Skip to main content

Orang Menteri di Pusaran Suksesi

IBARAT virus, kisruh pemilihan rektor telah menyebar ke sejumlah universitas.  Semula, yang mencuat sampai ke Jakarta hanya kisruh pemilihan rektor Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara. Ternyata banyak universitas di daerah lain yang juga "meriang" karena terpapar "virus" yang sama.


Sejumlah pengajar Universitas Haluoleo, awal September lalu, mengadukan kejanggalan dalam persiapan pemilihan rektor ke Ombudsman Republik Indonesia. Menurut anggota Ombudsman, Alamsyah Saragih, laporan yang masuk antara lain menyebutkan akal-akalan pengangkatan anggota senat universitas untuk memuluskan salah satu calon rektor.

Ombudsman sudah menyurati Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Sehari sebelum jadwal pemilihan, pada 26 September lalu, Kementerian membalas surat  Ombudsman. Kementerian memberi tahu bahwa pemilihan rektor Universitas Haluoleo ditunda tanpa batas waktu. "Kami masih memantau persiapan pemilihan ulang," kata Alamsyah, Kamis pekan lalu.

Kisruh di Universitas Haluoleo untuk sementara mereda. Tapi pekerjaan Alamsyah dan kawan-kawan belum tuntas.  Seperti gunung es, kasus Universitas Haluoleo hanya sebagian kecil dari puncak yang terlihat. Di bawahnya, di universitas lain, masih banyak kisruh yang tersamarkan. "Banyak yang mengeluh ke kami. Tapi informasinya belum lengkap," ujar Alamsyah.

Di beberapa universitas, kasak-kusuk terjadi jauh-jauh hari sebelum hari pemilihan. Aturannya, enam bulan sebelum masa jabatannya berakhir, rektor lama harus membentuk panitia pemilihan rektor baru. "Sejak panitia terbentuk, suasana kampus biasanya mulai memanas," kata Inspektur Jenderal Kementerian Riset, Jamal Wiwoho, Selasa pekan lalu. Sebelumnya, kata Jamal, jabatan rektor merupakan tugas tambahan untuk para guru besar. "Kini kursi rektor menjadi incaran banyak orang."

Belakangan, ada juga yang memancing di air keruh. "Makelar jabatan" masuk ke pusaran konflik pemilihan rektor di sejumlah universitas. Pintu masuk bagi makelar adalah kuota suara 35 persen yang dimiliki Menteri Riset dalam setiap pemilihan rektor universitas negeri. Mengaku-aku dekat dengan Menteri, makelar mendekati para calon rektor dan menjanjikan dukungan suara 35 persen itu. Jejak "makelar" antara lain tercium dalam pemilihan Universitas Jambi.

***

TIGA calon berlaga dalam pemilihan rektor Universitas Jambi pada Agustus tahun lalu. Mereka adalah Aulia Tasman, yang merupakan rektor lama; M. Rusdi, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan; dan Johni Najwan, Ketua Program Doktor Ilmu Hukum. Ketiganya menyisihkan tiga kandidat lain dalam penyaringan tahap awal.

Dalam pemilihan tingkat senat pada 25 Agustus 2015, Aulia dan Rusdi meraih 16 suara, sementara Johni hanya mendapatkan 14 suara. Tapi ini baru skor "semifinal", yang akan diuji dalam pemilihan akhir pada 12 November 2015. Di putaran final, ada faktor lain yang menentukan: suara milik Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Di samping 52 suara senat universitas, ketiga kandidat rektor harus memperebutkan 28 suara Menteri (35 persen dari perhitungan 80 suara). "Karena ingin menang, kami mencari jalur untuk mendapatkan dukungan Menteri," kata Agus Setyonegoro, anggota tim sukses M. Rusdi, Rabu pekan lalu.

Awal September 2015, Rusdi dan tim suksesnya menemui M. Fuadi Lutfi di sebuah rumah makan Padang di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta. Kepada Rusdi, Fuadi mengaku punya akses ke Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir. Dalam pertemuan itu, menurut seorang anggota tim sukses Rusdi, Fuadi menyatakan bisa membantu mendapatkan dukungan Pak Menteri. Pada akhir pertemuan, terlontar pula bahwa mahar untuk mendapat dukungan itu minimal 1 sampai 1,5 meter. "Memang ada permintaan seperti itu," kata Agus, yang memahami kode "meter" sebagai pengganti kata "miliar".

M. Fuadi Lutfi mengakui sempat bertemu dengan Rusdi di Sarinah. Namun, menurut Fuadi, sebelumnya ia tak tahu bahwa Rusdi menemuinya untuk urusan pencalonan sebagai rektor. Soal permintaan uang Rp 1,5 miliar, Fuadi pun membantah keras. "Itu fitnah dan sama sekali tidak benar," ujar Fuadi lewat surat elektronik, Jumat pekan lalu.

Seusai pertemuan di Sarinah, kepada tim suksesnya, Rusdi menyatakan tidak sreg dengan permintaan "mahar" itu. Tim sukses Rusdi pun mencari cara lain. Muncullah ide untuk menemui petinggi Partai Kebangkitan Bangsa-partai yang menyokong Nasir hingga masuk kabinet-di Jakarta.

Pada 6 Oktober 2015, Rusdi dan timnya menemui Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di kantor pusat partai itu di Jalan Raden Saleh, Jakarta. Menurut anggota tim sukses Rusdi yang menghadiri pertemuan, kala itu Muhaimin mengapresiasi langkah Rusdi maju dalam pemilihan calon rektor. Pada akhir pertemuan, Rusdi dipersilakan menghubungi Lukmanul Hakim, anggota staf khusus Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir. Kala itu Lukmanul berada di kantor PKB.

Muhaimin Iskandar, saat dimintai konfirmasi soal ini, hanya menitip pesan lewat orang dekatnya, Abduh. "Beliau tidak tahu sama sekali urusan rektor Jambi dan tidak mau ikut-ikutan dengan urusan pemilihan rektor," kata Abduh, Jumat pekan lalu.

Pertemuan Rusdi dengan Lukmanul juga singkat saja. Seperti halnya Muhaimin, Lukmanul menganggap positif pencalonan Rusdi. "Pada akhir pertemuan, Pak Lukman mengatakan, komunikasi selanjutnya silakan melalui Fuadi Lutfi," kata Agus Setyonegoro. Agus mengaku tak ikut dalam pertemuan itu. Namun ia mendapat cerita detail tentang hasil pertemuan itu dari koleganya sesama tim sukses Rusdi.

Lukmanul Hakim mengakui pernah bertemu secara tidak sengaja dengan tim sukses Rusdi. "Saat itu saya hadir karena undangan mujahadah rutin di DPP PKB," kata Lukmanul via surat elektronik, Jumat pekan lalu. Namun dia membantah kabar meminta tim sukses Rusdi membicarakan lebih detail urusan pencalonan dengan Fuadi.

Saran untuk kembali bertemu dengan Fuad Lutfi, menurut Agus, membuat Rusdi tak bersemangat. Apalagi belakangan Rusdi juga tahu bahwa Fuadi Lutfi tak lain adalah anggota staf Lukmanul. "Kalau akhirnya harus bayar, buat apa?" kata Agus menirukan ucapan Rusdi. Ketika dimintai konfirmasi soal cerita ini, Rusdi tak mau berkomentar banyak. "Maaf, kalau transaksional seperti itu melanggar nilai yang saya anut," ujar Rusdi.

Pemilihan rektor Universitas Jambi akhirnya berlangsung pada 12 November 2015. Hasilnya berbeda dari pemilihan di tingkat senat universitas. Johni Najwan, yang sebelumnya berada di posisi buncit, memimpin dengan 40 suara. Sedangkan Aulia Tasman meraup 22 suara dan M. Rusdi 18 suara.

Johni menolak kemenangannya dikait-kaitkan dengan lobi ke Jakarta. Ia mengklaim didukung Menteri karena berprestasi, loyal, dan punya rekam jejak yang baik. "Saya tak pernah tersangkut masalah hukum," kata Johni. Meski begitu, sebelum pemilihan rektor, Johni mengakui pernah menemui pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Pengurus Pusat Muhammadiyah di Jakarta. "Itu dalam konteks meminta restu," kata Johni, Kamis pekan lalu.

Selain di Universitas Jambi, pemilihan rektor di Universitas Sumatera Utara juga menyisakan ketidakpuasan. Pemicunya masih seputar jatah suara Menteri. Pada tahap penyaringan di tingkat senat, 18 Januari 2016, suara mengerucut pada tiga nama. Runtung Sitepu memperoleh 45 suara, Zulkifli Nasution 42, dan Sublihar 7.

Ketua Majelis Wali Amanah Universitas Sumatera Utara Todung Mulya Lubis menuturkan sejak awal proses pemilihan ia telah menjalin kesepakatan dengan Menteri Nasir untuk mengusung Zulkifli. Alsannya, Zulkifli dianggap bebas dari kepentingan "penguasa lama" di Universitas Sumatera Utara. "Dia bersih," kata Todung. Pengacara senior ini mengaku ditunjuk Nasir sebagai Ketua Majelis Wali Amanah untuk membenahi sejumlah masalah di universitas ini. Salah satunya adalah mengisi kursi rektor yang kosong selama dua tahun.

Menurut Todung, kesepakatan dengan Nasir berantakan menjelang hari pemilihan, 21 Januari 2016. Dalam pemilihan di Gedung Kementerian yang berlangsung sore hari itu, calon yang sedianya diunggulkan malah kalah. Justru Runtung yang melejit, dengan meraih 19 suara. Adapun  Zulkifli Nasution hanya memperoleh 8 suara dan Subhilhar 5 suara. "Menteri tak menepati janji," kata Todung.

Menteri M. Nasir membenarkan pernah berkomunikasi dengan Todung mengenai pembenahan Universitas Sumatera Utara. "Saya hanya ingin konflik di kampus itu berakhir," ujar Nasir kepada Tempo, Kamis dua pekan lalu.

Sejumlah sumber di Universitas Sumatera Utara bercerita, kemenangan Runtung tak lepas dari lobi tokoh PKB dan NU Sumatera Utara. Ketika memperingati Hari Santri, 22 Oktober 2015, pengurus NU menyambut Runtung dengan sebutan "Rektor USU", padahal pemilihan masih jauh. Todung pun pernah mendengar informasi tersebut.

Runtung membantah menggunakan jalur PKB dan NU untuk meraih jabatan rektor. Menurut dia, kedekatannya dengan tokoh PKB dan NU hanya sebatas sahabat. "Saya dekat dengan semua partai di sini," kata Runtung, Rabu pekan lalu. Kedekatan itu, kata dia, "Untuk membangun universitas agar lebih mudah mendapat dana."

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PKB Abdul Wahid Maktub mengatakan mungkin saja ada calon rektor yang berusaha masuk lewat PKB atau NU. "Namanya orang usaha ingin menang," kata Wahid, Selasa pekan lalu. Namun, menurut  Wahid, pilihan Menteri atas calon rektor murni karena pertimbangan rasional dan obyektif. "Kadang-kadang ada masukan dari NU dan PKB, tapi tak selamanya diterima," ujar dia. Di samping menjadi pengurus PKB, Wahid juga anggota staf khusus Menteri Nasir.

Sekretaris Jenderal DPP PKB Abdul Kadir Karding, Jumat pekan lalu, mengaku sedang mengecek informasi yang membawa nama partainya terkait soal pemilihan rektor itu. "Memang tak jarang ada orang yang mengaku dapat mempengaruhi keputusan, padahal faktanya tidak. PKB mengimbau orang tidak mudah percaya pada orang yang mengaku dekat dengan menteri atau partai yang mengklaim dapat mempengaruhi kebijakan, termasuk di Kementerian Pendidikan Tinggi."

Adapun Nasir mengatakan sudah mendengar ada tuduhan miring atas dirinya. Namun Nasir membantah pernah menjanjikan dukungan kepada calon rektor tertentu melalui orang-orang dekatnya. "Ada yang mengatakan saya menerima uang. Silakan lapor ke polisi," ujar Nasir (lihat wawancara "Banyak yang Memanfaatkan Nama Saya").

A. Manan, Linda T. , Syailendra P.  (Jakarta), Syaipul B.  (Jambi), Iqbal H.  (Bandarlampung), A. Al Faruqi (Padang), Anwar S.  (Bandung), Iil Azkar M. (Medan), Edi F. (Semarang)

Dimuat di Majalah Tempo edisi 24-30 Oktober 2016

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.