Monday, November 19, 2018

Air Keras untuk Kateryna

PENYIRAMAN dengan air keras tak sepenuhnya membungkam aktivis antikorupsi Ukraina, Kateryna Viktorivna Handziuk. Di tengah-tengah menjalani perawatan atas luka bakarnya, September lalu, ia berbicara kepada stasiun televisi Ukraina, Hromadske, soal serangan terhadap setidaknya 14 aktivis dalam setahun ini. ”Begitu banyak serangan dalam waktu singkat tanpa hukuman dan polisi bersikap diam. Kita harus berbicara keras tentang ini kepada Bankova (Kantor Kepresidenan Ukraina),” katanya. 

Perempuan 33 tahun ini juga mengungkapkan serangan yang dialaminya pada 31 Juli lalu, saat seorang pria menyiramkan air asam ke arahnya ketika ia keluar dari apartemennya di Kota Kherson. Kepala staf di Kantor Wali Kota Kherson ini menyebut serangan itu sebagai percobaan pembunuhan, ”Karena mereka menuangkan asam ke kepalaku. Jika mereka ingin menakut-nakutiku, itu akan dilakukan di bagian lengan, kaki, atau wajah.”

Kateryna tak sempat melihat penyerangnya diadili atau dipenjara. Luka akibat siraman air keras itu menyebabkan sekitar 40 persen tubuhnya melepuh. Dia harus menjalani 11 kali operasi dan banyak melakukan cangkok jaringan kulit untuk mengganti kulit yang terbakar. Setelah menahan rasa sakit selama 96 hari, Kateryna akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Ahad pekan lalu akibat komplikasi dari luka-lukanya.

Kematian Kateryna memicu protes masyarakat Ukraina dan internasional. Ratusan orang berkumpul di depan kantor Kementerian Dalam Negeri Ukraina di Kiev, Senin pekan lalu, menuntut agar pelaku dan dalang penyerangannya diadili. Komisioner Eropa untuk Kebijakan Lingkungan Johannes Hahn mengatakan, ”Serangan terhadap aktivis masyarakat sipil tidak dapat diterima. Pelaku kejahatan kejam ini harus dibawa ke pengadilan.”

Apa yang terjadi pada Kateryna Handziuk mengingatkan pada kasus Novel Baswedan di Indonesia. Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ini disiram air keras di bagian wajahnya pada 4 April 2017, tapi polisi tak kunjung menemukan pelakunya. Penyiraman ini diduga karena keterlibatannya dalam penyelidikan sejumlah kasus korupsi yang melibatkan korps berseragam cokelat. ”Ini serupa dengan kasus saya. Polanya juga sama: dia mengadvokasi laporan korupsi yang dilakukan oleh polisi lokal,” ujar Novel, Selasa pekan lalu.

l l l

KATERYNA Handziuk lahir pada 17 Juni 1985 di Kota Kherson. Dia lulus dari Universitas Ekonomi Nasional pada 2008 dan Akademi Administrasi Publik Nasional di Kiev pada 2016. Semasa duduk di bangku kuliah, Kateryna aktif di partai politik Fatherland dan sempat menjadi pemimpin sayap pemudanya. Pada 2006, ia terpilih menjadi wakil dewan regional dari Kherson Oblast dan Dewan Kota Kherson untuk partai Fatherland serta menjadi penasihat Wali Kota Kherson.

Saat terjadi Revolusi Oranye, Kateryna terlibat aktif. Revolusi ini merupakan serangkaian protes pada akhir November 2004-Januari 2005 setelah putaran kedua pemilihan Presiden Ukraina 2004 dinodai oleh korupsi, intimidasi terhadap pemilih, dan kecurangan. Dia juga aktif dalam Revolusi Ukraina 2014, yaitu rangkaian peristiwa yang berujung pada tersingkirnya Presiden Viktor Yanukovych.

Pada pemilihan lokal 2015, Kateryna ikut membantu terpilihnya Volodymyr Mykolayenko dalam pemilihan Wali Kota Kherson. Mykolayenko memintanya menjadi bagian dari Pemerintah Kota Kherson. Kateryna sangat dikenal di Kherson karena komentar di akun Facebooknya yang blakblakan tentang korupsi di daerahnya. ”Dia sering mengatakan kepada saya bahwa jika seseorang adalah bajingan, dia akan menyebutnya bajingan,” kata Mykolayenko.

Dari sekian lembaga publik, kepolisian adalah salah satu sasaran utama kritiknya. Pada September 2017, Kateryna menuding bahwa Artem Antoshchuk, yang kemudian memimpin departemen kepolisian untuk penyelidikan kejahatan ekonomi di Kherson Oblast, meminta 3 persen pembayaran dari 30 persen anggaran kota yang diduga dicuri oleh pemerintah kota. ”Tidak ada gunanya mengeluh kepada penegak hukum karena di Kherson semuanya begitu busuk sehingga setiap keluhan, pernyataan, atau investigasi bisa bocor dengan harga US$ 100-500,” tulisnya di Facebook.

Pernyataan Kateryna itu memicu kemarahan polisi, yang kemudian menggeledah kantornya. Antoshchuk juga membawa kasus itu ke pengadilan dengan gugatan pencemaran nama. Pengadilan di Kherson mengambil putusan ambigu karena Antoshchuk dinyatakan tidak terbukti melakukan korupsi, tapi Kateryna juga tidak wajib meminta maaf. Tak berselang lama, Antoshchuk dipindahkan dari Kherson ke kepolisian pusat di Kiev.

Jurnalis yang juga kolega Kateryna, Nikitenko, mengatakan pemindahan itu merugikan Antoshchuk. ”Di Kiev, dia salah satu dari sekian banyak (pejabat). Tapi di sini dia adalah orang yang sangat berpengaruh. Dia mendapatkan uang besar, mendapatkan imbalan dari hampir setiap transaksi korup,” ucapnya. Nikitenko yakin kritik temannya itulah yang menyebabkan pemindahan Antoshchuk tersebut. Antoshchuk tidak menanggapi permintaan konfirmasi dari Kyiv Post.

Kateryna juga terlibat konflik dengan Ihor Pastukh, kepala cabang Ukrtrasbezpeka, badan negara yang mengontrol jalur transportasi yang melalui kota. Ia mengkritik Pastukh karena tutup mata terhadap truk yang melewati Kherson tanpa izin dan bus yang membawa orang ke Crimea tanpa membayar pajak. Nikitenko mengatakan Pastukh ”mendapat pemasukan lumayan dari transportasi kargo (ilegal) dan memperoleh imbalan untuk itu”.

Menurut Kyiv Post, perselisihan dengan sejumlah pejabat lokal itulah yang diduga menjadi motif serangan air keras terhadap Kateryna dan membuat polisi enggan menyelidiki kasus ini secara serius. Awalnya polisi menangkap Mykola Novikov, 3 Agustus lalu, sebagai tersangka. Tapi dia diyakini cuma kambing hitam karena tidak berada di Kherson pada saat serangan terjadi. Pada 22 Agustus, polisi membebaskan Novikov. Belakangan, diketahui bahwa polisi membujuknya untuk mengaku berada di Kherson pada hari penyerangan. Sebagai gantinya, kasus Novikov yang lain, yaitu pencurian, tak akan diproses.

Tak berselang lama, para penyelidik mengidentifikasi lima tersangka baru. Semuanya mantan pejuang Tentara Relawan Ukraina, sebuah cabang dari kelompok nasional Sektor Kanan. Mereka adalah Sergiy Torbin, Viktor Horbunov, Volodymyr Vasianovych, Vyacheslav Vyshnevsky, dan Mykyta Hrabchuk. Menurut penyelidikan polisi, Sergiy Torbin, mantan perwira polisi, mengorganisasi serangan itu dengan mengajak empat rekannya tersebut dan menyebut Kateryna sebagai ”pejabat korup dengan pandangan pro-Rusia”.

Dalam pengakuannya kepada polisi, Horbunov mengaku diperintahkan membeli dua botol asam sulfat pada 6 Juli lalu dan menerima uang US$ 300 dari Torbin. Adapun Vyshnevsky dan Vasianovych berperan memberi isyarat kepada temannya saat Kateryna keluar dari tempat tinggalnya pada pagi nahas itu. Hrabchuk kebagian tugas menyiramkan asam. Ketiganya mengaku menerima uang US$ 500. Semua tersangka mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan ini, kecuali Torbin. Tapi Torbin membenarkan bahwa dia sudah menyewa rumah di Oleshky, kota dekat Kherson, tempat anggota tim pembunuh itu tinggal.

Meskipun keempat tersangka mengaku dibayar untuk menyerang Kateryna, polisi tidak menyelidiki kasus tersebut sebagai upaya pembunuhan bayaran. Pengacara dan kolega Kateryna mencurigai polisi dan jaksa Kherson mencoba menggambarkan kasus ini sebagai dendam pribadi tanpa motif politik dan membingkai Torbin sebagai dalang serangan.

Polisi mengklaim bahwa mereka sudah melakukan penyelidikan dan kasusnya akan segera ke pengadilan. ”Jika tahanan terbukti bersalah, mereka menghadapi 15 tahun penjara atau penjara seumur hidup,” kata Kepala Kepolisian Nasional Serhiy Knyazev. Juru bicara polisi Kherson, Vitaliy Baidarov, menyangkal kabar bahwa mereka bermasalah dengan Kateryna dan penyelidikan kasus ini ”tanpa bias”.

Menurut Yevhenia Zakrevska, pengacara Kateryna, jika kasus itu diajukan ke pengadilan dengan cara ini, akan sulit mencari siapa dalangnya. ”Kantor kejaksaan Kherson Oblast memahami ini dengan baik dan itulah yang mereka inginkan,” ujarnya. Pengacara lainnya, Masi Nayem, yakin penyelidikan kasus ini disabotase. ”Saya yakin polisi tahu nama dalangnya dengan sangat baik, tapi mereka tidak berani mengakuinya.”

ABDUL MANAN (KYIV POST, UNIAN.INFO, OPINIONUA. COM, THE GUARDIAN)

Majalah Tempo, edisi 18 November 2018

No comments: