Monday, January 01, 2018

Drama Pembelotan di Panmunjom

ZONA Demiliterisasi sepanjang 250 kilometer yang membatasi Korea Utara dengan Korea Selatan terusik ketenangannya pada Kamis dua pekan lalu oleh salakan senapan mesin. Pemicunya gerakan tentara Korea Utara yang sedang mendekati perbatasan karena mencari rekannya, tentara berpangkat rendah berusia 20 tahun yang menghilang dan dicurigai membelot ke negara tetangga.


Tentara pembelot itu melintasi zona tersebut di sebuah pos terpencil saat kabut tebal sekitar pukul 8 pagi. Lalu, kira-kira pukul 09.30, tentara Korea Selatan melepaskan 20 tembakan peringatan saat tentara Korea Utara muncul untuk mencari sang pembelot. Beberapa tembakan lain terdengar dari sisi utara perbatasan pada pukul 10.13 dan 10.16. Pembelot itu lantas ditahan Korea Selatan dan diinterogasi soal motif dan latar belakangnya.

Pembelotan ini terjadi di tengah ketegangan yang sedang meningkat di Semenanjung Korea. Penyebabnya adalah serangkaian uji coba rudal balistik antarbenua Korea Utara. Uji coba terbaru adalah saat pemerintah Pyongyang meluncurkan ICBM Hwasong-15, yang jarak jelajahnya bisa mencapai semua kota besar di Amerika Serikat, 29 November lalu. Langkah Pyongyang ini memicu lahirnya sanksi baru karena mengabaikan peringatan masyarakat internasional yang disampaikan sebelumnya.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Sabtu dua pekan lalu, dengan suara bulat, menjatuhkan sanksi baru yang akan membatasi pasokan minyak untuk Korea Utara. Ini sanksi ketiga badan dunia itu buat negara yang dipimpin King Jong-un tersebut selama 2017. Sanksi yang digagas Amerika Serikat ini memicu kemarahan Pyongyang, dan negara komunis itu menyebutnya sebagai "tindakan perang". "Kami menolak sanksi PBB," kata Kementerian Luar Negeri Korea Utara, seperti dilansir kantor berita pemerintah negeri itu, KCNA, Ahad pekan lalu.

Pembelotan warga Korea Utara ke Korea Selatan bukanlah hal baru. Menurut data Kementerian Unifikasi Korea Selatan, ada sekitar 31 ribu pembelot ke Korea Selatan sejak 1953 sampai Oktober lalu. Tahun lalu saja jumlahnya 1.418 orang. Mereka umumnya memilih jalur aman untuk lari ke Korea Selatan, yaitu melalui perbatasan Cina. Tentu saja mereka harus siap dengan risikonya jika gagal atau tertangkap. Menurut laporan PBB, ancaman hukuman bagi yang ketahuan membelot minimal lima tahun kerja paksa. Tapi ada juga yang kabarnya dieksekusi mati.

Berbeda dengan warga sipil, tentara Korea Utara yang membelot tidak banyak. Sejak 2000, tiap tahun tentara yang membelot itu paling banyak tiga orang. Tahun ini merupakan yang terbanyak karena ada empat. Namun pembelotan terakhir ini masih kalah dramatis dibanding pengalaman Oh Chong Song pada bulan lalu, yang terekam kamera pengawas Komando PBB. Ia membelot di Area Keamanan Bersama (JSA) di Panmunjom, sebuah perbatasan tempat personel militer dua negara berdiri berhadapan dalam jarak dekat.

PADA 13 November 2017, Oh Chong Song, 24 tahun, tertangkap dalam kamera sedang memacu jip militernya pada pukul 15.11. Jip itu melaju menyusuri jalan setapak di bawah pohon-pohon rindang di sisi Zona Demiliterisasi Korea Utara. Pukul 15.13, kendaraan itu melintasi pos penjaga Korea Utara di depan sebuah jembatan. Saat mobil tersebut melintas, tampak seorang tentara keluar dari gedung.

Kendaraan yang dibawa Oh lalu melintasi sebuah jembatan dan mendekat ke arah Garis Demarkasi kedua negara. Kendaraan itu mendekati sebuah monumen pendiri Korea Utara, Kim Il-sung. Ini adalah titik awal untuk tur Korea Utara di JSA. Saat itu tidak ada kelompok tur di kedua sisi DMZ tersebut sehingga kedatangan jip itu mengundang tanda tanya.

Jip lantas membelok tepat di monumen, yang jaraknya hanya beberapa langkah dari perbatasan. Di bawah perlindungan pohon, Oh menghentikan kendaraannya. Semenit kemudian, tentara Korea Utara berlari ke arah kendaraan itu dari sebuah menara penjaga dan dari tangga di Panmungak, bangunan utama di sisi Korea Utara dari JSA.

Oh tampak keluar dan langsung berlari kencang berusaha memasuki area Korea Selatan yang di kawasan JSA itu tidak berpagar. Pada saat hampir bersamaan, empat tentara Korea Utara menyusulnya. Seorang tentara tampak jatuh ke tanah tanpa alasan jelas. Tiga lainnya menembakkan pistol dan senjata AK-47-nya ke arah Oh.

Kamera menangkap gambar seorang tentara Korea Utara melintasi perbatasan dan masuk ke Korea Selatan, tapi ia segera menarik diri. Oh akhirnya masuk wilayah Korea Selatan dengan sejumlah luka di tubuhnya. Setidaknya ada 40 tembakan yang dilepaskan tentara Korea Utara ke koleganya yang membelot itu. Lima atau enam di antaranya mengenai sasaran.

Menurut Kolonel Chad G. Carroll, juru bicara Komando PBB di JSA, pada pukul 15.43, terlihat Oh dalam video tampak terbaring di tumpukan daun di sisi Zona Demiliterisasi Korea Selatan. Sekitar 12 menit kemudian, dua tentara Korea Selatan mengendap-endap mendekatinya.

Hari itu juga Oh dilarikan ke rumah sakit di Ajou University. Ahli bedah Lee Cook-jong dalam konferensi pers mengungkapkan, sulit untuk mengatakan dengan tepat berapa kali dia ditembak. Ada empat luka besar, tapi bisa saja dia ditembak dua kali di lokasi yang sama. Selama perawatan itu, Oh diberi empat liter darah dan menjalani dua operasi besar.

Selama operasi, dokter menemukan lusinan cacing parasit dewasa di usus kecilnya yang pecah, beberapa di antaranya sepanjang 27 sentimeter. Itu menunjukkan buruknya kondisi dan kebersihan di negara asalnya. Hasil pemeriksaan juga menyatakan ia menderita tuberkulosis dan hepatitis B. Empat hari kemudian, Oh dipindahkan ke rumah sakit Angkatan Bersenjata Korea di Seongnam, sebelah selatan Seoul.

Menurut Lee, setelah Oh dioperasi dan mulai sadar, dokter memberinya tontonan film. "Kami memainkannya tiga versi Gee Girls’ Generation—versi asli, versi rock, dan versi band indie. Dia mengaku menyukai versi aslinya dan dia menyenangi band perempuan itu," kata Lee. Saat diajak nonton TV kabel, Oh mengaku menyukai film Amerika dan drama seperti CSI: Crime Scene Investigation.

Lee menyangkal beberapa laporan media yang menyatakan bahwa tentara pembelot itu diperdengarkan musik Korea Selatan tak lama setelah mulai siuman. Rumah sakit memutar lagu dan film itu demi stabilitas emosinya. "Kami biasanya mengatakan kepadanya bahwa dia harus melakukan ini atau itu di Korea Selatan, tapi kami tidak bertanya tentang pengalamannya di Korea Utara," kata Lee.

Biaya perawatan Oh ternyata besar, lebih dari 100 juta won atau sekitar Rp 1,2 miliar. "Kami berencana memutuskan siapa yang akan membayar tagihan tersebut melalui konsultasi," kata Lee Eugene, wakil juru bicara Kementerian Unifikasi.

Setelah siuman pasca-operasi, Oh dikabarkan meminta Choco Pie saat ditanya ingin makan apa. Choco Pie adalah camilan terkenal produksi perusahaan makanan ringan Korea Selatan, Orion. Kue pie dengan isi krim marshmallow ini pertama kali masuk Korea Utara melalui Kompleks Industri Kaesong, area pabrik tempat perusahaan Korea Selatan mempekerjakan buruh Korea Utara. Pada 2014, Korea Utara melarang peredaran kue itu karena mencurigainya sebagai propaganda Korea Selatan.

Korea Times menulis, perusahaan Orion mendengar kabar bahwa Oh menginginkan kue tersebut. Perusahaan yang membuat kue ini sejak 1974 lantas mengirim 100 kardus kue tersebut ke rumah sakit. "Kami mengirim Choco Pie sebagai hadiah sambutan untuk Oh, yang datang ke Korea dengan sulit," kata juru bicara Orion.

Abdul Manan (Reuters, Yonhap, Global.ca, Cnn, Korea Times, Korea Herald)

Majalah Tempo, Rubrik Internasional, 31 Desember 2017

No comments: