Skip to main content

Drama Baru Berlusconi

Roma - Karir politik Silvio Berlusconi sepertinya mendekati senja. Setelah didera sejumlah kasus kriminal, Rabu lalu Senat Italia menyatakan sang taipan media dan pemilik klub sepakbola AC Milan itu tak dapat duduk di parlemen. Melalui pemungutan suara, Berlusconi resmi didepak dari Senat setelah dihukum terkait penggelapan pajak oleh raksasa perusahaan penyiarannya, Mediaset.


Di bawah hukum yang disahkan Senat Italia tahun lalu, politisi yang dihukum karena tindak pidana berat dianggap tidak memenuhi syarat untuk duduk di parlemen. Tapi, pendepakannya harus dikonfirmasi oleh suara penuh di Senat. Usulan untuk mendepak Berlusconi, eks perdana menteri Italia selama tiga kali, digagas oleh partai kiri Democrat Party dan partai anti-kemapanan 5-Star Movement.

Berlusconi bereaksi keras atas keputusan Senat ini, dan menyatakan akan menjadi oposisi. Ia menuduh lawan politik dari sayap kiri melakukan "kudeta" untuk menyingkirkan dia. "Kami berada di sini pada hari yang pahit, hari berkabung bagi demokrasi," kata Berlusconi kepada pendukung dari partainya, Forza Italia, di kediamannya di Roma.

Dengan pencopotan ini, ia pun dilucuti dari kekebalannya dari penangkapan seperti yang ia nikmati selama 20 tahun menjadi anggota parlemen. Dengan keputusan Senat Rabu lalu itu, Berlusconi kini lebih rentan saat menghadapi serangkaian kasus kriminal lainnya. Selain kasus penggelapan pajak, ia juga didakwa dengan kasus suap politik dan membayar untuk seks dengan anak di bawah umur.

"Kita harus tetap di lapangan dan tidak boleh menyerah, bahkan meski pemimpin partai tak lagi menjadi Senator," kata perdana menteri selama tiga periode ini. Berlusconi memastikan kepada para pendukungnya bahwa ia akan tetap menjadi lawan merepotkan bagi pemerintah koalisi yang dipimpin Enrico Letta dari Democrat Party.

Berlusconi masih bisa menimbulkan kerusakan pada pemerintahan Letta meski tak di Parlemen. Mediaset, lembaga penyiaran swasta terbesar Italia, juga menyiratkan nada yang semakin skeptis terhadap Euro dan 'menyerang' Uni Eropa dan Kanselir Jerman Angela Merkel --sekutu pemerintahan Letta.

"Berlusconi masih sangat kuat, meskipun kekuatannya berkurang. Dia masih memiliki sumber daya yang sangat besar. Ia masih memiliki media, dan pendukung yang sangat fanatik di dalam dan di luar parlemen," kata James Walston, profesor American University di Roma.

Reuters | Guardian | Aljazeera | Abdul Manan

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Jreng-jreng-jreng, Lalu Masuk Bui

Pemerintah mengeluarkan peraturan baru tentang ketertiban kota. Semoga tak jadi macan ompong.

"SAUDARA-saudara, sebentar lagi saudara dilarang bersedekah kepada pengamen,” kata pria seusia anak SMA itu membuka percakapan sebelum melantunkan lagu untuk penumpang bus AC jurusan Rawamangun-Blok M. ”Tapi jangan cemas. Perdanya belum berlaku,” katanya tersenyum. Gitar pun dipetik dan lagu mengalun di tengah penumpang yang sesak.

Pengamen itu tak sedang berkelakar. Pada Senin pekan lalu, Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum disahkan DPRD DKI Jakarta. Ini akan jadi momok baru tak hanya bagi pengamen, tapi juga gelandangan, pengemis, dan pedagang asongan. Tak cuma mereka yang bakal dihukum jika tetap bandel beroperasi di tempat umum, pemberi sumbangannya pun bakal kena semprit. Ganjarannya bervariasi: dari denda Rp 50 juta hingga enam bulan penjara.

Peraturan baru yang kini ramai jadi bahan obrolan ini merupakan revisi dari Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1988. Diajuk…