Saturday, September 20, 1997

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi Ekstra Tinggi (SUTET) yang dibangun PLN. Mereka khawatir keberadaan jaringan itu akan berpengaruh pada kesehatan. Tapi, gugatan yang mereka ajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Agustus 1996 lalu ditolak. Hakim menilai bukti berdasarkan penelitian di luar negeri yang menunjukkan bahwa keberadaan jaringan itu berbahaya bagi kesehatan tidak sahih, karena penelitian tidak dilakukan di Indonesia (lihat: Boks).

* Keluar-Masuk Kampung

Nah, kata Fuad, penelitian itu dilakukan karena dua alasan. Pertama, data tentang dampak SUTET atas kesehatan itu di Indonesia memang masih minim. Yang kedua, ya, mereka memang diminta oleh warga Singosari. "Ada surat dari warga agar kami melakukan penelitian di sana," ujar Fuad kepada D&R.

Jadilah tim yang beranggotakan enam orang dokter dan satu insinyur itu keluar-masuk kampung selama tiga bulan (September - Desember 1995). Ada tiga kelompok penduduk yang mereka teliti. Kelompok pertama, mereka yang tinggal langsung di bawah SUTET (tegangan listriknya lebih besar atau sama dengan 500 kV). Kedua, mereka yang tinggal di bawah jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)--tegangan listriknya sekitar 150 kV. Ketiga adalah kelompok kontrol, yakni penduduk yang tinggal di daerah yang tak ada jaringan listriknya. Tiap-tiap kelompok terdiri dari 65 orang. Khusus untuk kelompok pertama, responden terdiri dari ibu-ibu rumah tangga yang sudah tinggal di daerah itu selama 3-10 tahun. Para ibu ini dipilih, karena merekalah--bersama anak-anak--kelompok paling rentan terhadap pengaruh induksi listrik tersebut.

Untuk memperoleh data umum, tim menyebar kuesioner. Lalu, mereka melakukan tes medis, meliputi pemeriksaan fisik, paru-paru, nadi, tekanan darah, dan kondisi kejiwaan si responden. Mereka juga mengukur kuat medan elektromagnet--yang ditimbulkan oleh induksi listrik tegangan tinggi--di lokasi. Alat yang digunakan adalah ELF survey meter berkode HI-3604/1992.

* Gangguan Syaraf

Hasilnya mengejutkan. Ternyata, medan listrik di kawasan yang tepat berada di bawah SUTET--terutama pada jam-jam pemakaian listrik tinggi--sudah melampaui ambang batas aman yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Meski begitu, medan magnetnya masih di bawah ambang batas. Tapi, tes medis menunjukkan adanya gangguan signifikan terhadap kesehatan warga di lokasi penelitian. Warga di kawasan SUTET dan SUTT, pada umumnya mengeluh mengalami rasa nyeri di kepala, pusing, rasa terbakar, kulit nyeri, semutan, sering lupa, gemetar, dan mengalami gangguan tidur. "Badan saya rasanya meriang, istri saya sering mengeluh pusing," tutur Guwanto, 38 tahun, penduduk kampung Jegong kepada D&R.

Lalu, dari pemeriksaan fisik pada penduduk yang tinggal di bawah jaringan SUTET didapati adanya kecenderungan perubahan pada denyut nadi, frekuensi pernapasan, tekanan darah, lekosit, dan limfosit darah. Pemeriksaan syaraf juga menunjukkan mereka cenderung menderita vertigo dan mengalami perubahan refleks tendon. Dengan kata lain, mereka berpotensi menderita gangguan syaraf.

Tak mengherankan bila tim juga mendapati tingginya tingkat kecemasan dan depresi pada warga yang tinggal di kawasan SUTET. Maklum, hidup di bawah jaringan tegangan tinggi tentulah tegang dan jauh dari rasa aman dan nyaman. "Apalagi kalau hujan turun lebat, suara jaringan itu berdengung," cerita Ratman, tetangga Guwanto. Maka, bila hujan turun, ia meminta seluruh anggota keluarganya berkumpul di teras rumah. "Kalau terjadi sesuatu, kami bisa cepat lari," sambungnya.

Singkat kata, temuan tim PPLH Unair itu membuktikan SUTET berdampak bagi kesehatan manusia. Temuan serupa, sejatinya, juga sudah dibuktikan oleh sejumlah riset di luar negeri. Riset di Swedia, Norwegia, dan Denver, Amerika Serikat, mendapati medan magnet ini berpotensi menimbulkan kanker darah (leukemia). Satu kasus yang cukup menghebohkan terjadi di Meadow Street, Connecticut, AS pada tahun 1990 ketika lima orang penghuni dari sembilan rumah yang terletak berdekatan dengan gardu listrik bertegangan tinggi, terkena kanker otak. Ada juga temuan yang menyebutkan, medan magnet ini berisiko menyebabkan kemandulan.

Toh, kontroversi tak juga menyurut karenanya. Pihak PLN, misalnya, masih meragukan temuan itu. Kepala Dinas Humas PLN Abbas Thaha menunjukkan serangkaian temuan lain--baik yang dilakukan PLN, Departemen Kesehatan, Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB)--yang menunjukkan bahwa medan magnet dan medan listrik dari SUTET dan SUTT masih di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh WHO. Abbas, seperti dikutip Kompas, memaparkan hasil temuan tim Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI dan ITB di Jawa Barat pada tahun 1995, yang menemukan medan magnet di dalam rumah maksimum 80 volt /meter dan di lapangan terbuka 2.770 volt/meter. Ini masih jauh di bawah ambang batas aman yang dipatok WHO pada 5.000 volt/meter. Tim juga menemukan, medan magnet di dalam rumah 2,25 mG dan di luar rumah 2,29 mG. Padahal angka batas yang dipasang WHO adalah 10 mG.

Karena itu, Abbas mempertanyakan kesahihan metode yang digunakan tim Unair itu. Tapi, kata Fuad, metode yang dilakukan timnya adalah metode standar yang sudah teruji kesahihannya dan para penelitinya pun ilmuwan yang teruji integritasnya. Penelitian itu juga tak diniatkan untuk memojokkan siapa pun. "Kalau ada yang mau memanfaatkannya silakan, tidak perlu izin kami," katanya.

Akan tetapi, lepas dari siapa benar siapa keliru, apakah salahnya bila pihak PLN lebih berhati-hati, karena bukankah mencegah lebih baik ketimbang mengobati?

Laporan Abdul Manan (Surabaya) dan Zed Abidien (Gresik)

D&R, Edisi 970920-005/Hal. 74 Rubrik Iptek

Saturday, September 13, 1997

Preman di Sini, Preman di Sana

Kelompok preman juga meruyak di berbagai kota besar. Mereka membagi wilayah kekuasaannya, tak ubahnya seperti memotong-motong kue. Siapa mereka dan bisnis apa yang digarap kaum preman? Bagaimana hubungan mereka dengan penguasa keamanan resmi? Inilah jepretan di beberapa tempat.

# MEDAN

Kalau ada bisnis yang mampu mencirikan, sekaligus menghidupkan kota Medan, barangkali itu perjudian dan bisnis sektor hiburan. Betapa tidak. Cobalah Anda berjalan-jalan di kawasan Petisah yang acap dijuluki sebagai kota yang tak pernah mati. Kegiatan bisnis pada pagi, siang, sore, malam, hingga dini hari berjalan amat dinamis. Pada pagi hari sampai sore, kawasan Petisah, misalnya di Jalan Nibung Raya, diwarnai bisnis jual-beli mobil bekas, perparkiran, penitipan, dan pencucian mobil. Namun, begitu malam tiba, kawasan ini berubah menjadi pusat kegiatan hiburan, usaha makanan, bahkan pelacuran dan perjudian.

Wajarlah jika banyak orang mengais rezeki di tempat itu. Dan, kaum preman adalah kelompok yang pasti menempati pos terdepan. Mereka secara umum dibagi berdasarkan pekerjaan, wilayah, skill (ketrampilan), serta sejarah eksistensinya. Jadi, ada yang menguasai lahan parkir, juga ada yang "memegang" toko, restoran, lapak, kaki lima. Bahkan, tempat mesum dan rumah judi.

Dari sektor parkir saja, seorang preman bisa memperoleh setoran rutin antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per hari. Dari penghasilan itu, mereka menyisihkan sekian persen rezekinya untuk oknum keamanan di tingkat polsek. "Kami harus bagi-bagilah itu dengan mereka," tutur seorang tokoh preman yang dikenal di kawasan Simpanglimun.

Dewasa ini, ada dua organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang populer di kalangan kaum preman, yaitu Pemuda Pancasila (PP) dan Ikatan Pemuda Karya (IPK) pimpinan Olo Panggabean. Di berbagai pusat keramaian dan hiburan Kota Medan, selalu saja ada preman anggota PP atau IPK yang bertindak sebagai koordinator di lapangan. Untuk itu, tentu ada upah menarik yang mereka peroleh.

"Biasanya pihak pengusaha itu mengundang kami untuk mengamankan usahanya. Kalau kerja kami bagus, kami bisa memperoleh honor bulanan. Untuk daruratnya saja, kalau rajin, Rp 100 ribu per hari itu enggak ke mana. Tapi, kalau tiap hari datang, malulah. Mau ditaruh di mana muka ini?" kata Iwan Lubis. Pria bertampang sangar dan berambut gondrong itu tak lain seorang pengurus Pemuda Pancasila wilayah pusat bisnis Kota Medan. Menurut sejumlah pengusaha, rata-rata harga keamanan bulanan dari pengusaha berkisar antara Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu untuk tiap OKP.

Namun, urusan bagi-bagi rezeki itu terkadang memunculkan persoalan di antara "penguasa keamanan" itu sendiri. Yang masih segar dalam ingatan warga Medan, ketika terjadi pertarungan bersenjata antara Serka Marlon yang polisi dan sejumlah oknum tentara bersenjata sangkur.

# SURABAYA

Pasca-penembakan misterius 1983-1984, geng pada bubar di kota ini. Kini yang banyak "memegang" adalah kelompok Madura. Ada dua pentolan mereka yang sering disebut-sebut, yaitu Pak Wi dan Mbah Nari. Mereka bergerak di bidang perparkiran, pasar, dan jasa pengamanan. Namun, untuk sektor menengah atas seperti diskotek, tempat hiburan lain, dan pusat pertokoan yang berjaya adalah Pemuda Pancasila.

* Stasiun Wonokromo

Ketika malam datang, kawasan ini berubah semarak. Musik dangdut mengalun dari berbagai sudut. Lelaki dan perempuan tumplak dalam kegiatan judi campur pelacuran. Setiap hari, aneka jenis judi memang tersedia di sini. Mulai dari kelas receh seperti gaple sampai cap jie kie yang bernilai jutaan rupiah. Semua itu berjalan aman berkat kepiawaian seorang kepala keamanan ternama di sana. Lelaki itulah yang bertugas menjaga wilayah stasiun dari gangguan orang luar, termasuk meladeni razia atau sekadar kontrol situasi keamanan dari aparat resmi.

* Terminal Bungurasih

Sekelompok preman sudah tinggal di Terminal Bungurasih, jauh sebelum tempat itu dibangun pada tahun 1990. Di sana pernah lahir seorang tokoh preman terkenal bernama Mat Oyik. Ia kini menjadi pengusaha dan mengorganisasi pedagang asongan. Belakangan, aparat keamanan getol menyatroni, gara-gara wilayah tersebut menjadi tempat perdagangan ekstasi dan putauw, di samping makin seringnya aksi kejahatan penodongan.

* Pelabuhan Tanjungperak

Dua tindak kejahatan yang sering terjadi di wilayah pelabuhan adalah pemerasan dan perampokan. Itu belum termasuk penjambretan, penodongan, perampasan, dan penipuan. Sederet tempat yang menjadi langganan aksi pemerasan dan perampokan, misalnya, dermaga Nilam, Mirah, Berlian, Jamrud, dan Kalimas. Satu atau sekelompok kecil preman biasanya menguasai tempat itu. Namun, agak sulit mengidentifikasi siapa saja penguasa di sana, kecuali satu nama yang cukup dikenal: John Kelor.

# SEMARANG

Para penguasa Kota Semarang membagi "kue" kekuasaannya ke dalam tujuh bagian, yaitu Pasar Johar, Simpanglima, Karangayu, Banyumanik, Peterongan, Pelabuhan, dan stasiun. Kemudian, tiap bagian itu dipecah menjadi sub-sub wilayah, seperti selatan-atas, selatan-bawah, tengah, utara-atas, utara-bawah, Pasar Krempyeng, dan Pedamasan. Dari sub-sub bagian tadi, wilayah selatan-atas dan bawah merupakan daerah yang paling basah. Mungkin, itu disebabkan banyaknya pedagang kelas menengah yang mangkal di situ. Tempat lain yang tak kurang basah yakni kawasan Pedamasan. Di sini bongkar-muat barang dilakukan di bawah kontrol seorang berjuluk si Gendut. Pria berbadan subur itulah yang menetapkan uang keamanan Rp 500 sampai Rp 1.000 untuk skali tarikan. Dalam sehari terjadi minimal 25 kali bongkar-muat.

Selain jasa keamanan, bisnis-bisnis seperti perparkiran, pengamenan, dan pengemisan merupakan ladang strategis yang mampu mendatangkan uang dengan cepat. Dan, jenis pekerjaan itu terdapat hampir di semua sudut kota lumpia itu. Seperti juga di kota-kota lain di Indonesia, setiap wilayah kerja dijaga oleh preman, baik yang berasal dari jalanan maupun yang sudah ngepos di instansi tertentu. Yang patut disayangkan, selalu saja ada preman yang terlibat, atau merangkap sebagai pemain, minimal penadah barang-barang hasil kejahatan.

Dewasa ini, perebutan kursi antar-penguasa dunia hitam di Semarang makin kelihatan. Dari pengamatan D&R di lapangan, tampak ada dua kelompok yang sedang berebut pengaruh serta wilayah untuk menentukan siapa yang terkuat. Mereka ialah geng Cina asal Medan melawan geng lokal Semarang yang dibantu preman dari Jawa Timur. Separo pihak yang terlibat dalam suksesi itu, konon, kelompok preman yang selama ini menguasai bisnis judi. Ada fakta bahwa di tempat-tempat, seperti Johar Atas, Taman Parkir, Hotel Grand Rama, Depok, Kompleks Bukit Sari dan Tanah Mas, praktik perjudian dengan nilai ratusan juta per malam berlangsung aman-aman saja.

# BANDUNG

Di Bandung, orang biasanya menyebut kaum preman sebagai "okem", kependekan dari prokem. Namun, ada kesan sinis dari julukan itu, sebab istilah okem berkonotasi merendahkan pekerjaan preman. "Habis kebanyakan okem Bandung mah tukang palak, suka mabuk, dan biang reseh," tutur Tia, mahasiswi sebuah akademi swasta.

Pendapat Tia boleh jadi benar. Buktinya? Lihatlah di Terminal Kebon Kelapa pada saat jatah para okem dari sopir angkot tak terabaikan. Hampir pasti terjadi amukan para okem. Tidak jarang, mereka tega mengacak-acak tempat si sopir atau si tukang dagang yang dianggap melawan.

Contoh lain, Cicadas. Ini adalah sebuah wilayah di perbatasan Bandung Timur yang dikenal amat padat penduduknya. Di tempat ini, jatah preman biasa dipungut dari toko, pedagang, dan sopir angkot. Yang menyebalkan, kebanyakan preman Cicadas itu seperti calo. Maksudnya, mereka memunguti jatah kecil-kecil dari orang, kemudian memakai uangnya untuk minum-minum atau mabuk obat. Dengar pengakuan seorang tokoh jagoan setempat yang tidak mau disebut namanya. "Di Cicadas ini sebenarnya tak ada preman. Yang ada, siapa yang paling berani berantem atau sering keluar-masuk penjara, biasanya ia akan disegani. Itu saja."

Di pusat pertokoan Bandung Indah Plaza, seorang anggota Pemuda Pancasila (PP) asal Irian dikabarkan menguasai tempat ini. Jatah preman yang diperoleh tokoh itu berasal dari sopir taksi yang setiap saat lalu lalang di Jalan Merdeka. "Bayangkan," kata seorang calo taksi di Bandung Indah Plaza kepada D&R, "Setiap taksi harus menyetor Rp 500 sama dia. Dan, di sini ada seribu taksi yang tiap hari mondar-mandir. Apa enggak kaya dia?" Masih menurut sumber tadi, "Dulu, yang pegang wilayah ini si Martin Bule. Tapi, setelah dia mati tergilas kereta api, tak ada orang yang menguasai Bandung Indah Plaza, kecuali anak PP."

Areal yang barangkali agak aman sekarang ini, justru kawasan alun-alun yang dulunya menjadi pusat keramaian Kota Bandung. Armen, penguasa kaki lima di Jalan Dalam Kaum mengatakan, "Di sini tidak ada lagi preman yang utuh. Semua orang punya usaha. Ada yang jaga parkir, berjualan koran, calo angkot, atau pedagang kaki lima." Nama Armen memang cukup disegani di daerah itu. Terbukti kalau ada keributan di alun-alun, aparat keamanan paling hanya mencari Armen. Dulu, Bandung mempunyai sederet nama preman yang dikenal masyarakat. Salah satunya, karena keberadaan mereka yang sering membantu keamanan setempat. Aktor Rachmat Hidayat misalnya.

Masalahnya, kenapa kini kaum preman Bandung dipandang sinis oleh sebagian masyarakat?

Laporan Bambang Soedjiartono, Abdul Manan, Prasetya, Aendra H.M.

D&R, Edisi 970913-004/Hal. 102 Rubrik Laporan Khusus

Dari Ken Arok hingga PP

Benih premanisme sudah bersemai di negeri ini sebelum masa Ken Arok. Tapi, seiring zaman, ia terus bermetamorfosis.

KEN ANGROK, sang pendiri kerajaan Singosari itu, bisa dibilang tadinya preman juga. Ia memulai karir sebagai bandit dan jawara. Tentu, dia bukanlah orang pertama yang membuka akses ke kekuasaan lewat jalur "bawah tanah". Sejarah negeri ini memperlihatkan bahwa pada zaman pra-kolonial pun, jago, jawara, centeng, dan sejenisnya sudah jamak. Karena, memang ketokohan semacam itu merupakan sisi lain dari kekuasaan itu sendiri. Dalam hal ini, ia merupakan implementasi tak formal dari kekuasaan. Karena itu, sejarah preman di negeri ini bisa ditelusuri hingga jauh.

Pada zaman Hindia Belanda, premanisme tumbuh lebih subur. Pada masa ini, para preman semakin tampil ke permukaan. Di Batavia misalnya, para jagoan menguasai jaringan tenaga kerja. Mereka juga menjalin hubungan dengan jaringan pedagang Arab, dalang, pokrol bambu, guru-guru mengaji, serta pentolan-pentolan rampok di kampung-kampung pantai utara Karawang dan hutan-hutan di kaki gunung sebelah selatan. Hubungan tersebut kerap dimanfaatkan untuk menggerogoti kekuasaan kolonial. Karenanya, penguasa kolonial perlu mengerahkan Marsose dan Veldpolitie (polisi kota) untuk menghadapi para jagoan.

Selain pribumi, geng Cina dan Arab eksis juga hingga tahun 1945. Pada tahun 1942 contohnya, Karawang dicekam oleh kelompok Oey Soe Peng dan Tan Goan Kiat. Namun, menurut sejarawan Robert Cribb, para jagoan itu sebenarnya tak pernah membentuk serikat rahasia terstruktur seperti yang ada di Cina. Jadi, ikatan mereka relatif longgar dan cenderung mengandalkan patronase saja. Bukan formal organisatoris.

Modal seorang jawara atau centeng dalam membangun patronase adalah kedigdayaan, nyali serta lobi. Seorang pentolan preman biasanya dipercaya sakti dan pemberani. Selain kebal, mereka bisa membekali pengikutnya dengan jimat. Hubungan dengan penegak hukum mereka jalin, baik secara diam-diam maupun terbuka.. Acap juga mereka bertindak sebagai polisi informal bagi para tuan-tuan tanah yang menyewa mereka. Berkat hubungan baik, sering mereka tak perlu mendekam di bui, sekalipun telah membantai lawan. Hukum besi berlaku bagi mereka: yang kuat dan gesit menjadi pialang kekuasaan, sedangkan yang lemah dan lamban segera menjadi penghuni bui kolonial di Cipinang atau Glodok.

Zaman revolusi bisa dibilang merupakan era kejayaan para preman. Situasi yang serba-bergolak serta sumber daya perjuangan yang minim, membuat mereka dilirik oleh kaum pergerakan progresif. Contohnya antara lain Haji Darip, Pak Macem, Kiai Nurali, Camat Nata, dan Bang Pi-ie. Lasykar Rakyat Jakarta Raya, misalnya, beraliansi dengan Haji Darip, Pak Macem, K.H. Nurali, dan Camat Nata dalam menghadapi penjajah. Sosok para jagoan tersebut bisa mencerminkan ideologi kaum preman saat itu.

Haji Darip berbasis di Bekasi. Wilayah kekuasaannya mencakup Bekasi, Pulogadung, Klender, dan Jatinegara. Pemimpin Barisan Rakyat Indonesia itu, menurut Cribb, menggabungkan perampokan dengan patriotisme. Mangsa mereka adalah orang berkulit terang (Cina, Indo, Eropa) dan berkulit gelap (Ambon dan Timor).

Muhammad Arif alias Haji Darip lahir sekitar tahun 1900. Ayahnya, Gempur, adalah penguasa lama Klender. Pada usia tujuh tahun Haji Darip bersekolah di Mekah. Tiga tahun kemudian ia kembali ke Klender. Lalu, bekerja di jawatan kereta api dan menjadi jagoan. Ia terlibat dalam pemogokan kereta api pada tahun 1923. Lewat Barisan Rakyat Indonesia, jawara yang sempat menjadi pedagang itu menguasai lintasan kereta api di Jakarta Barat. Ia banyak berperan dalam Revolusi '45.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, tokoh yang dihormati sebagai pemimpin agama dan dianggap sakti itu tampil sebagai penguasa Klender. Ia berpengaruh dan disegani para pemimpin Republik di Jakarta. Hubungan pribadinya dengan tokoh revolusi Surabaya, Moestopo, telah mengengkat pamornya.

Di Cibarusa, tenggara Jakarta, pada masa yang sama berkuasa Pak Macem. Ia memimpin kelompok perampok yang sebagian besar anggotanya pejuang berpengalaman. Kegiatan mereka adalah penjarahan, teror, dan mengupayakan hak menentukan nasib sendiri. Di Cibarusa, tokoh intelijen Zulkifli Lubis pernah aktif. Kabarnya, ia pernah merekrut para penjahat Nusakambangan untuk keperluan operasinya.Tak jelas apakah ia berhubungan dengan Pak Macem juga.

Masih pada zaman revolusi, Iman Syafei yang akrab dipanggil Bang Pi-ie menguasai Senen. Bos kelompok Oesaha Pemuda Indonesia itu kelak masuk militer dan berdinas di Divisi Siliwangi. Banyak yang percaya bahwa ia mampu mengalirkan massa ke jalanan di Jakarta untuk unjuk rasa politik. Dalam peristiwa 17 Oktober 1952, disinyalir dia berperan dalam menggerakkan demonstran yang menentang parlemen.

Bang Pi-ie merupakan salah satu pentolan preman yang mencapai kedudukan tertinggi di pemerintahan. Jagoan yang meninggal pada tahun 1982 itu menjadi Menteri Negara Urusan Keamanan Rakyat dalam Kabinet 100 Menteri yang dibentuk Bung Karno pada 21 Februari 1966.

Pada masa revolusi itu, Kiai Haji Nurali "memegang" daerah berpaya-paya di utara Bekasi. Camat Nata dan Bantir di Bekasi. Pak Utom di Cianjur, Bubar di Karawang, Haji Akhmad Khaerun di Tangerang.

Perkembangan selanjutnya, beberapa jagoan itu mulai berorientasi pada kekuasaan formal. Bubar misalnya membenum diri sebagai Bupati Karawang dan menduduki kantor kabupaten. Haji Masum di Cilincing dan Haji Eman di Telukpucung, mengambil alih posisi pemerintah setempat. Pak Macem menjadi Kepala Polisi Cibarusa. Bantir dari Bekasi menjadi mantri polisi, Nata menjadi camat.

Haji Akhmad Khaerun menobatkan diri sebagai "bapak rakyat". Ia melangsungkan revolusi rakyat pada 18 Oktober '45, dengan menghalau seluruh aparat pemerintah setempat. Bupati Tangerang minggat ke Jakarta. Komite Nansional Indonesia Tangerang dibubarkan pada 21 Oktober '45 dan Khaerun menggantikan lembaga itu dengan presidium beranggota empat orang. Orang Jepang, Cina dan Eropa ditangkapi. Kalau tak diusir, mereka dihabisi. Hubungan dengan Jakarta diputus. Tangerang dinyatakan sebagai daerah otonom.

Khaerun, veteran aksi Partai Komunis Indonesia tahun 1926 di Tangerang itu, ahli kebatinan. Pendukungnya--banyak yang haji--dipersenjatai dan mereka disebut lasykar ubel-ubel. Khaerun bersahabat dengan Syekh Abdullah, peranakan Arab pimpinan Barisan Berani Mati atau Lasykar Hitam.

Pentolan kakap lebih suka membentuk lembaga kekuasaan sendiri, tanpa mengusik kekuasaan resmi. Contohnya, Haji Darip di Bekasi.

Ketika hubungan lasykar dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) makin buruk, para jawara itu pun terimbas. Sebagian dari mereka tewas dan yang masih mujur hanya dilucuti. Sebab, dianggap membangkang terhadap kekuasaan resmi. TNI terus berkonsolidasi dan lasykar-lasykar semakin tak mendapat tempat. Bahkan, akhirnya lenyap, baik karena melebur maupun karena diharamkan. Akan halnya preman, mereka tetap eksis sampai sekarang. Hanya mereka tak berpolitik secara terbuka lagi. Memang masih ada saja yang bereksperimen politik, terutama pada masa pembangkangan daerah terhadap pusat. Tapi, hasilnya tak begitu berarti.

* Pascarevolusi

Menyempitnya ruang gerak mereka bersamaan dengan konsolidasi TNI, membuat preman-preman lama tadi tersisih dari pentas besar. Keterbatasan lapangan kerja dan sulitnya ekonomi, menjadikan mereka kian tereliminasi. Akibatnya, banyak dari mereka yang mencoba menekuni kehidupan normal.

Perlahan para preman dari zaman revolusi ini surut. Usia mengadang mereka. Posisi mereka diambil oleh angkatan muda yang orientasi dan gayanya lain. Fenomena ini tampak makin jelas menjelang dekade '60-an. Di Medan misalnya, menurut kriminolog Purnianti Simangunsong, pada tahun 1958-60 muncul geng-geng. Mereka mengidentifikasi diri dengan simbol-simbol, topi, dan sepeda motor. Mereka dinamakan crossboy, karena sering nongkrong di perempatan jalan. Hal serupa terjadi di kota-kota besar semacam Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung. Tapi, menurut Rachmat Hidayat, Bandung-lah yang memulai berandalan bergaya cross boy itu. "Bandung lebih dulu dari Jakarta. Jakarta waktu itu belum ada apa-apa," ujar dia. Setelah Bandung, menurut Rachmat, menyusul Medan, baru Surabaya dan kemudian Jakarta.

Kelompok preman yang mencuat di Bandung pada tahun 1960-an dan 1970-an, antara lain Dollar di Cicadas dan Kobra di Bandung Tengah serta pusat kota. Kobra merupakan akronim dari nama pimpinanya, Kolonel Bratamanggala. Kobra kemudian dipegang Tatto Bratamanggala, anak angkat sang kolonel. Padepokan mereka sekarang bernama BBC (Buah Batu Club) dan dikomandani Kenken.

Selain itu, ada juga kelompok lain seperti Panbor, Sakarima, dan Cikaso Besi. Seiring waktu, para pentolan preman Bandung pun silih berganti. Namun, nama seperti Rachmat Hidayat, Kolonel Bratamanggala, Tatto, Kenken, Alex Bima (Cicadas), Suwarna, dan Yaya (Sakarima), Abas Ali (Cikaso Besi), Ade Madjid (Sukajadi), Martin Bule, Yudi Fox (Merdeka) atau Polce (Tongkeng) tetap dikenang.

Pada awal tahun 1960-an yang dominan di Medan adalah kelompok etnik. Seperti preman Karo, Batak, Aceh, Minang, dan Jawa. Agar tak gontok-gontokan lagi, H.M. Yoenan Effendi Nasution alias Pendi Keling pada tahun 1963 mencoba mempersatukannya dalam Persatuan Pemuda Kota Medan (P2KM). Tapi, organisasi ini tak berusia panjang. Bermunculan kelompok
baru yang namanya selalu memakai boys. Misalnya, Atla Boys pimpinan Richard Simanjuntak, Singa Boys (Jalan Singamangaraja).

Ada juga geng anak orang kaya yang kerjanya pesta dan hura-hura. "Waktu itu geng anak kaya ini bergaya ala James Dean dan Rock Hudson. Gaya twin-nya seperti Cubby Checker," kata seorang pentolan tahun 1960-an. Sampai saat itu, kelompok-kelompok ini tetap menjauhi tindak kriminal. Preman Medan baru terorganisasi setelah Pemuda Pancasila lahir.

Menginjak tahun 1960-an muncul dua kelompok kuat di Surabaya, yaitu Giant dan Viking. Kedua kelompok itu bersaing ketat dan kerap bentrok. Selain itu, ada juga geng perempuan, yakni Selendang Biru. Ibarat merpati yang mencari pasangan, cewek-cewek yang doyan merokok dan minum ini selalu hadir ketika Giant dan Viking perang tanding. Ganja dan morfin masih longgar saat itu.

Pasca-generasi ini muncul kelompok Besi Tua. Sebagian besar anggotanya orang Madura dan berlatar belakang kaum marginal. Musiknya dangdut. Setelah itu yang mencuat adalah kelompok band. Yang terkemuka adalah AKA. Band ini punya sejumlah pasukan, termasuk Lapendoz (laki-laki penuh dosa).

Hingga paro pertama tahun 1980-an, berandalan ugal-ugalan merupakan ciri khas premanisme di Indonesia. Setelah itu yang mencolok adalah premanisme yang digalang oleh organisasi kemasyarakatan dan pemuda (OKP), seperti PP, Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan dan ABRI, Pemuda Panca-Marga atau Warga Jaya. Apakah dengan demikian preman kembali mendapat akses politik? Bisa juga.

Laporan Arinto TW, Abdul Manan, Aendra HM, Bambang Soedjiantoro

D&R, Edisi 970913-004/Hal. 105 Rubrik Laporan Khusus

Monday, September 01, 1997

Dedaunan Bisa Sembuhkan Hepatitis

Tim peneliti dari Unair mengombinasikan daun sambiloto, meniran, dan daun urat untuk sembuhkan penyakit hepatitis. Terobosan baru teknologi farmasi?

WALAUPUN belum setingkat peraih Hadiah Nobel, penelitian yang dilakukan para dokter Indonesia untuk mendapatkan obat penyembuh penyakit bukan tidak ada. Salah satunya adalah yang dilakukan Dr. Wahyu Djatmiko, Kepala Laboratorium Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair), Surabaya: Bersama timnya yang beranggotakan sepuluh orang, Wahyu diduga menemukan obat baru untuk menyembuhkan penyakit hepatitis.

Obat temuan Wahyu Djatmiko itu berasal dari tumbuh-tumbuhan yang diraciknya dari tiga jenis daun: sambiloto (andrograpis paniculata), meniran (phulanthes niruri), dan daun urat (plantago asiatica l.). Pengujian keampuhan obat baru itu dilakukan dalam dua tahap. Pertama: uji praklinik yang dilakukan pada hewan. Kemudian: uji klinik kedua dilakukan pada manusia. Obat itu sudah diujicobakan terhadap pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo, Surabaya, dan klinik-klinik di sekitarnya. "Hasilnya untuk sementara memuaskan. Hasil uji coba pada hewan positif. Namun, untuk membuktikan virusnya hilang 100 persen pada manusia masih perlu dibuktikan satu tahun kemudian," kata Wahyu.

Menurut Wahyu, timnya melakukan pendekatan literatur, selain survei ke lapangan. Pada tahap awal dipilih 30 jenis daun yang diduga bisa dijadikan bahan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit hepatitis. "Kemudian, melalui berbagai literatur dan menggali lewat buku-buku dan pendekatan etnomedis serta survei lapangan yang berlangsung sampai tiga bulan-ke Flores, Sulawesi, dan Kalimantan-kami menyimpulkan yang paling prospektif bisa menyembuhkan penyakit hepatitis ada pada tiga daun itu," ujar Wahyu kepada D&R di Surabaya, akhir pekan lalu.

Lain, dari tumbuhan yang didapat itu dilakukan penapisan. "Apakah betul-betul berkhasiat? Caranya, dengan melihat parameter penapisan, SGOT/SGTT. Uji coba dilakukan terhadap hewan tikus. Dalam penelitian itu, SGOT/SGTT ketiga daun tersebut menurun. Artinya, ketiga daun tadi lolos dalam tes dan dianggap lebih prospektif dibandingkan daun jenis lain," kata Wahyu lagi.

Setelah itu, ketiga daun tersebut diuji di laboratorium melalui tahap-tahap ekstraksi (dibutuhkan satu minggu), penguapan (dua minggu), dan pemisahan senyawa. Proses pemisahan senyawa dilakukan lebih lama karena untuk mencari pelarut yang cocok di perlukan waktu yang lebih panjang. Itu bisa memakan waktu enam bulan. Kemudian. yang terakhir adalah uji khasiat, yang bisa memakan waktu satu tahun.

Hepatitis G

Mengapa hepatitis? "Penyakit ini sangat populer dan belum ada obatnya serta berbahaya. Kalau dibiarkan, penyakit ini bisa berubah menjadi kanker. Di samping itu, jumlah penderita penyakit ini cukup besar. Mungkin, orang yang terkena hepatitis di Indonesia mencapai 10 juta," Wahyu menjelaskan.

Selain itu, katanya, virus penyakit hepatitis sudah mencapai ke tingkat G. Jadi, hepatitis itu kini mulai dari hepatitis A, B, C, D, E. F, dan sudah sampai ke hepatitis G.

Kalau hepatitis A, dalam satu bulan, bisa sembuh dengan hanya melakukan diet, seperti cukup istirahat, makan gula yang bagus, dan makan protein yang tinggi. Namun, kalau sudah sampai ke hepatitis B, bila dibiarkan, penderitanya bisa terkena kanker hati. "Tapi, sebenarnya ada yang lebih jahat, yaitu hepatitis C, karena kecenderungan untuk menjadi kanker hati itu jauh lebih besar," ujar Wahyu lagi.

Penentuan jenis virus hepatitis itu, menurut Wahyu, berdasarkan hitungan waktu. Selain A dan B, virus selebihnya masih dalam penelitian lebih lanjut. Penelitian untuk hepatitis A dan B boleh dibilang sudah tuntas.

Gejala umum mereka yang terkena penyakit itu biasanya mata jadi kuning, kencingnya cokelat, demam, suhu naik, badan lemas. Setelah berlangsung lama, lever biasanya membesar dan sakit akibat terjadinya peradangan. Untuk menyembuhkan penyakit itu biasanya dilakukan empat hal: membunuh virusnya, menyembuhkan peradangan, meningkatkan kekebalan, dan mencegah terjadinya kanker.

Selama ini, untuk pengobatan terhadap penyakit itu biasanya dilakukan dengan menggunakan obat interferon. Namun, harganya mahal. Satu paket, harganya bisa mencapai Rp 7 juta. "Dan, itu belum tentu sembuh. Kalau dihitung secara matematis, angka keberhasilannya hanya 70 persen," kata Wahyu. Kenapa? Karena, obat modern itu ternyata tidak langsung membunuh virus. Obat itu hanya meningkatkan kekebalan tubuh. Jadi, hanya satu aspek yang disentuh.

"Yang juga perlu diingat, virus hepatitis termasuk sentra-virus, bukan virus RNA, bukan pula DNA. Virus itu tidak bisa memperbanyak sendiri seperti bakteri. Untuk memperbanyak, virus itu menempel ke sel si penderita dan membelah mengikuti pembelahan sel penderita itu," kata staff pengajar di Fakultas Kedokteran Unair itu.

Wahyu mengaku, dalam penelitian itu untuk satu jenis tanaman dihabiskan biaya Rp 100 juta. Anggaran itu untuk untuk proses atraksi sampai tahap uji coba pada manusia. "Ini masih murah karena untuk penelitian obat-obatan modern paling tidak Rp 1 miliar per satu jenis tanaman," katanya. Biaya penelitian itu sendiri berasal dari anggaran Unair, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Muhammad Jusuf/Laporan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 971101-011/Hal. 46 Rubrik Kesehatan