Kisah Tak Terlupakan di SD Bukchon

GURATAN ketuaan terlihat jelas di wajah Ko Wan-soon. Warga Bukchon-ri, Provinsi Jeju, Korea Selatan, ini sudah berusia 80 tahun, tapi masih mengingat cukup baik peristiwa pemberontakan dan 3 April 1948 yang kemudian berujung pada pembantaian yang menewaskan sekitar 30 ribu orang di Jeju.

Ia adalah satu di antara sekian orang yang beruntung masih selamat dari penembakan terhadap warga Desa Bukchon-ri setelah militer Korea mengumpulkan mereka di Bukchon Elementary School, pukul 3 sore pada 18 Desember 1948. Saat itu umurnya baru 9 tahun.

Wan-soon tiba di sekolah dasar itu bersama ibu dan adik laki-lakinya. Tak tahu untuk apa dikumpulkan, ia bertanya kepada prajurit yang berjaga di sekolah. Bukannya mendapatkan informasi, ia malah dimarahi.

"Di sela keramaian itu, saya mendengar serangkaian tembakan dan melihat tujuh hingga delapan orang roboh ke lantai," ujar Wan-soon kepada wartawan di Neobeunsung Sacred Memorial for Victims of Jeju 4.3 di Bukchon-ri, tempat jenazah para korban insiden Jeju dimakamkan, awal Maret lalu.

Melihat pemandangan mengerikan itu, saudara laki-laki Wan-soon menjerit ketakutan. Ia juga berusaha melarikan diri, tapi tak berhasil. "Kemudian seorang tentara memberikan pukulan keras ke kepala saudara laki-laki saya," katanya. Prajurit Korea Selatan itu berteriak: "Tidak ada masalah jika kamu mati sekarang atau nanti."

Nyawa adik laki-lakinya tak selamat kalau tidak ada perintah dari seorang komandan militer yang baru datang naik jip dan meminta pemukulan dihentikan. Ia memang selamat dari pemukulan itu, tapi akhirnya meninggal pada Agustus 1952 akibat cedera kepalanya.

Belakangan diketahui bahwa pemanggilan ke Bukchon Elementary School ini berhubungan dengan peristiwa sehari sebelumnya. Pada 17 Desember 1948, itu ada dua tentara Korea yang tewas. Keduanya disergap secara tiba-tiba oleh "orang-orang gunung" di desa pesisir Bukchon.

Orang-orang gunung adalah sebutan warga desa untuk orang-orang yang angkat senjata serta bergerilya melawan polisi dan militer Korea. Sikap mereka itu awalnya sebagai protes atas penembakan polisi terhadap massa demonstran pada 1 Maret 1947 saat memperingati hari Kemerdekaan Korea.

Selain itu, mereka menentang rencana pemilihan umum hanya digelar di Korea Selatan, yang dijadwalkan 10 Mei 1948. Sebab, menurut mereka, hal itu akan menyebabkan Korea terpecah jadi dua. Militer Korea dan Amerika menuding mereka adalah para simpatisan komunis.

Menurut kesaksian mantan tentara di lokasi beberapa tahun kemudian, mereka awalnya hari itu berencana menembakkan mortir untuk memusnahkan penduduk Desa Buckhon tersebut sebagai pembalasan atas kematian dua temannya. Menurut Korea Times, mereka mengurungkan niatnya dan memutuskan menembak penduduk desa secara individu untuk "melatih" anggota baru, kata Kim Nam-hoon, anggota staf dari Jeju Dark Tours, kelompok sipil yang mempromosikan pengungkapan kasus Insiden Jeju ini.

Eksekusi terhadap warga desa berhenti setelah komandan militer datang mengendarai jip. "Menurut kesaksian seorang mantan tentara, beberapa prajurit yang lahir di Jeju memohon kepada sang jenderal untuk menghentikan pembunuhan tersebut. Jenderal menerima permohonan mereka," ucap Kim Eun-hee, Kepala Peneliti Lembaga Riset Jeju 4.3.

Setelah lolos dari penembakan itu, Wan-soon dan warga desa diminta berbaris dalam dua kelompok jika ingin pergi dengan selamat. Mereka dijanjikan akan diantar ke Jeju dengan truk. Tak percaya pada janji tentara, Wan-soon memilih tak ikut berbaris dan memutuskan kembali ke rumahnya bersama ibunya.

Di sana, ia melihat rumahnya sudah dilalap api. Ibunya menyarankan agar ia membawa makanan yang tersisa dan pergi ke Kota Jeju untuk menemui salah satu saudaranya di sana. Sang ibu masih hendak mencari kabar saudaranya di desa lain. Wan-soon mendengarkan nasihat ibunya. Keduanya akhirnya bisa bertemu beberapa bulan sesudahnya.

Jejak peristiwa pembunuhan itu tetap berada di dalam tubuh dan saraf Ko Wan-soon. "Sampai hari ini, saya tidak pernah bisa menahan lapar karena kenangan kelaparan sepanjang masa kecil saya," tuturnya. Dia masih ingat dengan jelas saat mencuri nasi mendidih tanpa memakai sendok di rumah temannya.

Wan-soon juga masih dihantui ketakutan kalau berkunjung ke Ompangbat, salah satu lokasi penembakan warga oleh tentara di Bukchon. "Saya masih merasa takut ketika pergi ke sana, yang dulu menjadi tempat ditumpuknya empat mayat. Rumor juga masih beredar bahwa seseorang melihat hantu di depan Sekolah Dasar Bukchon," ucapnya.

Bukchon juga disebut sebagai "Desa tanpa laki-laki" karena mereka semua dibantai. Perempuan umumnya hidup sendiri dengan keluarga yang tersisa. Menurut Wan-soon, mereka ingin bernyanyi, menari, dan bepergian, tapi mereka tak bisa. "Karena luka yang diterima selama pembantaian, kita bahkan tidak bisa berdiri. Saya selalu takut mati sendirian," ujarnya.

Menurut Lee Jae-hoo, pengurus Bukchon 4.3 Bereaved Family Association, saat itu warga desa berjumlah 1.000 orang. Dari jumlah itu, 500 orang tewas ditembak. "Jadi sekitar setengah dari penduduk Desa Bukchon meninggal, khususnya suami dan laki-laki muda," kata Jae-hoo, seperti dilansir jejuweekly.com.

Peristiwa pembantaian Jeju membuat warga Bukchon mandiri. Menurut Kim Eun-hee, para laki-laki di desa itu umumnya naik ke gunung setelah memutuskan angkat senjata melawan pemerintah. Kalaupun bertahan di desa, mereka biasanya mati dieksekusi. "Karena tak ada laki-laki, perempuan Bukchon sangat mandiri karena mengurus semua urusan rumah tangga sendiri," kata Eun-hee.

Wan-soon, yang kini menjadi Ketua Bukchon Senior Villager Association, lebih banyak berbagi pengalaman buruknya kepada orang yang datang. Dalam beberapa tahun ini, Jeju tidak hanya menjajakan kecantikan Gunung Halla dan pantainya, tapi juga sisi kelam masa lalunya.

Bukchon-ri adalah salah satu tempat wisata sisi hitam sejarah Jeju, selain Peace 4.3 Park dan Memorial Hall di Jeju 4.3 di Bonggae-dong, Kota Jeju. Di sini ada prasasti yang didedikasikan untuk novel Aunt Suni. Novel karya Hyun Ki-young terbitan 1978 itu diinspirasi oleh korban insiden Jeju di desa ini.

Ko Wan-soon tak sekuat puluhan tahun lalu sehingga harus mengambil jeda minum setiap berbicara tiga-lima menit kepada para wisatawan yang datang ke Bukchon-ri. Ia kini hanya berharap peristiwa seperti yang ia alami tak terjadi lagi.

Artikel Terkait: Sisi Gelap Wajah Jeju

Abdul Manan

Majalah Tempo, 08 April 2018

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO