Skip to main content

Dokumen Rahasia Tak Lengkap JFK

PELEPASAN yang telah dinantikan lama dari #JFKFiles akan berlangsung besok. Menarik!" Cuitan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 25 Oktober 2017 itu menggambarkan dengan tepat rasa penasaran lama publik Amerika soal apa saja rahasia yang masih disimpan pemerintah dan badan intelijen negara tersebut soal pembunuhan John F. Kennedy, 53 tahun lalu.


Saat hari yang ditunggu tiba, Badan Arsip Nasional Amerika memasukkan 2.800 dokumen ke situsnya sehingga bisa diakses publik pada Rabu pukul 07.30 dua pekan lalu. Tapi alangkah kecewanya para sejarawan dan jurnalis setelah mengetahui ada ratusan dokumen yang masih dirahasiakan atas permintaan Biro Penyelidik Federal (FBI) dan Badan Intelijen Pusat (CIA) dengan alasan keamanan nasional.

Analis hukum Cable News Network, Jeffrey Toobin, menyebut langkah terbaru pemerintah Trump ini "memalukan" dan keinginan untuk merahasiakan sesuatu itu mengakar dalam. "Ide bahwa dokumen itu tidak dibuka saat ini tidak masuk akal," katanya, seperti dilansir CNN.

Kekecewaan senada diungkapkan Gerald Posner, penulis buku tentang pembunuhan Kennedy, Case Closed: Lee Harvey Oswald and the Assassination of JFK. "Harapan saya rendah," ujarnya soal apakah file rahasia pemerintah ini akan memberi titik terang soal siapa di belakang pembunuhan itu.

Kennedy ditembak saat mengendarai limusin dengan kap terbuka bersama istrinya, Jacqueline, serta Gubernur Texas John Connally dan istrinya, Nellie, pada 22 November 1963 pukul 14.30 di Dallas, Texas. Kennedy tewas tertembak di bagian kepala dan leher. Connally juga terkena timah panas, tapi selamat. Beberapa jam kemudian, polisi menangkap mantan marinir Lee Harvey Oswald. Dua hari sesudah itu, Oswald mati ditembak oleh pemilik klub malam Jack Ruby saat sedang dikawal ketat polisi Dallas.

Presiden Lyndon B. Johnson membentuk komisi penyelidik, yang kemudian dinamai Warren Commission. Komisi ini merilis laporan setebal 888 halaman pada 27 September 1964 yang intinya menyatakan Oswald sebagai pelaku tunggal pembunuhan JFK. Salah satu temuan kontroversialnya adalah peluru tunggal yang mengenai Kennedy dan Connally-yang dikenal sebagai teori "peluru ajaib".

Ada sejumlah informasi baru yang terungkap dari setumpuk dokumen rahasia yang baru dibuka Badan Arsip Nasional. Salah satunya informasi bahwa FBI tahu lebih dini soal kemungkinan serangan terhadap Oswald. Dalam memo bertanggal 24 November 1963, Direktur FBI J. Edgar Hoover menulis bahwa FBI Dallas menerima panggilan telepon dari seseorang yang mengaku akan membunuh Oswald. Ancaman itu disampaikan FBI ke polisi Dallas. Polisi meyakinkan FBI bahwa Oswald akan diberi perlindungan yang cukup.

Apa yang dikhawatirkan Hoover menjadi kenyataan. Oswald, setelah dinyatakan sebagai tersangka penembak presiden, hendak dipindahkan ke tahanan federal. Saat ia sedang berada di lantai bawah kantor kepolisian Dallas, Ruby mendekat dan menembaknya. Penembakan yang terjadi di depan mata puluhan polisi Dallas dan sorotan kamera televisi ini menyulut kecurigaan soal adanya konspirasi dalam kasus tersebut.

Ada pula informasi CIA tentang aktivitas Oswald sebelum menembak Kennedy. Menurut memo CIA, Oswald diketahui berbicara dan kemudian bertemu dengan Valeriy Vladimirovich Kostikov, konsul Uni Soviet (kini Rusia) di Kota Meksiko, September 1963. Adanya kontak ini juga memicu munculnya teori konspirasi bahwa ada tangan Soviet di balik pembunuhan tersebut.

Dalam dokumen itu, CIA mengkonfirmasi bahwa Kostikov adalah agen intelijen Soviet (KGB). Oswald diketahui berbicara dengan Kostikov dengan bahasa Soviet yang belepotan. Keduanya juga sempat bertemu di konsulat. CIA meyakini bahwa percakapan dan pertemuan itu sebagai upaya Oswald untuk mendapatkan kewarganegaraan Soviet.

Terkait dengan soal Soviet, ada memo rahasia yang berisi laporan Hoover ke Gedung Putih. "Menurut sumber kami, pejabat Partai Komunis Uni Soviet percaya ada konspirasi terorganisasi dari kelompok sayap kanan di Amerika Serikat untuk ’kudeta’," begitu menurut memo tersebut. "Mereka (Soviet) tampaknya yakin pembunuhan tersebut bukan tindakan satu orang." Memo yang sama juga mengutip seorang sumber yang mengatakan, "Soviet tidak ada hubungan dengan Oswald."

Salah satu file baru yang mengundang tanda tanya adalah dokumen pemeriksaan Komisi Kepresidenan atas operasi CIA tahun 1975. Saat itu Komisi mewawancarai Direktur CIA Richard Helms. Saat Warren Commission bekerja, Helm menjabat Wakil Direktur Perencanaan CIA. David Belin, pengacara di Komisi Kepresidenan, bertanya apakah CIA terlibat pembunuhan Kennedy. Dokumen tersebut berhenti pada pertanyaan itu dan tak ada halaman yang berisi jawaban Helm.

Dalam teori konspirasi yang beredar di publik, pihak yang juga dituding sebagai kemungkinan pelaku pembunuhan Kennedy adalah CIA. Kennedy dilaporkan tak sejalan dengan CIA. Ini termasuk sikap Kennedy yang menolak memberikan dukungan serangan udara atas misi menjatuhkan Fidel Castro di Kuba, April 1961. Peristiwa yang terkenal sebagai Invasi Teluk Babi itu gagal dan para pelakunya, yang dilatih CIA, ditangkap.

Selain CIA, para pendukung teori konspirasi percaya pelakunya mungkin saja Lyndon B. Johnson, wakil presiden yang kemudian menjadi presiden setelah Kennedy terbunuh. Sekretaris pribadi Kennedy, Evelyn Lincoln, pernah mengatakan bahwa Kennedy berencana mengganti Johnson sebagai wakil presiden dalam pemilihan mendatang. Larry Sabato, penulis The Kennedy Half-Century, menyebut teori itu tak memiliki "bukti kuat".

Rex Bradford, Presiden Maria Ferrell Foundation, menyebutkan masih dirahasiakannya ratusan file membuat teori konspirasi tak terbendung. "Ditahannya sejumlah dokumen itu makin menguatkan teori konspirasi," kata Bradford.

Survei FiveThirtyEight yang dirilis pekan lalu membuktikan itu. Sebanyak 61 persen publik Amerika percaya ada keterlibatan orang lain dan 33 persen yakin Oswald bertindak seorang diri. Hasil ini tak jauh berbeda dengan survei Gallup pada 2013 yang menyatakan 61 persen responden percaya adanya persekongkolan dan 30 persen yakin Oswald pelaku tunggal.

Abdul Manan (cnn, New York Times, Washington Post, Nbc News)

Majalah Tempo, Rubrik Internasional, 5 November 2017

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…