Skip to main content

Sejarah Penjara Rahasia CIA di Polandia

Washington - Keberadaan penjara rahasia badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), di Polandia tak hanya menjadi obyek penyelidikan di negara yang dipimpin Presiden Bronislaw Komorowski itu. Pengadilan HAM Uni Eropa juga memberi perhatian besar soal ini sehingga pernah mengundang pejabat Polandia untuk didengar keterangannya Desember lalu. Washington Post edisi 23 Januari 2014 menulis panjang soal penjara rahasia yang juga kerap disebut 'black site' CIA itu.
Pada hari yang dingin di awal tahun 2003, dua perwira senior CIA tiba di Kedutaan Besar AS di Warsawa untuk mengambil sepasang kardus besar. Di dalamnya ada bundel uang tunai sebesar $ 15.000.000 yang telah diterbangkan dari Jerman melalui kantong diplomatik.

Orang-orang itu menempatkan kotak itu di sebuah van, lalu mereka berkelok-kelok melalui ibukota Polandia dan akhirnya sampai di markas intelijen Polandia. Mereka bertemu dengan Kolonel Andrzej Derlatka, wakil kepala dinas intelijen Polandia, dan dua rekannya.

Amerika Serikat dan Polandia kemudian mengunci kesepakatan yang mengizinkan CIA menggunakan penjara rahasia -sebuah villa terpencil di distrik Polandia- untuk menginterogasi tersangka Al Qaeda. Dinas intelijen Polandia itu menerima uang tersebut, dan CIA memiliki lokasi untuk operasi rahasia terbarunya, kata pejabat CIA yang berbicara secara anonim untuk membahas program interogasi, termasuk rincian yang sebelumnya tidak dilaporkan tentang dibangunnya penjara rahasia itu.

Menurut Washington Post, penjara CIA di Polandia bisa dibilang merupakan yang paling penting dari yang dibuat CIA setelah serangan 11 September 2001. Ini adalah yang pertama dari trio penjara rahasia di Eropa yang menampung gelombang awal para konspirator serangan 11 September. Khalid Sheik Mohammed, yang dianggap sebagai otak 9/11 --sebutan untuk serangan 11 September-- ditahan di sini, dan mengalami penyiksaan dengan metode waterboarding 183 kali setelah ditangkap.

Banyak hal tentang pembangunan dan pengoperasian penjara CIA di sebuah pangkalan di salah satu negara demokrasi muda di Eropa Tengah itu tetap berjubah misteri, dan pemerintah AS telah mengklasifikasikan informasi soal itu sebagai rahasia negara. Tapi apa yang terjadi di Polandia lebih dari satu dekade lalu itu terus bergema.

Kisah dari sebuah villa Polandia yang menjadi tempat salah satu penjara yang paling terkenal dalam sejarah AS itu dimulai di kota Pakistan, Faisalabad, dengan ditangkapnya Zayn al-Abidin Muhammed Hussein, yang lebih dikenal sebagai Abu Zubaida, Maret 2002. CIA membutuhkan tempat untuk menyimpan tahanan pertama "bernilai tinggi" itu, yang diduga terkait erat dengan kepemimpinan Al Qaeda dan mungkin tahu plot serangan 11 September.

Kamboja dan Thailand menawarkan bantuan CIA. Tawaran Kamboja kurang diminati. Petugas CIA memberitahu atasannya bahwa situs yang diusulkan Kamboja penuh dengan ular. Jadi, agen CIA menerbangkan Abu Zubaida ke Thailand, di sebuah lokasi yang jauhnya sekitar satu jam perjalanan dari Bangkok.

CIA menolak berkomentar soal detail peristiwa ini.

Beberapa bulan setelah penahanan Abu Zubaida, CIA menangkap Abd al-Rahim al-Nashiri, yang diduga memiliki hubungan dengan serangan Al Qaeda atas sebuah kapal perang AS di Yaman. Dia juga dibawa ke penjara sederhana di Thailand itu. "Itu seperti kandang ayam yang kami bangun ulang, " kata seorang mantan pejabat senior soal fasilitas di Thailand itu.

Dengan prospek akan lebih banyak tawanan, CIA merasa perlu lokasi yang lebih baik. Lalu datang kabar lebih baik dari badan intelijen di Warsawa. Kepala kantor CIA dii Warsawa melaporkan bahwa dinas intelijen Polandia, yang dikenal dengan Agencja Wywiadu, memiliki markas pelatihan dengan villa yang CIA bisa gunakan di Stare Kiejkuty, yang jaraknya tiga jam perjalanan ke utara dari Warsawa.

Pejabat Polandia menanyakan apakah CIA bisa membuat beberapa perbaikan fasilitas. CIA melakukannya dan mengeluarkan hampir $ 300.000 untuk melengkapi markas itu dengan kamera keamanan.

Akomodasinya tidak luas. Dua lantai villa bisa menampung hingga beberapa tahanan. Sebuah gudang besar di belakang rumah juga diubah menjadi sel. "Itu cukup sederhana," kenang salah pejabat CIA. Ada juga sebuah ruangan di mana para tahanan, jika mereka mau bekerja sama dengan interogator CIA, bisa naik sepeda statis atau menggunakan treadmill.

Pada 5 Desember 2002, Nashiri dan Abu Zubaida diterbangkan ke Polandia dan dibawa ke situs yang diberi nama sandi "Quartz"itu. Lima hari kemudian, sebuah e -mail keluar untuk agen CIA bahwa penjara sudah bangun dan sudah beroperasi di bawah pengawasan Counterterrorism Center (CTC) CIA. Pejabat kemudian mulai menutup penjara di Thailand dan menghapus semua jejak kehadirannya di sana.

CIA menunjuk Mike Sealy, seorang pejabat intelijen senior, untuk menjalankan penjara rahasia itu, kata mantan pejabat CIA. Ia disebut sebagai "manajer program" dan diberi penjelasan tentang "teknik interogasi yang ditingkatkan" yang dirumuskan di CIA dan disetujui oleh pengacara Departemen Kehakiman. Ini termasuk metode menampar, membuat tahanan kurang tidur, dan waterboarding  --teknik interogasi yang didalamnya termasuk menuangkan air di atas wajah tahanan yang wajahnya ditutupi dan menciptakan sensasi tenggelam.

Di Polandia , Sealy mengawasi sekitar setengah lusin atau lebih petugas pelindung khusus yang dikirim CIA untuk memberikan pengamanan. Jumlah analis dan petugasnya bervariasi. Pejabat Polandia bisa mengunjungi area umum di mana makan siang disajikan, tetapi mereka tidak memiliki akses ke tahanan.

Tapi, petugas CIA berselisih soal pentingnya peranan yang dituduhkan kepada Nashiri dalam pemboman kapal perang USS Cole di Yaman tahun 2000. Serangan itu menewaskan 17 pelaut AS. "Dia adalah seorang idiot," kata mantan pejabat CIA, yang mendukung program tersebut. "Dia tidak bisa membaca atau memahami sebuah buku komik."

Pejabat CTC lain berpandangan bahwa Nashiri adalah tokoh kunci Al Qaeda dan menyembunyikan sejumlah informasi. Setelah pertemuan yang berlangsung tegang pada bulan Desember 2002 , pejabat CIA memutuskan bahwa mereka perlu untuk bersikap lebih keras terhadapnya, kata dua mantan pejabat intelijen AS.

Sebuah keputusan dibuat untuk mengirimkan seorang ahli bahasa CIA yang pernah bekerja untuk Biro Penyelidik Federal (FBI) AS di New York. Albert El Gamil adalah keturunan Mesir dan lancar berbicara bahasa Arab dengan lancar, tapi ia bukan interogator terlatih.

Gamil terbang ke Polandia, di mana ia pura-pura menempatkan bor ke kepala tahanan yang matanya ditutup, kata beberapa mantan pejabat CIA. Pejabat tinggi CIA mengetahui insiden itu pada Januari 2003 setelah seorang penjaga keamanan di fasilitas mendengar bunyi alarm. Sealy dan Gamil ditarik dari Polandia dan diberhentikan dari program ini, menurut beberapa mantan pejabat badan CIA. Mereka akhirnya meninggalkan CIA tak lama sesudahnya.

Sealy dan Gamil menolak berkomentar soal berita ini.

Pada bulan Maret 2003, Khalid Sheik Mohammed ditangkap di kota Rawalpindi, Pakistan, dan dibawa ke Polandia. Dia terbukti sulit untuk ditaklukkan, bahkan ketika disiksa dengan metode waterboarding. Mohammed, yang kerap disebut dengan akronim KSM, akan menghitung detik, antara 20 dan 40, karena mengetahui bahwa simulasi penenggelaman selalu berakhir dalam jangka waktu tertentu.

Seorang pejabat CIA mengatakan bahwa satu waktu, KSM tertidur di antara sesi waterboarding itu. Namun para pejabat itu mengatakan bahwa ia akhirnya menyerah setelah kurang tidur berkepanjangan.

Pejabat CIA menegaskan bahwa saat di Polandia, KSM, yang memiliki ego yang cukup besar, mulai berbicara. Dia suka memberi kuliah kepada petugas CIA, yang kemudian akan mengarahkan percakapan dengan cara yang menguntungkan mereka. Agen CIA perempuan, yang tak lama kemudian tewas di Afghanistan, juga menginterogasinya di Polandia. Dia mengatakan kepada KSM, bahwa dia tahu segalanya tentang dia dan ia seharusnya tidak berbohong padanya. KSM, bersandar di kursinya dan berkata, "Lalu kenapa kau di sini?"

Abu Zubaida juga memberikan informasi penting kepada interogator, kata para pejabat AS. Dia mengidentifikasi orang-orang dalam foto-foto yang disodorkan kepadanya. Para pejabat mengatakan Abu Zubaida bahkan bersedia untuk membantu agar tahanan baru bersedia bicara. "Allah tahu saya hanya manusia dan tahu bahwa saya akan diampuni," kata mantan pejabat CIA, mengingat perkataan Zubaida.

Mantan pejabat lembaga yang terlibat langsung dalam program ini, seperti mantan wakil direktur operasi CIA, Jose Rodriguez, mengatakan bahwa teknik-teknik interogasi keras menghasilkan "hasil positif yang dramatis."

Akhirnya, CIA meninggalkan Polandia setelah khawatir keberadaan situs itu terekspos. Pada September 2003, situs itu dikosongkan. CIA menyebar tahanan ke Rumania, Maroko dan, kemudian, Lithuania . Mencari solusi jangka panjang, CIA membayar Maroko US$ 20 juta untuk membangun sebuah penjara yang tidak pernah digunakan yang diberi nama kode "Bombay."

Pada tahun 2005, The Washington Post melaporkan bahwa CIA telah mengoperasikan penjara rahasia di Eropa Timur. Human Rights Watch segera mengidentifikasi lokasinya di Polandia dan Romania, dan pejabat Eropa dan beberapa laporan berita sejak itu mengkonfirmasi adanya situs tersebut.

Sebelum Porter J. Goss mengundurkan diri sebagai direktur CIA, Mei 2006, fasilitas di Rumania dan Lithuania ditutup. Beberapa tahanan dikirim ke penjara Maroko yang telah digunakan sebelumnya. Lainnya dikirim ke penjara baru CIA di Kabul yang disebut "Fernando," yang menggantikan salah satu yang dikenal sebagai "Salt Pit."

Dari lokasi tersebut, 14 tahanan yang dianggap bernilai tinggi dikirim ke pusat penahanan militer AS di Teluk Guantanamo September 2006. Tiga tahun kemudian, Presiden AS Barack Obama mengakhiri program interogasi keras itu.

Tahun sebelumnya, jaksa Polandia membuka penyelidikan kriminal atas penjara rahasia itu. Mereka juga diam-diam mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi para pejabat CIA yang mengunjungi penjara rahasia itu. Tidak jelas apakah kini surat perintah itu masih berlaku atau tidak.

WASHINGTON POST | ABDUL MANAN

TEMPO.CO |SENIN, 03 FEBRUARI 2014 | 05:38 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.