Skip to main content

Karya Pria dengan Panggilan Papa

SETIDAKNYA ada 10 novel, 4 buku nonfiksi, dan 9 cerita pendek yang ditulis Ernest Hemingway semasa hidupnya. Pria yang akrab disapa "Papa" itu penulis produktif yang pengaruhnya masih terasa dalam sastra Barat sampai sekarang. Sebagian besar fiksinya, kata Esther Lombardi dalam thoughtco.com edisi 20 Desember 2015, didasarkan pada pengalamannya sebagai petualang, penjelajah dunia, dan wartawan perang.


Karya terbaik Hemingway, atau mungkin terpopuler tepatnya, adalah The Old Man and the Sea. Novel pendek ini menggunakan kisah Santiago, nelayan Kuba sial yang bertempur dengan marlin dan hiu di laut. Struktur mirip dongeng dari novel itu membuat ceritanya terlihat simbolis sehingga dianggap sebagai alegori perjuangan manusia melawan alam. Hemingway, seperti pernah dikatakan kepada kritikus Bernard Berenson, membantahnya. "Laut adalah laut, orang tua itu adalah orang tua.... Semua simbolisme yang orang katakan adalah omong kosong."

Meski sudah terkenal sebelumnya karena sejumlah novel, seperti The Sun Also Rises (1926), A Farewell to Arms (1929), dan For Whom the Bell Tolls (1940), The Old Man and the Sea (1952) dianggap sebagai yang melambungkan namanya sebagai sastrawan. Para kritikus menyukai buku itu. Majalah Life, yang menampilkan karya itu dalam edisi September 1952, terjual 5 juta eksemplar hanya dalam dua hari. Cerita pendek itu juga yang mengantarkannya sebagai penerima penghargaan bergengsi Pulitzer pada 1953 dan dikutip sebagai alasan Hemingway menerima Hadiah Nobel pada 1954.

Menurut Lombardi, Hemingway menyebut gaya tulisannya yang tanpa hiasan itu sebagai Teori Iceberg. Fakta-fakta dalam cerita itu seperti melayang di atas air, tapi struktur pendukungnya, atau makna sebenarnya, tidak segera terlihat. Menurut Hemingway, seorang penulis bisa menggambarkan satu rangkaian peristiwa, sedangkan "tindakan" sebenarnya dari cerita tersebut tidak pernah dinyatakan secara eksplisit.

Sastrawan Indonesia, Sapardi Djoko Damono, menyebut Hemingway sebagai penulis yang memiliki cara berkisah yang unik. Ia menyebutnya "gaya jurnalistik". "Dalam karya Hemingway, ’cerita’ disampaikannya seolah-olah sebagai ’berita’. Saya setuju dengan pendapat Ezra Pound, yang mengatakan literature is news that stays news, yang artinya tidak pernah basi, tidak seperti berita," kata Sapardi, yang menerjemahkan The Old Man and the Sea ke bahasa Indonesia pada 1970-an.

Yapi Panda Abdiel Tambayong, yang memiliki nama pena Remy Sylado, punya pandangan senada. "Kekuatan karya Hemingway pada detail. Dia bisa bercerita tentang suatu tempat dari kacamata seorang wartawan. Itulah yang terlihat dalam The Old Man and the Sea dan The Snows of Kilimanjaro. Tak semua orang mempunyai kemampuan seperti itu," kata penulis novel Ca Bau Kan, Parijs van Java, dan Namaku Mata Hari ini. "Selain detail, juga segi kemanusiaannya."

Bagi penyair Goenawan Mohamad, yang memikat dari Hemingway adalah "prosanya yang dibangun dan dihidupkan kalimat-kalimat pendek, kata benda yang hampir tanpa adjektif, jarang sekali memakai kata benda abstrak, cerah tapi dengan kombinasi-kombinasi yang mengejutkan-dan mengandung sesuatu yang kosong dan sayu di antaranya".

Tak semua peminat sastra, kata Goenawan, menyukai Hemingway. Ia menyebut Idrus, sastrawan 1940-an, pernah mencemooh Hemingway sebagai bagian ekspresi ringan seperti "jazz dan swing" dan tak berbobot. Idrus lebih menyukai novel-novel besar Eropa, khususnya Rusia. "Tapi saya kira dia luput menangkap bahwa dalam Hemingway ada kedalaman perspektif tentang hidup yang dengan gaya penulisannya ditandai gerak, kefanaan, dan ketidaklengkapan."

Abdul Manan

BOKS
Sekilas Hemingway

1899
21 Juli Lahir di Oak Park, Illinois, Amerika Serikat. Dia anak kedua dari enam bersaudara dari pasangan Clarence Hemingway, seorang dokter, dan Grace Hall Hemingway, guru musik.

1917
Lulus sekolah menengah atas, ia tidak kuliah dan menerima pekerjaan sebagai reporter koran Kansas City Star.

1918
30 April Hemingway meninggalkan Kansas City Star dan mencoba bergabung dengan Angkatan Darat Amerika, tapi ditolak karena masalah penglihatan. Ia pun menjadi sopir relawan Korps Ambulans Palang Merah.
8 Juli Saat membagikan persediaan kepada tentara di Italia, Hemingway terluka parah akibat mortir dan senapan mesin. Kariernya sebagai sopir ambulans berakhir. Saat dirawat di rumah sakit, Hemingway jatuh cinta kepada perawatnya, Agnes von Kurowsky.

1919
Januari Asmaranya dengan Agnes berakhir. Hemingway patah hati. Roman ini mengilhami karyanya,
A Farewell to Arms.

1920
Hemingway pindah ke Toronto, Ontario, menjadi reporter koran Toronto Star.

1921
3 September Hemingway menikahi Elizabeth Hadley Richardson.
8 Desember Hemingway dan Elizabeth berlayar ke Paris, Prancis. Di sana ia bekerja sebagai koresponden Toronto Star serta kerap berkumpul di lingkaran penulis dan seniman.

1923
Buku pertama Hemingway, Three Stories and Ten Poems, diterbitkan.

1926
Novel pertama Hemingway, The Sun Also Rises, diterbitkan. Novel ini diakui secara kritis dan sukses secara komersial.

1927
Hemingway bercerai dengan Elizabeth Hadley pada 4 April. Sebulan kemudian, dia menikahi Pauline Pfeiffer, penulis mode. Pada tahun yang sama, ia menerbitkan koleksi cerita pendek Man without Women.

1928
Hemingway dan Pauline meninggalkan Paris dan pindah ke sebuah rumah di Key West, Florida. Ayah Hemingway bunuh diri pada 6 Desember.

1932
Hemingway pergi ke Spanyol untuk meneliti adu banteng untuk The Death in Afternoon.

1933
Pauline dan Hemingway berkunjung ke Kenya untuk safari sepuluh minggu. Perjalanan ini mengilhami banyak karya fiksi dan nonfiksi, termasuk Green Hills of Africa dan cerita pendek Snows of Kilimanjaro.

1937
Novel To Have and Have Not terbit. Hemingway pergi ke Spanyol guna melaporkan perang sipil Spanyol untuk Aliansi Koran Amerika Utara. Dia mengembangkan sikap anti-Franco yang kuat.

1938
Fifth Column, satu-satunya drama panjang Hemingway, dan 49 cerita pendek pertama dalam kariernya, diterbitkan dengan judul Fifth Column and the First Forty Nine Stories.

1940
Hemingway menceraikan Pauline pada 4 November. Kurang dari tiga minggu kemudian, dia menikahi jurnalis Martha Gellhorn. Pasangan ini tinggal di Finca Vigia, Kuba.
For Whom the Bell Tolls, novel berlatar belakang perang Spanyol, terbit.
Amerika Serikat masuk kancah Perang Dunia II. Hemingway menjadi relawan untuk Angkatan Laut, melengkapi kapal nelayannya, Pilar, dengan senjata untuk mencari kapal selam Jerman, U-boat, di lepas pantai Kuba.

1941
Hemingway bersama Martha mengunjungi Cina.

1944
Persaingan profesional dengan Martha, yang juga koresponden perang yang sukses, menyebabkan hancurnya perkawinan mereka.

1945
21 Desember Hemingway bercerai dengan Martha.

1946
Hemingway menikahi koresponden perang lainnya, Mary Welsh—istri keempat dan terakhirnya—pada 14 Maret.

1950
Novel Across the River and Into the Trees diterbitkan. Ini adalah novel yang paling buruk yang diulas dalam kariernya.

1952
1 September The Old Man and the Sea diterbitkan di majalah Life. Novel ini membuat Hemingway sukses secara komersial.
1953
Hemingway dianugerahi Hadiah Pulitzer untuk The Old Man and the Sea.

1954
10 Desember Hemingway dianugerahi Hadiah Nobel Sastra. Dia belum pulih dari cedera serius dalam dua kecelakaan dan kebakaran semak belukar di awal tahun sehingga tidak dapat melakukan perjalanan ke Stockholm untuk menerima penghargaan tersebut.

1961
Hemingway meninggalkan Kuba setelah revolusi 1959 yang dipimpin Fidel Castro.
2 Juli Hemingway bunuh diri dengan menembak dirinya di rumahnya di Ketchum, Idaho, Amerika.

Bahan: Disarikan dari shmoop.com

Majalah Tempo, Rubrik Iqra, 7 Agustus 2017

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…