Saturday, August 22, 1998

Tanah Parang, dan Krisis

Warga rame-rame mematoki lahan tidur. Gubernur Jakarta mengizinkan. Bakal muncul problem hukum.

TANPA menghiraukan tembakan peringatan polisi, bentrok fisik itu terjadi pada Minggu pagi, 9 Agustus lalu. Ratusan warga saling pukul dan main parang dengan para satuan pengamanan (satpam) beserta puluhan orang sipil di sekitar pacuan kuda, Pulomas, Jakarta Timur.

Keributan baru berhenti begitu ada warga terluka parah. Tangan warga itu, Alfian Surianto, 21 tahun, berlumuran darah. "Setelah lima belas menit tak sadarkan diri, baru saya ingat, telapak tangan kanan saya hilang," tutur pemuda yang mengaku korban pemutusan hubungan kerja (PHK) di PT Yasonta, Pulogadung, itu.

Rekan-rekannya segera menemukan potongan tangan itu, tergeletak di balik semak. Alfian dibawa ke rumah sakit. Malamnya, setelah dioperasi selama 13 jam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, telapak tangan Alfian bersambung lagi dengan tangannya. "Terpaksa kami menanggung sendiri biayanya," tutor Siboru Simamora, ibu Alfian.

Belum jelas, siapa yang memulai bentrok berdarah itu. Menurut teman Alfian, Abey Butar-butar, 35 tahun, para satpam dan karyawan PT Pulomas Jaya yang lebih dulu menyerang. Waktu itu, Abey dan para warga sedang mencangkuli tanah di sekitar pacuan kuda, yang sebelumnya sudah mereka patoki. Tiba-tiba, para satpam dan karyawan menyerbu, dengan membawa parang, golok, samurai, dan celurit.

Alfian sendiri mengaku masih berada di luar lokasi. Ketika ia melihat kakaknya, Hendrik, dikeroyok penyerang, Alfian berusaha menolong. Mendadak, seorang lelaki berbadan tegap membatalkan golok ke tangan Alfian. Hendrik bisa lari, kendati kedua pahanya terbacok parang.

Lain lagi versi satpam PT Pulomas Jaya-pengelola tanah Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta itu. Pagi itu, dengan bersenjata golok, satpam dan karyawan membersihkan patok-patok warga di areal tersebut. Kegiatan itu diawasi terus oleh sekitar 50 orang polisi dan tentara. Tahu-tahu, ratusan warga yang membawa aneka senjata tajam menyerang mereka.

Sebetulnya, menurut Barjo, Kepala Keamanan PT Pulomas Jaya, aktivitas warga mematoki lahan seluas dua hektare di sekitar pacuan kuda sudah berlangsung sejak Senin, 3 Agustus lalu. Bila ditegur dan diberitahu bahwa tanah itu milik pemda, para warga malah balik meradang.

Pematokan semakin menjadi jadi setelah ada berita koran edisi 6 Agustus lalu tentang pernyataan Gubernur DKI Sutiyoso yang membolehkan warga menggarap lahan tidur. Mereka ada yang datang berjalan kaki, menggunakan angkutan umum, mengendarai sepeda motor dan mobil pribadi. Ada dari daerah sekitarnya, dari Senen, Pulogadung, atau Bekasi.

Tak cuma di sekitar pacuan kuda terjadi pematokan lahan. Lahan di sepanjang pinggir sungai di Pulomas Barat dan di pinggiran waduk di Pulomas Utara juga dikaplingi warga. Mulanya memang tanam-tanam, "Tapi lama-lama mereka bikin rumah di lahan itu," ucap Barjo, khawatir. Contohnya, lahan yang dipatoki warga di camping Universitas Jakarta di Pulomas Barat 6. Di situ, kini sudah berdiri rumah-rumah.

* Untuk Ditanami

Namun, Abey dan rekan-rekan mengaku bahwa mereka semata-mata hendak menanami lahan itu dengan sayur-mayur ataupun palawija. "Kami bukan penjarah lahan. Kami tidak ingin keributan. Daripada menganggur, lebih baik kami menggarap tanah itu," kata Joni. Abey menimpali, "Daripada lahan tidur itu dibiarkan jadi belukar."

S. boru Simamora juga mengutarakan maksud serupa. Karena anak-anaknya dikenakan PHK, dia mengaku menyambung hidup dengan mencoba menggarap lahan tersebut. "Boro-boro bakal membangun rumah di situ, buat makan saja susah," ucapnya. Tapi, ibu Simamora mengaku pula kini dia mengurungkan niatnya, setelah Alfian kena musibah.

Yang jelas, Abey dan 56 orang rekannya pantang surut. Mereka mengajukan permohonan untuk menggarap lahan tadi ke PT Pulomag Jaya dan Camat Pulogadung. Mereka berjanji akan meninggalkan lokasi, tanpa menuntut ganti rugi, bila PT Pulomas Jaya akan memanfaatkan kembali lahan tersebut.

Wali Kota Jakarta Timur Sudarsono mengaku masih mempelajari permohonan itu. "Sepanjang digunakan untuk pertanian, kami akan mengizinkan. Namun, diprioritaskan untuk warga yang tinggal dekat lokasi," katanya.

Tanggapan senada juga diutarakan Gubernur Jakarta Sutiyoso. Menurut Sutiyoso, lahan tidur milik pemda bisa ditanami tanaman semusim oleh warga yang terkena PHK atau yang kesulitan akibat krisis ekonomi.

Tapi, "Bukan untuk dimiliki: " ujarnya. Dan, "Jangan main patok, tanpa seizin pemilik atau pengelolanya. Itu penjarahan. Pakai prosedur yang ada."

Di Jakarta, kini ada 2.567 hektare lahan tidur milik pemda. Lahan itu tersebar di sekitar enam ribu lokasi di lima wilayah Jakarta. Selain tanah pemda, lahan tidur milik swasta properti pun boleh digarap warga. Asalkan itu tadi, seizin pemiliknya, tidak untuk dimiliki dan harus dikembalikan bila si empunya membutuhkan kembali. Untuk itu, kabarnya, bakal keluar keputusan presiden.

Tak hanya di Jakarta ditempuh upaya mengatasi kemungkinan tanah dijarah, selain jpga untuk mengurangi beban masyarakat akibat krisis ekonomi. Di Sumedang, Jawa Barat, pemda setempat menawarkan 100 hektare lahan tidur untuk digarap petani. Dan, di Sukabumi, beberapa perusahaan pemilik lahan luas juga menyewakan tanahnya dengan harga murah kepada petani.

Sementara itu, di Jawa Timur, pihak Perhutani II melibatkan pondok pesantren dan koperasi untuk mengelola dan mengamankan hutan jati. Soalnya, penyerobotan tanah dan penjarahan kayu jati semakin marak di Bojonegoro dan Banyuwangi.

Begitupun, rentetan pematokan dan pengkaplingan lahan oleh warga tak kunjung susut. Lahan perkebunan cokelat PTP Nusantara XII di Malang, Jawa Timur, misalnya, dibagi-bagi warga.

Demikian pula tanah seluas 314 hektare dari lahan seluas 1.327 hektare milik PD Banongan, yang ditanami tebu oleh CV Dan, son. Sekitar 300 warga dari sembilan desa di Situbondo, Jawa Timur, rame-rame menanami jagung. Para warga tetap menganggap lahan perkebunan tebu itu merupakan warisan nenek moyang mereka.

Laporan Ondy A. Saputra (Jakarta), Rudianto Pangaribuan (Bandung) dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 980822-001/Hal. 70 Rubrik Hukum

Sunday, August 16, 1998

Kok, Warga Gampang Mengamuk?

Sembilan orang di Gresik tewas diamuk massa. Di Tulungagung, balai desa dirusak.

DUKA dan galau sulit pupus dari benak Ismani. Sebab, suaminya, Dodi Hartawan, dan delapan temannya tewas dianiaya warga di Desa Boteng, Kecamatan Menganti, Gresik, Jawa Timur. Namun, sampai kini para pelaku, yang mengira Dodi dan kawankawan adalah komplotan pencuri sepeda motor, tiada yang ditahan polisi.

Padahal, "Suami saya bukan perampok," tutur Ismani, ibu dua anak berusia lima dan tiga tahun itu, sembari terisak menangis. Dia, juga segenap tetangganya di Desa Banyuurip, Menganti, tetap , menuntut Kepolisian Resor Gresik untuk mengusut tuntas kasus main hakim itu.

Tak sedikitpun Ismani menduga musibah bakmenimpa sang suami, tatkala Dodi tak kunjung pulang. Yang membuatnya gelisah waktu itu hanyalah kemungkinan mobil tua jenis Hijet milik Dodi mogok di jalan atau kehabisan bensin.

Pada Kamis, 30 Juli lalu, pukul 20.00, Dodi, yang pegawai kantor Golkar Jawa Timur, pergi mengantar Nono, tukang becak yang biasa mangkal di desa. Nono sakit dan mesti dibawa ke rumahnya di Desa Bibisbeton, Menganti. Di mobil Hijet tua itu, ada Dodi dan sembilan warga Banyuurip. Dua warga yang lain, Isbuddin dan Bagong, ikut mengantar, dengan sepeda motor.

Di tengah perjalanan, di Desa Boteng, masih di Kecamatan Menganti, Nono pamit ingin kencing dan beli rokok. Yang lain ikut trun. Tak lama kemudian, entah kenapa, Nono mengerang kesakitan. Dengan tergopohgopoh, rombongan Dodi naik kembali ke mobil. HanyaAgus yang tak tampak. DiputuskanLah untuk
meninggalkan Agus. Toh, nanti Isbuddin dan Bagong bakal melewati tempat itu.

Setengah jam setelah Dodi dan kawankawan pergi, Agus baru muncul. Ia kebingungan karena ditinggal sendirian. Sambil berjalan, Agus celingak-celinguk mencari teman-temannya. Rupanya, tingkah Agus itu membuat masyarakat setempat curiga. Mungkin lantaran di situ sudah dua bulan terjadl berkali-kali pencurian sepeda motor. Tak jauh dari tempat Agus beljalan, ada sebuah sepeda motor diparkir di halaman sebuah rumah. Pemiliknya, Yunus, sedang berkunjung ke rumah pacarnya. Saat itulah, seorang warga Desa Boteng bernama Wawan berteriak. "Maling, maling."

Mendengar teriakan itu, warga langsung mengerubuti Agus. Ia dibawa ke pos ronda untuk diinterogasi. Sembari dipukuli, Agus ditanya soal teman-temannya. Agus bilang, teman-temannya mengendarai mobil Hijet berpelat nomor L 1857 AD.

Warga pun berbagi tugas untuk memburu rombongan ber-Hijet tadi. Benar saja. Mobil itu ditemui saat memasuki Desa Gadingwatu, sekitar dua kilometer dari Desa Boteng. Mereka mengepung mobil yang ditumpangi Dodi dan kawall-kawan.

Dengan menggunakan senjata tajam dan alat pemukul tanpa pikir panjang lagi, mereka mengeroyok Dodi dan kawan-kawan. Akibatnya, waktu itu pukul 23.00, Dodi dan delapan temannya tewas. Setelah polisi datang dan kemudian membawa jasad para korban, massa kembali mengamuk. Kali ini, mobil Hijet yang dibakar.

Keruan saja, kesewenang-wenangan itu menyulut kemarahan warga Desa Banyuurip. Mereka memasang spanduk-spanduk bemada kutukan, selain juga menuntut peradilan para pelaku. Suasana tegang melingkupi desa-desa di Kecamatan Menganti, meski tak sempat terjadi aksi balas dendam.

Sudah 12 orang diperiksa oleh Polres Gresik. Namun, belum seorang pun berstatus tersangka, apalagi ditahan. Boleh jadi sikap hati-hati itu lantaran polisi khawatir didemonstrasi massa.

* Amuk Pilkades

Perilaku massa yang acap menggampangkan urusan juga meledak di Desa Tanggulkundung, Kecamatan Besuki, Tulungagung, Jawa Timur. Sekitar 500 pemuda. Pada Selasa, 28 Juli lalu, memporak-porandakan balai desa. Mereka berang lantaran calon mereka, Serka (Pol) Suyoto, kalah tipis dari saingannya, Muhaimin, pada pemilihan kepala desa (pilkades).

Begitu suara yang diraih Suyoto cuma 967, sementara Muhaimin dapat 993 suara, mereka langsung berteriak: "Curang! Curang!" Kursi-kursi pun beterbangan. Lampu-lampu dipecahi. Arsip desa, termasuk berkas surat tanah, dibakar. Balai desa rusak berat jadinya.

Janggalnya, parapetugas dari Kepolisian Sektor (Polsek), juga Komando Rayon Militer (Koramil), Besuki yang mengawasi jalannya pilkades sepertinya membiarkan saja aksi itu. Bisa jadi, itu lantaran Suyoto masih anggota Polsek Besuki. Diduga, yang menggerakkan massa pemuda tak lain Kopral Kepala Mulyadi, adik kandung Suyoto yang bertugas di Polres Tulungagung. "Mulyadi yang memberj aba-aba kepada para pemuda," tutur Serda Sumarji, petugas dari Koramil Besuki.

Sampai sekarang, suasana Desa Tanggulkundung masih tegang. Soalnya, para pendukung Suyoto berkeliaran meneror warga desa. Muhaimin sendiri terpaksa mengungsi ke rumah orang tuanya di Dusun Tempel. "Saya tak akan pulang sebelum suasana aman," katanya.

Memang, Poires Tulungagung terus mengusut kasus itu. Namun, Kopka Mulyadi, setelah diperiksa, dilepaskan kembali lantaran ratusan pemuda menjemputnya di Polres Tulungagung.

I.H./Laporan Zed Abidin dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 980815-052/Hal. 69 Rubrik Kriminalitas

Saturday, August 15, 1998

Pesan si Doel untuk Anak Indonesia

Puluhan ribu anak-anak tak bisa melanjutkan sekolah karena krisis ekonomi. Siapa bertanggung jawab atas nasib mereka?

KITA semua tahu, keadaan memang susah. Apa pun yang terjadi, anak-anak jangan sampai putus sekolah," begitu pesan Rano Karno, dalam iklan yang ditayangkan hampir semua stasiun televisi. Dalam iklan yang didukung oleh hampir semua pemain Si Doel Anak Sekolahan itu, Rano menganjurkan agar anak-anak tetap melanjutkan sekolah walaupun krisis ekonomi sedang melanda Indonesia.

Memang, tingginya angka anak-anak yang tidak melanjutkan lagi sekolahnya, pada tahun ajaran baru. Juli lalu, sungguh luar biasa. Hampir tak pernah terjadi dalam sejarah Orde Baru selama ini.

Di Jawa Timur, misalnya, 40 ribu anak usia sekolah terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Pelinciannya: 30 ribu siswa sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah, dan 10 ribu siswa sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Angka itu memang belum pasti benar. Bisa lebih kecil, bahkan bisa pula lebih besar. Para siswa yang putus sekolah itu kebanyakan berasal dari pesisir pantai Jawa Timur bagian utara yang memang dikenal berpenduduk miskin. Di Kabupaten Tulungagung, misalnya, yang letaknya di pesisir Pantai Selatan, ada 1.800 anak usia 7 hingga 12 tahun tak melanjutkan sekolahnya ke SLTP tahun ajaran 1998/1999. "Ini semua akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan," ujar Sarjono, Kepala Kantor Wilayah Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur.

Di Tulungagung, para siswa keluar dari sekolah karena ingin bekerja untuk meringankan beban keluarga. Kebanyakan dari mereka ingin bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia.

Di Provinsi Jambi, 4.400 anak lulusan SD tak bisa melanjutkan ke SLTP. Sebagian di antaranya tak mampu membayar biaya yang dipatok sekolah-sekolah bersangkutan yang besamya di luar ketentuan pemerintah. Menurut pemantauan DR di beberapa SLTP dan SLTA negeri di Jambi, uang pungutan di luar ketentuan Departemen P&K mencapai angka Rp 180 ribu. Untuk jumlah yang sebenarnya tak terlalu besar itu pun, para orang tua siswa angkat tangan.

Di Jambi, tanpa krisis moneter pun jumlah anak putus sekolah sudah tinggi. Dari 174.785 anak usia 13-16 tahun yang bersekolah hanya 83.102 orang. Sebagian besar dari mereka bekerja di perkebunan kepala sawit, penyadapan karet, dan industri pengolahan kayu.

Di Jakarta, karena krisis moneter ini, Kantor Wilayah Departemen P&K memperpanjang pendaftaran sekolah bagi siswa-siswa sekolah dasar dan menengah negeri hingga September nanti. Para siswa sekolah dasar dan menengah juga tak diwajibkan mengenakan seragam kalau tak punya uang untuk membeli seragam.

* Mahasiswa Juga Kesulitan

Krisis ekonomi tak hanya menyulitkan anak-anak sekolah dasar dan menengah, namun juga membuat pusing para mahasiswa. Di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, banyak mahasiswa meminta cuti semester dan penundaan pembayaran uang kuliah. Menurut Bambang Kartika, Pembantu Rektor III UGM, kesulitan yang dialami mahasiswa ini karena harga buku yang melambung tinggi, biaya indekos, dan biaya hidup yang makin mahal.

Uang kuliah di universitas negeri yang cukup temama itu sebenamya tak terlalu mahal, yakni Rp 120 ribu hingga Rp 250 ribu per semester, atau Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu per bulan. Ini kecil jumlahnya, dibandingkan dengan uang sekolah sejumlah taman kanak-kanak di Jakarta yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per bulannya. Bagi mahasiswa yang kesulitan membayar uang kuliah, kami memberikan diskon sebesar 25 persen," ujar Bambang kepada D&R.

Di Depok, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengalami nasib serupa. Empat ratus mahasiswa UI harus dibantu dalam membayar uang kuliahnya sebesar Rp 475 ribu per semester agar bisa melanjutkan kuliah. "Ada beberapa bentuk pertolongan yang diberikan. Membantu sebagian uang kuliah, membebaskan dan memberikan pinjaman. Namun, sebagian besar mahasiswa yang datang ingin dibebaskan kewajiban membayar uang kuliahnya," ujar Umar Mansyur, Pembantu Rektor III UI.

UI memang tak akan kesulitan. Maklum alumninya kebanyakan berhasil dalam hal pendapatan ekonomi. Dan para alumni inilah dana digali. "Sudah terkumpul Rp 400 juta. September nanti akan diusahakan memperoleh donasi Rp 100 juta lagi," tuturnya.

Kesulitan yang menimpa para mahasiswa UGM dan Ul baru sebagian kecil saja. Di Indonesia sekarang ini ada 550 ribu mahasiswa yang kehanyakan dari mereka juga lengah mengalami kesulitan keuangan. Untuk mengatasi masalah ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen P&K akan memberi beasiswa bagi 140 ribu mahasiswa perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta. "Anggarannya Rp 150 miliar untuk tahun ajaran 1998/1999," ujar Bambang Suhendro, Dirjen Dikti Departemen P&K kepada D&R.

Itu untuk mahasiswa. Bagaimana bantuan untuk para siswa sekolah dasar dan menengah? Ada program Wajib Belajar Sembilan Tahun, yakni program yang membebaskan biaya sekolah bagi anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama yang tak mampu. Namun, apakah program ini bisa menolong anak-anak usia sekolah yang terpaksa putus sekolah karena krisis moneter?

Irawan Saptono/Laporan Liwa Ilhamdi (Jambi), Abdul Manan, Zed Abidien (Surabaya), Akhmad Solikhan (Yogyakarta) dan Muhammad Subroto (Jakarta).

D&R, Edisi 980815-052/Hal. 54 Rubrik Pendidikan

Misteri Sepatu Kiri

Seorang pejabat di Surabaya raib. Diduga berlatar kasus ratusan hektare tanah kas desa.

WILOGO, pembantu Wali Kota Surabaya Bagian Selatan, bakal memperpanjang daftar orang hilang, Sudah tiga pekan, ia raib penuh teka-teki. Kasusnya pun menjadi sensasi tersendiri di Surabaya.

Meski Pemerinlah Daerah Kotamadya (Kodya) Surabaya telah meminta bantuan polisi dan Badan Koordinasi Stabilisasi Nasional Daerah Jawa Timur untuk melacak nasib Wilogo, pihak kodya juga mengerahkan aparatnya untuk tujuan serupa. Warga Surabaya diminla juga dukungannya.

Janggannya pula, rumah Wilogo di Jalan Semolowaruelok Blok AG/19, Surabaya, dijaga ketat oleh aparat kodya dan beberapa lurah. Tak sembarang orang bisa menemui keluarga Wilogo--termasuk istri Wilogo, Ny. Tuti Pujiastuti.

Menurut Ny. Tuti, suaminya pergi meninggalkan rumah pada Rabu, 29 Juli lalu, pukul 20.00. Wilogo mengendarai mobil Timor biru metalik bernomor polisi L 9021 CE. Ia ke rumah Wali Kota Surabaya Soenarto Soemoprawiro.

Di situ memang ada pertemuan warga Kelurahan Lakarsantri dan wali kota untuk membahas kasus tanah kas desa (bondo leso). Wilogo sebenamya tak diundang. Namun, ia ingin melaporkan aksi demonstrasi warga Kelurahan wiyung, yang juga menuntut tanah kas desa pada Senin, 27 Juli lalu (lihat tanpa musyawarah).

Sampai tengah malam, Wilogo belum pulang jua. Ny. Tuti menduga kemungkinan rapat di rumah wali kota berlangsung alot. Namun, ada kecemasan juga: jangan-jangan Wilogo disandera para warga Lakarsantri. Toh, sampai dini hari, Wilogo tak muncul. Dihubungi lewat telepon genggamnya tak ada jawaban.

Merasa ada gelagat buruk menimpa suami yang menikahinya pada tahun 1973 itu, paginya, pukul 06.00, Tuti menelepon Gatot Suseno, rekan kerja Wilogo. Gatot memang hadir pada acara di rumah wali kota itu karena ia menjabat Pembmtu Wali Kota Surabaya Bagian Barat--yang membawahi Kelurahan Lakarsantri.

Ternyata, menurut Gatot, Wilogo tak ada pada rapat yang berlangsung sampai pukul 22.00 itu. Tentu saja, Ny. Tuti resah. Sementara itu, Gatot segera menginformasikan hilangnya Wilogo melalui Radio Suara Surabaya.

Siangnya, sekitar pukul 12.00, mobil Wilogo ditemui di depan rumah di Jalan Wijayakusuma 15 A. Mobil itu terparkir rapi di tepi jalan. Pintunya terkunci. Namun, tiada jejak Wilogo.

Sejak itu berkembang anekaberita tentang raibnya Wilogo. Banyak yang menghubungkan dengan maraknya kasus tanah kas desa di Surabaya. Ada yang menyinyalir Wilogo diculik orang lantaran dianggap banyak mengetahui kasus tersebut.

"Kakak Wilogo, Darmono, dihubungi penelepon gelap yang mengaku sebagai warga wiyung. Penelepon itu mengingatkan agar keluarga Wilogo berhati-hati," tutur Kepala Hubungan Masyarakat Kodya Surabaya, Bambang Sugiharto.

Mendengar kecurigaan itu keruan saja warga wiyung berang. Sampai-sampai. mereka enggan berdialog dengan wali kota pada Kamis, 6 Agustus lalu.

Namun, ada pula yang menduga "kepergian" Wilogo direkayasa untuk menanggapi rentetan demonstrasi warga. Apalagi, tindakan Wilogo sewaktu mengatasi unjuk rasa warga wiyung dianggap melangkahi wali kota.

Itu lantaran pada Senin, 27 Juli lalu, wilogo bersama Camat wiyung, Nasirin, serta Lurah wiyung, Kambali, menandatangi surat bersegel. Isinya: mereka menyatakan penjualan tanah kas desa di Wiyung ke tiga perusahaan swasta tidak sah.

Dugaan itu semakin mengental tatkala orang memperhatikan ketatnya pengamanan rumah Wilogo, selain juga tiadany kesedihan pada Ny. Tuti. Giliran Ny. Tuti, yang pertama kalinya dipertemukan dengan wartawan pada Rabu, 5 Agustus lalu, oleh Ny. Endang Pertii Soenarto, membantah dugaan itu.

Akan halnya Tuti lak merasa kehilangan, dia berkata, "siapa, sih, yang tidak susah bila menerima musibah seperti ini?" Dia juga marah begitu mendengar kemungkinan suaminya punya gacoan lain. "Masya Allah. Rasanya, itu tidak mungkin," ucapnya.

Lantas, ke mana Wilogo ? Bambang Sugiharto merasa yakin Wilogo diculik. Petunjuknya, kendati belum ditemui tanda-anda kekerasan, di mobil Wilogo ditemui sepatu kirinya, kertas bertulisan Ke Pak Wali pukul 20.00, rompi SAS, map biru, dan buku kerja.

Bila diculik, apa motifnya? "Ya, enggak ngerti. Yang jelas, sampai saat ini Wilogo belum ditemukan," kata Bambang. Ia menambahkan, penjagaan rumah Wilogo oleh para lurah terhitung hal lumrah. "Itu partisipasi anak buah kepada komandan. Wilogo kan atasan lurah-lurah itu," katanya.

Argumentasi Bambang masih belum menyingkap tirai Wilogo, memang. Sementara itu, Panglima Komando Daerah Militer Brawijaya Mayor Jenderal Djoko Subroto tak mempercayai dugaan Wilogo diculik. "Kira-kira, sekarang Wilogo sedang ketiduran," ujarnya. Tidur di mana?

Laporan Zed Abidin dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 980815-052/Hal. 67 Rubrik Kriminalitas

Sunday, August 02, 1998

Korban Lain Penculik dan Penganiayaan

Sejumlah aktivis surabaya bersaksi telah diculik dan dianiaya aparat militer. Tapi, Panglima Kodam Brawijaya membantah.

PARTAI Rakyat Demokratik (PRD) telah dipersalahkan sebagai otak kerusuhan 27 Juli 1996. Adalah Syarwan Hamid, Kepala Staf Sosial-Politik ABRI waktu itu, yan menyatakan Budiman Sujatmiko dkk. sebagai penyulut prahara berdarah di Jakarta itu. Orang-orang PRD dan organisasi yang diwadahinya--Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker), Serikat Tani Indonesia (STI), dan Serikat Rakyal Indonesia-diburu dan dibui. Ada dari mereka yang cuma beberapa hari ditahan. Namun, para pentolannya masih dipenjara.

Kini, ada kabar baik dari pemerintah B.J. Habibie. Sebagian dari mereka akan dibebaskan, segera. Termasuk Ketua Pendidikan dan Propaganda PPBI Wilson dan Ken Budha Kusumandaru yang selama ini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Juga tiga aktivis Surabaya, Dita Indah Sari (Ketua PPBI), Coen Husein Pontoh (STI), dan Mohamed Soleh (Ketua SMID Surabaya). Wilson dan Ken menolak keluar dari Cipinang sebelum semua tahanan politik, termasuk Budiman dan Xanana Gusmao, dibebaskan.

Cukupkah pembebasan dari tahanan untuk meredakan hati para aktivis yang sempat dituduh orang-orang Partai Komunis Indonesia itu? Ternyata tidak. Sebagian mereka masih mempersalahkan apa yang mereka sebut sebagai penculikan dan penyiksaan diri mereka oleh anggota ABRI.

Begitulah, Selasa, 21 Juli 1998, puluhan aktivis PRD (kini Komite Nasional Penegak Demokrasi) Surabaya memenuhi kantor Lembaga Bantuan Hukum Surabaya di Jalan Kidal. Mereka mengantar 11 orang temannya yang dua tahun silam diculik dan disiksa anggota ABRI. "Oleh aparat militer, aku disiksa di markas Den Intel Kodam (Detasemen Intelijen Komando Daerah Militer) Brawijaya di JalanAhmad Yani, Surabaya. Aku ditelanjangi, digunduli, dipukuli," ucap Trio Johanes Marpaung, "aku juga disuruh memasukkan katak ke mulutku. Aku tak tahan sampai muntah tiga kali."

Apa komentar Mayor Jenderal (Purn.) Imam Oetomo--mantan Panglima Kodam Brawijaya yang kini disebut-sebut sebagai salah satu calon Gubernur Jawa Timur -- tentang kesaksian anak-anak PRD tersebut ? "Jangan hanya main tuduh dan fitnah. Buktikan saja kalau memang itu terjadi," ucapnya.

Mayor Jenderal Djoko Subroto yang belum sebulan menjadi Panglima Kodam Brawijaya juga membantah cerita penyiksaan itu. Mantan Gubemur Akademi Militer tersebut menyatakan mereka ditangkap dan bukan diculik, karena dilakukan sesuai prosedur dan memakai surat penangkapan. Alasan penangkapan, menurut Djoko, karena melanggar Undang-Undang Subversi. "Saya tak mengerti mengapa jadi dibesar-besarkan," katanya.

Kepala Penerangan Kodam Brawijaya Letnan Kolonel S. Subagio juga mengatakan hal senada. Tentang adanya yang keguguran akibat penyiksaan juga dibantah Subagio. "Kalau ada yang mengaku disiksa sampai keguguran, itu tidak mungkin dilakukan ABRI. ABRI itu berakhlak, punya aturan," ujarnya.

Yang keguguran adalah Nia Damayanti. Mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya, itu tengah hamil dua bulan saat diinterogasi di den intel. Meski pernah dielus-elus dengan pistol serta dijemur di lapangan, ia mengatakan tak pernah dianiaya aparat militer. Menurut dia, pada interogasi hari ketiga, asmanya kumat dan dirinya mengalami dehidrasi, sebelum pingsan. Di hari keempat, 13 September, ia diizinkan pulang dengan jaminan orang tua. " Saya keguguran pada 5 Oktober 1996. lnterogasi itu bukan penyebab utama keguguranku, tapi pendorongnya," ucap Nia.

Pengacara terkenal Surabaya, Trimoelya D. Soerjadi, menyayangkan pernyataan Panglima Kodam Brawijaya itu. "Sebetulnya, semua orang sudah tahu bahwa markas den intel di Wonocolo itu tempat penyiksaan, seperti waktu kasus Marsinah," ujarnya. Trimoelya menyatakan penuturan anak-anak PRD itu benar adanya. "Saya tahu begini: Trio Yohanes dan ayah-ibunya meminta maaf kepada saya. Karena tak tahan disuruh menaruh kodok di mulutnya, ia terpaksa membenarkan bahwa saya pernah menyumbang uang untuk SMID," kata pembela dalam kasus Marsinah tersebut. Berikut ini kesaksian Trio Yohanes dan David Kris.

* Trio Yohanes Marpaung, Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma

"Beberapa orang berpakaian sipil membawaku ke bakorstanasda (badan koordinasi stabilisasi nasional daerah), katanya untuk dimintai keterangan sehubungan dengan Peristiwa 27 Juli. Tiba di sana pukul 21.45. Sesampai di bakorstanasda yang temyata di den intel di Jalan A. Yani, aku dibawa ke lantai dua. Ketika naik tangga, aku sempat melihat Zainal (mahasiswa Universitas Kristen Maranatha) yang kondisinya sangat menyedihkan. Aku dimasukkan ke sebuah ruangan danj setelah disuruh duduk, rusuk kanan dan kiriku langsung ditendangi intel bernama Enos (aku tahu namanya tiga hari kemudian). Dia juga memukul bibirku sampai berdarah. Lalu, aku dibawa berlari turun tangga ke lantai satu dengan rambut panjangku dijambak. Di sana, aku disuruh jongkok dan kembali dipukuli intel-intel lain.

Setelah mengisi formulir biodata, ku dibawa ke lantai dua. Di sana sudah menunggu empat intel (dua di antaranya berseragam). Salah seorang dari mereka menyuruhku menanggalkan pakaian, kecuali celana dalam. Juga melepaskan jam tangan dan cincin. Dalam keadaan hampir telanjang, secara bergantian, mereka memukuli leher, perut, dan rusukku. Tendangan juga tak ketinggalan. Seorang intel datang membawa gunting. Aku disuruh jongkok dan digunduli. Setelah itu aku difoto dengan memegang karton bertuliskan Ketua SMID Surabaya.

Interogasi dilakukan sampai pagi. Ketika aku sedang diperiksa, seorang intel lain datang dan langsung memukulku, sehingga aku terjerembab. Dagu kiriku berdarah. Aku dipaksa berdiri lagi.

Mulanya, aku disuruh ke lapangan untuk 'berolahraga'. Aku disuruh merayap, jungkir balik, push-up, dan lain-lain. Lalu, dipaksa menangkap kodok. Setelah itu diinterogasi lagi. Begitulah, aniaya tak henti-hentinya.

Di malam hari ketiga, aku disuruh olahraga lagi. Sesudahnya diperintahkan menangkap kodok untuk diserahkan ke intel bernama Wandi di lantai dua. Ternyata, di ruangan orang itu ada Wiwin (Winarto Adi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang). Wandi memaksa aku memasukkan kodok ke mulutku dengan ancaman: kalau tidak mau, akan disundut rokok. Ia arahkan rokok ke wajahku.

Terpaksa, kodok kumasukkan ke mulut. Lalu, binatang itu disuruh dikeluarkan, masukkan lagi... sampai tiga kali.

Setelah puas, intel menyuruh aku kembali ke ruangan. Mual, aku lari ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana. Aku tak peduli lagi akan diapakan. Aku kembali diinterogasi lagi, dengan hanya mengenakan celana dalam.

Malam hari keempat, aku dibolehkan pakai celana panjang dan tidur setelah berolahraga pada pukul 24.00. Pukul 05.00 sudah dibangunkan lagi. Di hari kelima, berita acara pemeriksaan sudah hampir selesai, tapi ada kesalahan sehingga harus diubah. Seorang intel kembali memukul mulutku, kali ini dengan sepatu. Hari-hari selanjutnya, aku hanya dilecehkan dan diintimidasi.

Selama di sini, baik pengacara maupun orang tuaku tak boleh besuk. Pada 16 Agustus sore, aku, Wiwin, Rizal, Icha, dan Zainal dilepas komandan den intel karena dianggap sudah selesai 'dibina'. Kami berlima disuruh menandatangani formulir yang isinya bahwa kami telah dibina dengan baik oleh bakorstanasda
dan tak akan menceritakan apa pun yang kami lihat, kami dengar, dan kami rasakan kepada orang lain, terrnasuk keluarga. Ketika baru meninggalkan kantor bakorstanasda tiba-tiba beberapa orang menangkap dan memasukkan kami ke dalam mobil. Ternyata, kami dibawa ke Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya."

* David Kris, Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga

"Aku tak ditangkap, tapi diculik. Selasa siang, 21 Agustus 1996, aku baru pulang dari dokter gigi, dibonceng teman naik motor. Motorku mendadak dipepet dua mobil Toyota Kijang. Sekitar lima pria bertubuh besar dan tegap mengepung. Salah satunya adalah Letnan Budi. Ia memaksaku ikut dengannya naik taksi. Temanku disuruh pulang. Aku dibawa ke belakang Sekolah Teknik Menengah Wonocolo, ke markas den intel. Di sana, aku ditahan 14 hari. Selama itu, keluargaku tak tahu nasibku.

Mulanya, aku disuruh mengisi biodata dan difoto dengan tulisan David Kris-Ketua Jakker Surabaya. Pertama kali, aku disiksa saat di ruang administrasi. Seorang kapten bernama Azra menanya nama dan jabatanku di PRD. Setelah kujawab, tendangan demi tendangan mendarat di tubuhku, sampaisampai antingku lepas dan darah membasahi kaus oblongku. Akhirnya, aku disuruh pakai cawat saja. Aku disuruh ke lapangan. Sejumlah sersan dan kopral menunggu di sana. Rambutku dicukur beramai-ramai. Aku dipukul dan ditendang beramai-ramai juga sebelum disuruh menghafal Pancasila, terutama sila keempat.

Karena takut dan tubuh sudah lemah, aku tak bisa menghafal Pancasila. Mereka malah senang dan semakin menendangi perutku seraya mencaci aku sebagai Partai Komunis Indonesia. Sekitar pukul 13.00, aku disuruh telentang di lapangan dan memandangi Matahari sembari terus menghafal Pancasila. Jika tak hafal, perutku diinjak dengan sepatu lars mereka. Sejam berselang, aku disuruh ke ruang interogasi di lantai dua.

Di ruang interogasi, siksaan belum berakhir. Setiap yang masuk bertanya ke aku. Apa pun jawabku akan berbalas dengan pukulan atau tendangan. Bila aku sudah terkapar menggelepar di lantai, si penanya akan pergi, seperti sersan bernama Krisnadi. Ada juga yang begitu masuk langsung mengepruk aku dengan kursi.

Sekitar pukul 18.00, aku dikeluarkan dari ruang interogasi. Ternyata, di luar, aku dihajar habis-habisan. Aku jatuh bangun dan terseret sekitar lima meter. Kedua kakiku tak kuat lagi untuk berjalan sehingga aku harus merangkak untuk masuk kamar. Interogasi hendak dilakukan lagi pukul 20.00. Tapi, aku sudah antara hidup dan mati. Akhirnya, aku disuruh tidur. Sehari itu aku disiksa lebih kurang 10 jam.

Di hari-hari berikutnya, aku menjalani interogasi yang sangat berat. Aku diiterogasi mulai pukul 08.00 sampai 20.00 selama 11 hari berikutnya. Pemeriksa lima orang: satu letnan dan empat sersan. Bukan tiga orang seperti yang lain. Pertanyaan yang diajukan sekitar 125 buah, seputar kegiatanku di PRD, khususnya Jakker, dana, manifesto, tuntutan, dan aksi-aksi PRD, hubungan PRD dengan Partai Demokrasi Indonesia dan dengan gerakan Timor Timur. Aku dipaksa mengakui berbagai perbuatan yang tak kulakukan.

Kadang, aku mulai disiksa lagi. Tapi, kadang, aku bertahan untuk tak buka mulut, misalnya untuk menunjukkan tempat persembunyian Wiji Thukul. Pernah seorang sersan meletakkan meja di depanku ketika bertanya. Selama interogasi itu, aku hanya mengenakan celana dalam selama enam hari.

Beratnya siksaan fisik dan mental di den intel membuatku hampir bunuh diri. Untung, ada kekuatan lain yang merintangi aku. Pada 2 September 1996, aku disuruh menandatangani pernyataan bahwa aku tak akan menceritakan kejadian di den intel itu. Lalu, aku dipindahkan ke Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya bersama Brewok, Arindra, dan Ganjar. Esoknya baru akan menerima surat penangkapan. Pada 29 September, aku diberi penangguhan penahanan dan menjadi tahanan kota."

Has/Laporan Abdul Manan dan Zed Abidin Surabaya

D&R, Edisi 980801-050/Hal. 54 Rubrik Liputan Utama