Thursday, April 24, 2014

Fatah dan Hamas Sepakat Akhiri Perseteruan

Gaza - Dua faksi utama yang bersaing di Palestina telah menandatangani kesepakatan yang dirancang untuk mengakhiri tujuh tahun perselisihan keduanya, yang kadang-kadang dengan kekerasan, dalam pertemuan di Kota Gaza, Rabu 23 April 2014. Kesepakatan Hamas dan Fatah ini akan membuka jalan bagi pemilihan umum pada akhir tahun dan pembentukan pemerintah persatuan dalam beberapa minggu mendatang.

Perjanjian ditandatangani oleh Ismail Haniyeh, perdana menteri dari Hamas, dan delegasi senior yang diutus oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Mahmud Abbas, menandai upaya terbaru dalam tiga tahun terakhir untuk mengakhiri perselisihan antara kedua faksi ini. fatah adalah faksi dominan di dalam PLO.

Sebuah konferensi pers digelar di Gaza di aula sebelah rumah Haniyeh di kamp pengungsi yang bersorak saat ia mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri perpecahan antara dua kelompok yang berkuasa di Gaza (Hamas) dan Tepi Barat (PLO) tersebut. "Ini adalah kabar baik. Kita harus memberitahukannya kepada orang-orang: era perselisihan sudah berakhir," kata Haniyeh.

Dalam perjanjian itu tidak jelas dikatakan apakah tokoh Hamas akan diwakili dalam pemerintahan baru nanti. Ada kekhawatiran bahwa masuknya Hamas dapat menyebabkan adanya pemotongan pendanaan dari Uni Eropa dan AS untuk Palestina. Ada juga sikap skeptis atas nasib perjanjian ini karena pernah ada perjanjian serupa di masa lalu, yang disponsor negara Arab, tetapi tidak pernah diimplementasikan.

Rekonsiliasi ini, yang berlangsung kurang dari seminggu sebelum berakhirnya batas waktu 29 April 2014, untuk pembicaraan damai Israel-Palestina yang disponsori AS, diprediksi akan mempersulit upaya AS untuk melanjutkan upaya yang dimulai sejak tahun lalu itu.

Israel segera merespon kesepakatan ini dengan mengatakan bahwa Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah berganti menggeser perdamaiannya dengan Hamas, bukan dengan Israel. "Dia harus memilih," kata perdana menteri Israel Binyamin Netanyahu. "Apakah dia ingin berdamai dengan Hamas atau melakukan perdamaian dengan Israel? Anda dapat memiliki satu tetapi yang lain tidak. Saya berharap dia memilih perdamaian, di mana sejauh ini ia tidak lakukan."

Setelah kesepakatan Hamas-Fatah itu diumumkan, Israel membatalkan sesi perundingan damai yang sudah direncanakan dengan Palestina. Israel juga melancarkan serangan udara ke sebuah situs di utara Jalur Gaza, melukai 12 orang termasuk anak-anak.

Berbicara saat di Ramallah, Tepi Barat, Abbas mengatakan, dalam pandangannya, perjanjian dengan Hamas tidak bertentangan dengan pembicaraan damai yang ia lakukan dengan Israel. Ia menambahkan bahwa sebuah negara Palestina merdeka yang hidup berdampingan secara damai dengan Israel tetap menjadi tujuannya.

Di Washington, juru bicara Departemen Luar Negeri Jen Psaki mengatakan, AS terganggu oleh pengumuman rekonsiliasi itu karena itu akan menyulitkan negosiasi untuk memperpanjang waktu perundingan perdamaian Israel dan Palestina. "Sulit untuk melihat bagaimana Israel bisa diharapkan bernegosiasi dengan pemerintah yang tidak percaya pada haknya untuk eksis." Hamas sebelumnya menyatakan tak mengakui eksistensi Israel sebagai negara.

Guardian | Abdul Manan

No comments: