Skip to main content

Nahas Ahli Drone Hamas di Setapak



MASYARAKAT daerah Setapak, Kuala Lumpur, Malaysia, mengenal Fadi al-Batsh sebagai Ustad Fadi. Pria 35 tahun yang tinggal di kondominium Idaman Puteri itu pengajar di University of Kuala Lumpur bidang tenaga listrik. Ia juga imam salat lima waktu tiap Sabtu dan Minggu di Surau Medan Idaman, sekitar 300 meter dari tempat tinggalnya. 

Sabtu pagi dua pekan lalu itu, Fadi sedianya menuju surau untuk menjadi imam salat subuh. Ia keluar dari apartemennya sekitar pukul 05.50. Fadi menyeberangi jalan ke arah Sekolah Jenis Kebangsaan Cina, yang berhadapan dengan kondominium tempat tinggalnya. Tapi ia tak pernah tiba di surau.

Pagi itu jemaah di surau sudah menunggunya. Menurut takmir surau, Abdul Ghani, setelah azan subuh, jemaah biasa membaca Al-Quran sembari menunggu iqomah, yang menandakan waktu salat tiba. "Namun, hingga waktu iqomah tiba, Ustad Fadi belum juga tiba," kata Ghani kepada Tempo dan sejumlah wartawan, Kamis pekan lalu. Tugas Fadi sebagai imam salat lantas diambil alih oleh seorang warga Yaman.

Saat salat baru pada rakaat pertama, terdengar suara bising dari arah belakang. Ghani mengira ada bacaan Al-Quran dari imam yang salah dan jemaah ingin membetulkannya. Ternyata suara itu bukan dari jemaah. "Setelah salat usai, salah satu anggota jemaah diminta melihat ke luar. Mungkin ada kecelakaan," ujar Ghani. Alangkah terkejutnya saat jemaah memberi tahu bahwa mereka menemukan Fadi tergeletak di jalan dengan sejumlah luka tembak.

Penembakan terhadap Fadi menjadi insiden internasional kedua di Malaysia dalam dua tahun ini. Sebelumnya, terjadi pembunuhan terhadap Kim Jong-nam, saudara pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, pada 13 Februari 2017. Ia tewas setelah diolesi gas saraf radioaktif VX oleh intelijen Korea Utara dan para agennya saat berada di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur.

Polisi Diraja Malaysia, setelah melakukan pemeriksaan terhadap saksi dan kamera pengawas (CCTV), yakin bahwa Fadi menjadi target pembunuhan. Kepala Polisi Kuala Lumpur Mazlan Lazim mengatakan Fadi ditembak oleh dua orang pengendara sepeda motor Kawasaki. Mereka melepaskan sepuluh tembakan, empat di antaranya mengenai kepala dan badan Fadi dan menyebabkan dia meninggal di tempat. "Polisi juga menemukan dua peluru kosong di sana," kata Mazlan kepada kantor berita Malaysia, Bernama.

Menurut Mazlan, rekaman dari CCTV di lokasi penembakan menunjukkan bahwa penyerang menunggu sekitar 20 menit di daerah Setapak sebelum melepaskan tembakan. "Kami percaya Fadi adalah target mereka karena dua orang lain yang berjalan di tempat sebelumnya tidak terluka," ujarnya.

Polisi juga sudah mengidentifikasi dua pelakunya, yang dirilis pada Senin pekan lalu. Dari sketsa wajah yang dibuat dengan komputer itu, pelaku diidentifikasi berkulit terang dan mungkin berasal dari Eropa atau Timur Tengah. Kedua pria itu memiliki tinggi sekitar 180 sentimeter dan bodi ramping. Polisi menemukan sepeda motor mereka di tempat parkir umum daerah Danau Kota, sekitar sembilan menit dari lokasi penembakan, Selasa pekan lalu.

Penembakan ini memantik tanda tanya soal siapa sebenarnya Fadi. Menurut media online Malaysia, The Star, Fadi mempelajari teknik elektro di Gaza sebelum meraih gelar PhD dalam bidang yang sama di Malaysia. Ia menerima gelar doktor dari Universiti Malaya pada 2015 dan menjadi dosen senior di British Malaysian Institute. Biografi resminya menyatakan bahwa minat penelitiannya termasuk pengalih daya, kualitas daya, dan energi terbarukan.

Abdul Ghani dan sebagian besar tetangganya mengaku hanya tahu Fadi sebagai pengajar. Namun orang dekat Fadi mengatakan bahwa dia tidak menyembunyikan hubungannya dengan salah satu kelompok militan Palestina yang menguasai Gaza, Hamas. "Dia dikenal dalam komunitas Palestina karena hubungannya dengan Hamas," tulis Al Jazeera.

Hamas mengeluarkan pernyataan setelah kematian Fadi dan mengakui bahwa dia sebagai anggotanya. "Ia ilmuwan yang mengkhususkan diri dalam masalah energi," tulis Hamas. Organisasi itu tidak secara langsung menuduh Israel sebagai pembunuh Fadi, tapi mereka menyebut Fadi sebagai "martir", istilah yang lazim mereka gunakan untuk orang yang dibunuh oleh pasukan Israel. Namun media yang berafiliasi dengan Hamas mengklaim bahwa Fadi "dibunuh" oleh badan intelijen Israel, Mossad.

Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi memberi pernyataan implisit soal indikasi bahwa Israel berada di belakang peristiwa itu. "Kami tahu sebuah negara di Timur Tengah akan melakukan apa pun untuk menolak potensi yang dimiliki rakyat Palestina. Mereka menyasar warga Palestina yang memiliki keahlian tertentu sehingga dapat memadamkan kemungkinan Intifadah yang terjadi di sana, bahkan sebelum dapat dimulai," katanya.

Kementerian Dalam Negeri, yang juga dipimpin Zahid, telah mendeteksi masuknya agen asing dengan menyalahgunakan paspor negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Malaysia untuk melaksanakan "misi tertentu".

Selain sebagai anggota Hamas, tulis media Israel, Ynetnews, yang membuat Fadi menjadi perhatian Israel adalah dia ahli pesawat tanpa awak (drone). Dia mengkhususkan diri dalam sistem tenaga dan penghematan energi serta telah menerbitkan sejumlah makalah ilmiah tentang tema ini. Menurut New York Times, pekerjaan rahasia untuk Hamas itulah yang membuat Fadi masuk radar Mossad.

Klaim itu, tulis New York Times, telah dikonfirmasi oleh para pejabat intelijen Timur Tengah yang mengatakan pembunuhan tersebut adalah bagian dari operasi yang lebih luas yang diperintahkan kepala Mossad, Yossi Cohen. Proyek Cohen itu untuk membongkar proyek Hamas, yang mengirim para ilmuwan dan insinyur Gaza yang paling menjanjikan ke luar negeri untuk mengumpulkan pengetahuan dan persenjataan buat melawan Israel.

Wartawan investigasi Israel, Ronen Bergman, yang merupakan salah satu ahli terkemuka mengenai intelijen Israel dan penulis buku Rise and Kill First, menyatakan pembunuhan itu mengarah pada jenis operasi Mossad. "Fakta bahwa para pembunuh menggunakan sepeda motor untuk membunuh target mereka, yang telah digunakan di banyak operasi Mossad sebelumnya dan dilakukan sebagai operasi pembunuhan yang bersih dan profesional jauh dari Israel, menunjukkan keterlibatan Mossad," ujar Bergman, seperti dilansir Al Jazeera.

Ini bukan kasus pembunuhan pertama aktivis Hamas yang diduga dilakukan Mossad. Sebelumnya, nasib yang sama menimpa Mohammed Alzoari, insinyur penerbangan senior yang mengepalai program drone Hamas. Ia tewas ditembak pada 15 Desember 2016 di dekat mobil di kampung halamannya di Sfax, kota kedua terbesar di Tunisia, yang terletak 170 mil tenggara dari Ibu Kota Tunis. Polisi menemukan lebih dari 20 peluru di tubuhnya.

Israel membantah terlibat dalam pembunuhan tersebut. Dalam wawancara dengan stasiun radio Kan Reshet Bet, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengaku mendengar berita penembakan itu. Ia menganggap tudingan itu sebagai kebiasaan lama Hamas yang menyalahkan Israel atas kematian anggotanya di luar negeri. Tapi, ia menambahkan, "Pria itu bukan orang suci. Dia tidak terlibat dengan urusan memperbaiki jaringan listrik atau infrastruktur dan air. Kami telah mendengar pengumuman kepala Hamas yang menjelaskan bahwa dia terlibat dalam produksi roket, untuk meningkatkan akurasinya."

Abdul Manan, Imam Masrur (Kuala Lumpur), [Reuters]

Majalah Tempo,  29 April 2018

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.