Monday, May 21, 2018

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya.
Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Mahatir Mohamad: Jika Saya Diktator, Rakyat Tak Pilih Saya Lagi

SETELAH mundur dari jabatan Perdana Menteri Malaysia pada 2003, Mahathir Mohamad ingin pensiun dari karier pemerintahan. Ia hanya ingin membantu memberi konsultasi kepada pemerintah jika dibutuhkan. Namun keinginan itu menguap seiring dengan banyaknya masalah yang dihadapi negara berpenduduk 31 juta jiwa tersebut.
Mahathir, yang pada 10 Juli nanti berusia 93 tahun, memutuskan turun gunung. Salah satunya karena skandal korupsi di perusahaan negara 1Malaysia Development Berhard (1MDB). Kritiknya terhadap Perdana Menteri Najib Razak kala itu tak hanya diabaikan. Ia malah pernah diperiksa polisi karena mengecam kasus itu.
Kekecewaan terhadap Najib dan perkembangan di Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) mendorong Mahathir keluar dari UMNO pada 2015, partai yang mengantarnya menjadi perdana menteri pada 1981-2003. Mahathir lantas mendirikan Partai Pribumi Bersatu Malaysia dan bergabung dengan partai-partai oposisi lainnya, yaitu Partai Keadilan Rakyat, Partai Amanah Negara, dan Partai Aksi Demokratis.
Karena tokoh oposisi Anwar Ibrahim masih di penjara, koalisi yang dinamai Pakatan Harapan itu sepakat menjadikan Mahathir sebagai calon perdana menteri jika koalisi menang pemilihan pada 9 Mei 2018. Di luar dugaan, Pakatan memperoleh 113 dari total 222 kursi parlemen, mengalahkan koalisi Barisan Nasional yang hanya mendapatkan 79 kursi.
Mahathir pun dilantik kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia ketujuh pada 10 Mei. Ia berharap menjadi perdana menteri selama dua tahun saja sebelum menyerahkan jabatannya kepada Anwar Ibrahim. "Dalam dua tahun ke depan, saya berharap sudah bisa menyelesaikan sebagian besar masalah yang ada," kata Mahathir dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo Abdul Manan di kantor Yayasan Albukhari di Jalan Perdana, Taman Tasik Perdana, Kuala Lumpur, Jumat pekan lalu.
Mahathir berbicara soal kesehatannya yang tak sepenuhnya baik, realisasi dari manifesto Pakatan Harapan yang menjadi prioritas dalam 100 hari pertama pemerintahannya, perdamaiannya dengan Anwar Ibrahim, serta hubungan Malaysia-Indonesia.

Najib di Tubir Jurang 1MDB

Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, baru pulang salat tarawih saat lebih dari 15 kendaraan polisi menyatroni rumahnya, Rabu malam pekan lalu. Dalam sekejap halaman rumah di Jalan Langgak Duta, Taman Duta, Kuala Lumpur, Malaysia, itu penuh oleh mobil polisi, termasuk mobil pengangkut tahanan Black Maria. Kehadiran Black Maria menimbulkan spekulasi bahwa mantan Presiden Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) yang baru sepekan melepas kursi perdana menteri itu akan ditangkap.

Monday, May 14, 2018

Wan Azizah: Kami Perlu Segera Memulihkan Kepercayaan Publik

RAKYAT Malaysia dalam pemilihan umum Rabu pekan lalu memberi dukungan besar kepada koalisi Pakatan Harapan untuk memimpin pemerintahan. Perolehan kursi koalisi Partai Pribumi Bersatu, Partai Keadilan Rakyat (PKR), Partai Aksi Demokratik (DAP), dan Partai Amanah ini melebihi Barisan Nasional, koalisi partai yang tak pernah kalah dalam 62 tahun ini. "Alhamdulillah apa yang telah kami usahakan selama 20 tahun ini berhasil," kata Ketua PKR Wan Azizah Wan Ismail.

Kembalinya Dr M

SUKSES memimpin koalisi oposisi Pakatan Harapan memenangi pemilihan umum Malaysia, Rabu pekan lalu, tugas Mahathir Mohamad masih panjang. "Ini akan menjadi pekan yang sibuk. Saya tak akan pulang pukul 4 pagi. Biasanya saya pulang pukul 6 pagi. Tapi mungkin akan saya perpanjang sampai pukul 7 pagi," mantan Perdana Menteri Malaysia ini berseloroh di depan wartawan dan pendukungnya di Sheraton Petaling Jaya, Malaysia, Kamis tengah malam pekan lalu.

Monday, April 23, 2018

Nahas Ahli Drone Hamas di Setapak

MASYARAKAT daerah Setapak, Kuala Lumpur, Malaysia, mengenal Fadi al-Batsh sebagai Ustad Fadi. Pria 35 tahun yang tinggal di kondominium Idaman Puteri itu pengajar di University of Kuala Lumpur bidang tenaga listrik. Ia juga imam salat lima waktu tiap Sabtu dan Minggu di Surau Medan Idaman, sekitar 300 meter dari tempat tinggalnya. 

Monday, April 16, 2018

Pasal Spionase untuk Sang Dokter

VONIS mati terhadap ilmuwan asal Iran yang tinggal di Swedia, Ahmadreza Jalali, memicu solidaritas internasional. Sebanyak 75 penerima Hadiah Nobel mengirimkan surat pernyataan melalui Duta Besar Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Gholamali Khoshroo. Surat dikirimkan pada 17 November 2017, tapi tak kunjung berbalas. "Saya tak mendengar respons apa pun dari Iran," kata Richard J. Roberts, penerima Nobel Psikologi dan Kedokteran 1993, salah satu ilmuwan yang namanya masuk daftar pengirim surat itu, kepada Tempo, Rabu pekan lalu. 

Monday, April 09, 2018

Pembelot dari Kota Hamhung

JIKA tak ada aral, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in akan bertemu dengan Presiden Korea Utara Kim Jong-un pada 27 April. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Jong-un pada akhir April atau awal Mei. Agendanya membahas perlucutan nuklir dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Monday, April 02, 2018

Kisah Tak Terlupakan di SD Bukchon

GURATAN ketuaan terlihat jelas di wajah Ko Wan-soon. Warga Bukchon-ri, Provinsi Jeju, Korea Selatan, ini sudah berusia 80 tahun, tapi masih mengingat cukup baik peristiwa pemberontakan dan 3 April 1948 yang kemudian berujung pada pembantaian yang menewaskan sekitar 30 ribu orang di Jeju.

Sisi Gelap Wajah Jeju

JEJU dijuluki sebagai Hawaii-nya Korea Selatan. Kepulauan seluas 1.849 kilometer persegi ini menjadi tempat wisata favorit dengan 8,7 juta pengunjung per tahun. Namun, di balik keindahannya, Jeju menyimpan sisi kelam akibat peristiwa "Pemberontakan dan Pembantaian 3 April 1948" yang masih menjadi luka terbuka bagi penduduk setempat dan pekerjaan rumah bagi pemerintah Korea Selatan. 

Vonis Mati Godfather Kota Tambang

ZHANG Zhongsheng, mantan Wakil Wali Kota Lyuliang dan dijuluki "Godfather" di wilayahnya, menjadi pejabat pemerintah pertama yang dihukum mati karena kasus korupsi di bawah pemerintahan Presiden Cina Xi Jinping. Media Inggris, The Times, menyebut pemberian hukuman paling keras ini sebagai sinyal dari Beijing bahwa tak ada batas hukuman bagi pejabat korup. 

Monday, March 26, 2018

Jejak Firma Tuan Bond

COMMON Cause adalah organisasi independen, nonpartisan, dan bermoto "Menuntut para pemegang kekuasaan untuk bertanggung jawab". Organisasi yang dirintis senator Republik, John W. Gardner, yang berkantor pusat di Washington, DC, Amerika Serikat, ini meminta Kementerian Kehakiman mengambil tindakan terhadap Cambridge Analytica karena keterlibatannya dalam pemilihan Presiden Amerika dan mengeksploitasi data pribadi 50 juta pengguna Facebook. 

Monday, March 19, 2018

Setelah Makan Siang di Zizi

KOLONEL purnawirawan Sergei Skripal dikenal warga Kota Salisbury, Inggris, sebagai pensiunan militer Rusia dan punya bisnis properti di luar negeri. Ia tinggal di rumah modern yang dibeli seharga Rp 5 miliar pada 2011 dengan memakai namanya sendiri. Pria 66 tahun ini tinggal bersama istrinya, Liudmila, yang meninggal akibat kanker lima tahun lalu. 

Monday, February 26, 2018

Cerita dari Bunker Kota Ghouta

SELASA pekan lalu seharusnya menjadi hari yang cukup tenang bagi warga Ghouta Timur, Suriah, meski hanya lima jam. Presiden Rusia Vladimir Putin, sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad, memerintahkan "jeda kemanusiaan" setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 14.00, di daerah yang dikepung ketat sejak awal bulan lalu itu. Jeda itu untuk memberi warga Ghouta kesempatan keluar dari kota tersebut serta memuluskan jalan bagi bantuan kemanusiaan untuk menjalankan tugasnya.