Skip to main content

Senat Minta Gedung Putih yang Edit Laporan Penyiksaan CIA

Washington - Kepala Komite Intelijen Senat Dianne Feinstein menyerukan kepada Presiden Barack Obama untuk mempertimbangkan kembali keputusan pemerintahnya yang menugaskan Central Intelligence Agency (CIA) untuk mengedit laporan soal program interogasi dan penahanan tersangka terorisme oleh badan intelijen Amerika Serikat itu, sebelum dapat dipublikasikan.
Dalam sebuah surat kepada Obama, Senator Feinstein mengatakan bahwa Gedung Putih yang harus memimpin proses deklasifikasi--menyatakan sebuah laporan tidak lagi bersifat rahasia--atas laporan yang berisi praktek interogasi secara keras dan penyiksaan terhadap tahanan teroris pasca-serangan 11 September 2001.

Komite Intelijen Senat, Kamis, 3 April 2014, setuju mendeklasifikasi ringkasan eksekutif setebal 420 halaman. Ringkasan itu merupakan bagian dari laporan setebal 6.300 halaman soal program rahasia CIA tersebut.

Obama mendukung keputusan Komite Intelijen itu, tapi Gedung Putih menyatakan CIA yang akan memimpin pengeditan atas informasi dalam laporan itu sebelum dibuka kepada publik. Pengeditan itu dilakukan untuk memastikan bahwa informasi yang dibuka tak membahayakan keamanan nasional AS.

"Saya meminta Anda mendeklasifikasi dokumen-dokumen ini, dan Anda lakukan secepatnya dengan penyuntingan minimal," kata Feinstein dalam surat tertanggal 7 April 2014. "Saya dengan hormat meminta Gedung Putih memimpin proses deklasifikasi."

Feinstein dan senator lainnya menyebut CIA memiliki konflik kepentingan terkait dengan laporan itu.

Laporan ini menyimpulkan bahwa praktek penyiksaan CIA terhadap tersangka terorisme hanya menghasilkan sedikit bahan intelijen yang berharga. CIA mempersoalkan hasil temuan tersebut. Komite Intelijen dan CIA saling menuding melakukan kesalahan yang berhubungan dengan produksi laporan tersebut. CIA menuding penyelidik Komite Senat melihat dokumen yang seharusnya tak boleh diakses, sedangkan Komite Intelijen menuding CIA menggeledah komputer yang digunakan penyelidiknya. Keduanya meminta Departemen Kehakiman untuk menyelidiki klaim tersebut.

Surat Feinstein kepada Obama itu disertai salinan ringkasan eksekutif yang kini masih dikategorikan rahasia. "Ini adalah laporan paling komprehensif soal program penahanan dan interogasi CIA, dan saya menganggap itu harus dilihat pemerintah AS sebagai laporan paling sah soal tindakan CIA," kata Feinstein dalam surat itu.

Jaksa Agung Eric Holder, Selasa, 8 April 2014, juga memberikan dukungan untuk membagi laporan itu kepada pejabat lainnya. "Sebanyak mungkin laporan itu harus diketahui publik," katanya. Dibukanya laporan itu akan membantu memastikan "tidak ada pemerintahan yang bermaksud melaksanakan program seperti itu pada masa mendatang."

Laporan ini awalnya disusun secara eksklusif oleh staf Demokrat di Senat. Namun temuannya akhirnya disetujui oleh Senat, Desember 2012. Laporan itu menyimpulkan antara lain bahwa waterboarding dan "teknik interogasi yang ditingkatkan" lainnya tidak memberikan bukti kunci dalam perburuan pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden, dan CIA dianggap menyesatkan Presiden George W. Bush dan Kongres tentang keberhasilan program ini.

Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan Feinstein itu.

Pekan lalu, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, Caitlin Hayden, mengulangi keinginan Obama untuk membuka laporan itu guna membantu warga Amerika memahami apa yang terjadi dan memastikan negara ini tak mengulangi kesalahan serupa. Dia mencatat bahwa Obama melarang praktek interogasi seperti itu ketika dirinya mulai bertugas di Gedung Putih, 2009 lalu.

Namun Hayden mengatakan CIA--berkonsultasi dengan lembaga-lembaga lain--akan melakukan kajian atas deklasifikasi itu. "Presiden secara jelas ingin proses ini selesai secepat mungkin, konsisten dengan masalah keamanan nasional, dan itulah yang akan kami lakukan," katanya.

WASHINGTON POST | ABDUL MANAN

TEMPO.CO | KAMIS, 10 APRIL 2014 | 22:43 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…