Skip to main content

Insiden Lillehammer, Kasus Salah Bunuh Agen Mossad

Pada 21 Juli 1973, dua orang agen dari unit penyerang badan intelijen Israel, Mossad, keluar dari Volvo abu-abu di Jalan Storgten di Lillehammer, Norwegia. Mereka langsung mengarahkan moncong senjatanya ke arah pria muda yang baru keluar dari bioskop bersama pacarnya yang sedang hamil. Empat belas peluru dilepaskan, meskipun penembak sama sekali tak menyakiti wanita di sampingnya.


Seperti dilansir situs Daily Beast edisi 21 Juli 2015, para agen Mossad itu dikirim ke Lillehammer untuk membunuh Ali Hassan Salameh, pemimpin kelompok militan Palestina 'Black September' yang dianggap sebagai dalang pembunuhan 11 atlet Israel pada Olimpiade Munich tahun 1972.

Salah satu agen yang terlibat dalam tim penyerang adalah Sylvia Rafael. Agen perempuan itu terlihat gelisah tentang kelangsungan misi timnya dan ia juga tak begitu yakin bahwa orang yang menjadi targetnya ini adalah benar-benar Salameh. Sebab, pria yang mereka ikuti itu tidak sekalipun terlihat berbalik untuk melihat apakah ada agen musuh yang mengikutinya.

Namun, Sylvia tidak membatalkan serangan itu. Sebanyak 14 peluru ditembakkan dan membuat korbannya tewas seketika. Baru belakangan ia mengetahui bahwa pemuda yang tergeletak mati di batu-batuan itu adalah orang tak bersalah. Ia adalah pelayan berkebangsaan Maroko bernama Ahmed Bouchiki, bukan Salameh.

Pembunuhan Bouchiki memicu kecaman internasional. Tak berselang lama, Sylvia dan lima anggota timnya ditangkap dan diadili di pengadilan Norwegia. Sylvia dihukum karena pembunuhan berencana, spionase, dan penggunaan dokumen palsu, dan dijatuhi hukuman lima setengah tahun di sebuah penjara di Oslo. Pada tahun 1975, dia dibebaskan setelah menjalani hukuman lima belas bulan.

Kisah hidup Sylvia, dan juga Lillehammer Affair ini dikisahkan oleh Moti Kfir dalam buku Sylvia Rafael: The Life and Death dari Mossad Spy. Moti adalah orang yang merekrut dan mengawasi pelatihan Sylvia. Setelah keluar dari penjara, perempuan kelahiran Afrika Selatan itu menolak kembali ke Mossad dan memilih tinggal di Norwegia dan menikah dengan Annaeus Schjødt, mantan pengacaranya. Pasangan ini lantas pindah ke Afrika Selatan bersama anak-anaknya. Sylvia meninggal karena kanker pada 9 Februari 2005.

Menurut The Daily Beast, kasus Lillehammer ini menunjukkan luasnya jangkauan tindakan Israel untuk mempertahankan dirinya sendiri, yang tentu juga menghadapi konsekuensi atas kesalahan yang dilakukannya. Situs berita berbasis di Amerika Serikat itu mengaitkan kasus Lillehammer ini dengan sikap Israel atas kesepakatan nuklir Iran dengan enam negara besar dunia --Amerika Serikat, Rusia, Cina, Inggris, Prancis dan Jerman-- pada 14 Juli 2015 lalu.

Di tengah kesepakatan nuklir Iran, kata Daily Beast, penting untuk diingat bahwa Israel memiliki sejarah tindakan badan intelijennya yang terbukti mendukung sikap Perdana Menteri-nya. Soal kesepakatan nuklir Iran ini, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa "kita akan selalu mempertahankan diri."

THE DAILY BEAST | ABDUL MANAN

TEMPO.CO | SELASA, 21 JULI 2015 | 20:53 WIB



Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.