Monday, November 21, 2016

Direnggut Teror setelah 'Amen'

Intan Olivia Banjarnahor menggelayut manja di pangkuan bapaknya, Ahad pagi dua pekan lalu. "Pak, saya mau main," kata bocah dua setengah tahun itu kepada sang bapak, Anggiat Manuppak Banjarnahor.


Intan tergoda oleh ajakan temannya, Trinity Hutahayan, yang berlari-lari di dekat barisan bangku belakang Gereja Oikumene, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Melihat Intan dipangku, Trinity, 3 tahun, menjulurkan tangan. "Ayo, Tan, main," katanya.

Tak menunggu Intan merajuk, Anggiat melepaskan anaknya dari pangkuan. Intan dan Trinity berlari kecil ke luar pintu gereja. Anggiat sama sekali tak menyangka itulah pangkuan terakhir untuk buah hatinya.

Sekitar dua menit setelah Intan lepas dari pangkuan ayahnya, seseorang melemparkan bom molotov ke halaman gereja di Jalan Cipto Mangunkusumo Nomor 37 itu. Selain merusak empat sepeda motor, api bom molotov membakar tubuh empat anak balita, termasuk Intan.

Luka bakar Intan, di lebih dari 70 persen tubuhnya, paling serius dibanding korban lain. Paru-paru bocah ini pun membengkak karena menghirup asap ledakan. Di rumah sakit, Intan hanya bertahan 17 jam. "Intan meninggal karena luka bakar yang parah," kata Rachim Dinata, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah A.W. Sjahranie.

Pelempar bom molotov yang menewaskan Intan bernama Juhanda, 33 tahun. Warga sekitar Gereja Oikumene mengenal dia sebagai takmir atau penjaga Masjid Al-Mujahidin. Jarak masjid itu dengan Gereja Oikumene hanya sekitar 200 meter. Sehari-sehari Juhanda berjualan ikan yang dia besarkan dalam keramba di Sungai Mahakam, tepat di belakang masjid.

Bom molotov di Gereja Oikumene bukan teror pertama dari Juhanda. Sulung dari tiga bersaudara ini terlibat teror bom buku di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur, serta teror bom Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, pada 2011. Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada 29 Februari 2012 menghukum Juanda 3 tahun 6 bulan penjara. Sejak bebas bersyarat pada 28 Juli 2014, Juhanda menetap di Samarinda.

Setelah melemparkan bom molotov, Juhanda berusaha kabur dengan mencebur ke Sungai Mahakam. Ia berenang menuju kapal pengangkut pasir yang berlayar di tengah sungai. Warga yang marah terus mengejar Juhanda. Terkepung di atas kapal, Juhanda akhirnya tertangkap. Massa sempat menghajar lelaki kelahiran Kuningan, Jawa Barat, itu sebelum menyerahkannya kepada polisi.

***

Pagi hari itu, kehidupan di rumah kayu di Jalan Jati 3 Nomor 70, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Samarinda Seberang, menggeliat seperti hari-hari Ahad sebelumnya. Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 ketika Intan terbangun dari tidur lelapnya.

Intan lalu membangunkan bapaknya, Anggiat, 33 tahun. Ibunya, Diana Susan Sinaga, 32 tahun, yang bangun terakhir, bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi sebelum keluarga ini berangkat ke gereja.

Jarak dari rumah Intan ke Gereja Oikumene tak lebih dari lima kilometer. Dengan sepeda motor, mereka hanya perlu waktu sekitar setengah jam untuk tiba di gereja.
Setelah memandikan Intan, Diana menyerahkan anak itu kepada bapaknya. Diana kembali ke dapur. "Saya memasak telur dadar. Itu sarapan kesukaan Intan," kata Diana, mengenang pagi itu, Kamis pekan lalu. "Kalau pakai telur dadar, dia bisa nambah makannya."

Diana menyuapi putri semata wayangnya itu sampai nasi terakhir. Setelah sarapan kelar, Intan kembali kepada Anggiat, yang sudah siap dengan setelan baju dan celana.

"Bukan itu pasangannya, Pak," ujar Intan ketika melihat baju pilihan bapaknya.
"Terus yang mana?" tanya Anggiat.
Intan tak menjawab, tapi telunjuknya mengarah ke celana jins berwarna merah.
"Ini pasangannya. Cantik kan, Pak?" kata Intan.

Gadis cilik itu memilih setelan baru hadiah pamannya dari Medan.

Semua persiapan baru kelar ketika jarum jam menunjukkan pukul 08.00. Berboncengan di atas sepeda motor, keluarga ini bergegas menuju gereja. Mereka tiba di gereja setelah ibadat pagi berjalan setengah jam. "Kami terlambat," ujar Anggiat.

Setelah memarkir sepeda motor, Anggiat buru-buru masuk ke gereja. Sedangkan Diana mengantar dulu Intan ke sekolah ibadat Minggu di belakang gereja. Karena tak masuk bersamaan, di dalam gereja, pasangan ini duduk terpisah. Anggiat duduk di sisi kiri barisan kursi paling belakang. Sedangkan Diana duduk di sisi kanannya. Mereka dipisahkan deretan bangku bagian tengah.

Ketika Anggiat khusyuk berdoa, Intan masuk ke gereja diantar temannya. Anggiat tak sempat bertanya mengapa Intan menangis. Tak mau mengganggu ibadat, Anggiat segera menggendong Intan ke luar. Setelah tangisan Intan mereda, Anggiat kembali ke tempat duduknya semula. Intan belum turun dari pangkuan sang ayah.
Tak berselang lama, Trinity melintas di dekat tempat duduk Anggiat. Intan berbisik meminta izin bermain. Kedua anak perempuan itu tinggal berdekatan. Rumah mereka hanya terpisah dua rumah tetangga. Intan biasa memanggil Trinity "Kakak" karena umurnya lebih muda sekitar enam bulan.

Anggiat masih mengingat dengan jelas bagaimana Intan dan Trinity berlari kecil, sambil bergandengan tangan, menuju pintu keluar gereja. Di mimbar, kala itu pendeta baru saja mengucapkan kata "Amen". Jemaat menimpali dengan kata yang sama.

Tepat pukul 09.50, ibadat pagi selesai. Jemaat bersalaman untuk berpamitan. "Saya sedang berjalan menuju pintu keluar," ujar Mawarni Hutahayan, anggota jemaat. Saat itulah terdengar ledakan dari luar. Jemaat panik ketika melihat kepulan asap hitam masuk melalui sela-sela pintu gereja.

Anggiat seketika teringat pada anaknya. Tak menghiraukan asap hitam itu, setengah berlari dia menuju halaman gereja. Tapi, di luar, pandangan Anggiat tersaput asap. Ketika asap mulai menipis, Anggiat melihat tubuh Intan seperti bersujud di lantai. Lidah api masih menjilati baju merah anak itu. "Saya tak tahu posisi korban lain di mana. Saya hanya tahu anak saya," ujar Anggiat.

Pagi itu, empat anak bermain di halaman gereja. Di samping Intan dan Trinity, ada Alvaro Sinaga, 5 tahun, dan Isabel Sihotang, 2 tahun.
Anggiat berusaha memadamkan api di tubuh Intan. Ia melepaskan baju anaknya yang masih terbakar. "Saya tak peduli tangan saya ikut terbakar," kata Anggiat. Ketika baju yang terbakar dibuka, kulit Intan ikut terkelupas.

Anggiat langsung memeluk buah hatinya. Setelah itu, ia menyerahkan anaknya ke Diana. Perempuan yang tengah mengandung empat bulan itu memeluk Intan dengan erat. "Saya hanya sanggup memeluk dia," ujar Diana. Sampai akhirnya ada orang yang mengambil Intan dari pelukan Diana dan membawanya ke puskesmas terdekat.

Keempat anak yang terluka bakar dibawa ke Puskesmas Loa Janan, sebelum dirujuk ke Rumah Sakit I.A. Moeis. Intan masih menangis ketika dibawa ke puskesmas dan Rumah Sakit I.A. Moeis. Intan dan Trinity akhirnya dibawa ke RSUD A.W. Sjahranie karena luka bakarnya lebih serius. Dua anak lain, karena luka bakar di tubuhnya di bawah 20 persen, tetap dirawat di Rumah Sakit I.A. Moeis.

Sejak dibawa ke RSUD A.W. Sjahranie, Intan tak pernah sadar lagi. Keesokan harinya, pukul 05.00, Intan meninggalkan kedua orang tua, kerabat, dan semua teman dekatnya untuk selamanya.

***

Ditemui di rumahnya, Kamis pekan lalu, Diana mengenang kembali dua insiden sandal Intan yang tertinggal. Sehari sebelum hari nahas itu, Sabtu siang, Diana membawa Intan naik sepeda motor ke Pasar Harapan Baru.

Setelah Diana selesai berbelanja, ketika hendak pulang, perhatian Intan tersedot oleh tumpukan pentol--penganan berbentuk bulat dari tepung--yang dijual di pinggir jalan. Intan minta dibelikan jajanan itu, tapi Diana tak menurutinya. "Dia merajuk," kata Diana.

Dalam perjalanan pulang, satu blok sebelum sampai di rumah, Intan tiba-tiba berteriak, "Bu, sandal Intan dibuang." Diana mendadak menarik rem sepeda motor karena kaget. Ia menanyakan di mana Intan membuang sandalnya. Intan tak menjawab dengan jelas.

Diana memutar balik sepeda motor ke arah pasar. Sepanjang jalan, Diana melihat-lihat sekeliling. Sandal Intan akhirnya ditemukan di pasar. Ketika hendak pulang, Intan kembali minta dibelikan pentol. Kali ini, Diana memenuhi permintaan anaknya. "Pentol memang kesukaan dia," ujar Diana.

Di rumah, sore harinya, Diana bersiap ke luar rumah lagi. Malam itu, Diana harus menghadiri arisan keluarga di Kelurahan Sungai Keledang, Samarinda Seberang. Acara dimulai pada pukul 19.00. Biasanya, acara baru berakhir pada pukul 22.00.

Di tengah obrolan arisan keluarga, Intan rupanya mengantuk. "Bu, minta bantal sama kipas," kata Intan. Diana tak memenuhi permintaan itu. Tanpa bantal dan kipas angin, Intan berbaring di paha ibunya. "Dia seperti kepanasan. Bajunya sampai disibakkan ke atas," ujar Diana. Setelah hampir satu jam dininabobokan, Intan baru terlelap. Gadis itu tak terjaga ketika dibopong pulang. Esok paginya, Diana baru menyadari sandal kesayangan Intan tertinggal lagi di tempat arisan. Ketika pergi ke gereja, Intan terpaksa memakai sepatu.

Diana memasukkan sandal kesayangan anaknya itu ke dalam peti jenazah. Bukan hanya sepasang sandal yang menemani Intan di kuburan. Kerabat yang bekerja sebagai bidan, Asmiana Nainggolan, memasukkan barang kesayangan Intan lainnya ke dalam peti mati. Salah satunya stetoskop.

Asmiana bercerita, Intan senang bermain peran sebagai dokter cilik. Suatu hari, Intan mengenakan stetoskop dan memeriksa Asmiana, yang pura-pura sakit. Adegan itu terekam di dalam telepon seluler Asmiana. "Ini, Mas, Intan pakai sedang memeriksa saya," kata Asmiana menunjukkan rekaman video itu kepada Tempo.

Intan dimakamkan di permakaman Kristen Putaq, Desa Loa Duri Ilir, Kutai Kartanegara, pada Selasa pekan lalu. Upacara pemakaman berlangsung di tengah guyuran hujan. Diana hanya sanggup bersandar di dada Anggiat. Sang suami sekuat tenaga memapah sang istri yang berduka kehilangan anak tercintanya.

Abdul Manan (Jakarta), Firman Hidayat (Samarinda), Deffan Purnama (Kuningan)

Dimuat di Majalah Tempo edisi 21-27 November 2016

No comments: