Skip to main content

Mordechai Vanunu Buka Mulut Soal Penangkapannya oleh Mossad

Mata-mata nuklir Israel, Mordechai Vanunu, melakukan wawancara dengan TV Israel, Channel 2, Rabu malam, yang mengisahkan penangkapannya oleh agen intelijen Israel, Mossad, melalui perangkap perempuan bernama "Cindy".


Menurut www.i24news.tv edisi 3 September 2015, itu adalah wawancara pertama Vanunu dengan TV Israel setelah ia menjalani hukuman penjara selama 18 tahun karena membocorkan informasi program nuklir Israel, program yang selama ini tak pernah diakui oleh pemerintah Tel Aviv.

Dalam wawancara itu Vanunu mengatakan bahwa ia tidak pernah menduga bahwa "Cindy", perempuan yang telah meyakinkannya untuk terbang ke Roma dengan dia, adalah seorang agen Mossad. Dia mengatakan bahwa ia baru menyadari identitas "Cindy" ketika ia diculik oleh agen yang sudah ada di kamar hotel mereka di Roma.

Vanunu menghabiskan 18 tahun di sebuah penjara Israel karena mengungkapkan informasi dan foto-foto yang telah dikumpulkannya selama bekerja di fasilitas nuklir Dimona, Israel, untuk koran Sunday Times Inggris pada tahun 1986.

Vanunu telah tinggal di Yerusalem sejak dibebaskan dari penjara pada tahun 2004. Tapi ia masih dalam penagwasan yang ketat, termasuk tidak diperbolehkan untuk meninggalkan Israel atau untuk berbicara dengan orang asing.

Mordechai Vanunu mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung Israel bulan lalu untuk memberinya kebebasan untuk bepergian ke luar negeri, dan mengklaim bahwa ia bukan ancaman bagi keamanan nasional. Pengadilan dijadwalkan meninjau permohonan Vanunu pada bulan ini.

Pembatasan ketat terhadap Vanunu, yang diberlakukan oleh Mahkamah Agung Israel, telah dikutuk oleh kelompok hak asasi manusia internasional. Pengacara Vanunu mengatakan bahwa pembatasan perjalanan kepada kliennya merugikan hak asasi manusianya.

Vanunu menyatakan ingin tinggal di Norwegia, di rumah istri yang dinikahinya sekitar 3 bulan lalu, profesor teologi Kristin Joachimsen. Keduanya menikah di gereja Lutheran di Yerusalem, Israel, 19 Mei 2015 lalu.

Vanunu menyangkal bahwa ia membahayakan keamanan Israel, namun ia mengatakan ingin meneruskan kegiatan anti-nuklir dan ingin tinggal di luar negeri. Pada tahun 2005, Oslo, kota asal istrinya, menolak banding yang diajukan Vanunu atas permintaan suaka politik.

Ketika ditanya bagaimana ia bertemu "Cindy" sang agen Mossad itu, di London, Vanunu mengatakan, pertemuan dengan dia itu bukan di bar, tapi di jalan. "Saya sedang menyeberang jalan dan wanita ini sedang menyeberang jalan, dan kami mulai berbicara ... Aku tidak jatuh cinta padanya, tapi saya pikir kontak itu bisa dilanjutkan."

Awalnya, kata Vanunu, ia menduga bahwa Cindy itu adalah seorang agen Mossad. "Tapi setelah itu saya lupa tentang hal itu," kata Vanunu.

"Cindy" akhirnya mendapatkan kepercayaan Vanunu dan mengundangnya untuk terbang ke Roma bersamanya. Setibanya di sebuah apartemen di Roma, ia sudah ditunggu oleh agen Mossad yang langsung menangkapnya.

Mulanya Vanunu sempat berpikir bahwa Cindy mungkin juga adalah korban dalam penangkapan itu. "Sesudah tiga hari di kapal yang membawa saya ke Israel (dari Roma), saya sampai ke kesimpulan bahwa dia adalah bagian dari rencana (penangkapan itu)," ujar Vanunu.

i24news.tv | News Yahoo | Abdul Manan

Dimuat di Tempo.co

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…