Skip to main content

Teka-teki Persamuhan di Trump Tower

KOMITE Kehakiman Senat Amerika Serikat akhirnya setuju membuka transkrip wawancara pemeriksaan tentang sebuah pertemuan di Trump Tower pada Juni 2016. Pertemuan itu menjadi fokus perhatian Komite dan penyelidikan Badan Penyelidik Federal (FBI) yang dipimpin penasihat khusus Robert Mueller soal campur tangan Rusia dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016. "Mari kita keluarkan agar semua orang bisa melihatnya," kata Ketua Komite Senat, Chuck Grassley, Rabu pekan lalu.


Komite sudah memeriksa Donald Trump Jr., putra Trump yang ikut dalam pertemuan dengan orang Rusia itu. Dua orang dekat Trump yang ikut pertemuan adalah Jared Kushner, menantu dan kini penasihat senior Gedung Putih, dan Paul Manafort, manajer kampanye Trump. Kushner sudah memberikan keterangan kepada Komite tahun lalu, tapi ada kemungkinan akan dimintai keterangan lagi.

Pertemuan di Trump Tower itu kembali mencuat setelah Steve K. Bannon, mantan ahli strategi Trump, membuat pernyataan mengejutkan dalam buku Michael Wolf, Fire and Fury: Inside the Trump White House, yang terbit awal Januari lalu. Di halaman 204 buku itu, Bannon menyebut pertemuan 9 Juni 2016 di lantai 25 Trump Tower tersebut sebagai inisiatif Trump Jr., Kushner, serta Manafort dan "berbau pengkhianatan".

Dari ketiga orang yang hadir dalam pertemuan itu, Manafort sudah berstatus tersangka. Tim Mueller mendakwanya dengan tuduhan penipuan, persekongkolan, dan pencucian uang yang berhubungan dengan pekerjaan lobi mereka di Ukraina. Dakwaan yang sama diajukan Mueller terhadap mantan wakil Manafort, Richard W. Gates III. Dua orang dekat Trump yang sudah didakwa adalah mantan Penasihat Keamanan Trump, Michael Flynn, dan mantan penasihat kampanye soal kebijakan luar negeri Trump, George Papadopoulos. Flynn dan Papadopoulos didakwa memberikan keterangan palsu soal hubungannya dengan orang Rusia kepada FBI.

Tim Mueller juga sudah mewawancarai mantan kepala tim kampanye Trump yang kini Jaksa Agung, Jeff Sessions, dan Direktur FBI yang dipecat Trump pada Mei lalu, James Comey. "Penyelidikan mengenai hubungan Presiden Trump dengan Rusia sepertinya semakin dekat ke Trump," tulis Business Insider, Kamis pekan lalu.

Mueller juga berencana memeriksa Trump. Fokus pemeriksaan adalah pada soal pemecatan Flynn dari jabatannya sebagai Penasihat Keamanan Nasional pada 13 Februari 2017. Tim Mueller juga berusaha menggali keterangan dari Trump soal pemecatan James Comey sebagai Direktur FBI pada Mei lalu. Trump memberi isyarat bersedia. "Saya akan melakukannya di bawah sumpah," ujar Trump, Rabu pekan lalu.

JARED Kushner lahir 10 Januari 1981 di Livingston, New Jersey. Dia adalah satu dari empat anak Charles Kushner, jutawan real estate serta pendukung keuangan utama Partai Demokrat dan berbagai badan amal. Ia berkuliah di Harvard University dan lulus pada 2003. Jared mengambil alih bisnis real estate ayahnya setelah Charles dipenjara pada 2005 karena kasus penghindaran pajak dan sumbangan kampanye politik ilegal.

Jared Kushner kemudian berpacaran dengan Ivanka Trump, anak perempuan Ivana dan Donald Trump. Hubungan mereka bermula dari makan siang yang dipersiapkan oleh kedua temannya pada 2007. Setelah berpacaran selama hampir dua tahun, Kushner menikahi Ivanka, Oktober 2009. Pasangan ini memiliki tiga anak. Saat Trump menjadi calon presiden dari Partai Republik, Kushner juga aktif sebagai anggota tim kampanye dan menjadi penasihat senior presiden setelah Trump resmi berkantor di Gedung Putih, Januari 2017.

Masalah mulai muncul saat kemenangan Trump melawan Hillary Clinton diikuti dengan kecurigaan ada campur tangan Rusia. Kecurigaan terutama datang dari komunitas intelijen dan kemudian menjadi bahan penyelidikan FBI. Penyelidikan kasus itu terancam berhenti setelah Trump memecat James Comey sebagai Direktur FBI. Alasan pemecatan semula terkait dengan penanganan kasus penggunaan surat elektronik pribadi Hillary Clinton. Namun, dalam sebuah wawancara, Trump menyebut "soal Rusia" ada dalam pikirannya saat pemecatan itu.

Christopher Wray ditunjuk menjadi pengganti Comey dan penyelidikan soal campur tangan Rusia itu dilanjutkan di bawah pimpinan penasihat khusus Robert Mueller. Mantan Direktur FBI ini bertugas menyelidiki soal campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden 2016, termasuk menjajaki adanya hubungan antara Trump dan pemerintah Rusia. Di bawah Mueller, secara perlahan soal hubungan ini mulai terkuak. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pertemuan di Trump Tower pada Juni 2016 itu.

New York Times adalah media yang pertama kali memberitakannya, sebulan setelah pertemuan terjadi. Gedung Putih menanggapinya dengan sebuah siaran pers. Siaran itu mengutip pernyataan Donald Trump Jr. bahwa dia dan pengacara Rusia bertemu "terutama membahas sebuah program adopsi anak-anak Rusia" dan tidak terkait dengan kampanye pemilihan presiden. Pernyataan ini belakangan dianggap tak sesuai dengan kenyataan.

Pertemuan itu kemudian menjadi perhatian Komite Kehakiman Senat. Komite memeriksa Jared Kushner pada Juli tahun lalu. Sebelum diperiksa, Kushner membuat siaran pers soal kontak dia dengan orang Rusia. Dia mengaku bertemu dengan orang Rusia dalam sejumlah kesempatan. Salah satunya pada 27 April 2016, ketika Donald Trump memberikan pidato soal kebijakan luar negeri di Mayflower Hotel, Washington. Di acara itulah ia dikenalkan oleh seseorang dengan sejumlah duta besar, termasuk Duta Besar Rusia Sergey Kislyak.

Satu-satunya kontaknya dengan Rusia selama kampanye, kata Kushner, adalah pertemuan di Trump Tower itu. Kushner mengatakan dia datang ke pertemuan itu atas ajakan Trump Jr. dan tiba agak telat. Ketika sampai di sana, dia melihat seorang pengacara Rusia sedang membicarakan soal larangan warga Amerika mengadopsi anak-anak Rusia. "Saya tidak tahu mengapa topik itu diangkat," tulis Kushner.

Menurut Kushner, sekitar 10 menit mengikuti pertemuan, ia mengirimkan surat elektronik kepada asistennya. Dia meminta sang asisten meneleponnya agar ia punya alasan keluar dari pertemuan itu. Kushner mengaku tidak ingat berapa orang yang ada di sana dan siapa saja.

Soal siapa peserta pertemuan dan apa inti pembicaraan itu kemudian terkuak setelah sekumpulan surat elektronik Trump Jr. dengan orang Rusia dibuka ke publik, Agustus 2017. Orang Rusia yang datang dalam pertemuan itu ternyata adalah pengacara Natalia Veselnitskaya, pelobi Rinat Akhmetshin, seorang penerjemah bahasa Rusia, seorang karyawan kelompok real estate Rusia yang berbasis di Amerika, dan promotor musik Rob Goldstone. Trump Jr. menyetujui pertemuan itu karena Goldstone meyakinkannya bahwa pengacara Rusia tersebut memiliki dokumen dan informasi resmi yang akan menyulitkan Hillary Clinton dan sangat berguna bagi Donald Trump.

Dalam surat-menyurat elektronik itu, Goldstone menulis bahwa informasi buruk soal Hillary Clinton adalah "bagian dari dukungan pemerintah Rusia untuk Mr. Trump". Trump Jr. membalas, "Jika itu yang Anda katakan, saya menyukainya." Pertemuan di Trump Tower itu menjadi salah satu bukti dugaan kolusi Trump dengan Rusia. Namun Presiden Trump berulang kali menolak tudingan ini.

Kini tim Mueller mencoba menentukan apakah Trump dan stafnya di Gedung Putih yang membuat siaran pers itu tahu bahwa informasi yang disampaikannya tidak akurat atau memang diniatkan untuk mengelabui penyelidik FBI. Analis telah lama menduga, menurut Business Insider, Mueller lebih mencari bukti adanya upaya menghalang-menghalangi keadilan secara lebih serius daripada kemungkinan kolusi antara tim kampanye Trump dan Rusia.

Abdul Manan (Reuters, Business Insider, La Times, Biography.com, Elite Daily, Rolling Stone)

Majalah Tempo, Rubrik Internasional, 28 Januari 2018

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.