Wednesday, October 30, 2013

Misteri Mata-mata KGB di Tubuh FBI

Meski Perang Dingin sudah lama berlalu, namun masih banyak warisan 'perseteruan' yang masih berlangsung hingga kini. Salah satunya adalah perang spionase, antara negara Barat yang dipimpin Amerika Serikat melawan eks sekutu yang kemudian menjadi rival utamanya: Uni Sovyet --kini Federasi Rusia.
David Wise, penulis buku Spy: The Inside Story of How the FBI's Robert Hanssen Betrayed America, menulis cerita perburuan terhadap mata-mata Uni Sovyet di antara staf Biro Penyelidik Federal (FBI) AS, yang dimuat dalam www.smithsonianmag.com edisi Oktober 2013. Mole (pegawai dinas intelijen yang bekerja untuk musuh) itu diidentifikasi sejak 1962, tapi belum diketahui hingga kini.

Perburuan ini berawal dari peristiwa 50 yahun lalu. Pada satu malam di musim semi tahun 1962, pria Rusia pendek dan gempal masuk ke kantor FBI di Midtown, Manhattan, dan menawarkan jasanya sebagai mata-mata untuk AS. Aleksei Kulak, saat itu 39 tahun, bekerja dengan menggunakan penyamaran sebagai ilmuwan di PBB. Ia mengaku tidak senang dengan kemajuannya di majikan yang sebenarnya, badan intelijen Uni Sovyet: KGB --kini menjadi SVR.

Kulak mengambil risiko besar dengan masuk ke kantor FBI, di East 69th Street di Third Avenue, yang itu hanya tiga blok dari misi Sovyet untuk PBB di Park Avenue 68th Street, yang menjadi badan untuk penyamaran puluhan agen KGB. "Apakah kamu tidak khawatir mereka mungkin mengawasi gedung FBI?" tanya seorang agen FBI.

"Tidak," jawab Kulak. "Semua orang kami keluar memberikan perlindungan untuk sebuah pertemuan dengan orang Anda bernama Dick."

Pria Rusia itu jelas mengatakan bahwa KGB punya mole di dalam FBI. Tiga kata Kulak itu, "Your guy, Dick" menjadi gempa bagi biro dan suaranya terus menggema selama beberapa dekade, hingga sekarang.

Kulak menjadi sumber nomor 10 FBI, dengan nama sandi Fedora. Agen FBI ditugaskan untuk memburu pria yang diberi nama sandi UNSUB Dick. UNSUB singkatan dari "unknown subject (subyek yang tak diketahui)", merujuk kepada mata-mata seperti dikatakan Kulak bersembunyi di dalam biro.

David Major, yang menghabiskan 24 tahun sebagai agen kontraintelijen FBI, menyebut operasi perburuan UNSUB Dick itu mengguncang fondasi FBI. Selama tiga dekade, ratusan agen jatuh karirnya karena berada di bawah bayang-bayang penyelidikan kasus ini.

Dalam hal efek merusak, Mayor membandingkan perburuan ini sama dampaknya seperti yang pernah terjadi saat Kepala Kontraintelijen CIA 1954 to 1975 James Yesus Angleton memburu mata-mata KGB di dinas intelijen Central Intelligence Agency (CIA).

Perburuan Angleton melumpuhkan operasi CIA urusan Soviet dan menghancurkan atau merusak karir 50 perwira loyal CIA antara tahun 1961 dan 1974. "Nah, hal yang sama terjadi pada FBI. Dick merobek biro hingga tercerai berai. Tapi itu tidak pernah terbuka ke publik," kata Major.

David Wise pertama kali mempelajari soal UNSUB Dick ini saat melakukan penelitian untuk buku Spy: The Inside Story of How the FBI's Robert Hanssen Betrayed America, yang terbit tahun 2002. Awalnya, sejumlah agen FBI, termasuk Major, menolak untuk bicara soal Dick ini. Seiring dengan berlalunya waktu, Major dan beberapa agen lainnya setuju untuk membicarakannya.

Pelacakan dan salah satu investigasi paling sensitif dan sejarah perburuan pertama FBI terhadap mata-mata Sovyet di badan ini. "Ini yang pertama," kata Patrick R. Watson, agen kontraintelijen di New York pada saat itu yang kemudian menjadi asisten wakil direktur FBI untuk operasi intelijen.

Tugas pertama biro adalah untuk memastikan bahwa yang ditugaskan untuk menemukan Dick adalah bukan Dick sendiri. Untuk mengurangi risiko itu, perburuan dipercayakan kepada dua agen kontraintelijen senior, Joseph J. Hengemuhle dan Joseph J. Palguta. Berbekal tak lebih dari hanya nama Dick, yang itu tidak pasti apakah nama asli atau nama sandi KGB, keduanya memulai perburuannya.

Dengan ribu agen yang bertugas, New York adalah kantor lapangan FBI terbesar. "Ada sekitar enam atau tujuh regu Soviet dengan masing-masing 20 atau 25 orang," kata eks agen kontraintelijen FBI di New York. Ditambah regu pengintai dan skuad pengawasan, lebih dari 300 agen yang mengawasi Soviet. Semua orang di regu tersebut adalah tersangka potensial sebagai mata-mata seperti dimaksud Kulak. Jika ditambah agen FBI yang mengawasi target Eropa Timur, jumlah tersangka yang logis bisa berjumlah sekitar 500 orang.

Tentu saja, setiap orang bernama Dick harus diselidiki. "Dick McCarthy menjadi tersangka pertama karena namanya," kata Walter C. "Goose " Gutheil, seorang agen kontraintelijen FBI New York selama 26 tahun, sampai ia pensiun tahun 1978. Richard F. McCarthy, yang bekerja pada skuad yang mengawasi intelijen militer Soviet (GRU), berasumsi akan menjadi target yang diselidiki. Tapi ia tidak pernah diwawancarai untuk penyelidikan ini.

Satu-satunya hal lain yang para pemburu itu tahu adalah bahwa pada malam Kulak ke kantor FBI, katanya Dick keluar bertemu dengan agen KGB. Itu meyakinkan Kulak bahwa dia tidak berbicara dengan sang mata-mata Sovyet, tapi itu juga membuatnya tak mengetahui identitas dan penampilan Dick. Ini membuat Kulak hanya memberi sedikit petunjuk bagi Hengemuhle dan Palguta.

Keduanya lantas mencoba untuk mempersempit pencarian dengan mencari siapa agen FBI yang berada di jalanan saat Kulak ke FBI.

Meskipun Hengemuhle dan Palguta melaksanakan misi ini tertutup, isu-isu bertebaran. Untuk alasan keamanan, para pemburu mata-mata ini bekerja dari ruang belakang tanpa jendela di kantor FBI New York, dipisahkan dari ruang utama. "Itu seharusnya rahasia, tapi semua orang tahu tentang perburuan ini," kata Major. James A. Holt, agen kontraintelijen di New York pada saat itu.

Salah satu alasan dari ketakutan para agen adalah bahwa di antara mereka yang khawatir penyelidikan itu mungkin mengungkap dosa-dosa lain, seperti masalah soal kebiasaan minum minuman keras, atau karena memiliki hubungan di luar nikah. FBI juga diyakini menyadap para pegawainya, termasuk saluran komunikasi di kantor itu.

David Major mengetahui soal UNSUB Dick saat ia ditugaskan ke kantor FBI Newark pada tahun 1972. Saat itu ia diberitahu agen yang sebelumnya bekerja di kantor New York. Agen itu sangat emosional, karena akibat kasus itu ia dipindahkan ke Newark. Ia juga diberitahu oleh agen ini bahwa sejumlah besar agen dipindahkan dari New York karena perburuan terhadap UNSUB Dick.

Sementara itu, penyelidikan tampaknya semakin tidak dekat dengan target. Kemudian pada 1964 atau 1965, agen KGB kedua, Valentin Lysov, mencurigai bahwa FBI telah disusupi, tapi dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Para pemburu mata-mata ini pun memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru, melalui "operasi menjuntai", di mana mereka akan mengirim seorang agen FBI yang menyamar sebagai pembelot untuk menawarkan jasanya kepada KGB. Harapannya, setiap percakapan yang dihasilkan akan menimbulkan beberapa petunjuk untuk mengarahkan pada identitas UNSUB Dick.

Seorang agen FBI ditugaskan datang ke apartemen Boris Ivanov, KGB rezident di New York. Saat itu Ivanov membanting pintu, tetapi sang agen sudah mengatakan ia ingin bertemu mereka pada saat dan di suatu tempat. Faktanya, agen kontraintelijen KGB muncul pada waktu dan tempat yang ditentukan.

Kata agen FBI saat itu, mereka menjalankan operasi itu selama enam bulan. "Kami berharap pertanyaan mereka bisa membawa kita ke identitas Dick, pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan dan pertanyaan yang tak mereka tanyakan --karena itu akan menunjukkan mereka memiliki sumber di area tersebut. "Tapi KGB 'tidak pernah mengajukan pertanyaan yang tepat,' dan operasi itu terbukti sia-sia," kata agen itu.

Saat penyelidikan berlangsung, keaslian Aleksei Kulak sempat dipertanyakan: apakah dia seorang "agen lapangan" untuk FBI, atau agen ganda yang ditanam oleh KGB?

Kulak, yang menjadi sumber dari segala kekacauan ini, tiba di New York pada 28 November 1961, hanya beberapa bulan sebelum dia muncul di kantor FBI dengan membawa berita soal Dick. Saat itu, agen KGB itu menggunakan penyamaran sebagai konsultan untuk sebuah komite PBB tentang efek radiasi nuklir, namun misi sebenarnya adalah untuk mengumpulkan informasi ilmiah dan teknis rahasia untuk KGB.

Pada bulan Februari 1963, peyamaran Kulak berganti sebagai ilmuwan di misi Soviet untuk PBB, dan kembali ke Moskow pada tahun 1967. Dia kembali ke misi Soviet di New York tahun 1971 dan tinggal enam tahun lagi sebelum pulang untuk selamanya. Sejumlah agen mengatakan, ia memberi informasi kepada FBI selama sepuluh tahun.

Kulak secara berkala bertemu diam-diam dengan agen FBI, dan rekaman video dari sesi pertemuan itu memperlihatkan ada sebotol Scotch di atas meja. Kulak peminum berat, dan botol itu dianggap sebagai pelumas yang diperlukan untuk mengorek keterangan darinya.

"Informasi yang dia berikan selama bertahun-tahun adalah sebagian bagus --dan masuk kategori sangat baik untuk mengidentifkasi petugas KGB lainnya," kata seorang mantan pejabat senior FBI, agen kontraintelijen di New York pada saat itu. Kulak, katanya, mengidentifikasi setiap orang KGB di New York, ditambah banyak sumber-sumber mereka.

Dalam pandangan David Major, Kulak adalah "salah satu sumber yang paling penting yang dimiliki FBI" dan "perwira pertama KGB yang pernah dipekerjakan oleh FBI". Dia menambahkan, "KGB tidak akan pernah mengirim seorang perwira sebagai pembelot palsu.

Kulak, menurut agen ini, mengatakan bahwa Dick telah memberitahu KGB soal sandi pengawasan FBI, kode rahasia pengintaian FBI yang digunakan untuk berkomunikasi saat mengintai pergerakan agen Soviet.

CIA, juga resah pada pertanyaan soal kejujuran Kulak itu. James Angleton, kepala kontra-intelijen, tidak pernah percaya bahwa Kulak dia adalah sumber tulen. Setelah Angleton dipecat, penggantinya menyimpulkan bahwa Kulak adalah sumber yang valid, dan dua spesialis kontraintelijen CIA yang ditugaskan untuk meninjau file FBI setuju dengan penilaian itu.

Tapi orang lain yang meragukan keasliannya untuk bekerja sebagai mata-magta AS juga karena melihat bahwa ketika ia kembali ke Moskow tahun 1976, Kulak tidak dieksekusi. Ini beda dengan nasib agen GRU Dmitri Fedorovich Polyakov, yang memberikan informasi berharga kepada CIA dan FBI selama 18 tahun sampai agen CIA Aldrich Ames mengkhianatinya pada 1980-an.

Kulak selamat saat pulang, meski laporan media AS telah mengisyaratkan bahwa FBI memiliki sumber di dalam KGB di New York. Dalam buku tahun 1978 berjudul Legend: The Secret World of Lee Harvey Oswald, penulis Edward Jay Epstein mempublikasikan agen dengan nama sandi Fedora dan menggambarkan dia sebagai perwira KGB yang bekerja menyamar di PBB dan mengkhususkan diri dalam "ilmu pengetahuan dan teknologi."

Sebelum meninggalkan New York untuk terakhir kalinya, Kulak juga sepakat untuk tetap memberikan informasi kepada CIA di Moskow. Ia melakukannya.

Pengungkapan identitas Fedora dalam buku Edward Jay Epstein itu membuat FBI khawatir. Ia pun menawarkan untuk mengeluarkannya dari Moskow, tapi Kulak menolaknya. Dia tidak pernah ditangkap, dan FBI akhirnya menerima kabar bahwa dia meninggal karena penyebab alami pada awal tahun 1980.

Oleg Kalugin, seorang mayor jenderal di KGB yang menjadi pengkritik keras badan mata-mata itu dan pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1995, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa Soviet "Mencurigai (Kulak), tetapi mereka tidak memiliki cukup bukti." Kalugin menyebut Kulak berjasa bagi Sovyet selama Perang Dunia II dan itulah yang memberi Kulak semacam jubah kekebalan.

Saat ditanya soal Kulak, Kalugin mengatakan bahwa ia pernah memberikan bayaran kepada orang yang disebut sebagai Dick itu "lebih dari sekali dan secara langsung". Tapi, ia tidak tahu nama aslinya. Kalugin  tidak mengatakan berapa banyak KGB membayar Dick.

FBI membayar Kulak US$ 100.000 lebih selama 15 tahun. Seorang agen lainnya mengatakan, Kulak khawatir bahwa unsub Dick akan mengetahui bahwa dia menjadi mata-mata FBI dan memberitahu KGB tentang dia. Kulak, kata agen itu, "Terus mengatakan kepada biro untuk menemukan (Dick)."

Namun seiring waktu, perburuan terhadap Dick itu memudar. Palguta pensiun tahun 1976, Hengemuhle pensiun tahun 1987. Pada periode itu, prioritas lain mengambil alih fokus FBI.

Pada 1985, FBI melakukan banyak penangkapan mata-mata sehingga tahun itu dikenal sebagai Tahun Mata-mata, dengan menangkap: kepala jaringan mata-mata Angkatan Laut AS, John A. Walker; analis Angkatan Laut yang memata-matai untuk Israel, Jonathan J. Pollard; dan mantan karyawan Natioanl Security Agency (NSA) yang memberikan informasi rahasia kepada Soviet, Ronald W. Pelton.

Mole pertama FBI yang ditemukan, Richard Miller dari kantor Los Angeles, ditangkap pada tahun 1984 dan dihukum karena menjadi mata-mata Soviet serta dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Pada tahun 1996, Earl Edwin Pitts menjadi orang kedua, dan ia pun dikirim ke penjara selama 27 tahun. (Hanssen, mole Soviet paling terkenal di FBI tidak tertangkap sampai tahun 2001. Ia akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup).

Tapi meskipun jejak ke Unsub Dick sudah dingin, FBI tidak mau melupakan kasus ini. Pada pertengahan 1980-an, seorang analis FBI bernama Robert H. King menyimpulkan bahwa ia telah mengidentifikasi UNSUB Dick. King telah bekerja di CIA sebelum ia bergabung dengan FBI tahun 1980. Dia dan koleganya FBI James P. Milburn memiliki tugas khusus mendeteksi penyusupan di biro.

King memiliki keuntungan dari dua potong informasi yang dipelajari melalui tur kedua Kulak. Pertama, KGB memiliki sumber yang telah pensiun dari FBI dan tinggal di Queens, sebuah kota kecil yang disukai oleh banyak agen FBI yang tidak bisa membayar sewa di Manhattan. Kedua, nama belakang sumber itu adalah alfabet Cyrillic huruf G, yang juga kode nama KGB-nya. King bertanya-tanya apakah sumber KGB di Queens adalah UNSUB Dick itu?

Dengan susah payah, ia memeriksa nama setiap agen FBI yang tinggal di Queens tahun 1960 dan menemukan bahwa salah satu dari mereka telah ditandai dalam pemeriksaan rutin oleh kantor New York. Agen itu tidak bekerja di kontra intelijen, tetapi pada keamanan internal dan investigasi Partai Komunis. Kinerjanya buruk dan ia memiliki sejumlah masalah lain, termasuk penyalahgunaan alkohol, yang bisa membuatnya menjadi target untuk direkrut oleh KGB. Dia pensiun karena alasan medis sekitar tahun 1964, ketika ia berusia pertengahan 30-an.

King, yang bisa berbicara bahasa Rusia, menerjemahkan surat dengan huruf Cyrillic menjadi Romawi dan tidak cocok dengan inisal terakhir mantan agen itu. Kemudian ia menyadari bahwa surat Romawi yang ditransliterasikan ke dalam Cyrillic dapat kembali diterjemahkan ke huruf Romawi yang berbeda. Setelah hampir seperempat abad, FBI akhirnya memiliki tersangka layak pertama soal UNSUB Dick.

Seorang agen FBI dikirim ke Queens untuk mewawancarai tersangka. Dia membantah ia adalah mata-mata. King dan Milburn mewawancarainya lagi, dan kembali menyangkal. Dua agen kontraintelijen FBI berpengalaman mewawancarainya untuk ketiga kalinya, satu cenderung percaya penolakan pria itu dan yang lain tidak.

King tetap yakin bahwa ia telah menemukan UNSUB Dick, dan keyakinannya tampaknya didukung oleh file KGB. Pada tahun 1973, Oleg Kalugin berada di Moskow, menjabat sebagai kepala kontra intelijen KGB. Karena penasaran, ia meninjau beberapa file. "Ada satu file dari orang kami di FBI," kata Kalugin. "Dia sudah pensiun dan tinggal di Queens."

Tanpa pengakuan tersangka, FBI tidak bisa secara resmi menerima pandangan King dan tak bisa mengambil tindakan hukum terhadap mantan agen itu. "Spionase adalah kejahatan yang sangat sulit untuk dibuktikan," kata Patrick Watson. "Kecuali tersangka mengaku atau tertangkap dalam tindakan memberikan informasi kepada kekuatan asing, penangkapan dan penuntutan tidak mungkin dilakukan." Untuk mengusut kasus ini, FBI juga harus mengungkapkan identitas Kulak, yang saat itu belum diketahui publik, serta informasi yang ia berikan.

Sampai Oktober ini, kata David Wise, FBI mempertahankan sikap diamnya soal UNSUB Dick. Menanggapi beberapa permintaan untuk komentar soal berita ini, juru bicara FBI mengatakan tidak akan ada komentar yang akan diberikan, dan bahwa "asisten direktur untuk kontra-intelijen tidak akan mengkonfirmasi atau menyangkal kasus seperti itu."

Smithsonianmag.com | Abdul Manan

TEMPO.CO | SELASA, 29 OKTOBER 2013 | 23:21 WIB

1 comment:

Yogi Marsahala said...

banyak mata-mata rahasia