Akhir Pelarian Rahaf

PELARIAN dramatis Rahaf Mohammed al-Qunun, remaja asal Arab Saudi, dari keluarganya, akhirnya berakhir. Sempat tertahan enam hari di Bangkok, Thailand, ia akhirnya mendapat suaka dari pemerintah Kanada. “Saya berharap kisah saya mendorong perempuan lain untuk berani dan meraih kebebasan… dan ada perubahan undang-undang,” kata perempuan 18 tahun itu setiba di Kanada, Sabtu dua pekan lalu.
Selama beberapa pekan ke depan, Rahaf akan dibantu badan pengungsi Kanada untuk mendapatkan asuransi kesehatan dan apartemen. Ia juga harus belajar belanja bahan makanan serta naik bus dan kereta bawah tanah sendiri—hal yang belum pernah ia alami. “Saya ingin melakukan hal-hal berbeda,” ucapnya di pusat pengungsi di pusat Kota Toronto, Senin pekan lalu.

Rahaf berasal dari Hail, kota di barat laut Arab Saudi. Dia mahasiswa tahun pertama jurusan sains dan matematika dasar sebuah universitas. Dia satu dari sepuluh anak seorang emir kaya Saudi. Menurut Irish Time, ayahnya adalah gubernur. Rahaf mengaku punya kehidupan mapan secara finansial, tapi tak memiliki kebebasan.

Hidupnya kian sulit ketika ayahnya bertugas ke luar kota dan menempatkannya di bawah perwalian kakak laki-lakinya. Saat memotong pendek rambutnya, kata Rahaf, ia dikurung di kamar selama enam bulan. Ketika melepas jilbabnya, ia dipukul dan dikunci di kamar. Dia akhirnya memutuskan keluar dari Islam dan ingin kabur ke Australia.

Menurut media Kanada, CBC, rencana pelarian itu dirancang beberapa bulan sebelumnya dengan bantuan empat temannya di luar negeri. Rahaf menjalin komunikasi dengan jaringan aktivis bawah tanah perempuan Saudi yang memperjuangkan kebebasan. “Saya mengenalnya sekitar setahun dan tahu dia ingin lepas dari keluarganya,” ujar seorang perempuan aktivis Saudi di Kanada.

Rahaf berhasil mendapatkan visa turis ke Australia. Saat tengah berlibur bersama keluarganya di Kuwait, ia menyelinap pergi naik pesawat menuju Thailand. Temantemannya menyarankan dia singgah sebentar saja di Bangkok dan langsung ke Negeri Kanguru.

Setiba di Bandar Udara Suvarnabhumi, Ahad, 6 Januari lalu, ia mengabaikan nasihat temannya dan masuk ke Thailand. Petugas Imigrasi lantas menahan paspornya dan mengatakan akan mengirimnya kembali ke negaranya karena ayahnya sangat marah.

Rahaf lalu memesan kamar hotel di area transit dan membuat akun Twitter. Dia menghubungi sang aktivis Kanada sebelum menulis pesan pertamanya pada Ahad pagi: “Hidup saya dalam bahaya nyata jika saya dipaksa kembali ke Arab Saudi.” Dalam beberapa jam, sebuah kampanye muncul di Twitter dengan tanda pagar #Save-Rahaf. Dalam sehari, jumlah pengikutnya mencapai 45 ribu.

Setelah itu, ia mencuit hampir tanpa henti selama lima jam. Cuitannya antara lain: “Saya Rahaf, secara resmi mencari status pengungsi ke negara mana pun yang akan melindungi saya dari cedera atau terbunuh karena meninggalkan agama dan penyiksaan dari keluarga saya. Saya mencari perlindungan khususnya dari negara berikut ini: Kanada/Amerika Serikat/Australia/Kerajaan Inggris.” Menurut sang aktivis Kanada, akun Twitter itu juga dipegang kelompoknya, yang terus memantau dan mencari bantuan ke media serta pihak lain.

Phil Robertson, Wakil Direktur Asia untuk Human Rights Watch, lantas menghubungi Rahaf dan memberi tahu badan pengungsi Perserikatan Bangsa- Bangsa, beberapa kedutaan asing, serta otoritas Thailand. Rahaf mengurung diri di kamar karena takut dipulangkan paksa dengan Kuwait Airways. Dia menolak menemui ayahnya, yang sempat datang ke Bangkok dan membantah adanya kekerasan terhadap putrinya.

Rahaf kemudian mengunggah videonya saat memasang barikade di pintu dan menolak membukakan pintu ketika petugas Thailand meminta masuk. Kepala Imigrasi Thailand Surachate Hakparn Senine akhirnya menggelar konferensi pers dan menyatakan Rahaf tidak akan dipulangkan karena dalam bahaya. Perwakilan Komisaris Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) Giuseppe de Vincentiis kemudian tiba dan menemui Rahaf. Pada Senin malam, Rahaf diizinkan masuk ke Thailand untuk mengurus proses suakanya.

Arab Saudi, melalui akun Twitternya, membantah kabar bahwa pihaknya meminta Rahaf diekstradisi. Namun Imigrasi Thailand menyatakan Kedutaan Besar Saudi menghubungi mereka sebelum kedatangan Rahaf.

Meski awalnya ingin ke Australia, Rahaf memutuskan memilih Kanada karena proses permohonan suaka ke negeri itu lebih cepat. Ia akhirnya tiba di Toronto dan memulai hidup barunya.

ABDUL MANAN (REUTERS, STRAITS TIMES, IRISH TIME, NEWS.COM.AU, AL JAZEERA, CBC)

Majalah Tempo, 27 Januari 2019

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO