Skip to main content

Newsweek Akan Kembali Terbit dalam Edisi Cetak

New York - Newsweek, majalah mingguan Amerika Serikat, kemungkinan akan kembali terbit dalam edisi cetak. Majalah yang pemiliknya berganti beberapa kali ini menghentikan edisi cetaknya tahun lalu.


Menurut Jim Impoco, pemimpin redaksi Newsweek, majalah ini kemungkinan akan terbit 64 halaman pada bulan Januari atau Februari. Kata Impoco, Newsweek akan lebih banyak tergantung pada pelanggan daripada pengiklan untuk membiayai ongkos produksinya dan pembaca akan mengeluarkan biaya lebih mahal daripada di masa lalu.

"Ini akan berbasis pada model langganan, lebih dekat dengan yang dilakukan mingguan The Economist dibandingkan majalah Time. Kami melihatnya ini sebagai produk premium, produk butik," kata Impoco seperti dimuat New York Times edisi 3 Desember 2013.

Langkah Newsweek untuk kembali menerbitkan edisi cetak merupakan tanda positif bagi majalah yang sedang berjuang mati-matian di era digital ini. Pada puncaknya pada tahun 1991, majalah ini memiliki 3,3 juta pembaca.

Newsweek awalnya dimiliki The Washington Post. Pada tahun 2010, The Washington Post menjualnya ke ke miliarder Sidney Harman. Pemilik yang baru itu kemudian merger dengan The Daily Beast, website yang dimiliki oleh IAC/InterActiveCorp.

Editor Tina Brown mengontrol dua penerbitan itu, tetapi usaha untuk melebur keduanya ternyata gagal. Newsweek tak bisa benar-benar bisa melebur dengan The Daily Beast. Brown mengumumkan pada Oktober 2012 bahwa Newsweek tidak akan menerbitkan lagi majalah edisi cetak, yang itu menghemat $ 40 juta per tahun. Newsweek akan tetap terbit dalam versi online yang dinamai Newsweek Global.

Namun, menghilangkan biaya-biaya dari penerbitan edisi cetak ternyata bukan menjadi solusi bagi kelangsungan Newsweek.

Pada bulan Mei, Brown mengumumkan bahwa IAC/InterActiveCorp berencana untuk menjual Newsweek sehingga bisa memfokuskan perhatiannya pada The Daily Beast. IBT Media, perusahaan kecil media digital, membelinya pada Agustus 2013 lalu.

Impoco, yang menjadi editor Newsweek pada bulan September 2013, mengatakan, pemilik baru majalah tidak ingin menghabiskan banyak uang untuk cetak seperti pendahulunya. Dia mengatakan bahwa IBT sedang bernegosiasi dengan percetakan dan distributor, dan berharap bahwa itu akan membangun jalur peredarannya menjadi 100.000 eksemplar pada tahun pertama.

Sejak memimpin Newsweek, Impoco, mantan editor di The New York Times, telah merekrut lebih dari dua lusin karyawan baru dan ingin memperluas liputan internasional majalah ini.

New York Times | Abdul Manan

TEMPO.CO | KAMIS, 05 DESEMBER 2013 | 14:27 WIB 

Comments

Popular posts from this blog

Melacak Akar Terorisme di Indonesia

Judul: The Roots of Terrorism in Indonesia: From Darul Islam to Jemaah Islamiyah Penulis: Solahudin Penerbit: University of New South Wales, Australia Cetakan: Juli 2013 Halaman: 236

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO Prolog Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban). Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis. Inilah laporan lengkapnya: Rabu, 5 Maret 2003 Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa h