Monday, April 16, 2018

Pasal Spionase untuk Sang Dokter

VONIS mati terhadap ilmuwan asal Iran yang tinggal di Swedia, Ahmadreza Jalali, memicu solidaritas internasional. Sebanyak 75 penerima Hadiah Nobel mengirimkan surat pernyataan melalui Duta Besar Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Gholamali Khoshroo. Surat dikirimkan pada 17 November 2017, tapi tak kunjung berbalas. "Saya tak mendengar respons apa pun dari Iran," kata Richard J. Roberts, penerima Nobel Psikologi dan Kedokteran 1993, salah satu ilmuwan yang namanya masuk daftar pengirim surat itu, kepada Tempo, Rabu pekan lalu. 

Setelah tak ada balasan, Roberts mengaku mengirimkan surat lagi. Kali ini ditujukan kepada pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei, melalui atase Iran di PBB, 14 Februari lalu. "Kami dengan hormat mendesak pihak berwenang Iran untuk membiarkan Jalali pulang ke rumah untuk istri dan anak-anaknya dan melanjutkan karya ilmiahnya untuk kepentingan umat manusia," tulis Roberts dalam surat kedua.

Desakan pembebasan Jalali juga datang melalui petisi secara online di Change.org dan Amnesty International setelah ilmuwan itu divonis mati oleh Pengadilan Revolusi Iran, 17 Oktober 2017. Dia didakwa punya hubungan dengan badan rahasia Israel, Mossad, serta terlibat dalam kasus pembunuhan dua ilmuwan nuklir Iran pada 2010, Masoud Ali Mohammadi dan Majid Shahriari, dengan bom mobil.

***

LAHIR di Iran, masa kecil Ahmadreza Jalali sebagian besar dihabiskan di Negeri Para Mullah. Ia mendapat gelar dokter dari Universitas Kedokteran Tabriz, Iran. Gelar PhD dalam ilmu kedokteran diraihnya dari Karolinska Institute, Stockholm, Swedia. Istri Jalali, Veda Mehran-Nia, bekerja di Badan Energi Atom Iran sejak 1998 sebagai teknisi di Divisi Analisis Air Mineral.

Pada 2008, mereka memutuskan pindah ke luar negeri. Sejak 2016, ia bersama istri dan dua anaknya tinggal di Stockholm. Jalali menjadi peneliti di Karolinska Institute dan sang istri menjadi pengajar di sana.

Nasib buruk tersebut bermula pada 25 April 2016. Saat itu Jalali sedang berada di Iran untuk menghadiri lokakarya tentang kebencanaan di universitas di Teheran dan Shiraz. "Saat itulah dia ditangkap Kementerian Intelijen Iran," demikian ditulis Amnesty International.

Setelah penangkapan, keluarga tak tahu kondisinya sampai sepekan sesudahnya. Setelah mendapat izin untuk menelepon, Jalali memberi tahu keluarganya bahwa dia ditahan dan dituduh "berkolaborasi dengan negara musuh".

Menurut New York Times, awalnya Veda Mehran-Nia memilih tak banyak bicara soal penangkapan suaminya dan berharap dia akan dibebaskan. Kepada koleganya, dia mengatakan Jalali terlibat kecelakaan mobil dan dirawat di rumah sakit. Ia buka suara setelah harapannya tak menjadi kenyataan.

Menurut Amnesty, selama tujuh bulan di tahanan, Jalali tak bisa dikunjungi pengacara. Ia mulai diadili pada 23 Agustus 2017 oleh hakim Pengadilan Revolusioner Iran, Abolghasem Salavati. Jaksa penuntut Abbas Jafari Dolatabadi mendakwa Jalali bekerja untuk Mossad dan terlibat pembunuhan Massoud Ali-Mohammadi dan Majid Shahriari.

Massoud Ali tewas pada pagi hari, 12 Januari 2010. Saat itu, ia keluar dari rumahnya di Shariati Street di kawasan Ghyheytarihe, Teheran Utara, untuk menuju laboratoriumnya di Sharif University of Technology. Ketika dia berusaha membuka kunci mobilnya, terjadi ledakan hebat. Menurut Michael Bar-Zohar dan Nissim Missal dalam Mossad: The Greatest Mission of the Israel Secret Service (2014), alat peledak itu ternyata disembunyikan di sepeda motor yang diparkir di dekat mobilnya.

Adapun Madjid Shahriyari tewas pada 29 November 2010. Hari itu, sekitar pukul 07.45, Shahriyari mengendarai mobilnya di Teheran Utara. Tiba-tiba ada kendaraan bermotor muncul di belakangnya. Saat sepeda motor itu melewati mobil Shahriyari, sang pengendara yang tertutup helm itu memasang peledak di dekat jendela mobil. Dua detik kemudian alat itu meledak dan menewaskan Shahriyari serta melukai sang istri yang duduk di sampingnya.

Menurut Dolatabadi, Ahmadreza Jalali terlibat dalam kasus ini karena dia memberi informasi kepada Mossad tentang 30 ilmuwan nuklir dan tokoh militer kunci, termasuk dua ahli nuklir yang tewas tersebut. Untuk mendukung tudingan ini, Iran menayangkan "pengakuan" Jalali yang mengatakan ia bertemu dengan agen Mossad di luar negeri lebih dari 50 kali dan menerima sekitar Rp 34 juta dalam setiap pertemuan itu.

Iran, seperti dilansir Business Insider, menyebut perkenalan Jalali dengan agen Mossad terjadi saat sang ilmuwan belajar di Eropa. Di sana, seorang pria yang dikenali bernama Thomas menghampirinya dengan tawaran pekerjaan dan membantu mendapatkan kewarganegaraan Swedia jika bersedia bekerja untuk Mossad.

Vida Mehran-Nia membantah pengakuan yang ditayangkan stasiun televisi Iran itu. Menurut dia, Jalali menarik pengakuan yang dibuat di bawah tekanan saat ditahan di sel isolasi tersebut. "Saya menandatanganinya di bawah tekanan dan mereka mengancam kehidupan keluarga saya," kata Mehran-Nia, mengutip Jalali, kepada IranWire. Menurut Reuters, pada Agustus 2017, Jalali menulis surat di dalam penjara yang menyatakan dia ditahan karena menolak menjadi mata-mata untuk kepentingan Iran.

Sebelum sidang vonis, menurut Mehran-Nia, penyelidik sempat mengancam Jalali dengan eksekusi mati. Setelah dia diberi tahu secara lisan bahwa hakim Salavati telah memvonis mati tanpa pengadilan, ia memprotesnya dengan mogok makan sekitar tiga bulan. Akibatnya, Jalali mengalami sakit di ginjalnya dan tekanan darahnya anjlok. Saat ditahan di Penjara Evin, berat badannya sempat turun dari 82 menjadi 64 kilogram.

Jalali divonis mati dalam sidang 21 Oktober 2017 meski informasi resminya diketahui dua bulan kemudian. "Kami benar-benar terkejut," kata Mehran-Nia kepada IranWire. Ia menilai tuduhan bahwa suaminya dibayar untuk memberikan informasi rahasia juga tak berdasar. Sebab, mereka tidak memiliki penghasilan besar meski Jalali bergelar doktor dan ia juga mengajar. "Jika mereka mengatakan kami menerima uang dari Israel atau Mossad, silakan mereka memeriksa rekening kami," tuturnya. "Kami belum memiliki rumah atau mobil meskipun suami saya doktor. Saya memiliki gelar master dalam bidang kimia dan kami berdua bekerja."

Menurut The Daily Beast, beberapa laporan menyebutkan Jalali pernah bekerja dengan kolega Israel pada proyek pusat perawatan. Kemungkinan besar itulah sebabnya dia dituduh bekerja dengan "negara musuh". Tapi Mehran-Nia mengatakan informasi itu menyesatkan. "Pada konferensi ilmiah, Ahmadreza Jalali berbicara dengan kolega Israel ini selama beberapa menit hanya tentang subyek ilmiah," tuturnya.

Amnesty International mengkritik putusan pengadilan Iran. "Jalali dijatuhi hukuman mati setelah persidangan yang sangat tidak adil," kata Philip Luther, Direktur Direktur Advokasi dan Riset Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara. Sebuah petisi di Change.org, yang meminta pembebasannya, sudah ditandatangani 274 ribu orang pada pekan lalu.

Di tengah kontroversi itu, Swedia memberikan status kewarganegaraan kepada Jalali pada Februari 2018. Sebagai warga negara, itu akan memberi akses Swedia untuk memberi bantuan. "Kami akan terus dengan tuntutan kami: meminta hukuman mati tidak diberlakukan," kata Patric Nilsson dari Kementerian Luar Negeri Swedia, seperti dilansir The Local.

Langkah Swedia ini diprotes Iran dengan memanggil Duta Besar Swedia pada 20 Februari 2018. Juru bicara Departemen Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi, mengatakan kewarganegaraan asing yang diperoleh Ahmadreza Jalali tidak dapat diterima sehingga dia tetap orang Iran. Menurut Qasemi, "Kami menganggap langkah pemerintah Swedia tidak lazim, patut dipertanyakan, dan sebagai sikap tidak bersahabat."

Abdul Manan | Reuters, Tehran Times, The Local

Majalah Tempo, 22 April 2018

No comments: