Monday, May 06, 2019

Era Baru Kaisar Naruhito

HALAMAN istana Kekaisaran Jepang di pusat Kota Tokyo bermandikan sinar matahari musim semi pekan lalu. Para pelari yang sedang menyelesaikan putaran parit tampak menghindar dari turis asing yang berkelompok. Karyawan kantoran menyantap makan siang bola nasi dan teh. Di sisi lain parit, tersembunyi di balik barisan pohon, istana kekaisaran sedang mempersiapkan transisi bersejarah bagi negara itu.
Pada Selasa, 30 April ini, menurut rencana, Kaisar Akihito akan memasuki ruangan di bangunan istana itu. Di hadapan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan politikus senior lain, ia secara resmi akan turun takhta. Ia menjadi kaisar pertama yang mundur dalam 200 tahun terakhir. Pada akhir upacara selama sepuluh menit itu, era Heisei, yang dimulai pada 7 Januari 1989, resmi berakhir.

Keesokan paginya, putra sulungnya, Naruhito, 59 tahun, akan memasuki ruangan yang sama dan menerima pedang, permata, serta cermin—tiga "harta suci" yang diwariskan ke garis kekaisaran—sebagai bukti penobatannya menjadi kaisar baru. Perdana Menteri Abe akan menyambut penobatan itu atas nama rakyat Jepang, dan era baru Reiwa dimulai.

Karakter Reiwa diambil dari buku puisi tertua Jepang, Manyoshu, yang berarti "harmoni yang indah". Berbeda dengan sebagian besar negara lain, Jepang menggunakan kalender Barat dan periode pemerintahan kekaisaran. Dalam kalender Jepang, tahun 2019 disebut Heisei 31 (tahun ke-31), yang sekarang menjadi Reiwa 1. Penanggalan ini dipakai untuk sejumlah dokumen pemerintahan.

Rencana suksesi ini sudah cukup lama disiapkan. Kaisar Akihito, yang telah berusia 85 tahun, menyatakan niatnya turun takhta pada 2016 karena alasan kesehatan. Parlemen Jepang mengesahkan undang-undang yang memungkinkan Akihito lengser pada 8 Juni 2017. Pengunduran diri Akihito dijadwalkan berlangsung pada 30 April 2019. Setelah pensiun, Akihito akan menjadi joko (kaisar emeritus), sementara Permaisuri Michiko menjadi jokogo (permaisuri emeritus).

Naruhito, kaisar baru nanti, dan istrinya, Masako, mewakili banyak hal baru dalam sejarah Negeri Sakura. Untuk pertama kalinya, mereka adalah kaisar-permaisuri yang berpendidikan universitas, menguasai banyak bahasa, dan bermukim bertahun-tahun di luar negeri. Naruhito lahir di Tokyo pada 23 Februari 1960 sebagai putra tertua pasangan Akihito-Michiko.

Naruhito mulai menempuh pendidikan tingginya di Gakushuin University pada April 1978. Ia mengambil bidang sejarah dan lulus empat tahun kemudian. Topik skripsinya tentang transportasi air di Laut Pedalaman Seto selama Abad Pertengahan. Setahun kemudian, ia pindah ke Inggris untuk kuliah di Merton College, Oxford University, mempelajari sejarah transportasi di Sungai Thames pada abad ke-18.

Naruhito mencatat masa-masa di Oxford dengan tekun dan menuangkannya dalam memoar The Thames and I: A Memoir of Two Years at Oxford, yang terbit pada 1993. Buku itu menceritakan kehidupan sehari-harinya di Oxford, pengalamannya berkeliling Inggris dan Eropa, serta sejumlah anekdot tentang seorang putra mahkota yang berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan mahasiswa. Ia menyebut periode ini sebagai "waktu paling bahagia" dalam hidupnya.

Dalam memoarnya, Naruhito menuturkan pernah hampir membuat asrama mahasiswa kebanjiran saat ia mencuci pakaian untuk pertama kali dalam hidupnya. Menurut Nippon.com, Naruhito juga mengungkapkan kepada teman-temannya di Oxford tentang kemiripan kata Jepang untuk "Yang Mulia" ("denka") dengan "lampu listrik" ("denki"). Setelah itu, teman-temannya memanggilnya Denki, bukan Denka.

Setelah lulus dari Oxford, ia kembali ke Tokyo dan meraih gelar master lain dari Gakushuin University pada 1988. Setahun kemudian, ia memasuki babak baru dalam hidupnya. Kaisar Hirohito meninggal pada 7 Januari 1989, yang menandai berakhirnya era Showa dan dimulainya era Heisei (Akihito). Saat ayahnya menjadi kaisar, Naruhito pun menjadi putra mahkota.

Kisah cinta Naruhito-Masako bermula di Gakushuin. Naruhito bertemu dengan Masako Owada, diplomat karier lulusan Oxford University dan Harvard University, Amerika Serikat, dalam sebuah pesta minum teh untuk seorang putri Spanyol pada 1986.

Naruhito mengejar Masako tanpa henti meskipun sempat dikabarkan bahwa Masako pernah dua kali menolak lamaran pernikahan karena tidak ingin membahayakan karier diplomatiknya. Masako baru menerima lamaran Naruhito pada Desember 1992 dan mereka menikah setahun kemudian.

Setelah berumah tangga, pasangan ini menghadapi tekanan publik untuk memiliki putra, yang akan menjadi ahli waris takhta kekaisaran berikutnya. Hal ini membuat Masako mengalami depresi dan keguguran pada 1999. Masako mulai menarik diri dari kehidupan publik tak lama setelah itu. Kabar baik datang pada 2001 saat Masako hamil lagi dan melahirkan anak perempuan, Aiko.

Hukum Jepang melarang perempuan mewarisi takhta sehingga kelahiran Aiko tak mengurangi tekanan terhadap pasangan tersebut. Pemerintah Jepang berusaha meredakannya dengan mencoba mengubah undang-undang agar perempuan bisa menjadi ahli waris takhta. Pada masa yang sama, adik laki-laki Naruhito, Fumihito, mengumumkan bahwa istrinya, Kiko, mengandung seorang putra, Hisahito. Kelahiran Hisahito mengurangi tekanan terhadap Masako dan pemerintah Jepang.

Era Heisei, yang berarti "mencapai perdamaian", akan dikenang sebagai masa damai karena Jepang tidak terlibat dalam perang apa pun. Tapi masa itu dipenuhi serangkaian bencana alam, termasuk gempa bumi besar Hanshin yang menghancurkan Kobe dan sekitarnya pada 1995 serta tsunami pada 2011 yang menyebabkan krisis pembangkit listrik tenaga nuklir Fuku­shima Daiichi.

Selain bencana, ada soal stagnasi ekonomi yang menyebabkan kesenjangan kekayaan makin lebar. "Selama tiga dekade era Heisei, Jepang telah bebas dari perang untuk pertama kalinya dalam sejarah modern. Namun itu sama sekali bukan masa yang lancar karena negara kita menghadapi banyak tantangan yang tidak terduga," kata Naruhito dalam pidatonya, Februari lalu, yang menandai 30 tahun masa kekaisaran Heisei.

Penulis kenamaan Jepang, Keiko Ochiai, menunjukkan bahwa satu dari setiap tujuh anak Jepang sekarang hidup dalam kemiskinan, yang berarti pendapatan dari pajak belum digunakan secara benar untuk generasi berikutnya. "Warga negara biasa prihatin terhadap utang publik Jepang yang melampaui 1.000 triliun yen (sekitar US$ 8,94 triliun), sementara mereka yang seharusnya mempertimbangkan cara mengatasi masalah (politikus) tidak serius menanganinya," tutur pria 74 tahun itu.

Dengan pergantian era sekarang, Keiko Ochiai berharap dapat melihat "sebuah masyarakat yang setiap anaknya merasa senang dilahirkan dan pada saat yang sama setiap orang lanjut usia merasa bahagia hidup lama".

Sebagai kaisar, Naruhito tidak memiliki kekuatan politik. Dia bertanggung jawab untuk tugas-tugas seremonial, seperti menemui para pemimpin negara. Kendali pemerintahan sepenuhnya berada di tangan perdana menteri. Berdasarkan konstitusi Jepang, yang dibuat setelah kekalahan negara itu dalam Perang Dunia II, kaisar hanya menjadi simbol negara dan pemersatu rakyat.

Naruhito menyatakan siap menyesuaikan perannya dengan era baru. Namun ia akan mengambil inspirasi dari orang tuanya dalam hal tanggung jawabnya sebagai kaisar. "Saya ingin memenuhi peran sebagai simbol negara dengan terus-menerus bersama orang-orang dan berbagi kegembiraan serta kesedihan bersama mereka," ucapnya, 21 Februari lalu.

Menurut media Jepang, Nikkei, tidak ada yang mengetahui tren sosial dan ekonomi seperti apa yang akan menentukan pada era Reiwa. Tidak jelas bagaimana kejayaan ekonomi Jepang akan kembali dan tantangan yang ditimbulkan oleh jumlah populasi yang menyusut akan diatasi. Sejarah menunjukkan bahwa dimulainya era baru bisa bertepatan dengan adanya perubahan besar.

Abdul Manan (The Guardian, Nikkei, Asahi Simbun, CBS, Japan Today, The Insider)

RALAT:
---------
» Dalam majalah Tempo edisi 29 April-5 Mei 2019 di halaman 91 tertulis keterangan foto: “Kaisar Akihito (kedua dari kiri) dan Pangeran Naruhito (kedua dari kanan) di Tokyo, Januari 2019”, seharusnya “Kaisar Akihito (kanan) dan Pangeran Naruhito (tengah) di Tokyo, Januari 2019”.

Majalah Tempo, 5 Mei 2019

No comments: