatan yang cukup banyak," ucap dia.

Djoko Susilo (Pemimpin Umum Amunat), Syaifulloh Yusuf (Pemimpin Perusahaan Duta Masyarakat), dan Noah Torong enggan menyebut besar saham Jawa Pos. Pun untuk mengonfirmasi bahwa Jawa Pos sebagai pemegang saham mayoritas. Mereka hanya mengatakan, kelompok Dahlan Iskan tak mencampuri kebijakan redaksional mereka.

Dahlan Iskan memang harus diacungi jempol. Karena, selain meraih sejumlah tiket ke masa depan, ia juga bisa menempatkan orang-orangnya di posisi strategis, misalnya Joko Susilo di Amanat, Arief Afandi di Duta Masyarakat, dan Nuah Torong di Demokrat.

Has/Laporan: Eko Yulistyo AF, Imam Wahjoe (Jakarta), dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R Edisi 981031-011/Hal. 28 Rubrik Peristiwa & Analisa

Ninja Palsu pun Dibantai

Masyarakat Jawa Timur melakukan aksi balas dendam terhadap pasukan ninja. Tapi, yang jadi korban kebanyakan orang tak bersalah.

BANJIR darah di Jawa Timur sepertinya tak hendak berhenti. Korbannya juga masih sama: orang-orang tak bersalah. Yang berbeda cuma label yang dilekatkan kepada mereka: jika dulu "dukun santet", kini "pasukan ninja".

Pelakunya-ini yang menyedihkan tak lain masyarakat setempat yang memang tengah dicekam rasa saling curiga. "Apa salahnya masyarakat lebih dulu bertindak, daripada kedahuluan? Soalnya, sekarang ini, siapa yang bisa menjamin keselamatan kami?" kata seorang warga Kecamatan Jenggawah. Suatu hari pada pekan lalu, ia ikut mengeroyok seorang yang dicurigai sebagai anggota pasukan ninja-istilah populer untuk gerombolan yang membantai sejumlah ulama dan warga Nahdlatul Ulama (NU).

Ada nada cemas, bahkan ketakutan, dari pernyataan itu. Dari sana kemudian muncul sisi hitam manusia: gampang bertindak di luar batas perikemanusiaan. Begitu melihat orang asing yang dicurigai sebagai pasukan ninja, tak peduli siapa pun dia, massa langsung menghajarnya.

Akibatnya, sampai akhir pekan lalu tercatat sedikitnya 25 orang menjadi korban aksi balas dendam massa. Perinciannya: sembilan korban jatuh di Jember, sepuluh di Malang, serta masing-masing tiga di Lumajang dan Probolinggo.

Dibanding ratusan korban gerombolan pembantai, jumlah itu mungkin belum seberapa. Tapi, cara pembantaian massa itu tak kalah kejinya. Coba simak peristiwa di Markas Kepolisian Sektor Ledokombo, Jember, 7 Oktober lalu, di bawah ini.

Malam itu, penduduk yang sedang berjaga-jaga berhasil menangkap basah dua orang yang dicurigai sebagai ninja. Tapi, belum sempat massa menghajar, tiba-tiba petugas Kepolisian Sektor Ledokombo datang menyelamatkan ninja-ninja tadi.

Merasa tak puas, massa pun marah. Malam itu juga mereka mengejar "buruan"-nya ke kantor polisi. Di sana, massa menuntut agar ninja-ninja tadi diserahkan kepada mereka. Tapi, polisi tak mau. Akibatnya, massa mengancam akan membakar habis markas polisi itu. Dan, entah bagaimana, di tengah suasana panas tiba-tiba seorang tahanan berhasil diseret ke luar. Lalu, tanpa ba-bi-bu lagi, orang itu dikeroyok hingga tewas.

Sejak itu, aksi balas dendam mulai merebak. Berikut kronologi yang bisa dicatat koresponden D&R.

* 8 Oktober. Petugas Kepolisian Sektor Sumberjambe, Jember, bersama 150-an warga setempat meringkus sepuluh tersangka pembantaian berkedok dukun santet. Lutfi, 40 tahun, salah seorang tersangka, mati tertembak karena melawan. Seorang yang lain ditusuk senjata tajam massa, tapi tak sampai tewas.

* 10 Oktober. Di Jember, masyarakat yang mulah melakukan aksi memburu ninja melakukan penjagaan ketat di mana-mana. Kembali, dua orang yang dicurigai ninja dibantai massa di halaman Markas Kepolisian Sektor Ledokombo.

* 12 Oktober. Matrois, 35 tahun, warga Desa Karangpiring, Kecamatan Sukorambi, Jember, ditemukan menjadi mayat. Diduga, ia dibantai massa, lalu mayatnya dibuang begitu saja. Kabarnya, saat kepergok massa, Matrois tak bisa menunjukkan identitasnya.

* 13 Oktober. Sebuah konvoi sepeda motor mendatangi Markas Kepolisian Sektor Mumbulsari. Massa menuntut lima orang yang ditahan di kantor polisi itu diserahkan karena para tahanan itu dicurigai sebagai ninja. Polisi menolak. Lalu, massa membakar kantor polisi hingga hangus. Akibat peristiwa pembakaran itu, 16 orang ditahan. Juga, 18 sepeda motor dan puluhan senjata tajam disita.

* 14 Oktober. Pengurus Wilayah NU Jawa Timur membentuk pasukan anti ninja. Kesepakatan berlangsung di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, dihadiri seluruh pimpinan cabang NU se-Jawa Timur. Kesepakatan itu diambil karena teror yang dialami para kiai dan pimpinan pondok pesantren sudah sampai ancaman dibunuh.

Sementara itu, Barisan Serbaguna NU Bojonegoro menyiapkan 600 pasukan "ninja putih" yang terlatih. Pembentukan pasukan ini untuk mengantisipasi kemungkinan penyerangan gerombolan ninja ke pesantren-pesantren.

Di Surabaya, ribuan orang menyerbu Markas Kepolisian Sektor Semampir. Mereka menuntut polisi menyerahkan tiga orang berpakaian serbahitam yang ditahan. Sebelumnya, ketiga orang itu diduga kuat akan membunuh ustad Saleh, warga Nyamplungan, Surabaya.

Polisi tak mau memenuhi tuntutan massa. Akibatnya, massa melempari markas polisi itu dengan batu, kayu, serta benda keras lain. Polisi membalas dengan tembakan peringatan. Akhirnya, polisi mengakui ketiga orang itu adalah petugas Kepolisian Daerah Jawa Timur yang sengaja diterjunkan untuk menyelidiki keadaan.

Di Probolinggo, massa melihat ada orang masuk ke masjid, lalu salat menghadap ke utara, tak sesuai arah kiblat. Karena mencurigakan, orang itu diseret ke luar, lantas dikeroyok hingga tewas. Belakangan baru diketahui orang tersebut tak waras alias gila. Di Pasuruan, seorang tukang batu bernama Didik Rubiantoo, 21 tahun, dicokok massa dari tahanan Markas Komando Rayon
Militer Lekok. Sebelumnya, Didik datang ke pesantren di Desa Pasinan, yang diasuh Kiai Haji Abdullah Chunein. Ia bermaksud menemui Kiai Chunein. Tapi, ketika massa minta kartu tanda penduduknya diperlihatkan, Didik mengatakan hilang.

Karena mencurigakan, Didik diserahkan ke Markas Komando Rayon Militer Lekok. Tapi, mayoritas massa tak puas, lalu mendatangi markas tentara itu. Nah, begitu diserahkan petugas, massa pun membantai Didik tepat di halaman markas militer tersebut.

* 17 Oktober. Petugas Kepolisian Sektor Gumukmas, Jember, terpaksa mengamankan empat warga Pasirian, Lumajang, yang dicurigai warga setempat sebagai ninja. Massa mencegat keempat orang itu di jalan. Keempat orang itu berhasil diselamatkan, tapi mobil minibus yang ditumpangi mereka hangus dibakar massa.

* 18 Oktober. Di Malang Selatan, hari itu massa membunuh lima orang yang dicurigai sebagai anggota pasukan ninja. Orang-orang itu dibunuh massa di tempat terpisah.

Korban pertama dihajar massa di Desa Gondanglegi Kulon. Korban yang lain diidentifikasi bernama Riono, warga Jalan Kresna, Malang. Pria ini dibunuh massa di Kebalen Wetan, Gang VIII, Kecamatan Kedungkandang. Yang paling sadis adalah kejadian di kawasan Druju, Sumbermanjing Wetan. Siang itu, massa menangkap dua orang tak dikenal. Salah seorang langsung tewas dikeroyok massa, yang satu lagi sempat diamankan petugas dan dibawa dengan truk. Namun, sesampai di Sedayu, Kecamatan Turen, truk itu dihadang konvoi sepeda motor.

Orang itu dipaksa turun, lantas dieksekusi massa. Belum cukup, kepalanya dipenggal, lulu diarak keliling kota dengan konvoi sepeda motor. Arak-arakan itu malah sempat berhenti di depan Markas Kepolisian Resor Malang.

Kejadian serupa terjadi di Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur. Seorang tak dikenal yang ditangkap massa dihajar hingga tewas. Kemudian, kepalanya dipenggal dan diarak keliling kecamatan; sedangkan tubuh mayat diseret sepeda motor, lalu diletakkan begitu saja di depan Markas Kepolisian Sektor Turen. Markas Kepolisian Sektor Wajak juga didatangi massa, yang meminta seorang tahanan. Entah mengapa, tuntutan itu diluluskan. Setelah diarak, orang itu dibantai di Pasar Wajak.

* Sabtu, 24 Oktober: Saat malam tiba, Kota Pasuruan kembali rusuh. Toko-toko dan bank di sepanjang Jalan Soekamo-Hatta, Jalan Niaga, dan Jalan Nusantara dirusak massa. Sebuah sedan Mazda ringsek dijungkirbalikkan massa dan dua penumpangnya luka-luka dianiaya.

Pangkal kerusuhan adalah tertangkapnya seorang gelandangan bernama Ahmad Sulaiman. Orang ini, yang belakangan diketahui mengidap gangguan jiwa, diamankan di rumah Basar, salah seorang ketua rukun tetangga di Kelurahan Ngemplakrejo. Namun, siapa yang meniupkan, isu yang beredar mengabarkan seorang ninja tertangkap.

Dalam sekejap, rumah Basar didatangi massa, menuntut Ahmad dihajar saja. Polisi yang berusaha mengamankan Ahmad tak berkutik, dihadang massa. Ban mobil Toyota Kijang milik polisi dibacok hingga kempes. Baru, setelah didatangkan pasukan gabungan dari brigade mobil, batalyon zeni tempur, dan batalyon kavaleri setempat, Ahmad berhasil dibawa ke Markas Kepolisian Resor Pasuruan.

Rupanya, massa yang tak puas mengikuti konvoi pasukan itu. Nah, entah siapa yang memulai, massa mulai merusak pertokoan di sepanjang jalan.

* Tak Peduli Orang Gila Sekalipun

Aksi pembalasan itu memang sudah membabi-buta. Sebabnya, kata Kepala Kepolisian Resor Lumajang, Letnan Kolonel I.G. Atang Wiguna, isu ninja sudah begitu merasuki masyarakat. "Mereka khawatir menjadi sasaran, lalu melakukan pengamanan berlebihan," kata Wiguna.

Akibatnya, yang menjadi korban kebanyakan orang tak bersalah. Peristiwa yang menimpa Rachmat Hidayat, 16 tahun, warga Kelurahan Rogotrunan, Lumajang, contohnya. Hari itu, 16 Oktober, pelajar itu meninggalkan rumah sekitar pukul 16.00. Orang tuanya mengira ia akan mencari ular karena saat pergi membawa bambu kuning.

Tapi, sekitar pukul 18.30, Hari, ayah Rachmat, mendapat informasi anaknya dihajar massa di Desa Blukon, sekitar empat kilometer dari rumahnya. Hari pun bergegas ke desa tetangga itu. Di sana, ia melihat kerumunan massa di rumah Kepala Desa Blukon, Sukarto. Rupanya, Pak Kepala Desa berusaha menyelamatkan Rachmat dari keroyokan massa.

Hari pun segera berbaur di tengah kerumunan. Kepada massa, ia menjelaskan anaknya bukanlah ninja, melainkan pelajar biasa. Sialnya, massa tak bisa ditenangkan. Gantian, Hari dihajar. Untung, Sukarto hertindak sigap menyelamatkan Hari, membawanya ke rumah salah seorang penduduk.

Nah, saat itulah, massa yang sudah beringas mendobrak pintu rumah Sukarto. Rachmat yang ketakutan langsung di seret ke balai desa. Di sana, ia dipukuli hingga ajalnya melayang.

Sebagian korban lain adalah orang-orang tak waras alias gila. Memang, belakangan, banyak orang gila berpakaian hitam-hitam berkeliaran di kota-kota Jawa Timur. Kebetulan atau tidak, kebanyakan mereka berkeliaran di sekitar pondok-pondok pesantren. Bisa jadi, orang-orang tak waras itu sengaja dilepaskan para penggerak teror untuk memperkeruh suasana yang sudah panas. Agaknya, mereka ini sengaja dijadikan "tumbal" untuk melampiaskan amarah massa.

Mengapa massa tega-membantai orangorang tak waras itu? Itu karena warga sempat pula beberapa kali menangkap basah ninja profesional yang berpura-pura gila. Misalnya kejadian di Kelurahan Kebraon, Surabaya, 20 Oktober lalu. Kala itu, massa melihat seorang yang mencurigakan berkeliaran di desa itu. Saat dikejar, dengan tangkas, ia herusaha melarikan diri.

Akhirnya, massa berhasil meringkus pemuda tersebut, yang belakangan mengaku bernama Badjuri, berasal dari Banten, Jawa Barat. "Namun, ketika tertangkap, dia berlagak pilon seperti orang tak waras," tutur seorang warga Kebraon, seperti dikutip Bisnis Indonesia. Langsung saja, massa menghajarnya. Lalu, dalam keadaan payah, Badjuri dibawa ke Kepolisian Sektor Karangpilang.

Akibatnya, makin hari, keberingasan massa semakin memuncak. Apalagi, sampai saat ini, polisi dan tentara belum juga berhasil mengungkap dalang dan penggerak di balik pembantaian sejumlah tokoh agama. "Masyarakat tak percaya lagi kepada aparat keamanan," kata Kiai Haji Yusuf Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Jember.

Polisi sendiri memang terkesan kebingungan menghadapi situasi ini. "Kami menjadi serbasalah," kata Leman Kolonel Atang Wiguna. Bersikap hati-hati dibilang lamban. Mengamankan orang yang diduga pelaku pembantaian malah dikatakan melindungi.

Akibatnya, yang terjadi kemudian adalah sikap saling curiga antarkelompok masyarakat. Dan, rasa curiga merupakan lahan subur tumbuhnya perilaku kekerasan yang menafikan akal sehat.

Imran Hasibuan/Laporan Suma Atmadja (Banyuwangi) dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R Edisi 981031-011/Hal. 19 Rubrik Liputan Utama

Sunday, October 25, 1998

Konspirasi Menggoyang NU?

SEJAK isu pembantaiaan di Banyuwagi marak, banyak pihak membentuk tim pencari fakta untuk mengusut perkara ini. Berbagai kesimpulan dan temuan pun dikemukakan: Namun, tak satu pun yang berhasil mengungkap jelas duduk perkaranya. Malah, berseliwerannya berbagai pernyataan tim pencari fakta itu makin membingungkan khalayak.

Namun, ada yang disepakati mereka: gerakan gerombolan" pembantai itu terlatih dan terorganisasi. Yang paling gencar mengusut soal pembantaian tentunya Tim Investigasi Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Tim itu dibentuk setelah banyak kaum nahdliyin menjadi sasaran pembantaian.

Sampai saat ini, tim yang dipimpin Timbul Wijaya, Wakil. Ketua Pagar Nusa NU Jawa Timur, itu mencatat 132 kasus pembantaian. Sebagian korban penganiayaan itu adalah kaum nahdliyin.Apa saja hasil temuan tim tersebut? Kepada koresnonden D&R, Timbul menuturkan cerita berikut.

Semula, aksi pembantaian hanya menimpa orang-orang yang dicurigai berpraktik dukun santet. Pelakunya juga umumnya massa, yang berasal dari desa setempat. Ketika beberapa pelaku ditangkap polisi, warga biasanya tak mau terima. Mereka lalu menyerbu kantor polisi setempat, menuntut teman-temannya dibebaskan. Dan polisi, entah karena takut atau apa, biasanya melepaskan para tersangka yang ditahan.

Akibatnya, massa menganggap membunuh dukun santet itu tak apa-apa tidak bakal dihukum. Maka, pembantaian terus berlanjut. Anehnya, aparat keamanan selalu datang terlambat, sekitar tiga sampai empat jam setelah pembunuhan. Begitu datang, petugas hanya menemukan mayat korban dalam keadaan mengenaskan: "Setelah diperiksa, mayat-mayat itu langsung dikubur di halaman rumah korban," kata Timbul Wijaya. Tak ada visum, tak ada laporan kejadian sama sekali.

Di tengah maraknya aksi pembantaian muncul selebaran dari kelompok yang menamakan diri Gerakan Anti tenung (Gantung). Dalam selebaran itu, Gantung mengultimatum: siapa saja agar tak melindungi tukang santet kalau tidak ingin berhadapan dengan pasukan Gantung.

Menurut perkiraan Timbul, kelompok Gantunglah yang melakukan pembunuhan ala ninja. Mereka sangat terlatih sehingga sulit ditangkap. Misalnya, sebelum menjalankan aksinya, "gerombolan ninja' itu mematikan listrik di sekitar rumah korban. Lalu, di tengah kegelapan, mereka menculik korbannya.

Jika di lokasi sasaran ada warga yang berjaga-jaga, tindakan itu sering, digunakan untuk mengecoh. Setelah lampu dimatikan, biasanya warga mendatangi tempat itu,, tapi gerombolan beraksi di tempat lain: Setiap melakukan aksi, biasanya gerombolan ninja itu berkelompok, lima orang. Kadang, mereka membawa massa.

Tapi, tak semua operasi berjalan minus. Ada juga sasaran yang melawan. Kiai Burhan dari Kecamatan during, misalnya, melayani sergapan lima penyerangnya. Maka; terjadilah perang tanding. Malah, Kiai Burhan behasil meringkus seorang penyerangnya. Lalu; ketika diperiksa kartu tanda penduduknya ternyata berasal, dari Kecamatan Puger, Jember: Saat ditanya siapa yang menyuruh, penyerang itu menjawab bekas aktivis PKI.

Umumnya, anggota gerombolan pembantai itu pintar memainkap'jarus silat dan mengenal seluk-beluk wilayah sasarannya. Pokoknya, kata Timbul Wijaya, mereka tampak dipersiapkan betul secara fisik dan mental.

* Dilatih di Bogor

Dalam perternuan dengan ratusan ulama di Langitan, Tuban, 15 Oktober lalu; Kepala KepolWan Daerah Jawa Timur Mayor Jenderal M. Dayat sempat keceplosan omong bahwa gerombolan ninja itu dilatih di Bogor, Jawa Barat. Tapi, saat dikonfurmasi Tim Investigasi NU Jawa Timur. Dayat tak mengungkapkan lebih jauh. "Ini jadi tanda tanya mengapa kok disimpan,"kata Timbul.

Sejak Oktober, kata Timbul; Gantung telah berganti kulit menjadi Ganti alias Gerakan Anti kiai. Gerakan ini agak berbeda dari sebelumnya. Modus operandi-nya lebih "halus". Misalnya, pelakunya menyamar sebagai santri dan beroperasi selepas magrib sampai menjelang salat isya, bahkan siang'hari.

Pasukan Ganti sudah pula menelan korban, seorang kiai di Kecamatan Rogo Jampi. Suatu siang ada, seorang yang berpura-pura ingin membantu kiai memugar makam. Tiba-tiba, orang itu langsung membunuh sang kiai di pemakaman tersebut. ,

Lalu, apa motif di balik pembahtaian para ulama itu? "Masih kami selidiki," kata Timbul. Namun, seorang aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, M. Adnan Anwar, punya beberapa hipotesis. Pertama, pembantaian itu merupakan wujad pertentangan antara kelompok santri dn abangan. Hanya, Anwar Meragukan bila kelompok abangan itu adalah anak-cucu para:aktivis PKI. Sebab, sejarah politik di Banyuwangi tak pernah mencatat konflik organisatoris antara PKI dan NU. Yang ada adalah konflik antara PKI dan militer.

Karena itu, Anwar lebih cenderung ke hipotesis "aksi pembunuhan massal itu merupakan bagian konspirasi menggoyang NU. Seperti diketahui, Banyuwangi dan sejumlah kabupaten lain di Jawa Timur merupakan basis massa NU. Apalagi, besar kemungkinan dalam pemilihan umum nanti, NU lewat Partai Kebangkitan Bangsa akan berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pimpinan Megawati Soekamoputri. Nah,."Kalau itu terjadi, kan bisa mengggyahkan status quo," kata Anwar.

I.H./Laporan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 981024-010/Hal. 59 Rubrik Kriminalitas

Saturday, October 24, 1998

Busung Lapar: Satu Generasi Bodoh

Jika derita busung lapar tak teratasi, satu generasi akan menjadi korban: tak berkualitas, alias bego.

NYANYIAN mendayu-dayu memuja tanah air nan kaya raya dan subur makmur tak lagi terasa merdu di telinga. Di berbagai daerah, kini bermunculan para penderita busung lapar. Balita dengan tulang iga menonjol, perut buncit, wajah tua, kini kerap muncul di bangsal perawatan anak di beberapa rumah sakit. Masya Allah.

Diawali kabar mengenai sejumlah anak penderita busung lapar atau buruk gizi yang dirawat di Rumah Sakit dr.Soetomo, Surabaya, selang beberapa waktu kemudian bermunculan kasus serupa di berbagai daerah, antara lain Irianjaya dan Ujungpandang.

Padahal, penyakit yang di kalangan kedokterar dikenal dengan nama honger oedema atau marasmus Kwasiorkhor itu, sejak dua dekade silam tak pernah terdengar. Tapi, kini penyakit kurang gizi itu semakin kerap disebut-sebut, dari Sabang sampai Merauke.

Menurut data kependudukan dan angka kepenyakitan, dari jumlah anak balita yang berjumlah sekitar 22 juta jiwa, tak kurang dari 35 persen di antaranya menderita kurang gizi, dari yang ringan sampai yang berat. Bahkan, untuk kasus yang berat, jumlahnya diperkirakan mencapai lima persen.

Repotnya, dalam situasi sekarang angka kepenyakitan busung lapar diperkirakan bakal semakin melonjak jika krisis ekonomi terus berkepanjangan. Gara-gara krisis moneter, jumlah penduduk miskin semakin banyak. Menurut data terakhir, jumlah tersebut mencapai sekitar 100 juta jiwa, alias 50 persen dari jumlah seluruhnya penduduk. Artinya, bahaya kelaparan mengancam seluruh wilayah Nusantara ter cinta.

Iftitah, misalnya,terpaksa dirawat di bangsal anak Rumah Sakit dr.Soetomo, Surabaya. Tubuh bayi usia satu tahun itu kurus kering, berat badannya tinggal 3.5 kilogram, padahal berat badan yang normal seharusnya dua kali lipat. Menurut ibunya, Nyonya Naimah, sejak lima bulan terakhir putri tunggalnya yang sudah disapih itu tak pernah minum susu lagi. "Air susu saya sudah berhenti, sedangkan untuk membeli susu kalemg, saya tak mampu," tuturnya.

Nasib serupa dialami oleh Muhammad Ridwan alias Yeyen. 1,5 tahun. la dirawat di bangsal perawatan anak-anak Rumah Sakit dr. Wahidin Soedirohusodo Ujungpandang. Tubuh bocah malang itu membengkak luar biasa. Menumt direktur rumah sakit itu, dr. Nurfiah A. Patiroi,M.H.A.. putra keluarga Mantasia itu posilif kekurangan energi protein. "Seumur umur baru kali ini saya menemukan kasus busung lapar," ujarnya sedih.

Beberapa gejala yang lazim pada penderita penyakit busung lapar, antara lain, pembengkakan pada tubuh, busung pada perut. Selain itu, perut mual, muntah-muntah disertai menceret, kulit berkerut, dan wajah tampak menua.

* Masalah Utama

Kelihatannya penyakit busung lapar tersebut tak terlalu berbahaya. Tapi, di kemudian hari bisa menjadi masalah besar-seperti dikemukakan oleh Prof.Dr. Soekirman, pakar gizi dari Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia awal Oktober lalu. Dosen di Institut Pertanian Bogor itu khawatir, bila penyakit itu tidak ditangani secara serius, pada dekade mendatang kita bakal kehilangan sejumlah besar generasi muda yang berkualitas, alias bodoh. Padahal, kita tengah menggalakkan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Kekhawatiran Prof. Soekirman dibenarkan oleh Prof: Dr. Soegeng Soegijanto, M.D., Phd. Menurut Kepala Laboratorium Anak di Rumah Sakit dr. Soetomo itu, anak-anak balita yang menderita busung lapar akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. khususnya pada sel otak. "Akibatnya, anak-anak yang menderita busung lapar akan menjadi bodoh dan kondisi dfisiknya lemah," katanya.

Itu sebabnya, Menteri Kesehatan F.A. Moeloek segera membentuk tim pemantau penyakit busung lapar untuk memantau daerah-daerah rawan pangan yang menjadi lahan subur merebaknya penyakit busung lapar. Tim juga akan menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga sosial bertarap internasional, antara lain United Nations Children's Fund (Unicef). yang sejak tahun ini meniggalakkan pasokan makanan pengganti air susu ibu (ASI) di Jawa, Nusa Tenggara Timur dan Barat serta Timor Timur. Selain itu, tim juga bermitra dengan World Vision lnternational, Catholic Relief Service dan Catholic Children Fund. Lembaga-lembaga tersebut akan membantu beras, susu, dan obat-obatan untuk daerah-daerah rawan pangan di Indonesia Bagian Timur.

Upaya pemerintah mengatasi busung lapar sudah benar. Namun, upaya itu hendaknya jangan sekadar membagi-bagi pasokan susu dan makanan bergizi, melainkan- dan sudah seharusnya-lebih dari itu, yaitu mengatasi kemiskinan sebagai masalah utama. Sebab, sebagian besar penderita busung lapar berasal dari keluarga miskin. Jika kemiskinan tak teratasi, penyakit busung lapar akan datang mengancam.

Adhyan Soeseno/Laporan Puji Sumedi H. (Jakarta), Abdul Manan (Surabaya), dan Muhammad Toha ( Ujungpandang)

D&R, Edisi 981024-010/Hal. 45 Rubrik Kesehatan

Sunday, October 04, 1998

Menunggu"Big Bang"

Sesudah "menyantap" 69 kerusuhan di berbagai daerah pada Mei-Agustus 1998, situasi tetap rawan. Aparat keamanan tampaknya makin tak mampu mengatasi.

KERUSUHAN seolah-olah kini sudah menjadi santapan masyarakat Indonesia tiap hari. Berlebih lebihan? Tidak. Buktinya, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Letnan Jenderal Roesmanhadi sendiri mengakui dalam temu pers di Jakarta pekan lalu, 69 kasus kerusuhan terjadi pada Mei hingga Agustus 1998. Dalam kasus-kasus itu, aparat keamanan menangkap 4.828 orang.

Menurut Roesmanhadi, 23 kasus kerusuhan itu dipicu isu etnik, 16 oleh faktor politik, 15 karena motivasi ekonomi, enam akibat bentuk penegakan hukum yang tidak tepat, dan sisanya yang sembilan kasus masih harus diidentifikasi. Kerusuhan yang cukup besar terjadi di Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Dari 4.828 orang yang ditangkap, 867 dijadikan tersangka dan 267 di antaranya tengah diadili.

Dengan makin maraknya kerusuhan, penjarahan, perusakan, dan pembakaran, pemerintah sendiri tampak bingung mengatasinya. Menurut pengamatan D&R, pemicu kerusuhan ini beragam dan sering beranjak dari soal-soal sepele, seperti perselisihan lalu lintas atau seorang karyawan dimarahi majikannya. Namun, gelombang kerusuhan yang meluas kemudian sangat dahsyat. Aparat keamanan tampak kewalahan mengatasi kejadian-kejadian yang pecah secara sporadis tapi terus-menerus muncul itu.

Untuk menggambarkan makin mendesaknya penanganan situasi ini, berbekal laporan koresponden dan pemberitaan media massa, D&R coba mendata berbagai peristiwa yang sudah terjadi, khusus untuk September saja.

* Kerusuhan September 1998.
Berdasarkan tanggal. Iokasi, peristiwa dan dampaknya.

- 31 Agustus-1 September. Lhokseumawe, Aceh. Kerusuhan yang dilakukan puluhan ribu massa itu membakar rumah-toko dan menjarah isi pertokoan. Dua orang tewas ditembak aparat keamanall, 12 yang lain luka-luka.

- 1 September. Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sekitar 4,5 ton beras yang disimpan di penggi]ingan beras UD Sukoreno Makmurdi Desa Sukoreno disita ratusan massa. Massa juga membajak truk yang mengangku tujuh ton beras, lalu memaksa pengusaha menjual beras itu dengan harga murah.

- 1 September. Kecamatan Buaymadang, Kabupaten Ogankomering Ulu, Sumatra Selatan. Ratusan warga: Desa Wayhalom menyerbu Markas Kepolisian Sektor Buaymadang akibat tindakan .seorang polisi yang memukuli empat warga desa. Seorang polisi luka bacok, seorang warga tewas ditembak, dan beberapa yang lain luka-luka.

- 1 September. Desa Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kotamadya Bogor, Jawa Barat. Ratusan massa mengamuk dan merusak wisma Salak, yang disinyalir menjadi lokasi prostitusi. Mobil Mercy milik pengusaha tempat itu juga dirusak. Sejumlah pesawat
televisi dijarah.

- 2 September. Kecamatan Montong. Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Bentrokan 20 polisi melawan, ratusan warga Desa Munjun akibat polisi menangkap 30 ton warga tersangka pencuri kayu jati dan membawa barang bukti empat truk kayu jati. Dua mobil aparat keamanan dirusak.

- 4-5 September. Purwakarta, Jawa Barat. Di PT Indhorama Synteis dan PT Polymer, akibat kenaikan gaji pokok tak dikabulkan, 39 mobil, dua sepeda motor, dan bangunan sekolah dirusak dan dibakar massa.

- 5 September. Kelurahan Jatimulia. Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Sedikitnya 50 rumah terbakar habis, diduga sengaja dibakar menyusul bentrokan antar warga lain rukun warga di wilayah itu.

- 6 September. Kecamatan Pedes, Kai rawang, Jawa Barat. Kantor Kepala Desa Kendaljaya dirusak massa sesudah unjuk rasa ke kantor desa: dan kecamatan tidak di tanggapi. Warga marah karena kepala desa menjual jatah beras operasi pasar khusus sub-depot logistik ke kenalannya.

--7 September. Belawan, Sumatra Utara. Truk beras dijarah ketika keluar dari Pelabuhan Belawan dan ketika berada di Kampung Salam (Belawan) dan Tanjung Mulia (Medan, Deli). Maka, 8,5 ton beras lenyap-.

- 7-8 September. Kebumen, Jawa tengah. Massa menjarah serta membakar 69 toko, termasuk 4 toko besar, 24 kendaraan dan lima sepeda motor. Pemicunya,seorang pamilik toko yang keturunan Tionghoa memarahi karyawannya.

- 8 Desember. Kecamatan Medan Labuhan, Belawan, Sumatra utara. Ratusan orang menghadang dan menjarah truk bermuatan beras ketika melintas di Jalan Tol) Belmera. Akibatnya, 20 ton beras milik Badan Urusan Logistik itu ludes.

- 8 September. Karawang, Jawi Barat. Sekitar 500 warga desa menjarah tambak udang di Desa Pusakajaya, Kecamatan Pedes. Dua puluh dua orang ditahan. Kerugian sekitar Rp 30 juta.

- 7-9 September. Pontianak. Penjarahan bahan pokok berlangsung serentak dan tiba-tiba di Kecamatan Pontianak Timur, Utara, dan Barat. Sasaran utama adalah gudang-gudang beras. Penjarah mcnggunakan truk dan pikap. Dua tersangka tewas dalam kerusuhan.

- 9 September. Kelurahan Belawan Bahari, Medan. Sedikitnya 50 ton beras bantuan Jepang ke Sumatra Utara dijarah massa. Penjarahan di lakukan di ruas jalan masuk menuju ke pintu tol Belawan-Tanjungmorawa.

- 9 September. Kecamatan Karangampel, Indramayu, Jawa Barat. Tiga nyawa melayang, termasuk satu bayi yang terbakar, akibat tawuran massal antar pemuda yang akhirnya melibatkan ribuan warga Desa Mundu dan Segeran Kidul. Juga. 16 rumah dibakar.

- 11 September. Losari Timur (Kabupaten Brebes) dan Losari Barat (Kabupaten Cirebon), Jawa Barat-Jawa Tengal. Di Losari Timur dan Losari Barat, ribuan penduduk menjarah tanaman bawang merah siap panen. Empat hektare lahan bawang habis, kerugian Rp 300 juta.

- 11 September. Desa Penjalinan, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Massa menjarah 70 ton beras dan 30 ton terigu milik AHok, lalu gudang itu dibakar. Polisi menyita beras AHok sebanyak 240 ton, gula pasir 45 ton, dan terigu 77 ton di gudangnya di Pakis atas? dengan dugaan "menimbun pangan".

- 12 September. Desa Sasak dan Desa Baebuntu, Kabupaten Luwu, 450 Kilometer Utara Ujungpandang. Kerusuhan berbuntut empat orang tewas, 230 rumah penduduk ter bakar, dan rusak diobrak-abrik. Sebuah gereja dan masjid rusak. Ini bermula dari perselisihan lalu lintas dan perkelahian antar pemuda dari dua desa (11 September)

- 12 September Kabupaten Batang hari, Jambi. Massa mengamuk dan membakar Base Camp PTP VI Nusantara dan tiga rumah dinas. Massa menuntut perkebunan inti milik PTP Vl dialihkan ke masyarakat, dengan sistem perkebunan plasma.

- 13 September. Kecamatan Gondanglegi dan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dua peternakan ayam dijarah massa, termasuk kandang dan isinya. Seorang tersangka pengerak aksi tewas ditembak petugas di Bondowoso. Semua tersangka, 40 orang, yang diperiksa adalah warga Bondowoso.

- 13 September. Kabupaten Batanghari, Jambi. Ratusan warga Kasangpudak, Kecamatan Jambi luar kota, menjarah gudang bihun milik Akau yang diduga tempat penimbunan beras dan minyak goreng.

- 13 September. Perbatasan Palembang,Kabupaten Musibanyu asin. Pabrik bihun dijarah puluhan massa. Dua" ton beras dan bahan baku pembuat bihun ludes.

- 14 September. Kabupaten Musibanyuasin, 30 Kilometer dari Palembang. Massa menggondol 60 karung beras, tiga drum minyak goreng, dan 100 karung tepung sagu dari toko bahan pokok.

- 14 September. Medan. Puluhan toko rusak dan dua pusat perbelanjaan dijarah ribuan massa. Sejumlah mobil pribadi dirusak dan dijungkirbalikkan. Aksi dipicu pemogokan 6.000 sopir angkutan kota, memprotes kenaikan harga suku cadang dan bahan pokok.

- 15 September. Belawan, Medan. cara pembagian 1.800 paket bahan pokok gratis dari PT S-3 bagi masyarakat tak mampu berkembang jadi kerusuhan. Mereka merampas bahan pokok dari panitia gara-gara melihal orang yang dianggap mampu ikut mengambil jatah bahan pokok.

- 15 September. Bagan siapi-api, Kabupaten Bengkalis, Riau. Ratusan warga Tionghoa mengungsi akibat 450 rumah dan toko dibakar. Tiga hotel dirusak. Sempat diterapkan jam malam. Ini dipicu isu meninggalnya warga setempat dalam perkelahian melawan seorang Tionghoa.

- 15 September. Pinrang, Sulawesi Selatan. Warga yang tertipu miliaran rupiah oleh praktik bank gelap melempari dan membakar toko dan rumah. Sejumlah petinggi polisi dan militer terlibat dalam praktik bank gelap ini dan dicopot dari jahatan.

- 16 September. Belawan, Medan. Ratusan nelayan mengamuk dan menghancurkan kaca kantor Koperasi Uni Desa Mina Makmur, gara-gara keterlibatan koperasi itu dalam pengoperasian alat tangkap ikan, yang seperti pukat harimau.

- 16 September. Kabupaten Batanghari, Jambi. Sekitar 500 massa menjarah gudang beras PD Sejahtera. Karena kesigapan polisi, 300 ton beras batal dijarah.

- 17 September. Belawan, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara. Massa nelayan mengamuk dan membakar sebuah pukat harimau mini di gudang perikanan Boncuan

- 17 September. Desa Cibadak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Puluhan warga Desa Cibadak menyerbu dan merusak Vila Pondok Nirwana. Kantor pemasaran nyanyaris dibakar massa. Ini dipicu pertengkaran satuan pengamanan dengan warga desa.

- 18 September. Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Sekitar 70 warga Desa Lautawar mengobrak-abrik kantor bupati. Sekretaris wilayah daerah nyaris dikeroyok. Warga kesal, isu kecurangan dalang pemilihan kepala desa kurang ditanggapi.

- 18 September. cianjur, Jawa Barat. Sekitar 70 warga cianjur menjarah dan merusak gudang beras swasta di Jalan Raya H.O. Sokroaminoto. Mereka mengangkut 60 karung beras dan 50 kilogram ikan kering.

- 19 September. Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sekitar 200 warga Desa Babakan mengamuk, setelah "jago" mereka kalah dan merasa dicurangi dalam pemilihan kepala desa. Mereka merusak tiga rumah warga.

- 20 September. Praya, Lombok Tengah. Dua sepeda motor, tiga rumah, dan mobil milik seorang pastor dibakar massa. Ini gara-gara seorang polisi nekat menggelar sabung ayam meski warga setempat sudah melarangnya.

- 21 September. Kecamatan Losari, Cirebon, Jawa Barat. Sejumlah 45 rumah dibakar, termasuk poliklinik, balai desa, sekolah dasar, dan penggilingan padi, dalam bentrokan antara warga Desa Pabedilan Kaler dan Pabedilan Wetan.

Data ini sebetulnya belum lengkap karena diyakini masih banyak peristiwa yang tidak termuat di media, mungkin karena dianggap berskala kecil. Namun, jika jumlahnya makin banyak dan makin sering teljadi. itu akan memuncak menjadi "ledakan besar" (big bang), yang dikhawatirkan suatu saat tak tertangani. Apakah memang itu yang kita tunggu?

Satrio Arismunandar/Laporan: Marlis Lubis (Jambi). Muhammad Toha (Ujungpandang). Jaya Putera (Pontianak). Abdul Manan (Surabaya). Jupernalis (Pekanbaru). Aendra H. Medita (Bandung), Suma Atmaja (Jember), Koresponden Mataram

D&R, Edisi 981003-007/Hal. 50 Rubrik Daerah

Saturday, October 03, 1998

Gereja dengan Haji dan Salat

Geraja Ortodoks Syria muncul di Indonesia sebagai upaya pendekatan kerukunan antar umat beragama.

JANGAN heran jika suatu saat Anda menemukan sebuah gereja de ngan simbol-simbol berbahasa Arab, yang biasanya ditemui pada masjid dan musala. Mereka juga melakukan salat (dengan istilah salat juga) dengan memakai peci bagi pria, dan kerudung bagi kalangan wanita.

Yang membedakan dengan umat Islam terletak pada cara salatnya. Juga kitab suci yang dipakainya. Mereka melakukan gerakan tanda salib dan membaca Bibel dalam ibadahnya. Ini terungkap di Heritage Club, Surabaya, Sabtu, 5 September, dalam acara pengukuhan pengurus Lembaga Studi Kanisah Ortodoks Syria dengan gelar "Seminar Prospek Persahabatan Kristen-lslam di Indonesia". Acara yang cukup menarik itu dihadiri sekitar 300 orang, yang justru 60 persen beragama Islam. Pengenalan ini dilakukan, menurut panitia, untuk menjembatani hubungan antar-agama, terutama aotara Islarn dan risten.

Hal semacam ini bisa juga dijumpai setiap hari Minggu, di bilangan Kalimalang, Jakarta Timur. Di rumah aktor terkenal Roy Marten itu, sejak pukul 08.00 hingga pukul 12.00 siang, dilakukan kebaktian Minggu.Sekitar 150jemaat Gereja Ortodoks Indonesia melakukan kegiatan sejak tahun lalu di ruangan seluas sekitar 100 meter persegi. Mereka dibimbing Romo Archimandrit Daniel Bambang Dwi Byantoro.

Acara diawali dengan memasang lilin di ruangan depan yang disebut Bahtera. Lalu, wanita dan laki-laki dipisahkan pada tempat tersendiri. Bagi wanita ditandai ikon Maria sedangkan pria ditandai ikon Yesus. Mereka tidak duduk di bangku, tapi berdiri di atas sajadah, dan membaca Injil. Yang pria mengenakan peci dan wanita memakai kerudung. Sang imam mengenakan jubah panjang warna-warni, kepalanya ditutup epitakheli (stola), bergelang tangan, serta mengenakan berbagai aksesori yang semuanya memiliki arti. Sebelumnya, semua jemaat melakukan penyucian diri dengan air, semacam wudu.

Acara berlangsung khidmat tanpa alunan musik. Doa-doa dilafalkan dalam bahasa Indonesia. Lalu, ada juga arak-arakan keci yang disebut athawafis shughra (tawaf ke cil). Selanjutnya, acara di lituragi yang lain ber langsung dalam bahasa Arab, yang kemudian diterjemahkan. Ya, ini mengingatka orang pada pengajian dimasjid bagi umat Islam. Dan, acara ini disudahi dengan jamuan kudus. Mereka menamakan diri Gereja Ortodoks Indonesia yang berafiliasi ke Yunani (Calcedon). Sementara itu, kelompok jemaat semacam yang berpusat di Malang menamakan diri Gereja Ortodoks Syria (Anthiokia).

Memang, lambang-lambang keagamaannya hampir mirip dengan Islam. Misalnya, untuk bacaan basmalah, mereka menggunakan bismil ab wal ibn warruhil qudsi al ilah al wahid yang bermakna: dengan nama Tuhan bapak, anak, dan roh kudus, Tuhan yang satu. Akan halnya untuk salam, mereka menggunahan salam Ibrani yang berbunyi shalom aleikhem we birkat elohim be shem ha-mashiah, yang artinya kurang lebih sama dengan assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa baraktuh.

Gereja ini tiba-tiba menjadi unik apalagi dengan pengakuan sebagai gereja yang paling murni dalam mengikuti ajaran Yesus Kristus. Mereka menganggap sehagai gereja monumen Kristus sepanjang abad. "Kita hanya mengenal satu Tuhan. Jadi, ada konsep tauhid seperti yang ada dalam Islam," kata Henney Sumali, Wakil Ketua Bidang Seni, Budaya, dan Apresiasi Studia Syriaca Orthodoxia, Surabaya.

Kalimat tauhid ini selalu dibaca dalam salat mereka yang dikenal dengan nama assab 'us shalawat (tujuh waktu salat). Memang, mereka mengenal salat tujuh waktu. Lima waktu sama persisdengan waktu salatumatIslam. Hanyadua waktu yang berbeda, yaitu pukul 09.00 pagi hari dan pukul 24.00 tengah malam. "Ini sama dengan salat duha dan tahajud bagi umat Islam," kata Henney.

Diakui oleh Syaikh Efiaim Bar Nabba Bambang Noorsena, pimpinan Gereja Ortodoks Syria, dalam makalah yang disampaikan pada Syiar Injiliyah di Hotel Surabaya, 19 Juni 1998. Salat dalam Kristen sebenarnya mengikuti salat yang berlaku dalam Yahudi, yaitu tiga kali: petang, pagi, dan tengah hari. Dalam bahasa Ibraninya disebut: 'erev wa boker we tsohorayim. Atau, dalam bahasa Arabnya disebut: Puasa'an wa .subhanda dhuhran. Namun, seperti dimuat Talmud, setelah penghancuran Baitul Maqdis dan eksodus ke Babilonia, ditetapkan satu waktu salat lagi, yaitu jam kesembilan, yang disebut minhah. "Menurut hitungan waktu Yahudi, kira-kira pukul tiga petang. Sejajar dengan waktu asar dalam Islam," kata Noorseno. Dan, selanjutnya berkembang menjadi tujuh waktu.

Salat-salat mereka adalah salat sa'atul awwal yang dalam istilah gereja Latin disebut laudes (salat subuh), salat .saatut atau hora tertia ( salat duha, sekitar pukul 09.00 pagi), salat sa tu.s .sadis atau hora sexta (setara dengan waktu duhur), salat satut tis'ah atau minah atau hora nona (yang setara dengan asar), salat sa'atul ghurub atau verper (salat magrib), salat nawm, atau virgi/ (sama dengan salat isya), dan salat layl atau salat satar atau copletorium (salat tengah malam yang dalam Islam dikenal dengan nama tahajud.

Namun, diakui Noorseno salat dalam konsep Kristen ini tidak terkait dengan syariah, seperti dalam Islam. "Melainkan lebih berlandaskan pada keinsafan batin," katanya. Ini, menurut Presbyter Daniel Bambang, dilakukan hukan untuk mencari pahala. Tapi, untuk mengasihi Tuhan. "Karena, yang menyelamatkan manusia bukan karena perbuatan dan amal baik seseorang, melainkan karena kasih dan karunia Allah."

Setiap salat terdiri dari tiga rakaat (satuan gerakan). Pada rakaat pertama hanya dilakukan qiyam (berdiri). Pada rakaat kedua dilakukan rukuk, dan sujud. Pada saat rukuk dan sujud ini dilakukan gerakan tanda salib. Dan, doa yang digunakan dalam bahasa Arab, Aram, Yunani, dan Ibrani. Lalu dibacakan pujian (qari'ah) yang dikutip dari kitab Mazmur. Pada rakaat ketiga dilakukan pembacaan kanun al imam, semacam pengakuan kepada Tuhan (syahadat) yang dikenal dalam Cereja Ortodoks.

Tak hanya itu, sebelum salat ditunaikan. ada semacam azan, panggilan untuk salat. Dalam panggilan salat ini ada kalimat yang mirip dalam Islam, misalnya hanya alashalah (marilah kita salat). Hayya alassalah bisa/am (marilah kita salat dengan damai). Dan, sebelum acara salat dilakukan, diawali dengan pembacaan Injil.

* Menghadap ke Timur

Pada saat salat, mereka menghadap ke timur, mengikuti tradisi Yesus yang kala itu menghadapkan kiblat salatnya ke Baitul Maqdis, Jerusalem. Namun, karena Jerus;llem hancur, orang-orang Kristen menjadikLm tubuh Jesus sendiri sebagai kiblat. Hanya karena tubuh Jesus kini di surga (istiwa all yaminillah), sesuai dengan Ayat Kejadian: 28, yang menyatakan surga di timur. salat mereka menghadap ke timur.

Tak hanya itu persamaan dengan Islam. Tenyata mereka juga mengenal haji. Ibadah hji ke Palestina ini termasuk ibadah non-sakramen, seperti juga salat, zakat persepuluhan, serta puasa. Berdasan Kitab Ulangan 16: 16-17 disebutkan hag atau haji dilakukan ke tanah suci Palestina menjelang Pekan Kudus (perayaan Paskah). tiga kali dalam setahun. Dan. sepulangnya, setiap orang Kristen Ortodoks mendapatkan sertifikat dari Patliauk Jerusalem dengan sebutan hadzi (untuk pria) dan hldzina (untuk wanita).

Pusat Gereja Syria ini terletak di Jalan Supriyadi IXA Nomor 8. Malang, Jawa Timur. Hanya, mereka belum memiliki gereja. Di Surabaya sendiri mereka masih nebeng dengan gereja lain. Mereka menerima pembagian kapling waktu hari Senin. Sebab, membentuk gereja bagi kalangan ortodoks tidak semudah kalangan lain. Diharuskan memiliki iman yang meraka sebut dengan abuna (ayah kami). Hampir mirip pada sebagian tradisi kita yang menganggap kiai dengan abuya (ayahku). Padahal, menjadi seorang abuna tiduk mudah. Harus menguasai lima bahasa: Arab, Aram, Ibrani, Yunani, dan Inggris "Dan, mereka dididik di Syria untuk menjaga kemurnian ajaran ini," kata Henney.

Masuknya Gereja Ortodoks Syria ini diawali dari perjalanan pendeta Bambang Noorseno ke Syria. dan sempatat melakukan studi agama di negara Hafic Alasat sekitar tahun 1995. Noorseno yang juga termasuk intelektuL muda Kristen itu antara lain menulis buku sangggahan atas karya Maulice Bucaille yang terkenal, Quran Bibel, sains moderen ini sempat pulal melihat arsip-arsip kuno yang masih tersimpan dalam Gereja Ortodoks Syria atau yang dikenal dalam bahasa Arab: Al Kanisat Anthakiyat AS SUI Yan AI Orhodokssiyyat Yang Sebagian besar naskah ditulis dalam bahasa Aram bahasa yang yang dipercaya sebagai bahasa yang dipergunakan Isa Almasih Noorseno sempat pula berdiskusi tentag naskah-naskah yanghampir tak pernah disentuh gereja Barat ini dengan Abuna 'Isa Ghubuz, Ketua Syrian Ortodok Seminary di kawasan Bab Thoma. Damaskus Apalagi, tuduhan-tuduh miring tentang gereja ini banyak dilontarkan gereja Barat yang haya melandaskan informasi sepihak

Padahal, menurut Noorseno dalam orasi ilmiahnya yang disampaikan pada peresmian Yayasan Kanisah Ortodoks Syria yang berjudul Jalan Panjang ke Anthiokia: Kembali ke Akar Kekristenan Semitik Mula-Mula (Sebuah Perseptektif Ortodoks Syria), 11 Desember 1997, Gereja Syria berdiri pada tahun 40. Rasul Petrus sendiri yang menjadi uskup pertama Anthiokia. ..

Kehancuran gereja itu terjadi pada tahun 451 ketika kekuasaan Byzantium mencengkeram Anthiokia dengan memaksakan Konsili Kalsedon. Gereja Anthiokia didukung Gereja Koptik di Mesir, sehingga dua patriark dua gereja ini dibuang. Kekaisaran Byzantium mengganti patriarknya dengan Paulus. Tapi, dua tahun kemudian ia dipecat dan digantikan Auphrosius bin Mallah yang ikut meninggal dalam kebakaran Kota Anthiokia. Lalu, Kaisar Justinus I mengangkat Gubernur Anthiokia sendiri sebagai patriark. Makin kacau. Gereja Anthiokia baru menemukan sosoknya kembali setelah tahun 543 dengan ditahbiskannya Mar Ya'qub Bar Addai. Hingga tahun 550, ia berhasil menahbiskan 27 uskup dan lebih 100.000 imam. Inilah yang dalam konsili ketujuh gereja Yunani disebut bidat Ya'qubiyah (Jacobite), yang danggap monofisit, yang menganggap Yesus hanya bersifat ilahi dan menyangkal kemanusiaannya. "Padahal, ajaran monofisit dalam artian demikian itu sebenarnya tidak pernah ada dalam sejarah," tulis Noorseno.

Gereja Ortodoks ini, menurut Funk & Wagnall, dipeluk sekitar 250 juta jiwa. Ia merupakan salah satu dari tiga pilar Kristen di dunia: Katolik, Protestan, dan Ortodoks. Mereka besar di Mesir (Koptik), Libanon (Maronit), Syria, Jerusalem, Rusia, Serbia, Yunani, dan Turki. Kaum ortodoks menganggap paling dekat dengan tradisi Yesus. Liturginya telah dikukuhkan dalam tujuh kali pertemuan para patriark antara tahun 325 hingga 787 di Kota Nicaea, Constantinopel, Ephesus, dan Calcedon.

Gereja Ortodoks pernah singgah di Nusantara, yaitu Gereja Ortodoks Persia pada zaman Sriwijaya dan Majapahit. Begitu juga Gereja Ortodoks Armenia pernah ada pada zaman Belanda. Gerejanya yang bernama Gereja Santo Johannes Pembaptis dahulu terdapat di Jalan Thamrin yang kini menjadi gedung Bank Indonesia. Namun, belakangan, gereja ini muncul kembali setelah Daniel ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1988 di Mojokerto, Jawa Timur. Tahun 1991, gereja ini tercatat di Departemen Agama sebagai Gereja Ortodoks Indonesia. Gereja ini memiliki sekitar 1.000 anggota yang tersebar di Jakarta, Solo, Mojokerto, dan Cilacap.

Sekitar tahun 1996 mengalami "perpecahan" dengan tampilnya Bambang Noorseno sebagai syaikh untuk Gereja Ortodoks Syria, dengan anggota yang masih terbatas, sekitar 250 orang. Namun, gereja ortodoks pimpinan Noorseno ini belurn terdaftar di Departemen Agama. "Lagi pula nama sebuah gereja tidak boleh dikaitkan dengan nama sebuah negara," kata Drs. Yan Kawatu, Dirjen Bimas Kristen Protestan Departemen Agama RI.

M.H., Titi A.S., dan Abdul Manan Surabaya

D&R, Edisi 981003-007/Hal. 38 Rubrik Agama

Dulu Primadona, Kini Sepi Mahasiswa

Gara-gara bisnis perbankan mampat, minat kuliah di lembaga perbankan pun tak lagi ngebet.

BISNIS perbankan kini macet. Maka, para calon mahasiswa yang dulu ingin kuliah di sekolah-sekolah tinggi perbankan tak lagi ngebet. Padahal, ketika dunia perbankan marak, minat mahasiswa membengkak. Anganangan mereka: jika kelak lulus, bisa bekerja di bank, yang konon gajinya gede. Di lain pihak, bank-bank juga membutuhkar tenaga kerja terdidik. Tapi, kini, impian itu terpuruk sudah.

Itu sebabnya Pipit kini kebingungan Mahasiswa semester akhir fakultas ekonomi sebuah perguruan tinggi swasta itu mengaku patah arang untuk meneruskan kuliah. "Dulu, saya ngebet banget bekerja di bank. Kelihatannya kan sangat bergengsi," katanya. Tapi, kini, dunia perbankan hancur sudah. Bukan hanya itu, bahkan untuk melamar ke berbagai perusahaan pun tipis harapan bisa diterima. Sebab, yang terjadi justru banyak karyawan dikenakan pemutusan hubungan kerja.

Dampak pahit atas porak-porandanya sektor perbankan itu dengan sendirinya juga dirasakan lembaga-lembaga pendidikan perbankan. Lembaga penyedia tenaga kerja perbankan itu kini mulai senyap peminat. Padahal, di awal tahun 1990-an, seiring dengan menjamurya bank swasta, pendidikan perbankan laris diserbu para calon mahasiswa.

Kini, yang terjadi kebalikannya. Tengoklah, misalnya, Sekolah Tinggi llmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta, yang beken dan keren. Tahun lalu, jumlah pendaftar di kampus itu tak kurang dari 6.000.Tapi kini, jumlah calon mahasiswa di sana merosot hampir 50 persen. "Padahal, dua tahun lalu, yang mendaftar sekitar 8.000 orang," ujar Suhardi, Ketua STIE Perbanas Jakarta.

Meski jumlah pendaftar menciut, lulusannya masih bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk bank-bank swasta yang tergabung dalam Perhimpunan Bank Nasional Swasta alias Perbanas. Setiap tahun, kampus itu mendidik sekitar 1.200 mahasiswa.

* Bangkrut, Jual Aset

STIE Kerja Sama di Yogyakarta juga mengalami nasib serupa. Sebelumnya, sekolah itu mampu menjaring 1.100 mahasiswa, kini cuma 800 Bahkan, lantaran terancam bangkrut, belakangan, lembaga pendidikan itu berniat menjual sebagian asetnya. "Sayang, sampai sampai saal ini belum juga laku," kata Murthono Reksojoyo, Kepala Bagian Penelitian dan pengembangan STIE Kerja Sama.

Suasana sepi itu juga tampak di kampus STIE Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan di Bandung. Di sana, mahasiswa yang mendaftar anjlok sekitar 20-30 persen dari tahun sebelumnya. Dan, yang paling anjlok dialami STIE Perbanas Surabaya. Ketika dunia perbankan masih jaya, tak kurang dari 3.000 mahasiswa baru mendaftar di lembaga pendidikan swasta yang juga membuka program diploma-3 perbankan itu. Tapi kini. jumlah pendaftar anjlok sampai 50 persen.

Menurut Tjuk K. Sukiadi, Pembantu Ketua I STIE Perbanas Surabaya, semula. perbankan memang merupakan jurusan primadoria Dulu, peminat di jurusan itu membludak. Tapi kini, ketika dunia perbankan ambruk, jurusan itu pula yang paling terpuruk. "Apalagi, pemberitaan di koran memberikan kesan dunia perbankan sudah seperti mau kiamat saja. Itu sangat mempengaruhi lembaga kami," kata Tjuk. Jumlah calon mahasiswa yang mendaftar di lembaga kursus perbankan, seperti New Surabaya College, di Surabaya juga anjlok sekitar 50 persen.

Namun, menurut para pengelola lembaga pendidikan perbankan itu, ambruknya dunia perbankan bukan satu-satunya penyebab anjloknya jumlah calon mahasiswa. Menurut mereka, hal itu lebih disebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Apalagi, ada kesan seolah dunia perbankan sudah kiamat. Itu semua sangat mempengaruhi calon mahasiswa yang ingin kuliah di lembaga pendidikan perbankan dengan harapan bisa bekerja di bank.

Kendati begitu, para pengelola pendidikan perbankan itu rata-rata masih optimistis. Mereka yakin masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Jika kini potret dunia perbankan buram, tiga sampai lima tahun mendatang, mereka yakin akan muncul fajar yang cerah: ekonomi akan membaik, sehingga bisnis perbankan normal kembali. Ketika itulah dunia perbankan akan membutuhkan tenaga kerja terdidik.

Optimisme seperti itu rupanya juga terbersit di benak Fuad Hasan. Meskipun sekarang ini kesempatan bekerja di bank sangat kecil, mahasiswa semester tiga STIE Perbanas Jakarta itu tak mau ambil pusing. Bagi dia, yang penting bisa lulus dulu. "Soal kerja, enggak mikir dululah. Kerja kan nanti bisa di mana saja," katanya. Memang, yang penting belajar, tak perlu pusing-pusing.

Cuma, nanti jika sudah lulus, nah, baru puyeng lu.

Puji Sumedi/Laporan M. Subroto (Jakarta), Rudianto (Bandung), Prasetya (Yogyakarta), dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 981003-007/Hal. 37 Rubrik Pendidikan