Skip to main content

Dulu Primadona, Kini Sepi Mahasiswa

Gara-gara bisnis perbankan mampat, minat kuliah di lembaga perbankan pun tak lagi ngebet.

BISNIS perbankan kini macet. Maka, para calon mahasiswa yang dulu ingin kuliah di sekolah-sekolah tinggi perbankan tak lagi ngebet. Padahal, ketika dunia perbankan marak, minat mahasiswa membengkak. Anganangan mereka: jika kelak lulus, bisa bekerja di bank, yang konon gajinya gede. Di lain pihak, bank-bank juga membutuhkar tenaga kerja terdidik. Tapi, kini, impian itu terpuruk sudah.

Itu sebabnya Pipit kini kebingungan Mahasiswa semester akhir fakultas ekonomi sebuah perguruan tinggi swasta itu mengaku patah arang untuk meneruskan kuliah. "Dulu, saya ngebet banget bekerja di bank. Kelihatannya kan sangat bergengsi," katanya. Tapi, kini, dunia perbankan hancur sudah. Bukan hanya itu, bahkan untuk melamar ke berbagai perusahaan pun tipis harapan bisa diterima. Sebab, yang terjadi justru banyak karyawan dikenakan pemutusan hubungan kerja.

Dampak pahit atas porak-porandanya sektor perbankan itu dengan sendirinya juga dirasakan lembaga-lembaga pendidikan perbankan. Lembaga penyedia tenaga kerja perbankan itu kini mulai senyap peminat. Padahal, di awal tahun 1990-an, seiring dengan menjamurya bank swasta, pendidikan perbankan laris diserbu para calon mahasiswa.

Kini, yang terjadi kebalikannya. Tengoklah, misalnya, Sekolah Tinggi llmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta, yang beken dan keren. Tahun lalu, jumlah pendaftar di kampus itu tak kurang dari 6.000.Tapi kini, jumlah calon mahasiswa di sana merosot hampir 50 persen. "Padahal, dua tahun lalu, yang mendaftar sekitar 8.000 orang," ujar Suhardi, Ketua STIE Perbanas Jakarta.

Meski jumlah pendaftar menciut, lulusannya masih bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk bank-bank swasta yang tergabung dalam Perhimpunan Bank Nasional Swasta alias Perbanas. Setiap tahun, kampus itu mendidik sekitar 1.200 mahasiswa.

* Bangkrut, Jual Aset

STIE Kerja Sama di Yogyakarta juga mengalami nasib serupa. Sebelumnya, sekolah itu mampu menjaring 1.100 mahasiswa, kini cuma 800 Bahkan, lantaran terancam bangkrut, belakangan, lembaga pendidikan itu berniat menjual sebagian asetnya. "Sayang, sampai sampai saal ini belum juga laku," kata Murthono Reksojoyo, Kepala Bagian Penelitian dan pengembangan STIE Kerja Sama.

Suasana sepi itu juga tampak di kampus STIE Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan di Bandung. Di sana, mahasiswa yang mendaftar anjlok sekitar 20-30 persen dari tahun sebelumnya. Dan, yang paling anjlok dialami STIE Perbanas Surabaya. Ketika dunia perbankan masih jaya, tak kurang dari 3.000 mahasiswa baru mendaftar di lembaga pendidikan swasta yang juga membuka program diploma-3 perbankan itu. Tapi kini. jumlah pendaftar anjlok sampai 50 persen.

Menurut Tjuk K. Sukiadi, Pembantu Ketua I STIE Perbanas Surabaya, semula. perbankan memang merupakan jurusan primadoria Dulu, peminat di jurusan itu membludak. Tapi kini, ketika dunia perbankan ambruk, jurusan itu pula yang paling terpuruk. "Apalagi, pemberitaan di koran memberikan kesan dunia perbankan sudah seperti mau kiamat saja. Itu sangat mempengaruhi lembaga kami," kata Tjuk. Jumlah calon mahasiswa yang mendaftar di lembaga kursus perbankan, seperti New Surabaya College, di Surabaya juga anjlok sekitar 50 persen.

Namun, menurut para pengelola lembaga pendidikan perbankan itu, ambruknya dunia perbankan bukan satu-satunya penyebab anjloknya jumlah calon mahasiswa. Menurut mereka, hal itu lebih disebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Apalagi, ada kesan seolah dunia perbankan sudah kiamat. Itu semua sangat mempengaruhi calon mahasiswa yang ingin kuliah di lembaga pendidikan perbankan dengan harapan bisa bekerja di bank.

Kendati begitu, para pengelola pendidikan perbankan itu rata-rata masih optimistis. Mereka yakin masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Jika kini potret dunia perbankan buram, tiga sampai lima tahun mendatang, mereka yakin akan muncul fajar yang cerah: ekonomi akan membaik, sehingga bisnis perbankan normal kembali. Ketika itulah dunia perbankan akan membutuhkan tenaga kerja terdidik.

Optimisme seperti itu rupanya juga terbersit di benak Fuad Hasan. Meskipun sekarang ini kesempatan bekerja di bank sangat kecil, mahasiswa semester tiga STIE Perbanas Jakarta itu tak mau ambil pusing. Bagi dia, yang penting bisa lulus dulu. "Soal kerja, enggak mikir dululah. Kerja kan nanti bisa di mana saja," katanya. Memang, yang penting belajar, tak perlu pusing-pusing.

Cuma, nanti jika sudah lulus, nah, baru puyeng lu.

Puji Sumedi/Laporan M. Subroto (Jakarta), Rudianto (Bandung), Prasetya (Yogyakarta), dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 981003-007/Hal. 37 Rubrik Pendidikan

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.