Skip to main content

Brazil Tuding Kanada Lakukan Spionase Industri

Brasilia - Brasil telah meminta klarifikasi dari pemerintah Kanada tentang tuduhan bahwa badan intelijen negara itu menargetkan Kementerian Pertambangan dan Energi Brasil. Presiden Brasil Dilma Rousseff menyebut tindakan itu sebagai bentuk spionase industri.


Menteri Luar Negeri Brasil Luiz Alberto Figueiredo memanggil duta besar Kanada untuk "mengirimkan pesan kemarahan pemerintah Brasil dan meminta penjelasan," kata Kementerian Luar Negeri Brasil dalam sebuah pernyataan setelah pengungkapan adanya aksi spionase itu. Pernyataan ini disiarkan Minggu, 6 Oktober 2013 malam di jaringan Globo, Brasil.

Laporan itu mengatakan, metadata panggilan telepon dan email ke dan dari Kementerian Pertambangan dan Energi Brasil menjadi sasaran penyadapan badan intelijen Kanada, Communications Security Establishment (CSE). Laporan itu tidak menunjukkan apakah email itu dibaca atau panggilan teleponnya juga didengarkan.

Laporan yang dilansir Globo itu didasarkan pada dokumen yang dibocorkan oleh mantan kontraktor badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA) Edward Snowden. Dokumen serupa juga mengungkapkan bahwa AS dan Inggris juga menargetkan Brasil.

Selama pertemuan hari Senin, 7 Oktober 2013, pernyataan Figueiredo mengekspresikan "penolakan pemerintah atas pelanggaran berat dan tidak bisa diterima terhadap kedaulatan nasional dan hak-hak masyarakat dan perusahaan Brasil".

Juru bicara CSE mengatakan, mereka "tidak berkomentar soal kegiatan pengumpulan badan intelijen untuk urusan luar negeri". Ray Boisvert, wakil direktur intelijen Kanada sampai tahun lalu, mengatakan, dalam pikirannya, Kanada bisa saja menggunakan Brasil sebagai bagian dari permainan skenario perang dan bukan untuk spionase yang sebenarnya.

Dia menambahkan, dia tidak berpikir spionase industri sedang berlangsung karena "sejujurnya kami semua terlalu sibuk mengejar hal lain yang bisa membunuh orang".

Boisvert mengatakan, laporan Globo itu tidak menunjukkan Brasil sebagai target nyata. "Ini hal yang hipotetis, seperti bisakah kita melakukan sesuatu? Cukup sering ada latihan dan mereka akan menggunakan negara manapun hanya untuk menguji teori itu," katanya.

Dalam komentar di Twitter pada hari Senin, 7 Oktober 2013, Rousseff mengatakan, spionase industri tampaknya berada di balik dugaan aksi spionase oleh Kanada. Sebab, perusahaan-perusahaan Kanada memiliki kepentingan pertambangan besar di seluruh dunia, termasuk di Brasil.

Dalam komentar Twitter-nya, yang dikonfirmasi otentik oleh kantor presiden, Rousseff juga menginstruksikan Menteri Pertambangan Brasil Edison Lobao untuk memperkuat sistem perlindungan data kementeriannya.

Globo sebelumnya melaporkan bahwa komunikasi Rousseff, dan juga perusahaan minyak yang dikelola negara Petrobras, menjadi target pengintaian NSA.

Sebelumnya, Greenwald menulis artikel di surat kabar O Globo yang mengatakan bahwa NSA sedang mengumpulkan metadata miliaran email, panggilan telepon, dan data internet lainnya yang mengalir melalui Brasil, titik transit penting bagi komunikasi global.

Imbas atas dugaan program mata-mata yang dilakukan AS terhadap Brasil membuat Rousseff membatalkan rencana kunjungannya ke Washington. Saat berbicara dalam sidang umum PBB bulan lalu, Rousseff juga menyerukan adanya peraturan internasional tentang data pribadi dan pembatasan program spionase yang menargetkan internet.

GUARDIAN | ABDUL MANAN

TEMPO.CO | SELASA, 08 OKTOBER 2013 | 19:48 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…