Skip to main content

Eks Agen FBI Mengaku Bersalah Bocorkan Rahasia

New York - Donald Sachtleben, mantan agen Biro Penyelidik Federal (FBI) Amerika Serikat, dalam sidang Senin, 23 September 2013, mengaku bersalah karena membocorkan informasi kepada wartawan tentang rencana pengeboman oleh Al-Qaeda dan tuduhan kasus pornografi anak.


Sachtleben, 55 tahun, terancam 12 tahun penjara karena pelanggaran ini.

Pejabat Amerika Serikat mengatakan dibukanya informasi soal rencana pengeboman itu pada Mei 2012 oleh kantor berita Associated Press (AP) membahayakan operasi intelijen internasional dan mengancam keselamatan warga.

Penyelidik mengidentifikasi Sachtleben setelah mendapatkan catatan telepon kantor berita Associated Press (AP), yang menerbitkan sebuah artikel tentang plot serangan al-Qaeda yang bermarkas di Yaman ke AS.

"Pengungkapan tidak sah dan tidak dapat dibenarkan ini sangat membahayakan keamanan nasional dan mengancam nyawa," kata Wakil Jaksa Agung AS James Cole dalam sebuah pernyataan.

"Untuk menjaga negara aman, departemen harus menegakkan hukum terhadap kebocoran informasi penting dan berbahaya seperti ini, sementara pada saat yang sama menghormati pentingnya peran pers."

Pada Mei 2012, Associated Press menerbitkan sebuah artikel yang menulis usaha badan intelijen AS yang berhasil membatalkan plot oleh militan Al-Qaeda yang berbasis di Yaman untuk mengebom sebuah pesawat dengan tujuan AS.

Dalam dokumen pengadilan, Sachtleben dari Indiana mengaku memberikan informasi kepada reporter AP soal plot yang cocok dengan gambaran itu.

AP menolak untuk mengomentari hubungannya dengan Sachtleben. Ia bekerja untuk FBI sebagai teknisi bom dari tahun 1983-2008 dan memiliki otoritas untuk mengakses informasi rahasia.

Pada tahun 2008, Sachtleben dipekerjakan kembali oleh FBI sebagai kontraktor dan tetap memiliki security clearence--akses terhadap informasi yang tak boleh diakses orang pada umumnya.

Pada 2 Mei 2012, ia mengungkapkan informasi rahasia kepada wartawan AP, kata dokumen pengadilan. Sembilan hari kemudian ia ditangkap atas tuduhan karena kasus lain, yaitu dugaan perdagangan gambar pornografi anak secara online. Ia terjerat kasus ini setelah FBI menyelidiki pria lain karena kasus pornografi anak.

Saat FBI menggeledah komputer Sachtleben, penyelidik menemukan adanya dokumen-dokumen rahasia yang disimpan secara tidak layak.

Pada hari Senin 23 September 2013, Sachtleben mengaku bersalah atas pembocoran informasi terkait pertahanan nasional, kepemilikan tidak sah dan penyimpanan informasi soal pertahanan nasional, serta dua tuduhan lainnya, yaitu mendistribusikan dan memiliki pornografi anak.

BBC | ABDUL MANAN 

TEMPO.CO | SELASA, 24 SEPTEMBER 2013 | 15:21 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.