Skip to main content

Lima Halaman Menunjuk ke Moskow

Dokumen dari Permanent Mission of Ukraine to International Organization in Vienna itu sebanyak enam halaman. Satu lembar pengantar dari Ihor Prokopchuk, Duta Besar Ukraina untuk badan itu. Lima halaman lainnya memuat foto tentara berseragam hijau, bersenjata AK-47, yang diambil di Slovyanks dan Kramatorsk, saat terjadi perebutan gedung kantor pemerintahan di dua kota di Ukraina timur itu, awal April lalu.

Dalam surat kepada pejabat Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) yang berkantor pusat di Wina, Austria, 16 Maret 2014, Prokopchuk mengatakan foto itu merupakan bukti tambahan bahwa Rusia memprovokasi dan mengkoordinir gerakan separatisme di bagian timur negara itu. Ukriana meyakini sejumlah pria berseragam dalam foto adalah petugas intelijen dan Spetsnaz, pasukan khusus Rusia.

Bukti itu disampaikan sehari sebelum digelar pertemuan antara Ukraina, Rusia, Uni Eropa, dan Amerika Serikat di Jenewa, Swiss, Kamis dua pekan lalu. Pertemuan diniatkan untuk mengatasi krisis politik di eks-negara bagian Uni Soviet itu, yang bermula dari protes antipemerintahan Victor Yanukovich sejak akhir 2013. Langkah Yanukovich yang membatalkan pakta perjanjian dagang dengan Uni Eropa, dan memilih berpaling ke Rusia, memicu demonstrasi oleh kelompok oposisi.

Oposisi menggelar demonstrasi dan menduduki Balai Kota Kiev dan Independence Square, awal Desember 2013. Aksi massa ini, yang kemudian dikenal sebagai gerakan Maidan, berujung pada terdepaknya Yanukovich, pada 23 Februari. Ia digantikan oleh Olexander Turchynov. Jatuhnya Yanukovich menjadi dalih adanya demonstrasi dan pengambilalihan sejumlah gedung pemerintah oleh massa-Pro Rusia di Crimea, wilayah Ukraina di daerah semenanjung.

Pengambilalihan pada 27-28 Februari itu mengawali kampanye oleh daerah yang didominasi etnis Rusia ini untuk meminta referendum. Saat referendum digelar, pada 16 Maret, mereka memutuskan berpisah dari Ukraina dan resmi bergabung dengan Federasi Rusia, dua hari sesudahnya. Ukraina dan sekutu Baratnya, mengecam langkah Crimea dan menyebutnya sebagai bentuk aneksasi oleh Rusia.

Adanya sanksi oleh Amerika dan Uni Eropa tak membuat Moskow gentar. Rusia malah memperkuat pasukan di perbatasannya dengan Ukraina, yang membuat pemerintah di Kiev dan sekutunya khawatir Moskow tak akan berhenti setelah mencaplok Crimea.

Tak berselang lama, tepatnya pada 7 April, massa pro-Rusia menguasai gedung pemerintahan di Ukraina timur, antara lain di Donetsk dan Luhansk. Mereka menyerukan tuntutan seperti Crimea, yaitu meminta referendum untuk merdeka. Aksi pendudukan serupa meluas di kota-kota di dekatnya, seperti Sloviansk, Yenakiyevo, Artemivsk, Horlivka, Makiivka, Mariupol, dan Kramatorsk.

Dalam pertemuan dengan pejabat OSCE, organisasi keamanan kawasan yang salah satu tugasnya adalah mencegah konflik, pada 14 April, Ukraina menyampaikan informasi bahwa intelijen dan Spetnaz Rusia di balik gerakan separatisme ini. Dua hari kemudian, Ukraina memberikan bukti tambahan enam halaman itu.

Salah satu pria dalam foto diidentifikasi sebagai Igor Ivanovich Strelkov alias Strelok, veteran militer dan petugas dari Intellijen Militer Rusia, Glavnoye Razvedovatel'noye Upravlenie (GRU). Badan Intelijen Ukraina bidang dalam negeri, Sluzhba Bezpeky Ukrayiny (SBU), dalam pernyataannya mengatakan, "Pada awal April tahun ini Strielkov menerima perintah langsung dari Moskow untuk memulai kampanye sabotase luas di Ukraina, termasuk di Donetsk dan Luhansk."

Pejabat keamanan Ukraina lainnya menambahkan intelijen Rusia diyakini telah bertahun-tahun membangun jaringan "agen tidur" atau mata-mata yang menyamar untuk jangka waktu lama, di timur Ukraina. SBU juga penerus KGB (Komitet gosudarstvennoy bezopasnosti) yang memiliki cabang di negara itu. KGB kini digantikan oleh Sluzhba Vneshney Razvedki (SVR) untuk operasi di luar negeri, Federal Security Service of the Russian Federation (FSB) untuk dalam negeri. Mantan perwira GRU, Ihor Petrovych Smeshko, juga pernah memimpin SBU, sejak 4 September 2003 hingga 4 Februari 2005.

Salah satu yang dikenali sebagai "agen tidur" itu adalah Igor Bezler, 49 tahun, penduduk asli Crimea yang bertugas di GRU sampai tahun 2002, sebelum ia pindah ke Horlivka. Di kota timur Ukraina ini, ia bekerja sebagai penjaga keamanan dan kepala perusahaan pemakaman.

Setelah massa pro-Rusia merebut kantor polisi Horlivka, ia dikenali dari video yang diposting di situs organisasi berita lokal. Video itu menunjukkan dia sedang berbaris dengan seragam di depan beberapa lusin polisi setempat. Ia mengenalkan diri sebagai letnan kolonel di militer Rusia. Pejabat Ukraina menuding ia sudah ditugaskan sejak awal April lalu untuk merebut gedung SBU di wilayah Donetsk, kemudian kantor polisi di Horlivka.

"Fakta bahwa Rusia membangunkan jaringannya (sel tidur) adalah bukti bahwa kita sedang berhadapan dengan operasi serius, bukan lagi main-main," kata seorang pejabat senior keamanan Ukraina, yang tak bersedia disebut identitasnya.

SBU memulai penyelidikan kriminal terhadap Strelkov, 15 April lalu. Pria yang disebut menjadi asisten soal keamanan untuk S. Aksionov, perdana menteri dari negara yang memproklamirkan diri sebagai Republik Otonom Crimea, dijerat dengan sejumlah pasal. Antara lain, melakukan pembunuhan berencana; melanggar kedaulatan, integritas dan teritorial Ukraina; dan mengkoordinir tindakan subversi dan kerusuhan di wilayah timur Ukraina. Foto Strelkov dipasang di situs SBU, 17 April lalu, dengan judul berita "Wanted!"

Ukraina juga menambahkan bukti keterlibatan Spetnaz. "Separatis yang menduduki gedung di Donetsk dipersenjatai 100 senapan AK, yang digunakan secara eksklusif oleh pasukan khusus Rusia," kata bunyi informasi yang disebarkan Kedutaan Besar Ukraina di Jakarta, dua pekan lalu. Model sepatu gerilyawan bersenjata itu diproduksi Butex, perusahaan Rusia yang memasok logistik ke badan intelijen negara itu.

Amerika menyebut bukti yang disodorkan Ukraina valid. Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Jen Psaki mengatakan yakin foto-foto itu "merupakan bukti lebih lanjut" bahwa Rusia mempersenjatai dan mengorganisir kelompok separatis bersenjata. Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam percakapan telpon dengan Barack Obama 14 April lalu, membantah tudingan ini dan mengatakan, itu adalah "spekulasi berdasarkan informasi yang tidak dapat diandalkan".

Intelijen Ukraina juga mengidentifikasi keterlibatan lembaga perbankan Rusia dalam pendanaan kelompok teroris di timur Ukraina. SBU melansir informasi bahwa pada Maret dan April lalu sebuah bank menguangkan sekitar US$ 3,8 juta untuk membiayai demonstran anti-pemerintah Kiev. Setiap hari setidaknya ada transfer US$ 200-500 kepada mereka. Penyelidik SBU memulai proses pidana atas kasus ini, 15 April lalu.

Pertemuan Jenewa digelar di tengah iklim saling tuding soal siapa penyebab aksi kekerasan di negara eks-Uni Sovyet itu. Pertemuan Kamis dua pekan lalu akhirnya menyepakati lima hal. Yang utamanya adalah dilucutinya kelompok bersenjata dan mengosongkan jalan dan gedung di Ukraina dan kota lainnya yang sebelumnya diduduki. Empat hal lainnya: dihentikannya aksi kekerasan; pemberian amnesti untuk pengunjuk rasa; reformasi konstitusi; dan menunjuk OSCE untuk mengawasi kesepakatan ini.

Hanya saja, perjanjian ini tak berumur panjang. Setelah kesepakatan ditandatangani, massa pro-Rusia yang menguasi gedung pemerintahan di Ukraina timur tak mengindahkannya. Massa Maidan juga merasa tak terikat dengan kesepakatan itu karena tak bersenjata.

Aksi kekerasan juga berlanjut, ditandai dengan tewasnya dua orang akibat penyiksaan. Seorang di antaranya adalah politikus lokal Sloviansk, Volodymyr Rybak. Ia ditemukan tewas di sungai pada Selasa lalu, setelah hilang pada 17 April saat berusaha menurunkan bendera yang dikibarkan pemberontak di sebuah gedung pemerintah yang dikuasai massa pro-Rusia.

Pejabat sementara Presiden Ukraina Olexander Turchynov menyebut dua kematian itu telah menodai perjanjian Jenewa dan massa pro-Rusia sudah kelewatan. Rabu pekan lalu, saat Wakil Presiden Amerika Joe Bidan ke Ukraina untuk menunjukkan dukungannya, ia memerintahkan kembali operasi militer--yang kedua setelah 15 April lalu--terhadap gerilyawan bersenjata yang disebut didukung Moskow itu.

Abdul Manan (New York Times, Washington Post, Guardian, CNN)

Majalah TEMPO, 28 April 2014

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.