Skip to main content

Pembelot dari Kota Hamhung

JIKA tak ada aral, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in akan bertemu dengan Presiden Korea Utara Kim Jong-un pada 27 April. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Jong-un pada akhir April atau awal Mei. Agendanya membahas perlucutan nuklir dan perdamaian di Semenanjung Korea.


Pejabat Korea Selatan dan Amerika mengatakan Korea Utara bersedia membahas perlucutan nuklir meski belum jelas kompensasi apa yang akan diminta Jong-un. Presiden Jae-in, seperti dilansir New York Times, berharap ada hasil penting dari pertemuan bersejarah ini. "Saya berharap konferensi tingkat tinggi Korea Utara-Amerika Serikat akan menghasilkan langkah signifikan menuju denuklirisasi Semenanjung Korea dan terbangunnya perdamaian permanen di sini," kata Jae-in, Rabu pekan lalu.

Myung-sung Kim mengikuti secara ketat perkembangan di Semenanjung Korea. Pria 42 tahun itu memang jurnalis politik surat kabar Chosun Ilbo, tapi juga pembelot dari Korea Utara ke Korea Selatan sejak 15 tahun lalu. Myung-sung tak punya optimisme sebesar Jae-in karena "dalamnya jurang ketidakpercayaan" di antara mereka. "Jika dialog terjadi, sangat sulit meraih perdamaian jangka panjang," kata Myung-sung dalam komentar singkatnya kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

***

MYUNG-sung Kim berasal dari Hamhung, kota terbesar kedua di Korea Utara dan ibu kota Provinsi Hamgyong Selatan. Kota ini berjarak 306 kilometer dari ibu kota negara Pyongyang. Di masa kecilnya, dia pernah mengalami masa-masa sangat sulit. Ia pernah hanya makan nasi sekali dalam sehari saat ekonomi sangat sulit. "Ada juga orang yang dua hari hanya makan sekali," ujarnya kepada 12 jurnalis Asia yang menemuinya di kantor UniKorea Foundation, Seoul, Korea Selatan, awal Maret lalu.

Semasa di sekolah, Myung-sung mendapat pelajaran soal komunisme, termasuk pemikiran Kim Il-sung, pendiri Korea Utara. Hanya, Myung-sung mulai mempertanyakan keadaan setelah melihat parahnya kondisi ekonomi yang tak sejalan dengan teori di bangku sekolah. Ia pernah melihat orang meninggal di sejumlah stasiun karena kelaparan.

Pertanyaan itulah yang pada suatu hari diajukan kepada dosennya, seorang profesor di Universitas Teknologi Komputer di Kota Hamhung. Ia bertanya mengapa Kim Il-sung bisa menjadi pemimpin Korea Utara lebih dari setengah abad, sejak negara ini berdiri pada 1948 sampai ia meninggal pada 1994. Sang profesor menjawab secara normatif dengan mengatakan tiga kriteria untuk menjadi pemimpin telah terpenuhi, yakni ideologi, kepemimpinan, dan kepribadian.

Jawaban ini tak memuaskan para mahasiswa sehingga mereka tetap bertanya. Menurut Myung-sung, umumnya para dosen tak menjawab pertanyaan sensitif seperti ini, tapi sang profesor menjawab, "Mungkin saja nanti penggantinya mengubah keadaan dengan yang lebih baik." Penjelasan itu menggembirakan Myung-sung dan lainnya. Tapi jawaban itu pula yang diyakini membawa nasib buruk bagi sang profesor. Myung-sung belakangan menyadari itulah terakhir kali dia bertemu dengan sang profesor. "Ada kemungkinan dia dikirim ke kamp kerja paksa," tuturnya. Peristiwa itu mengubah drastis pandangannya tentang negaranya dan komunisme.

Faktor lainnya, radio. Ia mendapatkan barang langka itu saat pergi ke gunung dan bertemu dengan pria tua yang membawa leaflet propaganda dari Korea Selatan. Selain memberi mi dan makanan lain, orang tua itu memberinya radio, yang membuatnya kerap mendengarkan siaran berita dari luar negeri.

Ia tak menikmati radio itu sendirian. Pernah pada suatu hari dia mendengarkan radio bersama-sama dan tiba-tiba polisi masuk. "Kami hampir tertangkap tangan," ucapnya. Beruntunglah ia masih bisa menyembunyikan radionya di balik buku. "Hanya melalui radio itulah kami mengetahui keadaan dunia luar."

Myung-sung menyadari bahwa pemimpin Korea Utara dapat tetap berkuasa lama karena menutup akses informasi dunia luar. "Setelah itu saya merasa tak lagi bisa terus bertahan dan ingin keluar dari Korea Utara," ucap Myung-sung, yang seusai kuliah sempat menjadi karyawan di perusahaan perdagangan. "Waktu itu saya berpikir mungkin saya perlu bertemu dengan intelijen Korea Selatan dan memicu revolusi besar-besaran."

Dari radio pula dia mengetahui Korea Selatan memiliki kedutaan besar di Cina, tepatnya di Shenyang, Liaoning. Ia pun membulatkan tekad menyeberangi perbatasan. Tapi rencananya tak berjalan seperti yang dia persiapkan. Kedutaan Besar Korea Selatan tidak memberinya visa dan membuatnya tertahan sampai 50 hari di Cina dan bekerja seadanya.

Tak mau menunggu, Myung-sung memutuskan mencoba Vietnam. Ia mengandalkan peta saat melintasi perbatasan. Ia sempat ditangkap tentara Vietnam di perbatasan, tapi kemudian dilepaskan. Ia juga bertemu dengan mafia Cina yang bersedia mengantar ke Kedutaan Besar Korea Selatan dengan bayaran 4.000 yuan (sekitar Rp 8,7 juta). Ia menyanggupi permintaan itu meski tak punya uang. Sang mafia mengancam akan membunuhnya jika ia ingkar janji.

Setiba di Kedutaan Besar Korea Selatan di Vietnam, ia menyampaikan soal utang kepada mafia itu. Petugas kedutaan mengatakan tak bisa membantunya. Ia berhasil kabur dari sang mafia meski tak membayar utangnya. Kedutaan Korea Selatan menyatakan tahun ini mereka menerima banyak permintaan dari para pembelot, tapi tak bisa membantu semuanya. Petugas kedutaan menyarankan Myung-sung kembali ke Cina dan tinggal selama setahun sebelum kembali lagi kemari.

Setelah tinggal beberapa hari di Vietnam, Myung-sung memutuskan menguji peruntungan ke Kamboja. Berbeda dengan dua kesempatan sebelumnya, kali ini ia lebih beruntung. Kedutaan bersedia membantunya. Selama menunggu proses visa, ia ditolong oleh orang Korea Selatan. Ia disarankan tinggal sementara di gereja Korea Selatan di Kamboja. Beberapa hari kemudian, visanya selesai dan ia terbang ke negara tujuan pelariannya.

Begitu tiba di Seoul, Myung-sung tak bisa langsung melenggang pergi. Ia lebih dulu diperiksa Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS). "Ini untuk melacak apakah pembelot itu penyusup atau bukan," ucapnya. Dia dan pengungsi lain lalu dibawa ke Pusat Dukungan Permukiman bagi Pengungsi Korea Utara di Anseong, Provinsi Gyeonggi, selama tiga bulan.

Para pembelot itu mendapat pelajaran bagaimana menggunakan transportasi umum, membuka rekening bank, dan cara belajar hidup Korea Selatan. Seusai pelatihan tersebut, Myung-sung mendapat bantuan dari pemerintah berupa uang sekitar Rp 88 juta per tahun (seperlima pendapatan rata-rata tahunan warga Korea Selatan) dan bantuan perumahan serta difasilitasi saat mencari pekerjaan.

Myung-sung tinggal di Seoul dan kemudian menjadi jurnalis di Chosun Ilbo sejak lima tahun lalu. Alasannya, "Inilah pekerjaan yang dekat dengan keinginan saya." Dengan masa kerjanya saat ini, ia menikmati kehidupan profesional dengan penghasilan lebih dari Rp 27 juta per bulan.

Pembelot Korea Utara di Korea Selatan kini berjumlah 31.339 orang. Pembelot terbanyak dari Gyeonggi, 8.935 orang. Pembelot yang satu daerah dengan Myung-sung, Hamgyong Selatan, berjumlah 1.054 orang. Latar belakang pembelot terbanyak adalah penganggur, yakni 14.563 orang. Untuk yang berlatar belakang pekerja ada 11.976 orang, dan militer 772 orang.

Tak semua pembelot bertahan hidup di Korea Selatan. Ada yang kembali ke negaranya karena hidupnya dirasa lebih berat atau merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua. Myung-sung menikmati hidupnya meski harus jauh dari keluarga. "Setidaknya saya lebih baik," katanya. Setiba di Korea Selatan, ia tak berusaha menghubungi keluarganya karena bisa menimbulkan masalah. Myung-sung baru tahu kondisi mereka saat orang tuanya mengirim surat dan sebuah cincin pada tahun lalu.

Abdul Manan

Majalah Tempo, 15 April 2018

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…