Monday, December 10, 2018

Emoji Pisau dari Beijing

KEPOLISIAN dari 129 nega­ra yang tergabung dalam In­terpol berkumpul dalam kon­gres tahunan di Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu dua pe­kan lalu. Ini konferensi yang tak biasa un­tuk memilih Presiden Interpol baru setelah Meng Hongwei, pemimpin sebelumnya, menghilang dan belakangan ternyata dita­han pemerintahnya sendiri, Cina.
Kim Jong-yang, Kepala Kepolisian Dae­rah Gyeonggi, Korea Selatan, akhirnya ter­pilih sebagai Presiden Interpol setelah ia mengalahkan Alexander Prokopchuk, be­kas pejabat tinggi Kementerian Dalam Ne­geri Rusia. Kim akan menyelesaikan masa jabatan Meng Hongwei, yang akan ber­­akhir pada 2020. Interpol adalah lemba­ga internasional yang memfasilitasi kerja sama polisi di dunia.

Mulanya nama Prokopchuk mencuat pada masa pencalonan. Menguatnya nama tokoh intelijen jagoan Presiden Rusia Vla­dimir Putin ini membuat sejumlah negara Barat, termasuk Amerika Serikat, khawatir Interpol akan dimanfaatkan. Mereka lalu berusaha mencegahnya menjadi orang no­mor satu di Interpol. Tapi Sekretaris Jende­ral Interpol Juergen Stock menepis kekha­watiran itu. “Tidak peduli apa kewargane­garaannya, itu tidak mempengaruhi netra­litas Interpol dan kemandirian organisasi ini,” kata Stock.

Terpilihnya Kim sebagai ketua baru In­terpol masih menyisakan masalah menge­nai nasib Meng Hongwei. Meski ia diakui ditahan pemerintah Cina, tidak jelas loka­si penahanannya. Masalah lain, Stock me­nambahkan, Interpol dilarang menyelidi­ki kasus Meng karena, “Kami bukan badan penyelidik.”

Wakil Menteri Keamanan Umum Cina itu menjadi Presiden Interpol lewat Sidang Umum Interpol 2016. Setelah ia terpilih, se­jumlah media pemerintah menyebut hal itu sebagai konfirmasi bahwa Cina menda­pat pengakuan internasional dan rasa hor­mat di bawah Presiden Xi Jinping. Juru bica­ra Kementerian Luar Negeri Cina, Lu Kang, saat itu menyatakan naiknya Meng meru­pakan respons positif dari sejumlah besar negara anggota Interpol.

“Cina belum lama menjadi anggota In­terpol dan pemilihan Meng Hongwei seba­gai kepalanya tidak diragukan lagi terkait dengan peran Cina yang makin penting be­berapa tahun terakhir dalam melindungi keamanan regional dan global,” tulis surat kabar Cina, Beijing Youth Daily.

Lebih dari setahun lalu, Meng juga me­mimpin sidang umum anggota Interpol di Beijing. Presiden Xi Jinping menyampai­kan pidato pembukaan dalam acara itu. Menurut kantor berita resmi Cina, Xinhua, Xi memuji organisasi ini dan menyatakan, “Cina bersedia berbagi pengalaman dalam tata kelola keamanan dengan setiap nega­ra di dunia.”

Meng punya karier panjang di badan keamanan Cina. Lulusan hukum dari Pe­king University ini menduduki posisi wakil menteri di Kementerian Keamanan Umum sejak 2004. Dalam biodata di situs Inter­pol disebutkan Meng berpengalaman ham­pir 40 tahun dalam peradilan pidana dan kepolisian, pengawasan lembaga hukum, pengendalian narkotik, kontraterorisme, kontrol perbatasan, imigrasi, serta kerja sama internasional.

Ia juga memegang peran penting selama satu dekade di bidang kontraterorisme. Se­bagai Ketua Badan Antiteroris Regional Or­ganisasi Kerja Sama Shanghai, Meng men­jadi panglima tertinggi untuk dua latih­an kontraterorisme bersama negara-nega­ra anggota di wilayah barat jauh Xinjiang, yakni pada 2006 dan 2011.

Meng juga merupakan direktur jende­ral pertama Pasukan Penjaga Pantai Cina, yang didirikan pada 2013 dengan pengga­bungan empat badan maritim lain. Kapal-kapal penjaga pantai yang besar tapi relatif ringan telah digunakan Beijing untuk me­negaskan klaim teritorial di Laut Cina Ti­mur dan Laut Cina Selatan yang disengke­takan. Ketegangan di kawasan itu mening­kat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut New York Times, sinyal awal ma­salah yang menghadang Meng sebenarnya muncul pada April lalu. Saat itu Kementeri­an Keamanan Umum menyatakan Meng ti­dak lagi menjadi anggota komite Partai Ko­munis yang mengawasi kementerian terse­but. Perkembangan ini memicu spekulasi bahwa ia sedang punya masalah. Tapi hal itu tidak muncul mencolok di media kare­na hingga Agustus lalu ia masih menerima tamu resmi di Beijing.

Masalah yang dihadapi Meng mulai men­cuat setelah ia terbang dari Lyon, Prancis, lokasi kantor pusat Interpol, ke Beijing de­ngan alasan tak begitu jelas, 25 September lalu. Tak berselang lama, istrinya, Grace, mendapat pesan melalui media sosial dari sang suami. “Tunggu panggilan telepon saya,” begitu pesan Meng. Pesan itu diikuti kiriman emoji pisau beberapa menit kemu­dian. Grace, dalam pernyataan singkat ke­pada wartawan di Lyon, menafsirkan emo­ji pisau itu sebagai tanda bahwa Meng da­lam bahaya.

Interpol, menurut Juergen Stock, me­ngetahui hilangnya Meng pada 5 Oktober lalu melalui berita media yang memuat la­poran Grace kepada polisi. Interpol lantas meminta klarifikasi kepada kontaknya di Beijing. Dua hari kemudian, delegasi ting­kat tinggi Cina datang ke markas Interpol di Lyon dan melaporkan bahwa Meng telah menulis surat pengunduran diri.

Saat ditanyai apakah Interpol yakin su­rat itu benar ditulis Meng atau dibuat tan­pa paksaan, Stock mengatakan, “Tidak ada alasan bagi saya untuk menduga bah­wa ada sesuatu yang dipaksakan atau salah (dari surat itu).” Interpol tampaknya mene­rima penjelasan delegasi Cina tersebut dan mengumumkan secara terbuka malam itu bahwa Meng mengundurkan diri tan­pa berkomentar tentang mengapa atau apa yang terjadi.

Kepastian nasib Meng diketahui publik setelah Kementerian Keamanan Umum melansir pernyataan di laman situsnya pada 8 Oktober lalu. Kementerian menya­takan Meng terjerat kasus korupsi dan pe­langgaran undang-undang, yang sangat membahayakan partai dan kepolisian. Ke­menterian menambahkan, mereka akan membentuk gugus tugas untuk menyelidi­ki siapa pun yang dicurigai menerima suap bersama Meng. Kasus Meng ditangani lem­baga antikorupsi Komisi Pengawas Nasio­nal (NSC).

Tak lama setelah NSC mengumum­kan penyelidikannya, Menteri Keamanan Umum Zhao Kezhi menggelar pertemuan Partai Komunis. Zhao menyatakan men­dukung sepenuhnya penyelidikan terha­dap Meng dan menjanjikan kesetiaan poli­tik mutlak kepada Presiden Xi Jinping serta pimpinan partai.

Namun, hingga pekan lalu, Cina belum menjelaskan kejahatan yang dituduhkan kepada Meng. “Penyelidikan masih ber­langsung dan rincian lebih lanjut mungkin terungkap saat penyelidikan,” tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri, Lu Kang.

Ihwal tuduhan korupsi terhadap suami­nya, Grace menyatakan tidak percaya. Ia yakin Meng menjadi target “persekusi po­litik”.

Penangkapan Meng memicu berba­gai spekulasi. Steve Tsang, Direktur SOAS China Institute di London, menyebutkan, mengingat senioritas Meng, keputusan apa pun untuk menahannya pasti berasal dari tingkat tertinggi pemerintah Cina. “Kebi­jakan luar negeri Cina diperlukan, perta­ma dan terutama, untuk melayani kepen­tingan Partai Komunis,” katanya.

Andrew Wedeman, ilmuwan politik dari Georgia State University, Amerika Serikat, yang mempelajari korupsi di Cina, menga­takan upaya pemberantasan korupsi Xi tampaknya mendingin setelah mencapai puncaknya pada 2015. Namun, dia melan­jutkan, Xi masih memburu para “macan”—sebutan untuk pejabat senior yang tersang­kut korupsi. Dalam hitungan Wedeman, Cina sudah menjatuhkan 17 macan sejauh ini. “Meng akan menjadi macan nomor 18,” ujarnya.

ABDUL MANAN (NEW YORK TIMES, SOUTH CHINA MORNING POST, REUTERS, WASHINGTON POST)

Majalah Tempo, 9 Desember 2018

No comments: