Skip to main content

Iranian Politicians Accuse Commission Works for CIA, Mossad

Jakarta - Ahmad Salek, chairman of Iran's parliamentary cultural commission, on Tuesday accused his country's Baha'i community of spying for Israel and the United States. "I declare very explicitly that Baha’ism is an espionage organization which gathers intelligence for the CIA and Mossad, and there are abundant documents to prove this," the Fars news agency quoted Salek saying.
Israeli media, Jerusalem Post, wrote on Wednesday, The Baha’i community faces intense persecution from the regime. Last October, Dr. Ahmed Shaheed, the UN special rapporteur on human rights in Iran, issued a report that included a section on the persecution.

Dr. Ahmed Shaheed wrote: "The special rapporteur continues to observe what appears to be an escalating pattern of systematic human rights violations targeting members of the Baha’i community, who face arbitrary detention, torture and ill-treatment, national security charges for active involvement in religious affairs, restrictions on religious practice, denial of higher education, obstacles to state employment and abuses within schools."

In August 2013, Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei issued an edict – or fatwa – calling on all Iranians to ostracize the Baha’is. After Khamenei issued the fatwa, Ataollah Rezvani, a popular Baha’i leader, was murdered. It is unclear who killed Rezvani.

Earlier this month, the Baha’i World New Service reported a stabbing attack on a Baha’i family in Birjand in eastern Iran. According to the report, the three victims – husband, wife and daughter – survived the attack. "The attacker – who was masked – entered the home of Ghodratollah Moodi and his wife, Touba Sabzehjou," the news service wrote.

Diane Ala’i, the Baha’i International Community’s representative to the United Nations in Geneva, said: "There can be no doubt that this crime was religiously motivated. Mr. Moodi was well-known as a leader in the Baha’i community in Birjand. She hopes the Iranian authorities will investigate the crime and bring the perpetrators to justice."

Diane said there had been over 50 physical attacks to the Baha’i community in Iran since 2005 and not one attacker has ever been prosecuted.

JERUSSALEM POST | ABDUL MANAN

TEMPO.CO | FRIDAY, 21 FEBRUARY, 2014 | 10:50 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…