Saturday, October 03, 1998

Gereja dengan Haji dan Salat

Geraja Ortodoks Syria muncul di Indonesia sebagai upaya pendekatan kerukunan antar umat beragama.

JANGAN heran jika suatu saat Anda menemukan sebuah gereja de ngan simbol-simbol berbahasa Arab, yang biasanya ditemui pada masjid dan musala. Mereka juga melakukan salat (dengan istilah salat juga) dengan memakai peci bagi pria, dan kerudung bagi kalangan wanita.

Yang membedakan dengan umat Islam terletak pada cara salatnya. Juga kitab suci yang dipakainya. Mereka melakukan gerakan tanda salib dan membaca Bibel dalam ibadahnya. Ini terungkap di Heritage Club, Surabaya, Sabtu, 5 September, dalam acara pengukuhan pengurus Lembaga Studi Kanisah Ortodoks Syria dengan gelar "Seminar Prospek Persahabatan Kristen-lslam di Indonesia". Acara yang cukup menarik itu dihadiri sekitar 300 orang, yang justru 60 persen beragama Islam. Pengenalan ini dilakukan, menurut panitia, untuk menjembatani hubungan antar-agama, terutama aotara Islarn dan risten.

Hal semacam ini bisa juga dijumpai setiap hari Minggu, di bilangan Kalimalang, Jakarta Timur. Di rumah aktor terkenal Roy Marten itu, sejak pukul 08.00 hingga pukul 12.00 siang, dilakukan kebaktian Minggu.Sekitar 150jemaat Gereja Ortodoks Indonesia melakukan kegiatan sejak tahun lalu di ruangan seluas sekitar 100 meter persegi. Mereka dibimbing Romo Archimandrit Daniel Bambang Dwi Byantoro.

Acara diawali dengan memasang lilin di ruangan depan yang disebut Bahtera. Lalu, wanita dan laki-laki dipisahkan pada tempat tersendiri. Bagi wanita ditandai ikon Maria sedangkan pria ditandai ikon Yesus. Mereka tidak duduk di bangku, tapi berdiri di atas sajadah, dan membaca Injil. Yang pria mengenakan peci dan wanita memakai kerudung. Sang imam mengenakan jubah panjang warna-warni, kepalanya ditutup epitakheli (stola), bergelang tangan, serta mengenakan berbagai aksesori yang semuanya memiliki arti. Sebelumnya, semua jemaat melakukan penyucian diri dengan air, semacam wudu.

Acara berlangsung khidmat tanpa alunan musik. Doa-doa dilafalkan dalam bahasa Indonesia. Lalu, ada juga arak-arakan keci yang disebut athawafis shughra (tawaf ke cil). Selanjutnya, acara di lituragi yang lain ber langsung dalam bahasa Arab, yang kemudian diterjemahkan. Ya, ini mengingatka orang pada pengajian dimasjid bagi umat Islam. Dan, acara ini disudahi dengan jamuan kudus. Mereka menamakan diri Gereja Ortodoks Indonesia yang berafiliasi ke Yunani (Calcedon). Sementara itu, kelompok jemaat semacam yang berpusat di Malang menamakan diri Gereja Ortodoks Syria (Anthiokia).

Memang, lambang-lambang keagamaannya hampir mirip dengan Islam. Misalnya, untuk bacaan basmalah, mereka menggunakan bismil ab wal ibn warruhil qudsi al ilah al wahid yang bermakna: dengan nama Tuhan bapak, anak, dan roh kudus, Tuhan yang satu. Akan halnya untuk salam, mereka menggunahan salam Ibrani yang berbunyi shalom aleikhem we birkat elohim be shem ha-mashiah, yang artinya kurang lebih sama dengan assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa baraktuh.

Gereja ini tiba-tiba menjadi unik apalagi dengan pengakuan sebagai gereja yang paling murni dalam mengikuti ajaran Yesus Kristus. Mereka menganggap sehagai gereja monumen Kristus sepanjang abad. "Kita hanya mengenal satu Tuhan. Jadi, ada konsep tauhid seperti yang ada dalam Islam," kata Henney Sumali, Wakil Ketua Bidang Seni, Budaya, dan Apresiasi Studia Syriaca Orthodoxia, Surabaya.

Kalimat tauhid ini selalu dibaca dalam salat mereka yang dikenal dengan nama assab 'us shalawat (tujuh waktu salat). Memang, mereka mengenal salat tujuh waktu. Lima waktu sama persisdengan waktu salatumatIslam. Hanyadua waktu yang berbeda, yaitu pukul 09.00 pagi hari dan pukul 24.00 tengah malam. "Ini sama dengan salat duha dan tahajud bagi umat Islam," kata Henney.

Diakui oleh Syaikh Efiaim Bar Nabba Bambang Noorsena, pimpinan Gereja Ortodoks Syria, dalam makalah yang disampaikan pada Syiar Injiliyah di Hotel Surabaya, 19 Juni 1998. Salat dalam Kristen sebenarnya mengikuti salat yang berlaku dalam Yahudi, yaitu tiga kali: petang, pagi, dan tengah hari. Dalam bahasa Ibraninya disebut: 'erev wa boker we tsohorayim. Atau, dalam bahasa Arabnya disebut: Puasa'an wa .subhanda dhuhran. Namun, seperti dimuat Talmud, setelah penghancuran Baitul Maqdis dan eksodus ke Babilonia, ditetapkan satu waktu salat lagi, yaitu jam kesembilan, yang disebut minhah. "Menurut hitungan waktu Yahudi, kira-kira pukul tiga petang. Sejajar dengan waktu asar dalam Islam," kata Noorseno. Dan, selanjutnya berkembang menjadi tujuh waktu.

Salat-salat mereka adalah salat sa'atul awwal yang dalam istilah gereja Latin disebut laudes (salat subuh), salat .saatut atau hora tertia ( salat duha, sekitar pukul 09.00 pagi), salat sa tu.s .sadis atau hora sexta (setara dengan waktu duhur), salat satut tis'ah atau minah atau hora nona (yang setara dengan asar), salat sa'atul ghurub atau verper (salat magrib), salat nawm, atau virgi/ (sama dengan salat isya), dan salat layl atau salat satar atau copletorium (salat tengah malam yang dalam Islam dikenal dengan nama tahajud.

Namun, diakui Noorseno salat dalam konsep Kristen ini tidak terkait dengan syariah, seperti dalam Islam. "Melainkan lebih berlandaskan pada keinsafan batin," katanya. Ini, menurut Presbyter Daniel Bambang, dilakukan hukan untuk mencari pahala. Tapi, untuk mengasihi Tuhan. "Karena, yang menyelamatkan manusia bukan karena perbuatan dan amal baik seseorang, melainkan karena kasih dan karunia Allah."

Setiap salat terdiri dari tiga rakaat (satuan gerakan). Pada rakaat pertama hanya dilakukan qiyam (berdiri). Pada rakaat kedua dilakukan rukuk, dan sujud. Pada saat rukuk dan sujud ini dilakukan gerakan tanda salib. Dan, doa yang digunakan dalam bahasa Arab, Aram, Yunani, dan Ibrani. Lalu dibacakan pujian (qari'ah) yang dikutip dari kitab Mazmur. Pada rakaat ketiga dilakukan pembacaan kanun al imam, semacam pengakuan kepada Tuhan (syahadat) yang dikenal dalam Cereja Ortodoks.

Tak hanya itu, sebelum salat ditunaikan. ada semacam azan, panggilan untuk salat. Dalam panggilan salat ini ada kalimat yang mirip dalam Islam, misalnya hanya alashalah (marilah kita salat). Hayya alassalah bisa/am (marilah kita salat dengan damai). Dan, sebelum acara salat dilakukan, diawali dengan pembacaan Injil.

* Menghadap ke Timur

Pada saat salat, mereka menghadap ke timur, mengikuti tradisi Yesus yang kala itu menghadapkan kiblat salatnya ke Baitul Maqdis, Jerusalem. Namun, karena Jerus;llem hancur, orang-orang Kristen menjadikLm tubuh Jesus sendiri sebagai kiblat. Hanya karena tubuh Jesus kini di surga (istiwa all yaminillah), sesuai dengan Ayat Kejadian: 28, yang menyatakan surga di timur. salat mereka menghadap ke timur.

Tak hanya itu persamaan dengan Islam. Tenyata mereka juga mengenal haji. Ibadah hji ke Palestina ini termasuk ibadah non-sakramen, seperti juga salat, zakat persepuluhan, serta puasa. Berdasan Kitab Ulangan 16: 16-17 disebutkan hag atau haji dilakukan ke tanah suci Palestina menjelang Pekan Kudus (perayaan Paskah). tiga kali dalam setahun. Dan. sepulangnya, setiap orang Kristen Ortodoks mendapatkan sertifikat dari Patliauk Jerusalem dengan sebutan hadzi (untuk pria) dan hldzina (untuk wanita).

Pusat Gereja Syria ini terletak di Jalan Supriyadi IXA Nomor 8. Malang, Jawa Timur. Hanya, mereka belum memiliki gereja. Di Surabaya sendiri mereka masih nebeng dengan gereja lain. Mereka menerima pembagian kapling waktu hari Senin. Sebab, membentuk gereja bagi kalangan ortodoks tidak semudah kalangan lain. Diharuskan memiliki iman yang meraka sebut dengan abuna (ayah kami). Hampir mirip pada sebagian tradisi kita yang menganggap kiai dengan abuya (ayahku). Padahal, menjadi seorang abuna tiduk mudah. Harus menguasai lima bahasa: Arab, Aram, Ibrani, Yunani, dan Inggris "Dan, mereka dididik di Syria untuk menjaga kemurnian ajaran ini," kata Henney.

Masuknya Gereja Ortodoks Syria ini diawali dari perjalanan pendeta Bambang Noorseno ke Syria. dan sempatat melakukan studi agama di negara Hafic Alasat sekitar tahun 1995. Noorseno yang juga termasuk intelektuL muda Kristen itu antara lain menulis buku sangggahan atas karya Maulice Bucaille yang terkenal, Quran Bibel, sains moderen ini sempat pulal melihat arsip-arsip kuno yang masih tersimpan dalam Gereja Ortodoks Syria atau yang dikenal dalam bahasa Arab: Al Kanisat Anthakiyat AS SUI Yan AI Orhodokssiyyat Yang Sebagian besar naskah ditulis dalam bahasa Aram bahasa yang yang dipercaya sebagai bahasa yang dipergunakan Isa Almasih Noorseno sempat pula berdiskusi tentag naskah-naskah yanghampir tak pernah disentuh gereja Barat ini dengan Abuna 'Isa Ghubuz, Ketua Syrian Ortodok Seminary di kawasan Bab Thoma. Damaskus Apalagi, tuduhan-tuduh miring tentang gereja ini banyak dilontarkan gereja Barat yang haya melandaskan informasi sepihak

Padahal, menurut Noorseno dalam orasi ilmiahnya yang disampaikan pada peresmian Yayasan Kanisah Ortodoks Syria yang berjudul Jalan Panjang ke Anthiokia: Kembali ke Akar Kekristenan Semitik Mula-Mula (Sebuah Perseptektif Ortodoks Syria), 11 Desember 1997, Gereja Syria berdiri pada tahun 40. Rasul Petrus sendiri yang menjadi uskup pertama Anthiokia. ..

Kehancuran gereja itu terjadi pada tahun 451 ketika kekuasaan Byzantium mencengkeram Anthiokia dengan memaksakan Konsili Kalsedon. Gereja Anthiokia didukung Gereja Koptik di Mesir, sehingga dua patriark dua gereja ini dibuang. Kekaisaran Byzantium mengganti patriarknya dengan Paulus. Tapi, dua tahun kemudian ia dipecat dan digantikan Auphrosius bin Mallah yang ikut meninggal dalam kebakaran Kota Anthiokia. Lalu, Kaisar Justinus I mengangkat Gubernur Anthiokia sendiri sebagai patriark. Makin kacau. Gereja Anthiokia baru menemukan sosoknya kembali setelah tahun 543 dengan ditahbiskannya Mar Ya'qub Bar Addai. Hingga tahun 550, ia berhasil menahbiskan 27 uskup dan lebih 100.000 imam. Inilah yang dalam konsili ketujuh gereja Yunani disebut bidat Ya'qubiyah (Jacobite), yang danggap monofisit, yang menganggap Yesus hanya bersifat ilahi dan menyangkal kemanusiaannya. "Padahal, ajaran monofisit dalam artian demikian itu sebenarnya tidak pernah ada dalam sejarah," tulis Noorseno.

Gereja Ortodoks ini, menurut Funk & Wagnall, dipeluk sekitar 250 juta jiwa. Ia merupakan salah satu dari tiga pilar Kristen di dunia: Katolik, Protestan, dan Ortodoks. Mereka besar di Mesir (Koptik), Libanon (Maronit), Syria, Jerusalem, Rusia, Serbia, Yunani, dan Turki. Kaum ortodoks menganggap paling dekat dengan tradisi Yesus. Liturginya telah dikukuhkan dalam tujuh kali pertemuan para patriark antara tahun 325 hingga 787 di Kota Nicaea, Constantinopel, Ephesus, dan Calcedon.

Gereja Ortodoks pernah singgah di Nusantara, yaitu Gereja Ortodoks Persia pada zaman Sriwijaya dan Majapahit. Begitu juga Gereja Ortodoks Armenia pernah ada pada zaman Belanda. Gerejanya yang bernama Gereja Santo Johannes Pembaptis dahulu terdapat di Jalan Thamrin yang kini menjadi gedung Bank Indonesia. Namun, belakangan, gereja ini muncul kembali setelah Daniel ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1988 di Mojokerto, Jawa Timur. Tahun 1991, gereja ini tercatat di Departemen Agama sebagai Gereja Ortodoks Indonesia. Gereja ini memiliki sekitar 1.000 anggota yang tersebar di Jakarta, Solo, Mojokerto, dan Cilacap.

Sekitar tahun 1996 mengalami "perpecahan" dengan tampilnya Bambang Noorseno sebagai syaikh untuk Gereja Ortodoks Syria, dengan anggota yang masih terbatas, sekitar 250 orang. Namun, gereja ortodoks pimpinan Noorseno ini belurn terdaftar di Departemen Agama. "Lagi pula nama sebuah gereja tidak boleh dikaitkan dengan nama sebuah negara," kata Drs. Yan Kawatu, Dirjen Bimas Kristen Protestan Departemen Agama RI.

M.H., Titi A.S., dan Abdul Manan Surabaya

D&R, Edisi 981003-007/Hal. 38 Rubrik Agama

1 comment:

Anonymous said...

Bagi yang muslim, saya harus menjelaskan beberapa:
1. Pria dan wanita dibedakan karena ada perbedaan derajat wanita dan pria dalam mengambil bagian ketika perayaan ekaristi.
2. Penyucian dengan air dimaksukan untuk mengingat akan baptisan,dimana dalam gereja roma setiap hendak masuk gereja jemaat dipersilahka mengambil air suci sambil membuat tanda salib di depan dada.
3. Mereka menggunakkan bahasa Arab karena bahasa asli pusat dari gereja mereka adalah bahasa arab.
4. Perlu dicamkan seluruh umat Kristen dan Khatolik mengakui hanya ada 1 Tuhan termasuk gereja Orthodoks. Perbedaannya adalah dimana gereja pada umumnya mengakui bahwa Yesus mempunyai 2 hakikat dalam satu pribadi sedangkan beberapa gereja Orthodoks mengakui bahwa Yesus adalha satu hakikat dalam satu pribadi.
5. Konsep sholat memang sudah dikenal dalam tradisi Yahudi kumo yaitu 3 kali doa wajib. Dalam Khatolik Roma dipersimpel menjadi 3 kali doa wajib yaitu engelus, yaitu jam 6, 12, dan 18.
6. Tolong beritahu saya kitab mana dan ayat berapa dalam kitab suci Kristen yang menangatakan bahwa Yesus berkiblat ke arah Baitul Maqdis/Bait Allah sedangkan Yesus sering megajar di dalam Bait Allah?
7. Penulisan yang benar Patriakh, bukan Patliauk.
8. DAlam khatolik-pun imam disebut padre yang bereti bapa/ayah yang dimaksud khatolik dan orthodoks untuk menunjukkan keintiman para imam dengan Tuhan.
Sekian dan terima Kasih
Syalom