Monday, March 16, 2015

Lima Negara Asia Jadi Importir Terbesar Senjata


TEMPO.CO, Stockholm - Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) merilis data terbaru soal perdagangan senjata dunia. Dalam siaran pers 16 Maret 2015, SIPRI mencatat bahwa Amerika Serikat masih memimpin sebagai eksportir senjata utama global. Secara keseluruhan, volume transfer internasional senjata konvensional utama naik 16 persen antara 2005-2009 dan 2010-2014.


Volume ekspor senjata utama AS meningkat 23 persen antara 2005-2009 dan 2010-2014. Volume ekspor senjata AS secara internasional itu sebesar 31 persen pada periode 2010-2014, lebih besar dibandingkan dengan Rusia yang mencapai 27 persen. Ekspor senjata utama Rusia meningkat 37 persen antara 2005-2009 dan 2010-2014. Selama periode yang sama, ekspor senjata utama Cina meningkat 143 persen, sehingga negara ini menjadi pemasok terbesar ketiga dalam periode 2010-2014, meski secara signifikan masih di belakang Amerika Serikat dan Rusia.

"Amerika Serikat telah lama melihat ekspor senjata sebagai alat utama dalam kebijakan luar negeri dan keamanannya. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini ekspor semakin dibutuhkan untuk membantu industri senjata AS mempertahankan tingkat produksinya saat pengeluaran militer negara itu menurun," kata Dr Aude Fleurant, Direktur Program Senjata dan Pengeluaran Militer SIPRI.

SIPRI juga mencatat perkembangan lain, yaitu meningkatnya impor senjata ke Dewan Kerja Sama Negara Teluk (Gulf Cooperation Council-GCC) sebesar 71 persen pada 2005-2009 dan 2010-2014. Arab Saudi juga tercatat sebagai pengimpor senjata utama terbesar kedua di seluruh dunia pada 2010-2014 karena meningkatkan volume impor senjatanya empat kali lipat dibandingkan dengan periode 2005-2009.

"Terutama dengan senjata dari Amerika Serikat dan Eropa, negara-negara GCC telah mengembangkan dan memodernisasi militer mereka," kata Pieter Wezeman, peneliti senior di Program Senjata dan Pengeluaran Militer SIPRI. "Negara-negara GCC, bersama dengan Mesir, Irak, Israel dan Turki dan beberapa negara di Timur Tengah dijadwalkan untuk menerima pesanan besar senjata lebih lanjut dalam tahun-tahun mendatang."

Di Asia, impor senjata juga tercatat meningkat. Dari sepuluh importir terbesar senjata utama selama periode 2010-2014, lima berada di Asia: India (15 persen), Cina (5 persen), Pakistan (4 persen), Korea Selatan (3 persen) dan Singapura (3 persen).

Kelima negara ini menyumbang 30 persen dari total volume impor senjata di seluruh dunia. India menyumbang 34 persen dari volume impor senjata di Asia, lebih dari tiga kali lipat Cina. Sedangkan impor senjata Cina justru turun 42 persen antara 2005-2009 dan 2010-2014.

"Dimungkinkan oleh pertumbuhan ekonomi yang berlanjut dan didorong oleh persepsi ancaman yang tinggi, negara-negara Asia terus memperluas kemampuan militer mereka dengan penekanan pada aset maritim," kata Siemon Wezeman, peneliti SIPRI. "Negara-negara Asia umumnya masih bergantung pada impor senjata utama, yang telah meningkat tajam dan akan tetap tinggi dalam waktu dekat."

Berbeda dengan perkembangan di Asia, impor senjata Eropa turun 36 persen antara 2005-2009 hingga 2010-2014. Menurut analis SIPRI, perkembangan perang di Ukraina dan ancaman Rusia kemungkinan bisa mencegah kecenderungan ini setelah beberapa negara yang berbatasan dengan Rusia meningkatkan impor senjata mereka pada tahun 2014.

Di Afrika, trennya sama dengan Asia. Impor senjata Azerbaijan meningkat 249 persen antara 2005-2009 dan 2010-2014. Impor senjata Afrika meningkat 45 persen pada 2005-2009 dan 2010-2014. Antara 2005-2009 dan 2010-2014 Aljazair menjadi pengimpor senjata terbesar di Afrika, yang diikuti oleh Maroko di posisi berikutnya.

Kamerun dan Nigeria menerima senjata dari beberapa negara untuk melawan Boko Haram. Irak, untuk melawan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), menerima senjata dari berbagai negara seperti Iran, Rusia, dan Amerika Serikat pada tahun 2014.

Perkembangan penting lain yang dicatat SIPRI adalah soal pengiriman dan pesanan untuk sistem pertahanan rudal balistik meningkat secara signifikan pada 2010-2014, terutama di Negara Teluk dan Asia Timur.

SIPRI | ABDUL MANAN

SENIN, 16 MARET 2015 | 09:26 WIB

No comments: