Skip to main content

Sinyal Akhir Era Netanyahu

KELIHAIANNYA lolos dari sejumlah krisis politik membuat Benjamin Netanyahu, Ketua Partai Likud dan Perdana Menteri Israel, dijuluki Si Ahli Sulap. Lelaki 68 tahun ini bahkan bisa menjadi perdana menteri empat periode. Nasib baiknya menjadi tanda tanya setelah Kepolisian Israel, Senin pekan lalu, merekomendasikan agar ia didakwa karena dua kasus pidana.


Pemimpin oposisi dari Partai Uni Zionis, Avi Gabbay, menyebut rekomendasi polisi itu "jelas, tegas, dan menentukan" atas kasus yang menimpa Netanyahu. "Waktunya telah tiba untuk mengakhiri budaya korupsi pemerintah. Setelah sembilan tahun Netanyahu memerintah, masyarakat layak mendapatkan pemimpin baru dan perdana menteri yang bersih dan jujur," ujarnya, Selasa pekan lalu. Ia menyebut perkembangan ini sebagai akhir era Netanyahu.

Pernyataan Gabbay keluar beberapa jam setelah polisi mengumumkan rekomendasi mereka kepada Jaksa Agung Avichai Mandelblit untuk mengajukan dua dakwaan terhadap Netanyahu. Dakwaan pertama adalah soal dugaan Netanyahu menerima suap dari produser Hollywood, Arnon Milchan, dan pengusaha Australia, James Packer, yang dikenal sebagai Kasus 1000. Dakwaan kedua, dugaan Netanyahu menerima suap dari pengusaha media Arnon Mozes, yang disebut sebagai Kasus 2000. Bola kini di tangan Mandelblit untuk memutuskan apakah akan mengajukan dakwaan atau tidak terhadap perdana menteri yang sedang berkuasa itu.

***

BENJAMIN Netanyahu, yang biasa dipanggil Bibi, lahir di Tel Aviv pada 1949. Pada 1963, keluarganya pindah ke Amerika Serikat ketika ayahnya, Benzion Netanyahu, seorang sejarawan dan aktivis Zionis, ditawari jabatan akademis di sana. Pada usia 18 tahun, Netanyahu kembali ke Israel dan masuk militer, termasuk menjadi kapten di unit elite komando Sayeret Matkal. Setelah dinas militernya berakhir, Netanyahu kembali ke Amerika serta mendapatkan gelar sarjana dan magister di Massachusetts Institute of Technology.

Pada 1988, dia kembali ke Israel dan bergabung dengan Partai Likud. Ia memenangi kursi di Knesset (parlemen) dan menjadi wakil menteri luar negeri. Setelah Likud kalah dalam pemilihan umum 1992, dia menduduki posisi ketua partai. Empat tahun kemudian, Netanyahu menjadi Perdana Menteri Israel termuda. Itu adalah pemilihan yang dipercepat setelah Yitzhak Rabin terbunuh.

Tiga tahun kemudian, Netanyahu meminta pemilihan umum dipercepat setelah koalisi pemerintahannya pecah. Likud kalah suara dari Partai Buruh. Hasil itu mengantar Ketua Partai Buruh, Ehud Barak, menjadi perdana menteri. Kekalahan tersebut mendorong Netanyahu mundur dari Knesset. Posisinya sebagai Ketua Likud diisi Ariel Sharon. Pada 2001, setelah Sharon terpilih menjadi perdana menteri, Netanyahu kembali ke pemerintahan. Ia kembali ke tampuk kepemimpinan Likud pada 2009 dan terpilih kembali sebagai perdana menteri. Jabatan itu terus dipegangnya setelah ia terpilih lagi untuk periode ketiga pada 2013 dan keempat pada 2015.

Penyelidikan polisi terhadap Netanyahu meningkat sejak Agustus 2017, meski sebenarnya sudah dimulai dua tahun sebelumnya. Dalam Kasus 1000, Netanyahu dan istrinya, Sara, dicurigai menerima hadiah dari jutawan Arnon Milchan dan James ­Packer berupa cerutu dan sampanye senilai sekitar 1 juta shekel atau lebih dari Rp 3,8 miliar.

Salah satu saksi kunci polisi dalam kasus ini adalah Ari Harow, pengusaha dan politikus Partai Likud. Pria kelahiran Amerika ini menjadi Kepala Staf Perdana Menteri Israel pada 2009, ketika Netanyahu memimpin negeri itu, tapi mundur setahun kemudian karena alasan kesehatan. Belakangan, polisi menyeret Harow ke pengadilan dalam kasus penyuapan, penipuan, dan pencucian uang dengan ancaman hukuman penjara. Agustus tahun lalu, Harow setuju untuk bersaksi melawan Netanyahu. Sebagai imbalannya, jaksa tak akan menuntutnya dengan hukuman penjara, tapi hanya hukuman enam bulan pelayanan masyarakat dan denda sekitar Rp 2,7 miliar.

Polisi menyatakan telah punya cukup bukti untuk mendakwa Netanyahu dalam kasus suap, kecurangan, dan pelanggaran kepercayaan terkait dengan hubungannya dengan pengusaha Milchan dan ­Packer. Menurut polisi, sebagai imbalan atas hadiah yang diberikan kedua jutawan itu, Netanyahu mencoba meloloskan undang-undang yang akan membebaskan pajak untuk orang-orang Israel yang kembali ke negara tersebut dari luar negeri. Kebijakan tersebut, yang akhirnya ditolak menteri keuangan saat itu, akan memberi manfaat finansial besar bagi Milchan.

Menurut laporan media, pada Selasa malam pekan lalu, Ketua Partai Yesh Atid, Yair Lapid, menjadi salah satu saksi utama yang akan memberatkan Netanyahu. Menteri keuangan periode 2013-2014 ini kabarnya memberikan bukti bahwa sang Perdana Menteri mendorong amendemen sebuah undang-undang yang akan menguntungkan kolega pengusahanya itu jutaan dolar dari potongan pajak.

Netanyahu juga diketahui mencoba membantu proyek Milchan dan Ratan Tata, jutawan India, untuk membangun zona perdagangan bebas di dekat perbatasan Israel-Yordania. Politikus yang juga meraih kesarjanaan dari Harvard University itu pernah pula melobi Menteri Luar Negeri Amerika, John Kerry, dan Duta Besar Amerika untuk Israel, Daniel B. Shapiro, untuk membantu Milchan menghadapi masalah perpanjangan visanya. Saat menjadi menteri komunikasi pada 2014, ia dikabarkan mencoba membantu Milchan menjadi pemegang saham stasiun televisi Channel 2 Israel.

Dalam Kasus 2000, Netanyahu dituding membuat kesepakatan rahasia dengan penerbit surat kabar Yedioth Ahronoth, Arnon Mozes, pada 2009. Netanyahu akan mendapat liputan positif dari Yedioth, sedangkan Mozes akan mendapat dukungan promosi dari Netanyahu, termasuk bantuan untuk membatasi kekuatan media pesaingnya, Israel Hayom, surat kabar gratis milik Sheldon Adelson, pendukung Netanyahu.

Rekaman audio pertemuan Netanyahu dengan Mozes, yang dibuat secara diam-diam, ada di telepon seluler Ari Harow. Polisi merekomendasikan agar Netanyahu didakwa dalam kasus suap, kecurangan, dan pelanggaran kepercayaan. Polisi merekomendasikan Mozes didakwa karena menawarkan sogokan.

Menurut CNN, yang membuat Netanyahu layak khawatir adalah penegak hukum Israel punya rekam jejak tidak takut dalam menyelidiki dan menuntut pemimpin dan politikus seniornya. Mantan perdana menteri Ehud Olmert menjalani 16 bulan penjara karena menerima uang dari pengusaha Amerika dan menerima suap untuk proyek perumahan saat dia menjabat Wali Kota Yerusalem. Bekas presiden Moshe Katsav dihukum karena kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual.

Netanyahu, yang sudah diinterogasi polisi tujuh kali, membantah tudingan korupsi. Ia menyebut investigasi selama berbulan-bulan terhadapnya adalah fitnah dan upaya untuk menggulingkannya dari kekuasaan. "Mereka telah menyerang istri dan anak-anak saya secara brutal untuk menyakiti saya," ujarnya, mengomentari rekomendasi polisi itu.

Ketua partai koalisi dari Likud, David Amsalem, menyebut apa yang dihadapi Netanyahu ini bukan hal baru dan seperti upaya melepaskan "puluhan anak panah" dengan harapan salah satunya akan mengenainya. "Di negara demokratis, pemerintah digulingkan dengan cara pemilihan di bilik suara, bukan oleh tentara atau polisi," tuturnya.

Ketua aliansi partai Persatuan Zionis, Avi Gabbay, mendesak Netanyahu segera mundur. Desakan sama disampaikan ­Ayman Odeh, Ketua Partai Arab Bersatu. "Netanyahu adalah perdana menteri yang korup dan berbahaya. Dia akan melakukan segalanya untuk tetap berada di pemerintahan," ucap Odeh.

Netanyahu mengabaikan tekanan itu. "Saya merasa sudah menjadi kewajiban saya untuk terus memimpin Israel. Pemerintah kita akan menyelesaikan masa jabatannya," ujarnya.

Abdul Manan (The Times Of Israel, Jerusalem Post)

Majalah Tempo, Rubrik Internasional, 18 Februari 2018

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…