Wednesday, July 22, 2015

Alexis Tsipras, 'Che Guevara' dari Yunani

Lampu hijau dari Uni Eropa untuk memberikan dana talangan (bail out), yang diikuti oleh pembukaan kembali bank-bank di Yunani Senin lalu setelah tutup selama tiga minggu, tak lantas membuat Perdana Menteri Alexis Tsipras bisa tenang melenggang. Pemimpin koalisi partai kiri Syriza, yang juga dijuluki Ernesto 'Che' Geuvara dari Yunani itu, harus mengamankan negosiasi dana talangan dengan kreditor internasional untuk menyelamatkan ekonomi negara berpenduduk 11 juta itu.


Keraguan dan penundaan penguasa Yunani membebani  biaya tambahan kepada negara itu sekitar 30 miliar euro dalam tiga minggu terakhir saja, kata salah satu pejabat senior Uni Eropa seperti dilansir Reuter. Sikap Tsipras yang menghentikan pembicaraan perundingan bailout di awal Juli, yang memaksa bank-bank Yunani tutup dan membuat ekonomi negara ini ambruk, telah mendorong biaya bailout terbaru menjadi 86 miliar euro dari sebelumnya 53 miliar euro.

Kepada penyiar stasiun TV Yunani, ERT, 15 Juli 2015 lalu, Tsipras mengakui telah membuat kesalahan dan mengambil beberapa keputusan buruk. "Anda bisa menuduh saya banyak hal, bahwa saya memiliki ilusi bahwa Eropa bisa dikalahkan, bahwa kekuatan kebenaran dapat mengalahkan kekuatan bank dan uang. Tapi Anda tidak bisa menuduh saya berbohong kepada orang-orang Yunani."

***

Lahir pada tahun 1974 di Kota Athena beberapa hari setelah Yunani kembali ke demokrasi setelah tujuh tahun berada di bawah kediktatoran militer dan penindasan terhadap kelompok kiri, Tsipras bergabung dengan Communist Youth Of Greece ketika dia baru berumur 14 tahun. Tiga tahun kemudian ia pindah ke sayap pemuda Synaspismos atau SYN --Koalisi Kiri dan Progresif. SYN adalah partai koalisi kiri yang kemudian membentuk Coalition of the Radical Left (yang dikenal sebagai Syriza) tahun 2004, partai yang kini dipimpinnya.

Soal pilihan Tsipras bergabung dengan gerakan kiri di masa mudanya itu, menurut Dailymail.com, lebih banyak karena faktor Peristera Batziana, pasangan hidupnya. Batziana yang meyakinkannya untuk bergabung dengan organisasi kiri itu pada tahun 1990. Betty, sapaan Batziana, pula yang mendorong Tsipras memasuki dunia politik ketika ia tampaknya lebih tertarik ke dunia olahraga.

Sebagai orang Kiri, Tsipras mengagumi Che Guevara, tokoh dan gerilyawan legendaris kelahiran Argentina yang akhirnya tewas tahun 1967 di Bolivia. Anak kedua Tsipras juga memakai nama depan Che. Anak pertamanya Pavlos, kedua Ernestos-Orfeas. Sampai akhirnya direnovasi beberapa bulan lalu, potret Che Guevara masih tergantung di luar kantor Tsipras di markas Syriza di Athena.

Masyarakat Yunani pertama kali mengenali namanya tahun 1990 ketika di usia 17 tahun memimpin aksi duduk di sekolah menengah dan mengatakan kepada stasiun TV: "Kami ingin hak untuk menilai diri kita sendiri, termasuk apakah akan melewatkan kelas." Aksi itu sebagai protes atas kebijakan kementerian pendidikan negaranya.

Presiden partai Syriza, Alekos Alavanos memilih dia sebagai kandidat walikota Athena tahun 2006, tapi kalah suara. Setelah itu karirnya terus menanjak sampai akhirnya menjadi ketua partai tahun 2009, di usia 33 tahun, dan membuatnya menjadi pemimpin politik termuda dalam sejarah Yunani modern.

Awal 2015, di usia 40 tahun, tanpa pengalaman pemerintah nasional, ia menjadi perdana menteri setelah Syriza memperoleh suara mayoritas dalam pemilihan umum 25 Januari 2015. Partainya menang dengan janji akan mengakhiri penghematan yang dianggap menyengsarakan warga tetapi akan menjaga Yunani agar tetap berada di zona euro.

Mereka yang tahu Tsipras mengatakan, ia jarang kehilangan kontrol atau fokus: ia tetap pada target dan dia selalu tenang. Dia juga diketahui jarang marah, dan bukan tipe pendendam. Ketika berinteraksi dengan warga, Tsipras hampir selalu menawarkan senyum lebar dan gestur bersahabat.

Menurut The Huffington Post, dia juga dikenal sebagai pria yang ingin memegang kendali. Salah satu contohnya adalah, setiap artikel atau dokumen yang keluar kantornya selalu ia periksa dan koreksi. Dia juga selalu memantau berita. Tiap pagi dia membaca pers Yunani, Financial Times dan edisi internasional dari New York Times. Dia mendapat penjelasan ringkas tentang semua isu selama "sesi kopi pagi" itu.

Seorang mantan rekan Syriza-nya yang mengenalnya sejak Tsipras masih remaja, dan kini tak satu partai dengannya, mengatakan: "Dia tumbuh dalam lompatan politik, namun keputusannya (kini) adalah hasil dari ketakutannya: takut bahwa ia akan menjadi perdana menteri yang memimpin Yunani keluar dari euro; takut partainya akan terpecah; dan juga takut dia mengkhianati ideologi yang ia perjuangkan dan percayai sejak ia masih kecil. "

"Pada 16 tahun, saya membaca (karya) Marx dan percaya kapitalisme akan berakhir dan kita akan menuju ke tahap masyarakat berikutnya, yaitu sosialisme. Bagi saya, ini adalah mutlak," katanya dalam sebuah wawancara tahun 2008 dengan koran mahasiswa Schooligans. Perkembangan Yunani saat ini, yang didera krisis hebat, mengubah pandangannya. "Saya salah. Sekarang saya tahu itu tidak mutlak. Ini mungkin terjadi, tapi mungkin juga tidak," kata Tsipras, seperti dikutip Reuters.

Tsipras, politisi kiri itu, akhirnya bersedia berunding lagi dengan kreditor dari Uni Eropa, Bank Sentral Uni Eropa dan IMF --aktor utama kapitalis-- dan bersedia melakukan penghematan sebagai syarat pemberian bailout, yang itu berarti melabrak janjinya saat kampanye dulu.

ABDUL MANAN (REUTERS | DAILYMAIL.CO.UK | TELEGRAPH.CO.UK | THE HUFFINGTON POST)

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo edisi Rabu, 22 Juli 2015. Tulisan dalam versi .pdf bisa dibaca di sini.

No comments: