Skip to main content

Penyelamatan Agen MI6 Inggris Bersandi Falcon dari Iran

Gordon Thomas, penulis buku Secret Wars: One Hundred Years Of British Intelligence Inside MI5 And MI6, memiliki akses tak biasa ke komunitas intelijen. Bahan buku Secret Wars, seperti ditulis Gordon dalam kata pengantar buku yang diterbitkan pada Maret 2009 itu, berasal dari pergaulannya dengan agen dinas rahasia, mulai dari Mossad, dan –tentu saja– dinas mata-mata Inggris: MI5 dan MI6.

Di buku itu, salah satu yang cukup menarik adalah cerita soal pembelotan salah satu tokoh penting dalam program nuklir Iran, yang juga memiliki posisi tinggi dalam pemerintahan Iran: Brigadir Jenderal Ali-Reza Asgari. Ia adalah salah satu jenderal di Garda Pengawal Revolusi Islam Iran, deputi di Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran, dan anggota kabinet Presiden Iran Mohammad Khatami.

Asgari menjadi perbincangan setelah ia dilaporkan menghilang pada sekitar Februari 2007 di Istanbul, Turki, setelah terbang dari Damaskus, Suriah. Saat itu, banyak spekulasi yang beredar soal menghilangnya Asgari. Sebuah harian di Iran menyebutkan, Asgari ditangkap oleh tim gabungan Mossad dan agen rahasia Amerika Serikat, CIA.

Secret Wars menjawab teka-teka itu. Asgari tak diculik. Ia menyeberang ke Inggris, setelah direkrut oleh agen rahasia Inggris MI6 beberapa tahun sebelumnya. Pelariannya ke Inggris, pada Februari 2007 itu, dilakukan setelah Falcon, kode yang dipakai untuk Asgari, merasa dalam bahaya sehingga minta segera dikeluarkan dari Iran.

Asgari menjadi aset penting bagi MI6 untuk mengintip dari dekat bagaimana Iran mempersiapkan program nuklirnya. Dari sang Falcon, Inggris mengetahui bahwa Iran mengembangkan program nuklir di Natanz, serta mengetahui adanya sejumlah reaktor di Arak, Bushehr, dan Tehran. Saat ia mulai direkrut, informasi awal yang diberikan Falcon diuji kebenarannya.

Salah satunya adalah informasi soal sikap Pakistan, di bawah pimpinan Pervez Musharraf, terhadap pejuang Afganistan. Asgari melaporkan bahwa sejumlah dokter Pakistan dikirim ke Afganistan untuk mengobati pejuang Taliban yang terluka, sebelum dikirim ke perbatasan Pakistan dan mendapatkan operasi tambahan. Komandan MI6 di Islamabad mengecek kebenaran informasi ini dan ternyata akurat.

Informasi lain dari Asgari adalah soal kelompok radikal Irlandia yang dilaporkan menyediakan keahliannya dengan mensupervisi pembuatan bom roadside di tiga pabrik di Lavizan, kota di dekat Tehran. Kelompok teroris Irlandia itu menempuh perjalanan dari Dublin ke Frankfurt, Jerman, kemudian menuju Damaskus, Suriah. Dari sini, mereka diangkut dengan pesawat militer Iran menuju Tehran. Informasi ini dikonfirmasi MI6 di London dan terbukti sesuai dengan file aktifitas The Irish Republican Army (IRA).

Informasi-informasi itu memuaskan kontroller-nya, serta para petinggi MI6 di London, dan menguatkan keyakinan dinas rahasia Inggris bahwa Falcon adalah aset penting dan bisa diandalkan. Dengan posisi yang strategis dan informasi yang berharga itu, MI6 berharap Falcon tetap di sarangnya. Namun, Asgari mulai terancam saat Pemerintah Iran mencium gelagat bahwa pengembangan nuklir mereka itu ada yang membocorkan.

Pada suatu hari, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad memanggil Asgari ke kantornya. Setelah acara minum kopi dan makanan manis, Ahmadinejad memberi mandat kepada Asgari untuk menemukan pengkhianat dalam pengembangan program nuklir Iran. Ahmadinejad juga menyampaikan ikhwal mimpinya sebelumnya. Dalam mimpi itu, para pengkhianat yang berada di antara ribuan ilmuwan dan teknisi program nuklir Iran itu menerima suap, apakah itu dari Israel atau Amerika Serikat.

Gordon menduga, butuh waktu tak sebentar bagi Ahmadinejad untuk mencurigai bahwa Asgari adalah si penyusup dalam program nuklir itu. Kecurigaan itulah yang nampaknya membuat Asgari mengaktifkan kode daruratnya –serangkaian kata yang ia pilih dari buku Seven Pillars of Wisdom-nya T.E. Lawrence. Tapi, yang membuat rencana pelariannya tak mudah karena ia ingin keluarganya juga ikut serta. Menyelundupkan sebuah keluarga keluar Iran tanpa menimbulkan kecurigaan, jelas bukan pekerjaan mudah, meski bukan tak bisa dilakukan.

Untuk memuluskan rencana itu, Direktur Jenderal MI6 Sir John McLeod Scarlett membutuhkan bantuan Mossad. Ia pun menghubungi sang direktur, Meir Dagan. Mossad, yang selama ini mewaspadai menguatnya ancaman dari Iran, setuju membantu pelarian Falcon. Dagan mengusulkan jalan keluar pelarian melalui Turki atau Suriah, sebagai negara yang sering jadi persinggahan Asgari dalam perjalanan ke dan dari Tehran.

Mossad tahu bahwa Asgari kerap ke Suriah mendiskusikan informasi intelijen terakhir tentang Israel yang diperoleh agen Suriah di Lebanon. Di Turki, Asgari juga diketahui sering bertemu dengan agen senjata dari kelompok Rising Sun, kelompok kriminal dari Eropa Timur yang dijalankan oleh Semyon Yukovich Mogilevich. Kelompok ini memiliki spesialisasi  menyediakan senjata curian dari bekas gudang senjata Uni Sovyet.

MI6 desk Iran mengetahui kontak ini karena diberitahu oleh Asgari, termasuk soal perjalanan Mogilevich yang menggunakan paspor Israel. Fakta ini tak dibantah Dagan. Paspor itu tak pernah dibatalkan oleh Israel karena dengan cara itu Mossad dengan mudah melacak pergerakan Mogilevich. Dengan sejumlah informasi itu, MI6 merancang pelarian Asgari.

Tapi, masalah datang pada awal Januari 2007. Asgari juga meminta jaminan bahwa ia tak bakal diekstradisi ke Amerika Serikat karena keterlibatannya dalam pengeboman yang menewaskan Marinir Amerika Serikat di Beirut, Lebanon, pada 23 Oktober 1983. Tanpa jaminan itu, ia tak akan keluar.

Saat itu, peran penting Asgari kian jelas bagi MI6. Ia sudah menjawab sejumlah informasi penting tentang program nuklir Iran, termasuk soal Iran mendapatkan lebih dari 4.000 ton uranium yang diimpor secara rahasia dari Republik Demokratik Kongo –kesaksian yang mengkonfirmasi kecurigaan MI6 sebelumnya.

Untuk soal yang terakhir ini, MI6 terpaksa harus mengetuk pintu ke Washington. Meski memiliki kontak terbatas dengan John Dimitri Negroponte, Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, keduanya bisa menemukan kesepahaman. Amerika Serikat setuju memenuhi permintaan MI6, dengan kompensasi bahwa informasi yang diperoleh dari Asgari dibagi juga kepada dinas rahasia Amerika Serikat, CIA.

Pada 18 Februari 2007, Asgari memberitahu bahwa ia telah memesan acara liburan keluarga di resort Laut Hitam. MI6 lantas menghubungi dinas intelijen Turki, MIT, dan menjelaskan situasinya. Sebelumnya, agen rahasia Inggris sudah melakukan operasi pengintaian di sekitar resort untuk memastikan bahwa tak ada intelijen Iran yang melacak acara keluarga ini.

Pada 21 Februari 2007, Asgari naik pesawat Iran Air dari Tehran menuju Damaskus, Suriah. Di negara itu, ia bertemu dengan petugas intelijen Suriah dan pemimpin Hizbullah. Mereka mendiskusikan soal peluang melakukan perang baru melawan Israel yang akan dilakukan Hizbullah pada pertengahan musim panas tahun itu.

Asgari, pada 28 Februari 2007, memberitahu kepada tuan rumahnya bahwa ia akan mampir ke Istanbul, dalam perjalanan pulangnya ke Tehran. Di sana, ia pergi ke Ceylan Hotel, yang sudah dipesan atas namanya. Setelah makan malam, ia pergi ke sebuah kamar di hotel tak jauh dari lokasinya, Hotel Gilan. Dua kamar itu sudah dipesan sebelumnya oleh agen Mossad. Sejam sebelum Asgari tiba di hotel itu, keluarganya yang berlibur di resort Laut Hitam sudah berada di dalam penerbangan Alitalia menuju Roma.

Pagi 1 Maret 2007, Asgari meninggalkan Ceylan Hotel. Kasunya diturunkan, dan bajunya dibiarkan tergantung. Setelah hari gelap, dilengkapi paspor baru Inggris, ia diantar ke perbatasan Bulgaria oleh petugas intelijen Turki. Di seberangnya sudah menunggu petugas intelijen MI6, yang kemudian membawanya ke Bandara Internasional Sofia untuk terbang ke Roma. Beberapa jam kemudian, Sir John McLeod Scarlett  sudah dibangunkan oleh kabar bahwa Falcon sudah dalam perjalanan menuju London.

Saat Asgari menuju London, keluarganya sudah ada di sana, ditempatkan di “rumah aman” yang disediakan MI6 untuk tempat mereka tinggal di Inggris. MI6 juga menyediakan tutor untuk mengajarinya bahasa Inggris.

Tak berselang lama, Menteri Luar Negeri Iran menyampaikan permintaan darurat ke International Criminal Police Organization, yang dikenal luas dengan Interpol, untuk “Menemukan Asgari, yang hilang kemungkinan karena diculik dinas intelijen asing.” Scarlett, dalam sebuah pertemuan di kantornya, membacakan permintaan itu dengan keras. Sejumlah orang di ruangan pertemuan itu tampak tersenyum.

Abdul Manan

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…