Skip to main content

Operasi Parasut Harvey Weinstein

HARVEY Weinstein, tokoh berpengaruh dalam industri film Hollywood, pantang menerima penolakan. Ia mengungkapkan niat untuk "membunuh" Salma Hayek saat artis kelahiran Meksiko itu menolak permintaannya. Salma bergeming saat Weinstein mengancam akan mengalihkan peran utamanya dalam film Frida Kahlo (2002) kepada artis lain dan menghentikan syuting film itu. Satu-satunya cara agar film tetap diproduksi dan Salma tidak dicopot sebagai pemeran utama adalah dia harus bersedia beradegan seks dengan wanita lain.


Ancaman itu meluluhkan perempuan kelahiran 2 September 1966 ini. Dengan setengah hati dia memenuhi permintaan itu. Di hari yang ditentukan pada 2002, ia datang ke lokasi syuting dalam keadaan tubuh gemetar, napas tersengal-sengal, dan menangis tanpa henti. "Bukan karena saya akan beradegan telanjang dengan wanita lain, melainkan karena saya akan telanjang bersama wanita itu untuk Weinstein," tulis Salma soal peristiwa 15 tahun lalu itu di New York Times, Selasa dua pekan lalu.

Pengakuan Salma Hayek ini menambah panjang daftar perempuan korban Weinstein. Hingga November lalu, ada lebih dari 100 perempuan yang mengaku dilecehkan secara seksual dan diperkosa. Beberapa di antaranya adalah artis papan atas, seperti Angelina Jolie, Gwyneth Paltrow, Ashley Judd, Kate Beckinsale, dan Mira Sorvino. Ada enam yang mengajukan gugatan. Pengakuan itu memicu gerakan anti-kekerasan seksual di berbagai negara dan mendorong polisi Inggris, Scotland Yard, dan Departemen Kepolisian New York memeriksa kasus ini.

***

Harvey Weinstein lahir pada 19 Maret 1952 di Queens, New York, Amerika Serikat, dari pasangan Max dan Miriam Weinstein. Menurut Biography.com, Harvey dan saudaranya, Bob, mengembangkan naluri bisnis mereka dari Max, pemotong berlian yang juga pencinta film. Setelah lulus dari State University of New York di Buffalo pada 1973, Harvey memulai bisnis promosi konser.

Pada 1979, Harvey dan Bob Weinstein mendirikan Miramax Films Corporation. Perusahaan ini awalnya dirancang untuk mendistribusikan film-film bertema seni kecil, tapi kemudian berkembang menjadi pemain utama. Salah satu karyanya yang sukses adalah Sex, Lies, and Videotape (1989). Miramax diakuisisi Walt Disney Company pada 1993. Harvey dan Bob meninggalkan Miramax pada 2005 dan membuat The Weinstein Company. Film produksinya, The King’s Speech (2010) dan The Artist (2011), meraih penghargaan Best Picture di Academy Awards.

Selain berkiprah di film, Harvey Weinstein pendukung utama kandidat presiden dari Demokrat. Di masa-masa jayanya itulah namanya mulai terseret kasus kekerasan seksual. Salah satu korbannya adalah Ambra Battilana Gutierrez. Artis kelahiran Turin, Italia, 15 Mei 1993, ini awalnya diundang ke kantor Weinstein di TriBeCa Office Manhattan, New York, 27 Maret 2015. Di tengah rapat, Weinstein menyentuh pahanya, lalu meraih payudaranya sambil bertanya, "Apakah ini nyata?" Tak terima atas perlakuan itu, Gutierrez melapor ke polisi.

Saat Gutierrez menghubungi polisi, Weinstein meminta bantuan pengacara dan penyidik swasta untuk menghentikan kasus itu. Menurut The New Yorker, Weinstein memakai jasa K2 Intelligence, firma milik tokoh perusahaan intelijen Jules Kroll. Ia lantas menugasi agennya untuk memastikan bahwa Jaksa Wilayah Manhattan, Cyrus Vance, tidak mengajukan tuntutan hukum kepada Weinstein.

Kroll juga menyewa penyidik swasta Italia untuk menggali masa lalu Gutierrez. Hasilnya, Gutierrez diketahui pernah ikut kontes kecantikan Miss Italy dan pada 2010 pernah datang ke pesta "Bunga-bunga" yang diselenggarakan Silvio Berlusconi. Perdana Menteri Italia itu dituduh melakukan hubungan seks dengan pelacur. Intel swasta Italia itu menuding Gutierrez terlibat prostitusi. Gutierrez membantah tudingan itu.

Gutierrez kehilangan kesempatan saat mengetahui sikap jaksa wilayah yang terlihat tak berpihak kepadanya. Puncaknya, 10 April 2015, jaksa mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengajukan tuntutan. Tak ada harapan kasusnya diproses, Gutierrez menerima nasihat pengacaranya untuk menandatangani kesepakatan penyelesaian dengan Weinstein. Ia mendapatkan ganti rugi jutaan dolar, tapi harus memberikan telepon dan perangkat lain yang mungkin berisi bukti pelecehan seksual Weinstein.

Korban lain Weinstein adalah Rose McGowan, artis, model, dan penyanyi Amerika. Perempuan kelahiran Florence, Italia, 5 September 1973, ini mengaku diperkosa Weinstein di sebuah hotel saat acara Festival Film Sundance 1997. Saat tudingan terhadap Weinstein makin banyak, ia kemudian menjadi target pengintaian.

McGowan, Mei lalu, awalnya menerima surat elektronik (e-mail) dari wanita bernama Diana Filip. Ia mengaku sebagai wakil kepala investasi Reuben Capital Partners, perusahaan pengelola aset berbasis di London. Filip mengatakan dia meluncurkan inisiatif untuk memerangi diskriminasi terhadap perempuan di tempat kerja dan meminta McGowan menjadi pembicara. Honornya US$ 60 ribu. Setelah berkomunikasi lewat e-mail, kedua wanita tersebut bertemu setidaknya tiga kali. Dia mengorek informasi dari McGowan soal siapa saja yang punya kisah serupa dan dia bicara kepada siapa saja tentang kasusnya.

Perusahaan intel swasta Kroll, menurut The New Yorker, juga ikut dalam upaya ini. Pada Oktober 2016, petinggi Kroll mengirimi Weinstein 11 foto dia dengan McGowan yang sedang bersama-sama. Ada satu foto yang menunjukkan McGowan berbicara hangat dengan Weinstein. Saat ditanya soal ini, pengacara Weinstein, Blair Berk, mengatakan ia berhak tahu apakah gugatan terhadap kliennya dapat dipercaya.

Selain berusaha membungkam korban, Weinstein dituding berusaha mempengaruhi media. Salah satu yang dikontak kaki tangan Weinstein adalah Ronan Farrow dari The New Yorker. Dalam e-mail itu, Filip meminta bertemu, tapi tak ditanggapi. Jurnalis lain yang juga dihubungi adalah Ben Wallace, reporter di New York yang sedang menulis kasus Weinstein. Wallace mengaku dihubungi perempuan bernama Anna pada 28 Oktober 2016. Tapi Wallace curiga dengan motifnya karena Anna berusaha menggali informasi siapa saja sumber beritanya.

Ronan Farrow, jurnalis The New Yorker, mengetahui bahwa Weinstein juga menyewa jasa intel swasta Black Cube, yang didirikan mantan agen dinas rahasia Israel, Mossad. Dalam dokumen kontrak 11 Juli 2017 dikatakan bahwa tujuan operasi itu "memberikan informasi intelijen yang akan membantu usaha klien menghentikan publikasi artikel negatif baru di sebuah surat kabar terkemuka New York". Dalam fakturnya, dikatakan kontrak Weinstein dengan Black Cube bernilai US$ 600 ribu, dengan bonus US$ 300 ribu jika mereka "benar-benar menghentikan" beritanya tidak terbit. Menurut DailyMail, proyek menyelamatkan Weinstein ini diberi nama Operasi Parasut. Nilai kontraknya US$ 1,3 juta.

Salah satu agen yang ditugaskan adalah seorang perempuan. Ronan lantas mengirim foto agen perempuan itu kepada McGowan dan Wallace. McGowan membenarkan itu foto Filip, tapi Wallace menyatakan itu Anna. Alangkah terkejutnya Wallace dan McGowan saat diberi tahu bahwa Anna dan Filip itu orang yang sama dan merupakan agen Black Cube. Nama aslinya, menurut DailyMail.com, adalah Stella Penn Pechanac, 30 tahun, mantan anggota militer Israel yang kini tinggal di Jaffa, Israel.

Juru bicara Weinstein, Sallie Hofmeister, membantah kabar tersebut. "Weinstein tidak pernah melakukan tindakan penyerangan seksual." Soal tudingan memata-matai, Sallie menyebutnya sebagai "ketidakakuratan dan bagian dari teori konspirasi yang liar". Black Cube menolak berkomentar dengan mengatakan, "Black Cube memiliki kebijakan untuk tidak pernah mendiskusikan kliennya dengan pihak ketiga mana pun."

Upaya Weinstein memakai pengacara dan intel swasta berhasil membuat sejumlah perempuan bungkam cukup lama. Tapi berita soal skandal itu tetap terbit. Jodi Kantor dan Megan Twoheyoct menulis skandal ini di The New York Times edisi 5 Oktober 2017. Ronan Farrow menulis untuk The New Yorker pada 10 Oktober lalu. Kehebohan kasus ini mendorong Weinstein Company, perusahaan yang didirikan Harvey Weinstein, memecatnya. Georgina Chapman, istri Weinstein, menceraikannya.

Abdul Manan (The New Yorker, The New York Times, The Guardian)

Majalah Tempo, Rubrik Internasional, 24 Desember 2017

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…