Skip to main content

Juri Memvonis Bersalah Lima Pembunuh Jurnalis Anna Politkovskaya

Juri di Pengadilan Kota Moskow, Selasa 20 Mei 2014, memvonis bersalah lima terdakwa dalam kasus pembunuhan wartawan investigasi dan pengkritik Kremlin Anna Politkovskaya tahun 2006. Dua dari lima terdakwa itu sebelumnya sempat divonis bebas.

Dalam putusannya, juri mengatakan, pemimpin dari para terdakwa ini, Lom-Ali Gaitukayev, bersalah karena mengorganisir pembunuhan dan menciptakan kelompok kriminal untuk pembunuhan itu.

Pembunuhan terhadap Politkovskaya menyedot perhatian publik soal risiko yang dihadapi oleh warga Rusia yang menantang pemerintah Rusia di bawah Vladimir Putin.

Para terdakwa adalah tiga bersaudara dari Chechnya, yang salah satunya dituduh menembak Politkovskaya di lobi gedung apartemennya di Moskow, 7 Oktober 2006.

Hukuman ini jadi kemenangan bagi jaksa Rusia dan pemerintah, tetapi aktivis hak asasi manusia dan kerabat Politkovskaya mengatakan bahwa keadilan belum ditegakkan sampai orang-orang yang memerintahkan pembunuhan diidentifikasi dan dihukum.

"Pembunuhan itu hanya bisa diselesaikan saat nama orang yang memerintahkan diketahui," kata pengacara untuk keluarga Politkovskaya, Anna Stavitskaya, seperti dikutip oleh kantor berita RIA.

Stavitskaya menyambut baik putusan juri itu tetapi mengatakan bahwa para pria yang dinyatakan bersalah ini "hanya beberapa dari orang-orang yang harus dibawa ke pengadilan."

Juru bicara komite investigasi federal Rusia, Vladimir Markin , mengatakan, pihak berwenang sedang melakukan semua yang mereka bisa untuk mengidentifikasi dan melacak orang di belakang pembunuhan itu.

Pengkritik Kremlin mengatakan, mereka ragu bahwa penyidik akan menemukan otak pembunuhan ini karena ada kecurigaan bahwa jejak dari pelaku ini mengarah ke orang dekat pemerintah.

Politkovskaya, reporter untuk Novaya Gazeta, 48 tahun, ditembak mati saat kembali ke apartemennya setelah berbelanja untuk bahan makanan. Ia dikenal karena pelaporannya soal pelanggaran HAM di provinsi utara Kaukasus Chechnya.

Pengacara terdakwa -Rustam Makhmudov, saudara-saudaranya Ibragim dan Dzhabrail, paman mereka Lom-Ali Gaitukayev, dan mantan perwira polisi Moskow Sergei Khadzhikurbanov - mengatakan, mereka akan mengajukan banding atas vonis ini.

Penyidik mengatakan Gaitukayev mengorganisir logistik pembunuhan saat berada di penjara karena masalah lain, sementara Khadzhikurbanov bertanggung jawab untuk mempersiapkan pembunuhan dan Ibragim dan Dzhabrail Makhmudov membantu melacak Politkovskaya. Ibragim dan Dzhabrail Makhmudov dan Khadzhikurbanov sebelumnya dibebaskan.

Kelima orang akan dihukum, kemungkinan dengan penjara seumur hidup, oleh hakim dalam sidang berikutnya. Jaksa akan merekomendasikan hukuman dalam sidang hari Rabu 21 Mei 2014

GUARDIAN | ITAR TASS | ABDUL MANAN

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.