Skip to main content

Kegiatan Mata-mata Rusia di Jerman Meningkat

Berlin - Kegiatan spionase Federasi Rusia di Jerman mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sejak zaman Perang Dingin, kata pejabat kontra intelijen senior Berlin. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam surat kabar mingguan Die Welt am Sonntag, Ahad 20 April 2014 dikatakan, aktivitas pengumpulan intelijen Rusia di pusat ibukota Jerman berkonsentrasi pada penyusupan terhadap lembaga politik dan perusahaan Jerman.
Die Welt am Sonntag, penerbitan yang berbasis di Berlin itu mengatakan, mata-mata Rusia biasanya berusaha untuk mendapatkan "pengetahuan yang mendalam" dari kebijakan energi Jerman serta aktivitas perusahaan besarnya. Bidang lain yang menarik bagi intelijen Rusia adalah menyangkut kegiatan Jerman di Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Menurut Direktur Office for the Protection of the Constitution (BfV) Hans-Georg Maassen, seperti dikutip Die Welt, tidak ada dinas intelijen asing yang lebih aktif di daratan Jerman dibanding
Sluzhba Vneshney Razvedki (SVR) Rusia. BfV adalah badan kontraintelijen Jerman. SVR adalah badan intelijen Rusia pengganti KGB, yang wilayah tugasnya di luar negeri.

Menurut Hans-Georg Maassen, kebanyakan personel intelijen Rusia "menyamar sebagai staf kedutaan." BfV juga meyakini bahwa sepertiga dari semua diplomat Rusia yang ditempatkan di ibukota Jerman itu memiliki "latar belakang dalam pengumpulan intelijen."

Menurut Burkhard, yang memimpin operasi kontraintelijen BfV, tugas utama intelijen Rusia di Jerman adalah "secara dekat menganalisis individu yang menarik perhatian Moskow". Target itu, yang umumnya personel penting yang bekerja di Bundestag (parlemen federal Jerman ) atau perusahaan besar Jerman, yang kemudian secara sistematis disapa oleh 'diplomat' Rusia.

Hans-Georg Maassen mengatakan, yang terbaru mereka sering mengajak keluar untuk makan siang atau makan malam, dan seringkali dia yang membayari. Dalam beberapa kasus mereka bahkan memberikan sesorang yang jadi target dengan "hadiah kecil" khas Rusia.

Menurut Die Welt am Sonntag, petugas Rusia itu berhati-hati dan tidak pernah menyerahkan uang langsung kepada calon potensial yang akan direkrutnya. Sebaliknya, mereka akan mencoba untuk datang dengan hati-hati dan mengarang cerita untuk bertemu secara teratur di berbagai restoran atau bar, tetapi "tidak pernah di sekitar Kedutaan Besar Rusia."

Pejabat BfV menambahkan, petugas kontra intelijen Jerman sering terkejut oleh kenaifan warga Jerman yang telah didatangi oleh petugas Rusia seperti itu. Ketika didekati oleh BfV, mereka sering benar-benar mengaku terkejut saat diberitahu bahwa mereka telah menyerahkan informasi sensitif kepada agen dari negara asing itu.

Intelnews | Die Welt am Sonntag | Abdul Manan

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.