Skip to main content

Resensi: Tugas Jurnalis Memandu Publik Memilih Pemimpin Terbaik


Judul : Jurnalis Meliput Pemilu
Penulis : Abdul Manan, Jajang Jamaluddin, Moch. Zainuri dan Wahyu Dhyatmika
Penerbit : AJI Jakarta bekerjasama Internews, CETRO dan USAID
Halaman : vii + 127
Cetakan Pertama : November 2003


Jurnalis dan pemilu adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Ia memiliki posisi strategis baik secara individual maupun kelembagaan. Lalu bagaimana jurnalis menjaga independensi?

Pemilu 2004 bakal digelar beberapa bulan lagi. Se- luruh rakyat benar-benar mengharapkan, melalui pemilu mendatang, terpilih para pemimpin yang mampu membawa negara dan bangsa ini dapat keluar dari berbagai persoalan.

Pemilu 2004 menjadi sangat penting, karena merupakan pertama kali dilaksanakan pemilihan langsung untuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), DPD, serta pasangan presiden dan wakil presiden.

Pada awalnya, masih ada yang ragu, apakah masyarakat siap melewati proses demokrasi yang sedemikian maju, dibanding beberapa pemilu sebelumnya. Keraguan itu, antara lain, muncul karena masih compang-campingnya peraturan perundangan yang mengatur pemilu itu sendiri.

Di pihak lain, kita menghendaki pemilu berjalan sukses, untuk menghantarkan bangsa ini segera keluar dari lumpur yang hampir menenggelamkan semuanya. Karena itu, nasib bangsa dan negara di masa depan akan dipertaruhkan melalui Pemilu 2004

Pemilu merupakan pesta demokrasi milik semua. Karenanya, semua elemen masyarakat memiliki peran yang sama untuk menyukseskan perhelatan itu. Mereka bukan bagian yang di luar arena, melainkan di dalam arena.

Pers juga menjadi bagian dari institusi masyarakat. Selama ini, pers dianggap sebagai salah satu pilar demokrasi. Sudah barang tentu, kehadiran para jurnalis yang menjadi bagian penting dari pers, ikut memiliki tanggungjawab untuk menyukseskan agenda nasional tersebut.

Jurnalis dan pemilu adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Tugas jurnalis ikut mewartakan tahapan demi tahapan pemilu. Namun, tugas jurnalis tak hanya sekadar menjadi corong pengumuman untuk memberitakan proses pemilu. Yang lebih mendasar lagi adalah meniup peringatan, jika ada indikasi pelanggaran. Kemudian, memandu publik agar mereka dapat menentukan pilihan calon pemimpin terbaik yang akan menduduki kursi di lembaga tinggi mau- pun lembaga tertinggi negara.

Sudah barang tentu, hal ini bukan pekerjaan mudah. Hal lain, posisi strategis yang dimiliki para jurnalis secara individu maupun kelembagaan, sering pula dijadikan kekuatan politik tertentu untuk menariknya ke dalam.

Lalu, bagaimana para jurnalis sendiri harus bersikap. Itulah yang akan dijawab dalam buku panduan Jurnalis Meliput Pemilu terbitan Aliansi Jurnalis Indipenden (AJI) Jakarta bekerjsama dengan Internews, Center for Electoral Reform (CETRO) dan USAID.

Buku Jurnalis Meliput Pemilu ditulis sejumlah praktisi jurnalis, yakni, Abdul Manan, Jajang Jamaluddin, Moch. Zainuri dan Wahyu Dhyatmika. Buku ini sangat bagus untuk dibaca para wartawan sebagai bekal sebelum melaksanakan tugas di lapangan. Sebagai panduan, buku ini cukup banyak mem- berikan pengetahuan praktis.

Secara umum, buku Jurnalis Meliput Pemilu dibagi menjadi empat bagian besar. Bagian pertama, menelusuri liku-liku sistem Pemilu baru, mempelajari kelemahan dan keunggulan dan memberi gambaran secara umum apa yang akan terjadi selama pro- ses Pemilu 2004 mendatang.

Bagian kedua, menukik lebih tajam, membahas potensi-potensi pelanggaran pemilu dan dipaparkan belajar dari pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya. Pada bagian ini, juga diberikan panduan soal titik-titik krusial pelaksanaan pemilu yang harus dicermati jurnalis.

Bagian ketiga dan keempat, banyak mengadopsi literatur internasional mengenai bagai- mana meliput pemilu yang baik. Ada tips dan trik praktis untuk para jurnalis mengembangkan liputannya di lapangan.

Pengalaman para jurnalis di sejumlah negara disajikan, agar para jurnalis nasional dan lokal memiliki pembanding untuk merumuskan metode sendiri yang paling efektif.


Menjaga Sikap Independen

Melalui panduan ini, buku Jurnalis Meliput Pemilu memberikan tips berupa lima langkah praktis dalam meliput agenda itu. Langkah pertama, jangan berpihak, jaga sikap independen.

Kavi Chongkittavorn, editor eksekutif The Nation, Thailand, menyarankan beberapa hal. Di antaranya, jurnalis harus meyakinkan semua pihak bahwa pemilu berjalan tanpa kegagalan.

Jurnalis harus bisa membedakan antara partai atau kandidat yang benar-benar tulus melakukan perbaikan dan partai atau kandidat yang hanya berpetualang untuk mencari keuntungan politik.

Jurnalis harus memberikan penilaian yang seimbang dan adil bagi semua partai yang terlibat. Jurnalis jangan bertindak seperti peramal cuaca yang menceritakan kepada publik partai atau kandidat mana yang akan menang besok.

Jurnalis harus mengangkat berita soal pelanggaran aturan pemilu, seperti percobaan jual beli suara atau manipulasi, terutama di daerah luas dan terpencil.

Jurnalis harus berhati-hati dengan komentar atau pandangan yang cenderung memecah belah. Menolak berita tak berguna, terutama yang didasarkan pada isu yang potensial untuk menciptakan kerusuhan.

Langkah kedua, rencanakan liputan Anda. International Federation Journalist (IFJ) menekankan pentingnya perencanaan dalam peliputan pemilu yang efektif.

Langkah ketiga, patuhi rambu untuk reporter lapangan. John Lawrence, editor pelatihan The Nation, Kenya, membuat rambu-rambu untuk para reporter yang hendak diterjunkan ke lapangan.

Rambu-rambu itu, di antaranya, berikan penekanan setara kepada semua partai atau kandidat utama. Berhati-hati untuk tidak mewarnai laporan Anda dengan bahasa membakar.

Kemudian, laporkan apa yang diucapkan para calon, bukan apa yang dikatakan pihak-pihak berkepentingan dengan perkataan para calon. Berhati-hati, jangan terkesan memihak dalam argumentasi-argumentasi politik.

Jangan pernah menerima insentif apapun dari seorang calon atau pendukungnya. Bahkan, kecuali sangat darurat, jangan pernah mau menumpang mobil politisi.

Jangan janjikan kepada politisi manapun bahwa suatu laporan akan muncul di surat kabar. Laporkan yang Anda lihat tanpa melebih-lebihkan. Jangan menggunakan bahasa berbunga-bunga dalam menggambarkan pertemuan-pertemuan massa.

Langkah keempat, tetap selamat dalam meliput. Mengadaptasi dari petunjuk International Federation Journalist (IFJ), prinsipnya, suatu berita tak pernah sebanding nilainya dengan nyawa Anda.

Para jurnalis harus belajar mencari selamat, menghindari terluka, penjara, pengusiran atau bahaya-bahaya lain dari profesinya, tetapi tetap berhasil memperoleh berita.

Langkah kelima, jika Anda menjadi korban, lakukan advokasi. Apa yang harus dilakukan jika tindakan kekerasan terlanjur menimpa jurnalis atau teman seprofesi.

The South East Asian Press Alliance (SEAPA) bekerjasama dengan Civil Society Support Strengthening Pro- gram (CSSP) dan USAID telah menerbitkan manual advokasi kekerasan terhadap jurnalis.

Beberapa langkah advokasi itu meliputi; verifikasi, menulis alert, investigasi, demonstrasi atau lobi, ligitasi (menuntut ke pengadilan) dan pendokumentasian.

Verifikasi diperlukan untuk melihat apakah kekerasan itu berkaitan dengan kerja jurnalistik, atau karena urusan pribadi, perbuatan kriminal atau sebab-sebab lainnya.

Palopo Abdurahman

Minggu, 25 Januari 2004 05:34
Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.