Monday, September 07, 2015

Mordechai Vanunu Buka Mulut Soal Penangkapannya oleh Mossad

Mata-mata nuklir Israel, Mordechai Vanunu, melakukan wawancara dengan TV Israel, Channel 2, Rabu malam, yang mengisahkan penangkapannya oleh agen intelijen Israel, Mossad, melalui perangkap perempuan bernama "Cindy".


Menurut www.i24news.tv edisi 3 September 2015, itu adalah wawancara pertama Vanunu dengan TV Israel setelah ia menjalani hukuman penjara selama 18 tahun karena membocorkan informasi program nuklir Israel, program yang selama ini tak pernah diakui oleh pemerintah Tel Aviv.

Dalam wawancara itu Vanunu mengatakan bahwa ia tidak pernah menduga bahwa "Cindy", perempuan yang telah meyakinkannya untuk terbang ke Roma dengan dia, adalah seorang agen Mossad. Dia mengatakan bahwa ia baru menyadari identitas "Cindy" ketika ia diculik oleh agen yang sudah ada di kamar hotel mereka di Roma.

Vanunu menghabiskan 18 tahun di sebuah penjara Israel karena mengungkapkan informasi dan foto-foto yang telah dikumpulkannya selama bekerja di fasilitas nuklir Dimona, Israel, untuk koran Sunday Times Inggris pada tahun 1986.

Vanunu telah tinggal di Yerusalem sejak dibebaskan dari penjara pada tahun 2004. Tapi ia masih dalam penagwasan yang ketat, termasuk tidak diperbolehkan untuk meninggalkan Israel atau untuk berbicara dengan orang asing.

Mordechai Vanunu mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung Israel bulan lalu untuk memberinya kebebasan untuk bepergian ke luar negeri, dan mengklaim bahwa ia bukan ancaman bagi keamanan nasional. Pengadilan dijadwalkan meninjau permohonan Vanunu pada bulan ini.

Pembatasan ketat terhadap Vanunu, yang diberlakukan oleh Mahkamah Agung Israel, telah dikutuk oleh kelompok hak asasi manusia internasional. Pengacara Vanunu mengatakan bahwa pembatasan perjalanan kepada kliennya merugikan hak asasi manusianya.

Vanunu menyatakan ingin tinggal di Norwegia, di rumah istri yang dinikahinya sekitar 3 bulan lalu, profesor teologi Kristin Joachimsen. Keduanya menikah di gereja Lutheran di Yerusalem, Israel, 19 Mei 2015 lalu.

Vanunu menyangkal bahwa ia membahayakan keamanan Israel, namun ia mengatakan ingin meneruskan kegiatan anti-nuklir dan ingin tinggal di luar negeri. Pada tahun 2005, Oslo, kota asal istrinya, menolak banding yang diajukan Vanunu atas permintaan suaka politik.

Ketika ditanya bagaimana ia bertemu "Cindy" sang agen Mossad itu, di London, Vanunu mengatakan, pertemuan dengan dia itu bukan di bar, tapi di jalan. "Saya sedang menyeberang jalan dan wanita ini sedang menyeberang jalan, dan kami mulai berbicara ... Aku tidak jatuh cinta padanya, tapi saya pikir kontak itu bisa dilanjutkan."

Awalnya, kata Vanunu, ia menduga bahwa Cindy itu adalah seorang agen Mossad. "Tapi setelah itu saya lupa tentang hal itu," kata Vanunu.

"Cindy" akhirnya mendapatkan kepercayaan Vanunu dan mengundangnya untuk terbang ke Roma bersamanya. Setibanya di sebuah apartemen di Roma, ia sudah ditunggu oleh agen Mossad yang langsung menangkapnya.

Mulanya Vanunu sempat berpikir bahwa Cindy mungkin juga adalah korban dalam penangkapan itu. "Sesudah tiga hari di kapal yang membawa saya ke Israel (dari Roma), saya sampai ke kesimpulan bahwa dia adalah bagian dari rencana (penangkapan itu)," ujar Vanunu.

i24news.tv | News Yahoo | Abdul Manan

Dimuat di Tempo.co

No comments: