Skip to main content

Kok, Warga Gampang Mengamuk?

Sembilan orang di Gresik tewas diamuk massa. Di Tulungagung, balai desa dirusak.

DUKA dan galau sulit pupus dari benak Ismani. Sebab, suaminya, Dodi Hartawan, dan delapan temannya tewas dianiaya warga di Desa Boteng, Kecamatan Menganti, Gresik, Jawa Timur. Namun, sampai kini para pelaku, yang mengira Dodi dan kawankawan adalah komplotan pencuri sepeda motor, tiada yang ditahan polisi.

Padahal, "Suami saya bukan perampok," tutur Ismani, ibu dua anak berusia lima dan tiga tahun itu, sembari terisak menangis. Dia, juga segenap tetangganya di Desa Banyuurip, Menganti, tetap , menuntut Kepolisian Resor Gresik untuk mengusut tuntas kasus main hakim itu.

Tak sedikitpun Ismani menduga musibah bakmenimpa sang suami, tatkala Dodi tak kunjung pulang. Yang membuatnya gelisah waktu itu hanyalah kemungkinan mobil tua jenis Hijet milik Dodi mogok di jalan atau kehabisan bensin.

Pada Kamis, 30 Juli lalu, pukul 20.00, Dodi, yang pegawai kantor Golkar Jawa Timur, pergi mengantar Nono, tukang becak yang biasa mangkal di desa. Nono sakit dan mesti dibawa ke rumahnya di Desa Bibisbeton, Menganti. Di mobil Hijet tua itu, ada Dodi dan sembilan warga Banyuurip. Dua warga yang lain, Isbuddin dan Bagong, ikut mengantar, dengan sepeda motor.

Di tengah perjalanan, di Desa Boteng, masih di Kecamatan Menganti, Nono pamit ingin kencing dan beli rokok. Yang lain ikut trun. Tak lama kemudian, entah kenapa, Nono mengerang kesakitan. Dengan tergopohgopoh, rombongan Dodi naik kembali ke mobil. HanyaAgus yang tak tampak. DiputuskanLah untuk
meninggalkan Agus. Toh, nanti Isbuddin dan Bagong bakal melewati tempat itu.

Setengah jam setelah Dodi dan kawankawan pergi, Agus baru muncul. Ia kebingungan karena ditinggal sendirian. Sambil berjalan, Agus celingak-celinguk mencari teman-temannya. Rupanya, tingkah Agus itu membuat masyarakat setempat curiga. Mungkin lantaran di situ sudah dua bulan terjadl berkali-kali pencurian sepeda motor. Tak jauh dari tempat Agus beljalan, ada sebuah sepeda motor diparkir di halaman sebuah rumah. Pemiliknya, Yunus, sedang berkunjung ke rumah pacarnya. Saat itulah, seorang warga Desa Boteng bernama Wawan berteriak. "Maling, maling."

Mendengar teriakan itu, warga langsung mengerubuti Agus. Ia dibawa ke pos ronda untuk diinterogasi. Sembari dipukuli, Agus ditanya soal teman-temannya. Agus bilang, teman-temannya mengendarai mobil Hijet berpelat nomor L 1857 AD.

Warga pun berbagi tugas untuk memburu rombongan ber-Hijet tadi. Benar saja. Mobil itu ditemui saat memasuki Desa Gadingwatu, sekitar dua kilometer dari Desa Boteng. Mereka mengepung mobil yang ditumpangi Dodi dan kawall-kawan.

Dengan menggunakan senjata tajam dan alat pemukul tanpa pikir panjang lagi, mereka mengeroyok Dodi dan kawan-kawan. Akibatnya, waktu itu pukul 23.00, Dodi dan delapan temannya tewas. Setelah polisi datang dan kemudian membawa jasad para korban, massa kembali mengamuk. Kali ini, mobil Hijet yang dibakar.

Keruan saja, kesewenang-wenangan itu menyulut kemarahan warga Desa Banyuurip. Mereka memasang spanduk-spanduk bemada kutukan, selain juga menuntut peradilan para pelaku. Suasana tegang melingkupi desa-desa di Kecamatan Menganti, meski tak sempat terjadi aksi balas dendam.

Sudah 12 orang diperiksa oleh Polres Gresik. Namun, belum seorang pun berstatus tersangka, apalagi ditahan. Boleh jadi sikap hati-hati itu lantaran polisi khawatir didemonstrasi massa.

* Amuk Pilkades

Perilaku massa yang acap menggampangkan urusan juga meledak di Desa Tanggulkundung, Kecamatan Besuki, Tulungagung, Jawa Timur. Sekitar 500 pemuda. Pada Selasa, 28 Juli lalu, memporak-porandakan balai desa. Mereka berang lantaran calon mereka, Serka (Pol) Suyoto, kalah tipis dari saingannya, Muhaimin, pada pemilihan kepala desa (pilkades).

Begitu suara yang diraih Suyoto cuma 967, sementara Muhaimin dapat 993 suara, mereka langsung berteriak: "Curang! Curang!" Kursi-kursi pun beterbangan. Lampu-lampu dipecahi. Arsip desa, termasuk berkas surat tanah, dibakar. Balai desa rusak berat jadinya.

Janggalnya, parapetugas dari Kepolisian Sektor (Polsek), juga Komando Rayon Militer (Koramil), Besuki yang mengawasi jalannya pilkades sepertinya membiarkan saja aksi itu. Bisa jadi, itu lantaran Suyoto masih anggota Polsek Besuki. Diduga, yang menggerakkan massa pemuda tak lain Kopral Kepala Mulyadi, adik kandung Suyoto yang bertugas di Polres Tulungagung. "Mulyadi yang memberj aba-aba kepada para pemuda," tutur Serda Sumarji, petugas dari Koramil Besuki.

Sampai sekarang, suasana Desa Tanggulkundung masih tegang. Soalnya, para pendukung Suyoto berkeliaran meneror warga desa. Muhaimin sendiri terpaksa mengungsi ke rumah orang tuanya di Dusun Tempel. "Saya tak akan pulang sebelum suasana aman," katanya.

Memang, Poires Tulungagung terus mengusut kasus itu. Namun, Kopka Mulyadi, setelah diperiksa, dilepaskan kembali lantaran ratusan pemuda menjemputnya di Polres Tulungagung.

I.H./Laporan Zed Abidin dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 980815-052/Hal. 69 Rubrik Kriminalitas

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…