Skip to main content

Harper Lee Setuju Ada Versi Digital Novel To Kill a Mockingbird

Alabama - Harper Lee setuju novelnya yang sangat terkenal itu, To Kill a Mockingbird, akan tersedia dalam versi digital dengan format ebook dan audiobook. Dalam pernyataan publik yang dirilis melalui penerbitnya, HarperCollins, Lee mengatakan: "Saya masih bergaya kuno. Saya suka buku-buku tua dan perpustakaan berdebu. Saya kagum dan terharu bahwa Mockingbird telah bertahan selama ini. Ini adalah Mockingbird untuk generasi baru."

Pengumuman itu terjadi hampir setahun setelah ia menggugat mantan agennya amuel Pinkus untuk mendapatkan kembali hak untuk novelnya. Lee mengklaim dia telah ditipu untuk menandatangani hak cipta.

Gugatan itu selsai September lalu. Pengacara Lee, Gloria Phares, mengatakan pada waktu itu bahwa kasus tersebut telah diselesaikan dan memenangkan penulis, dengan "hak ciptanya dijamin ada padanya."

Novel pemenang Pulitzer itu akan dirilis secara digital pada 8 Juli .

Novel Lee diterbitkan pertama kali pada Juli 1960, dan terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia, dan jumlahnya naik lebih dari 1 juta eksemplar per tahun, menurut HarperCollins.

Karya ini diadaptasi menjadi sebuah film tahun 1962 dengan judul sama, yang menampilkan pemenang Oscar oleh Gregory Peck sebagai Atticus Finch, pengacara berani Alabama yang membela seorang pria kulit hitam menghadapi tuduhan bahwa ia memperkosa seorang wanita kulit putih.

Lee tidak pernah menerbitkan buku lain, yang sepertinya hanya untuk menambah daya tarik novel ini , dan selama beberapa dekade ia telah menolak wawancara dan tampil di dpean publik . Dia berumur 88 pada hari Senin 28 April 2014 dan hidup di daerah asalnya, Alabama.

Karya lain yang masih belum tersedia dalam format ebooks antara lain The Autobiography of Malcolm X dan One Hundred Years of Solitude karya Gabriel García Márquez.

Guardian | Abdul Manan

TEMPO.CO | SENIN, 28 APRIL 2014 | 22:11 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.