Monday, July 29, 2019

Ambisi Sang Putri Saudi

SUATU hari, Putri Rima binti Bandar bin Sultan bin Abdulaziz al-Saud menjadi pembicara dalam sebuah forum bisnis di Los Angeles, Amerika Serikat. Sang moderator memperkenalkannya: “Dia datang dari sebuah negeri tempat perempuan tak bisa menyopir, tak bisa ke luar rumah, tak bisa ke restoran, tak bisa bersosialisasi, tak bisa… tak bisa….” Lalu moderator bertanya kepada Rima: “Jadi bagaimana rasanya (hidup seperti itu)?”
“Pertama-tama, saya perlu mengoreksi Anda,” kata Rima seperti dituturkannya kepada Fast Company. “Semua yang Anda katakan tentang kehidupan di Arab Saudi itu salah kecuali satu hal: kami tak bisa mengemudi. (Tapi) kami berjalan-jalan, saya pergi bekerja, saya punya karyawan. Kami masyarakat yang sangat dinamis. Apakah kehidupan kami akan lebih kaya jika kami dapat bermobil? Seratus persen ya, tapi juga ekonomi kami.”

Begitulah pandangan Putri Rima, pengusaha, aktivis sosial, orang tua tunggal, dan anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi. Perempuan Arab yang namanya meroket setelah diangkat Wakil Raja Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman, pemimpin de facto kerajaan itu, sebagai Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat, Februari lalu.

Rima tiba di Washington pada 3 Juli lalu dan keesokan harinya langsung menyambangi kantor Departemen Luar Negeri Amerika untuk menyerahkan salinan surat kepercayaan sebagai Duta Besar Saudi. Pekan berikutnya, ia menyampaikan surat itu kepada Presiden Donald Trump dan bertemu dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin.

“Kemitraan Saudi-Amerika sangat penting untuk kepentingan kedua negara dan menyatakan keyakinan bahwa keduanya mampu mengatasi setiap tantangan di tingkat regional atau global,” tutur Rima, yang menduduki pos Duta Besar Arab Saudi menggantikan Khalid bin Salman, putra bungsu Raja Salman yang ditarik pulang ke Riyadh ketika skandal pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pecah pada Oktober 2018.

Rima dianggap sebagai figur yang pas untuk jabatan tersebut. Dia dikenal sebagai pembela hak-hak perempuan dan berasal dari keluarga diplomat. Ia juga dinilai memahami Amerika karena pernah lama tinggal di Negeri Abang Sam.

Tapi tugas Rima akan sulit mengingat situasi politik Amerika saat ini. Trump memang sangat mendukung Saudi, tapi pendapat masyarakat dan banyak politikus Washington justru mengkritik Riyadh karena sejumlah hal, dari kasus pembunuhan Khashoggi, perlakuan negara kerajaan itu terhadap aktivis perempuan, sampai keterlibatannya dalam perang Yaman.

---

RIMA binti Bandar al-Saud lahir di Riyadh pada 1975. Ayahnya Pangeran Bandar bin Sultan. Ibunya Ratu Haifa binti Faisal. Pangeran Bandar adalah anggota keluarga Saud yang menjadi Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat 1983-2005 dan memimpin Badan Intelijen Saudi selama 2012-2014. Pamannya, Saud al-Faisal, Menteri Luar Negeri Saudi terkemuka dan paling lama bertugas (1975-2015).

Rima bermukim di Amerika ketika ayahnya menjadi duta besar di sana. Ia kuliah di George Washington University dan lulus dengan gelar bachelor of arts dalam studi museum. Dia sempat magang di L’Institut du Monde Arabe di Paris dan Sackler Gallery of Art di Washington.

Sekembali ke Riyadh pada 2005, ia membawa angin perubahan bagi para perempuan di sana. Ia antara lain ikut mendirikan Yibreen, pusat kebugaran dan spa perempuan. Karena pusat kebugaran perempuan dilarang pada masa itu, Rima menyamarkannya sebagai toko jahit dengan menaruh tukang jahit dan mesin jahit di ruang depan.

Keluarga Rima adalah pemilik Alfa International, perusahaan retail yang menjalankan Harvey Nichols, toko pakaian dan barang mewah terkenal di Riyadh. Tapi toko itu sedang turun pamor dengan hanya menjajakan karya desainer kelas dua. Rima pun gusar. “Jika toko ini dimaksudkan untuk menjadi kelas atas, mengapa kalian menjual produk kelas menengah-bawah? Itu iklan palsu. Campuran merekmu salah. Pencahayaan toko jelek. Bau lagi,” ucap Rima kepada anggota Dewan Direksi Alfa International.

Tiga hari kemudian, sepupunya, Chief Executive Officer (CEO) Alfa saat itu, membujuk Rima agar mengambil alih perusahaan tersebut. Rima pun menjadi perempuan pertama yang menjabat CEO di sebuah perusahaan retail di Saudi pada 2010.

Rima mulai bergerak. Dia mempekerjakan lebih banyak perempuan di negeri yang justru mendorong kaum Hawa tinggal di rumah saja itu. Rima mengungkapkan, memberdayakan perempuan dengan tanggung jawab keuangan akan mendorongnya “menjelajahi lebih banyak dunia untuk dia sendiri dan mengurangi ketergantungan”.

Di Harvey Nichols, Rima memperkenalkan penitipan anak, pelayanan pertama yang ada di toko retail di Saudi. Hal ini memberi para ibu kesempatan terus bekerja sambil mengasuh anak. Dia juga memberikan tunjangan transportasi kepada para perempuan karena kerajaan tidak mengizinkan mereka mengemudi. Saudi baru mengizinkan perempuan menyetir sendiri pada September 2017.

Upaya itu tidak berjalan mulus. Beberapa warga Saudi memprotes pembauran karyawan perempuan dan lelaki di toko itu. Akibatnya, keuntungan toko merosot hingga 42 persen. Rima membutuhkan waktu dua tahun untuk memulihkan pendapatan toko, tapi masih kesulitan mempertahankan karyawan perempuan, yang kebanyakan tak terlatih.

Rima sadar bahwa ambisinya mendorong perempuan Saudi masuk ke dunia kerja terlalu muluk. “Kami mengharapkan mereka berlari sebelum mereka bisa berjalan,” tuturnya. Maka dia pun melepas kursi CEO di Alfa dan mendirikan lembaga sosial Alf Khair untuk meningkatkan profesionalitas perempuan pada 2013. Melalui Alf Khair, dia membangun Alf Darb, lembaga pelatihan bagi perempuan untuk masuk dunia kerja. Siswa angkatan pertama lembaga ini adalah para pegawai Harvey Nichols.

Di samping perkara bisnis, Rima menemukan satu persoalan yang berkaitan dengan perempuan Saudi. Pada 2001, ia menerima panggilan telepon dari seorang sahabat dekatnya yang menderita kanker payudara stadium akhir dan tak tahu ke mana mencari dukungan serta menghadapinya. “Masyarakat kami sangatlah privat. Penyakit-penyakit tertentu atau konflik pribadi dinilai memalukan untuk diceritakan,” katanya. “Tak ada yang tahu bahwa dia sakit sampai dia masuk rumah sakit dan sekarat.”

Faktanya, hampir 60 persen kasus kanker payudara di Saudi terdiagnosis pada stadium akhir, jauh dari rata-rata 30 persen di Amerika Serikat. Fakta dan pengalaman sahabatnya mendorong Rima membantu dokter Suad bin Amir mendirikan Asosiasi Kesadaran Kanker Payudara Zahra. Nama itu dipungut dari nama ibu Suad yang meninggal karena penyakit tersebut. Misi organisasi ini adalah menyebarkan kesadaran di kalangan perempuan untuk melakukan deteksi dini, pencegahan, dan pengobatan kanker payudara.

Tapi Kementerian Sosial sempat gusar dan menolak kata “payudara” pada nama lembaga itu. Rima bertahan. “Kami tidak akan menyebutnya ‘asosiasi area dada’. Namanya kanker payudara, sama halnya dengan kanker prostat yang tidak disebut ‘kanker di bagian bawah sana’,” ujarnya.

Nama Rima terus menanjak meski protes dan hujatan terus menderanya. Dia kemudian diangkat menjadi Deputi Perencanaan dan Pengembangan Otoritas Olahraga Umum (GSA) pada Agustus 2016. Setahun kemudian, ia menjadi Presiden Mass Participation Federation, program GSA yang mendorong masyarakat giat berolahraga dan bergaya hidup sehat. Dia juga ditunjuk sebagai anggota Komite Olimpiade Arab Saudi dan anggota Komisi Perempuan dalam Olahraga pada Komite Olimpiade Internasional (IOC). Dia menjadi perempuan pertama yang memimpin organisasi multiolahraga di negeri itu.

Dengan segala prestasi tersebut, penunjukan Rima sebagai duta besar merupakan pilihan yang diperhitungkan. Sekarang ia mendapat tantangan baru memperbaiki citra Saudi di mata khalayak Amerika.

Abdul Manan (Arab News, Gulf News, Al Jazeera, Fast Company)

Majalah Tempo, 28 Juli 2019

No comments: