Monday, May 21, 2018

Najib di Tubir Jurang 1MDB

Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, baru pulang salat tarawih saat lebih dari 15 kendaraan polisi menyatroni rumahnya, Rabu malam pekan lalu. Dalam sekejap halaman rumah di Jalan Langgak Duta, Taman Duta, Kuala Lumpur, Malaysia, itu penuh oleh mobil polisi, termasuk mobil pengangkut tahanan Black Maria. Kehadiran Black Maria menimbulkan spekulasi bahwa mantan Presiden Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) yang baru sepekan melepas kursi perdana menteri itu akan ditangkap.

Para penyelidik Departemen Investigasi Kejahatan Komersial (CCID) Bukit Aman lantas masuk ke rumah Najib pada pukul 22.15. Mereka keluar enam jam kemudian sambil menggotong sejumlah barang dan dokumen dalam kaitan kasus dugaan korupsi di perusahaan investasi negara 1Malaysia Development Bhd (1MDB).

Pengacara Najib Razak, Harpal Singh, mengatakan penggeledahan dilakukan di bawah undang-undang anti-pencucian uang. Penggeledahan berlangsung lama karena rumah Najib besar dan polisi memeriksa setiap ruangan. Barang-barang yang dibawa, kata Harpal, seperti dilansir South China Morning Post, adalah beberapa barang pribadi, tas, dan pakaian. "Tidak ada yang serius."

Pada saat yang sama, polisi juga menggeledah lima rumah keluarga Najib serta kantor Perdana Menteri. Menurut Direktur CCID Bukit Aman, Datuk Seri Amar Singh, timnya menyita 284 tas dan 72 koper berisi berbagai mata uang, jam tangan, dan perhiasan. "Di antaranya adalah tas Birkin dan Hermes. Beberapa dokumen juga disita," kata Amar. Harga setiap tas itu berkisar antara Rp 168 juta dan Rp 280 juta lebih.

Penggeledahan itu merupakan bagian dari penyelidikan kasus korupsi 1MDB. Target pemerintah, kata Perdana Menteri Mahathir Mohamad, adalah menarik kembali uang yang dikorupsi dari mana pun. "Manifesto Pakatan adalah ini. Pertama, memerangi korupsi. Kedua, menarik uang yang hilang," ucap Mahathir kepada Tempo di kantor Yayasan Albukhary, Kuala Lumpur, Jumat pekan lalu.

1MDB adalah perusahaan yang didirikan Najib untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan bergerak di bidang energi, real estate, pariwisata, serta agrobisnis. Perusahaan ini menjadi sorotan oposisi Malaysia sejak 2010 setelah terlilit banyak utang.

Gaung kasus itu mengencang setelah Mahathir bergabung di barisan oposisi. Politikus senior UMNO tersebut menyerukan agar Najib mundur karena 1MDB "salah urus". Pemerintah menjawab kritik ini dengan memerintahkan Auditor Umum melakukan penyelidikan. Hasilnya tak bisa diketahui publik karena dirahasiakan.

Di tengah pemeriksaan itu, media online Inggris, Sarawak Report dan The Sunday Times, pada 28 Februari 2015 mengangkat soal aliran dana 1MDB. Keduanya menyatakan ada dana sebesar US$ 700 juta (sekitar Rp 9 triliun dengan kurs masa itu) yang dialihkan dari kesepakatan gelap antara 1MDB dan perusahaan energi Arab Saudi, PetroSaudi International, pada 2009. Uang itu dikatakan mengalir ke Good Star Limited, perusahaan yang dikendalikan pengusaha Malaysia, Low Taek Jho alias Jho Low, yang disebut-sebut sebagai kolega keluarga Najib. Uang itu mengalir ke rekening pribadi Najib di bank swasta Malaysia, AmBank Islamic.

Polisi, Komisi Antikorupsi Malaysia (SPRM), dan Bank Negara lalu menyelidiki kasus ini. Menurut salah seorang anggota panel yang meninjau berkas perkara, SPRM menemukan transfer dana dari bekas anak perusahaan 1MDB senilai Rp 9 triliun ke rekening Najib pada akhir 2015.

Perkara itu sempat diperiksa oleh Jaksa Agung Abdul Gani Patail pada 2016. Menurut Sarawak Report, Patail sudah dalam tahap hendak mendakwa dan meminta surat penahanan terhadap Najib. Tapi Patail keburu diberhentikan dan digantikan oleh Mohammed Apandi Ali. Mahathir, yang menuntut pengusutan kasus ini, malah diperiksa polisi pada 6 November 2015. Wakil Perdana Menteri Muhyiddin Yassin juga diberhentikan setelah mempertanyakan soal uang 1MDB itu. "Saya lihat sendiri ada Rp 9 triliun di rekening pribadinya. Saya hendak pingsan melihat angka itu," kata Muhyiddin kepada Tempo, Agustus tahun lalu.

Bukannya meneruskan penyelidikan, Jaksa Agung Apandi Ali malah menutup kasus tersebut. Pada Januari 2016, Apandi mengatakan dana yang mengalir ke rekening Najib adalah hadiah dari keluarga Kerajaan Arab Saudi. Menurut dia, sebagian besar dana yang ditransfer antara Maret dan April 2013 tersebut dikembalikan karena tidak digunakan. Ia juga menyatakan tak ada pelanggaran hukum dalam kasus itu dan memerintahkan SPRM menghentikan penyelidikan.

Namun penyelidikan polisi di berbagai negara menemukan bukti terjadinya korupsi di 1MDB. Kejaksaan Amerika Serikat, misalnya, menyatakan dana 1MDB telah dicuri berkali-kali dan dipakai untuk kepentingan pribadi, seperti membeli lukisan Claude Monet dan Vincent van Gogh, properti di Amerika serta Inggris, bahkan membiayai pembuatan film The Wolf of Wall Street. Menurut kejaksaan, orang-orang yang terlibat dalam korupsi itu antara lain Jho Low dan Riza Aziz, anak tiri Najib Razak.

Penyelidikan kejaksaan Amerika berbuntut perburuan harta 1MDB. Salah satunya kapal pesiar Equanimity milik Jho Low yang dinyatakan sebagai barang bukti kasus ini. Atas permintaan Biro Penyelidik Federal Amerika (FBI), Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI menyita kapal itu ketika bersandar di Bali, Maret lalu. Tapi pemerintah Malaysia bergeming saja atas berbagai penyelidikan dan pengadilan kasus 1MDB di sejumlah negara itu.

Keadaan berubah ketika koalisi partai oposisi Pakatan Harapan memenangi pemilihan umum pada 9 Mei lalu, yang mengakhiri dominasi Barisan Nasional, koalisi partai pimpinan UMNO, di negeri itu. Mahathir Mohamad kemudian dilantik sebagai perdana menteri dan langsung memerintahkan kasus 1MDB dibuka kembali.

Kekalahan Barisan Nasional menimbulkan gejolak di dalam koalisi partai itu. Najib lantas mundur dari jabatan di Barisan Nasional dan UMNO. Selepas pengumuman mundur itu, Najib dan Rosmah Mansor, istri kedua Najib, berencana naik pesawat pribadi untuk rehat sejenak di Jakarta.

Tapi Departemen Imigrasi, atas perintah Mahathir, mencegah mereka ke luar negeri. "Benar, saya mencegah Najib meninggalkan negara ini," tutur Mahathir dalam konferensi pers, Sabtu dua pekan lalu. "Ada bukti yang cukup bahwa penyelidikan akan dilakukan terhadap mantan perdana menteri."

Belakangan juga muncul informasi bahwa, pada akhir 2015, komisi antirasuah negeri jiran itu sebenarnya telah menemukan bukti pemindahan dana sebesar RM 42 juta dari bekas anak perusahaan 1MDB, yaitu SRC International, ke rekening Najib. "Jaksa Agung menolak menyelidiki lebih lanjut, meski ada bukti yang menunjukkan bahwa Najib menerima secara langsung ataupun tidak langsung uang dari SRC," kata anggota panel Komisi Antikorupsi, Datuk Lim Chee Wee, Rabu pekan lalu.

Jaksa Agung juga tak mengikuti rekomendasi Komisi, yang menyarankan agar kejaksaan bekerja sama dengan aparat penegak hukum di luar negeri untuk memburu uang negara yang dicuri itu. "Kami tahu pergerakan uang di Malaysia. Tapi, setelah meninggalkan Malaysia, kami tidak tahu ke mana uang itu pergi," ujar Lim, seperti dilansir The Star Metro.

Mahathir mengatakan sejumlah lembaga yang mengetahui soal 1MDB kini melakukan penyelidikan bersama. "Kami memiliki bukti kuat," ucap Mahathir mengenai bukti untuk menjerat Najib. Malaysia juga akan bekerja sama dengan sejumlah negara yang pernah menyelidiki kasus 1MDB, seperti Amerika Serikat, Swis, dan Singapura, untuk mendapatkan kembali uang yang dicuri itu.

Abdul Manan (South China Morning Post, Sarawak Report, The Star Metro)

Majalah Tempo, 21 Mei 2018

No comments: