Skip to main content

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Gordon Thomas, di antara penulis soal intelijen, dikenal memiliki kontak yang cukup dekat dengan agen rahasia Israel, Mossad. Sejumlah artikelnya di media, dan buku Gideons Spies, menguatkan kesan itu. Buku Secret Wars: One Hundred Years Of British Intelligence Inside MI5 And MI6, yang edisi pertamanya diterbitkan oleh Thomas Dunne Books pada 17 Maret 2009 lalu, semakin meneguhkannya.

Pada saat buku itu terbit, The Guardian menulis komentar dari pejabat MI5 dan MI6. Salah satu yang dianggap cukup krusial dari buku itu adalah soal disebutnya sejumlah nama agen rahasia Inggris yang sebelumnya memang belum diketahui publik. Nama agen lapangan biasanya dirahasiakan demi alasan keamanan. Namun, para pejabat di Withehall –otoritas Pemerintahan Inggris– menyampaikan bahwa mereka tak berencana menarik agen lapangan dari posnya karena penerbitan buku itu.

Para pejabat MI5 dan MI6 mengaku tak bisa mencegah publikasi buku itu. Kalau pun meminta penetapan pengadilan seperti yang pernah dilakukannya saat mencoba menggagalkan penerbitan buku Spycatcher: The Candid Autobiography of a Senior Intelligence Officer (yang ditulis mantan Asisten Direktur Jenderal MI5 Peter Wright), peluangnya juga kecil karena Secret Wars sudah tersedia di Amerika Serikat dua bulan sebelumnya, dan akan mulai beredar di Inggris Mei tahun itu.

Secret Wars memang tak bisa disamakan dengan Spycatcher. Informasi yang dibuka oleh  Wright memang cukup menghebohkan karena mengungkap –salah satunya– soal perburuan mata-mata di dalam dinas rahasia itu. Salah satu yang cukup kontroversial adalah soal kecurigaan Wright bahwa Direktur General MI5 Roger Hollis adalah bagian dari jaringan mata-mata Russia, Cambridge Five. Empat mata-mata yang lebih dulu diidentifikasi adalah Kim Philby (menggunakan kriptonim Stanley), Donald Duart Maclean (Homer), Guy Burgess (Hicks) dan Anthony Blunt (Johnson).

Wright mencurigai Hollis adalah orang kelima dalam jaringan itu. Chapman Phincer, jurnalis Inggris, juga punya kecurigaan yang sama, yang itu diulas panjang dalam buku To Secret Too Long. Hollis sempat diinterogasi MI5, tapi tak ada tindakan lebih lanjut yang dilakukan karena pemeriksaan itu tak memberi petunjuk yang menguatkan kecurigaan Wright. Komisi Penyelidikan yang dipimpin oleh Burke St John Trend menyatakan, tak ada bukti yang mengkonfirmasi bahwa orang nomor 1 di MI5 itu adalah mata-mata Russia. Sejumlah orang belakangan menyebut bahwa orang kelima dalam jaringan Cambridge itu adalah  John Cairncross (Liszt).

Seperti judul bukunya, Secret Wars memang memiliki rentang cakupan peristiwa sangat panjang: lebih kurang 100 tahun sejarah dua dinas rahasia itu. Gordon mengurai sepak terjang keduanya, dengan alur maju mundur, sejak awal berdiri hingga setidaknya tahun 2007. Ia juga menguraikan metamorfosa tantangan yang dihadapinya, dari ancaman yang awalnya datang dari Jerman, Uni Sovyet, dan kemudian berganti ke gerakan Islam radikal –yang pengikutnya ditaksir sekitar 1600 orang di daratan Inggris.

Serangan 11 September 2001 ke Amerika Serikat sebenarnya menjadi alarm awal kepada pemerintah Inggris tentang bahaya dari kelompok Islam radikal. Alarm itu seperti mendapatkan konfirmasi saat terjadi pengeboman pada 7 Juli 2005 di jantung Kota London. Serangkaian pengeboman di sejumlah jaringan transportasi umum kota itu menewaskan 56 orang dan melukai 700 orang. Penyerangan itu makin membuka mata London bahwa ancaman itu tak lagi hanya sekadar potensi.  Peristiwa itu juga yang memicu pengetatan pengamanan di negara itu, yang salah satunya dilakukan dengan memasang CCTV di seantero daratan negara kerajaan itu.

Menurut Gordon, hingga tahun 2007, Pemerintah Inggris mengalokasikan lebih dari 500 juta poundsterling untuk memasang 4,2 juta kamera, alias seperempat dari total seluruh kamera CCTV di seluruh dunia. Dengan jumlah kamera sebanyak itu di jalanan London dan sejumlah kota di Inggris, maka setiap orang dipotret CCTV lebih kurang sekitar 300 kali dalam sehari. Jika Anda sedang di Inggris, Anda dalam pengawasan ketat.

Abdul Manan

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.