Skip to main content

Jebakan Cabul Sang Kontraktor

SONI Sandra tertunduk di kursi pesakitan sembari terus memegangi dada kirinya. Raut muka pengusaha tersohor di Kediri, Jawa Timur, itu tampak pucat. Pandangannya mengarah ke bawah selama hakim membacakan putusan pada sidang di Pengadilan Negeri Kota Kediri, Kamis pekan lalu.


Majelis hakim yang dipimpin Purnomo Amin Tjahjo memvonis Soni bersalah menyetubuhi tiga anak. Soni dihukum sembilan tahun penjara plus denda Rp 250 juta. Dalam sidang, hakim Purnomo membeberkan bagaimana lelaki 63 tahun itu memperdaya korbannya. Anak-anak itu diiming-imingi uang, lalu dicekoki obat sebelum disetubuhi. Pemilik PT Triple S itu juga selalu membujuk korbannya untuk mengajak teman-teman mereka bertemu dengannya.

Soni mengunci mulutnya ketika wartawan memberondong dia dengan pertanyaan seusai sidang. Setelah divonis bersalah, Soni alias Koko masih harus menjalani sidang di Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri. Di sana dia didakwa bersetubuh dengan empat anak lain. Jaksa menuntut kontraktor proyek jalan dan bangunan itu dihukum 14 tahun penjara dan denda Rp 300 juta.

Perbuatan Soni terungkap setelah seorang ibu melaporkan kejadian yang menimpa anaknya kepada polisi pada 16 Maret 2016. Bocah 12 tahun itu--sebut saja namanya Antik Kemala--masih duduk di bangku kelas VI sekolah dasar. Beberapa hari kemudian, orang tua dua anak lain di Kota Kediri juga melapor. Berselang tiga bulan, pada 4 Juli 2015, orang tua empat anak di Kabupaten Kediri juga mengadu ke polisi bahwa anak mereka diperdaya Soni.

Kepada polisi, anak-anak itu mengaku mendapat uang dari Soni Rp 400-700 ribu. Mereka biasanya diajak menginap di Hotel Bukit Daun, Kediri. Polisi lantas menetapkan Soni sebagai tersangka pada 10 Juli 2015. Ia dijerat dengan pasal larangan menyetubuhi anak di bawah umur, seperti diatur Pasal 81 ayat 2 atau Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 65 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Sehari setelah menjadikan Soni tersangka, polisi mendapat info bahwa lelaki dengan satu istri, empat anak, dan satu cucu itu akan melancong ke Eropa. "Saya perintahkan anak buah mengawasi pergerakan pelaku," kata Kepala Kepolisian Resor Kota Kediri Ajun Komisaris Besar Bambang Widjanarko. Benar saja, hari itu Soni meluncur ke Bandar Udara Juanda, Surabaya. Ia ditangkap ketika check-in di terminal keberangkatan internasional.

Sewaktu polisi menyidik perkara ini, satu per satu korban menarik laporan. "Ada dugaan pelaku mempengaruhi korban untuk menarik laporan dengan kompensasi materi," ujar Heri Nurdianto dari Divisi Advokasi Lembaga Perlindungan Anak Kediri. Heri mendengar kabar bahwa orang-orang kepercayaan Soni menawari korban uang Rp 20-100 juta.

Pencabutan laporan itu sempat merepotkan polisi. Untuk mencegah intimidasi dan iming-iming, tiga korban diungsikan ke rumah dinas Kepala Polresta Bambang selama lebih dari tiga bulan. Mereka baru dipulangkan ke rumahnya ketika berkas perkara Soni dinyatakan lengkap oleh kejaksaan.

Arifin, salah seorang pengacara Soni, menyangkal jika kliennya disebut mencoba membayar korban untuk mencabut laporan. Yang terjadi, menurut dia, justru upaya pemerasan terhadap Soni oleh orang-orang yang mengaku bisa menyelesaikan perkara dengan cepat. Di persidangan, Soni pun mengaku pernah dimintai uang sampai Rp 10 miliar, tapi dia tak memenuhinya.

Arifin juga menilai dakwaan jaksa atas kliennya tak didukung bukti kuat. Buku register tamu hotel, yang disebut-sebut berisi tanda tangan Soni, tak jelas keberadaannya. "Padahal klien kami dituding 21 kali menginap di Hotel Bukit Daun," katanya.

Abdul Manan, Hari Tri Wasono (Kediri)

Dimuat di Majalah Tempo edisi 23 Mei 2016

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.