Alarm Kencang Kematian di Yaman

BATOOL Ali menderita kekurangan gizi sejak usia dua tahun. Berat badan anak Desa Mathad, Provinsi Sa’ada, Yaman, ini hanya 7,5 kilogram, di bawah ratarata anak seusianya, 9,9 kilogram. Setelah dirawat di Rumah Sakit AlJomhouri di Kota Sa’ada, ia dibawa pulang dan menjalani perawatan di rumah.


Semuanya berjalan baik sampai Ali terserang kolera. Dua hari kemudian, ia meninggal. "Ia meninggal di pangkuan saya. Saya tidak bisa berbuat apaapa untuk menyelamatkannya," kata ayahnya kepada petugas Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan BangsaBangsa (OCHA) di Yaman dalam laporannya pada Agustus lalu.

Ali merupakan satu dari sekitar 1.600 anak Yaman yang menemui ajal akibat kolera di tengah perang yang berlangsung tiga tahun. Konflik tersebut belum menunjukkan tandatanda akan berakhir.

Selasa pekan lalu, Koordinator OCHA Yaman, Jamie McGoldrick, meminta pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi membuka akses ke semua pelabuhan Yaman untuk mencegah kematian lebih besar. "Kami punya 21 juta orang yang membutuhkan bantuan. Tujuh juta di antaranya dalam kondisi kelaparan dan sepenuhnya bergantung pada bantuan pangan," ujarnya.

Menurut McGoldrick, persediaan makanan dan obatobatan terus menipis di negara dengan populasi 28 juta jiwa ini. Bahan bakar diesel pun hanya tersisa untuk 20 hari, padahal itu penting untuk memompa air dan melawan kolera. Adapun stok bensin hanya sampai 10 hari, gandum untuk 3 bulan, dan pasokan beras sampai 120 hari. Badan PBB yang mengurusi masalah anak, UNICEF, hanya memiliki persediaan vaksin untuk tiga minggu karena pasokannya tertahan di Djibouti dan tak bisa masuk Yaman.

Perang di Yaman dimulai pada Maret 2015, saat pasukan Houthi, yang mengendalikan Ibu Kota Sana’a, bersekutu dengan pasukan yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh. Keduanya bersatu melawan pasukan yang setia kepada pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi, yang bermarkas di Aden. Saat pasukan Houthi sampai di pinggiran Aden pada 25 Maret 2015, Hadi lari ke Arab Saudi. Tak berselang lama, Saudi membentuk pasukan koalisi dan melancarkan operasi militer ke Yaman untuk memulihkan kekuasaan Hadi.

Koalisi Saudi memblokade sejumlah pintu masuk ke Yaman pada tahun lalu. Namun blokade lebih kencang terhadap akses dari darat, laut, dan udara diberlakukan Senin dua pekan lalu setelah Houthi menembakkan rudal jarak jauh Burqan 2H ke bandar udara Riyadh, Arab Saudi, 4 November lalu. Rudal itu bisa dicegat sebelum mendarat.

Saudi menuding roket itu berasal dari Iran, musuh bebuyutannya di Timur Tengah. Tudingan itu dibantah Teheran. Saudi berdalih pengetatan terbaru ini bertujuan mencegah masuknya senjata dari Iran ke tangan Houthi.

SA’ADA, yang terletak di perbatasan dengan Saudi, menjadi sasaran penting karena merupakan tempat kelahiran kelompok Houthi. Menurut Yemen Data Project, pesawat tempur pasukan koalisi Saudi mengebom 2.166 kali sejak awal 2015 atau ratarata 127 per bulan di Sa’ada. Selain menewaskan warga sipil, bom menghancurkan sekolah dan pasar. Sejak awal tahun ini saja, 268 pengeboman menghantam Sa’ada.

Di Kota Sa’ada, pekerja bantuan kemanusiaan telah memperingatkan situasi gizi anak di daerah ini berada pada tingkat darurat. Kota ini memiliki tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak kerdil tertinggi di dunia, dengan 1 dari 8 anakanak terkena dampak gizi buruk. Menurut data UNICEF, lebih dari 67 persen anakanak mengalami kekurangan gizi kronis. "Kami hanya memiliki sejumlah kecil kasus malnutrisi sebelum perang. Setelah perang, banyak," kata Dr Ali alKamadi, pegawai di Departemen Nutrisi Rumah Sakit AlJamhouri.

Meski situasinya memburuk, menurut AlKamadi, AlJamhouri masih bisa bekerja menyelamatkan nyawa, termasuk bayi lakilaki dari Nadia Mohammed. Ia mengatakan menjual semua emasnya untuk membeli makanan yang dapat ia temukan untuk keluarganya. Ibu 33 tahun itu tidak ingat kapan terakhir kali keluarganya makan daging atau nasi.

Sebelum dibawa ke AlJamhouri, bayinya yang berusia 10 bulan, Naji, menangis tanpa henti. Kedua orang tua Naji menyadari perut bayinya mulai membengkak dan mereka memijitnya untuk menghentikan pembengkakan dan mengurangi rasa sakit. "Kami pikir ini akan membantunya pulih, tapi dia terus menangis," ucap Nadia Mohammed.

Akhirnya ia mendengar kabar bahwa Rumah Sakit AlJamhouri masih beroperasi. Saat diperiksa di sana, Naji diketahui menderita malnutrisi parah yang disebut kwashiorkor akibat kekurangan protein dan menyebabkan perut sering kembung. Nasib Naji lebih beruntung daripada Batool Ali. Setelah dirawat, kesehatan Naji membaik dan kemudian menjalani pemulihan di rumah.

Sebelum perang sipil itu, Yaman adalah negara termiskin di Timur Tengah. Perang membuatnya lebih parah. Saat ini, lebih dari 2 juta anak kekurangan gizi, setengah juta di antaranya menderita malnutrisi akut. Dengan fisik lemah karena kekurangan makanan, anakanak tersebut berisiko tinggi meninggal akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, seperti kolera.

Yaman sedang memerangi wabah kolera yang telah menyerang 300 ribu orang dan membunuh lebih dari 1.600 anak sejak 2015. Setiap tahun, sekitar 40 ribu anak di negara ini tidak bisa menikmati hari ulang tahun kelimanya karena keburu meninggal. "Konflik di Yaman memicu salah satu krisis anakanak terburuk di dunia," kata Bismarck Swangin, pejabat di UNICEF Yaman yang berbasis di Sana’a.

Krisis ini diperparah oleh rusaknya sistem perawatan kesehatan negara tersebut akibat perang. Lebih dari separuh fasilitas medis hancur atau ditutup karena kekurangan pasokan obat, peralatan, staf, dan rusaknya infrastruktur. Blokade koalisi Saudi, yang membatasi impor makanan, obatobatan, dan bahan bakar, membuatnya lebih buruk. Warga sipil juga dicegah bepergian ke luar negeri untuk perawatan medis sejak penerbangan komersial ke Sana’a ditangguhkan pada Agustus 2016.

AlJamhouri adalah satu di antara empat rumah sakit yang berfungsi di Provinsi Sa’ada. Rumah sakit ini memiliki bangsal bersalin, pusat trauma, bangsal bedah, dan ruang gawat darurat. Organisasi medis internasional, Doctors Without Borders (MSF), mendukung rumah sakit tersebut dengan obatobatan, peralatan medis, dan staf.

MSF menarik orangorangnya dari Yaman pada 15 Agustus 2016 setelah pengeboman udara ke rumah sakit yang didukungnya, Rumah Sakit Abs di Provinsi Hajjah, menewaskan 19 orang dan melukai 24 lainnya. Kasus itu membuat MSF menilai Sa’ada terlalu berbahaya bagi staf mereka.

Dalam konferensi penggalangan dana untuk Yaman, 25 April lalu, PBB hanya berhasil mengumpulkan US$ 1,1 miliar dari target US$ 2,1 miliar untuk kebutuhan 2017. "Di Yaman, tidak ada pemenang di medan perang. Yang kalah adalah orangorang Yaman yang menderita akibat perang ini," kata Ismail Ould Cheikh Ahmed, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Yaman, kepada Dewan Keamanan PBB, 10 Oktober lalu. Ia mendesak anggota badan dunia itu menggunakan kekuatan politik dan ekonominya untuk menekan pihakpihak yang berperang menempuh penyelesaian secara damai.

Abdul Manan (Huffington Post, Reuters)

Majalah Tempo, Rubrik Internasional, 19 November 2017

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO