Skip to main content

Bulgaria Tutup Kasus 'Umbrella Killing' Markov

Sofia - Pembunuhan pembangkang Bulgaria, Georgy Markov, dengan payung racun (umbrella killing) di sebuah jembatan London pada tahun 1978 seperti sebuah episode dari halaman buku baru spionase era Perang Dingin. Bedanya, ini bukan cerita fiksi.
Kini, 35 tahun setelah peristiwa tersebut, penyelidik Bulgaria menutup buku atas penuntutan kasus itu meskipun sepupu Markov mengatakan dia tahu siapa pembunuhnya dan di mana dia tinggal.

"Kami menggolongkan ini sebagai pembunuhan ... tapi kami gagal menemukan pelakunya," kata juru bicara Kejaksaan Bulgaria Rumyana Arnaudova, Senin, 9 September 2013.

Berdasarkan undang-undang, kata Arnaudova, masa kedaluwarsa penuntutan kasus ini 11 September tahun ini.

Markov adalah wartawan dan dramawan terkemuka yang melarikan diri dari Bulgaria yang beraliran komunis, tahun 1969. Namun, ia kerap mengecam Pemerintah Bulgaria dalam beritanya untuk BBC dan Radio Free Europe.

Nahas itu terjadi pada 7 September 1978 di Jembatan Waterloo, London. Saat itu, kakinya tertusuk oleh payung seorang pejalan kaki yang lewat. Kata Markov kepada keluarganya, ia melihat orang ini sengaja menjatuhkan payungnya.

Markov, saat itu berusia 49 tahun, mengalami demam tinggi dan meninggal di rumah sakit empat hari kemudian. Hasil autopsi mengungkapkan ada pelet logam kecil dalam pahanya yang mengandung risin atau racun kuat lainnya.

Penusukan ini terjadi sebulan setelah pembangkang Bulgaria lainnya, Vladimir Kostov, selamat dari serangan serupa di metro Paris. Saat peristiwa ini terjadi, Bulgaria berada di bawah kepemimpinan diktator Todor Zhivkov.

Dokter menemukan pelet semacam itu di belakang tubuh Kostov, tapi menyimpulkan itu tidak mengandung racun yang cukup untuk membunuh seorang pria.

Peristiwa ini memicu spekulasi bahwa pelaku penusukan diperintahkan oleh polisi rahasia Bulgaria dan dilaksanakan dengan bantuan KGB, dinas rahasia Uni Soviet--kini Russia.

Pada tahun 1992, mantan kepala kontra spionase KGB yang menjadi agen ganda, Oleg Kalugin, membenarkan adanya skenario pembunuhan itu. Kalugin mengatakan, Todor Zhivkov sendiri yang memerintahkan pembunuhan Markov.

Agen ganda Rusia-Inggris, Oleg Gordievski, juga menulis cerita pada tahun 1990 bahwa KGB yang memasok racun itu dan cara penggunaannya. Menurut Gordievski, pembunuhan itu dilakukan oleh dinas rahasia Bulgaria.

Penyelidikan oleh Bulgaria yang dilakukan segera setelah komunisme jatuh pada tahun 1989 atau penyelidikan oleh Inggris--yang masih berlangsung--tidak berhasil mendapatkan bukti cukup kuat untuk mendukung penyelidikan ini.

Bagi keluarga Markov, kasus ini sangat terang. "Pelakunya adalah Francesco Gullino, yang disewa polisi rahasia Darzhavna Sigurnost--ujung tombak partai komunis, " kata sepupu Markov, Lyuben Markov, 70 tahun, kepada AFP di rumahnya di Sofia.

Sebanyak 16 folder file Darzhavna Sigurnost tentang Markov, yang diberi sandi Vagabond, dihancurkan setelah era komunisme berakhir. Bukti lain yang bisa menuntun pada penyelidikan kasus ini sempat ditemukan pada tahun 1990-an di file orang bernama Francesco Gullino, yang bekerja untuk polisi rahasia Bulgaria dengan nama sandi Piccadilly.

Dokumen-dokumen itu, yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku oleh wartawan Hristo Hristov, menunjukkan bahwa ia menjalani pelatihan khusus di Bulgaria pada awal tahun 1978. Picadilly setidaknya melakukan empat perjalanan ke London pada tahun itu.

Dua catatan yang dilihat oleh para penyelidik Bulgaria saat itu kemudian ditemukan hilang dari file yang menyebutkan bahwa Piccadilly ditugaskan untuk menangani apa yang telah direncanakan tentang Vagabond, dan ia tercatat sudah menyelesaikan tugas tersebut.

Sang agen, Picadilly, disebut menerima hadiah khusus, liburan gratis di Bulgaria dan uang tunai US$ 30.000 tak lama setelah kematian Markov. Setelah itu, ia tidak pernah menginjakkan kaki lagi di ibu kota Inggris itu, tulis dokumen tersebut

Darzhavna Sigurnost bahkan terus membayar dia secara teratur sampai dia selesai masa tugasnya pada tahun 1990, meskipun jika tidak ada catatan dia melakukan pekerjaan apa pun untuk polisi rahasia Bulgaria ini.

Gullino sempat diperiksa di Denmark pada tahun 1993, tapi tidak pernah didakwa karena Bulgaria menolak untuk memberikan dokumen yang diperlukan kepada otoritas Denmark, kata Lyuben Markov.

"Gullino adalah 100 persen pembunuh, atau orang yang menyewa pembunuh ... Tapi mereka melakukan apa yang mereka lakukan pada tahun 1993 dan kemudian tidak ada tindakan apa-apa ... Dia masih hidup dan tidak peduli," kata Lubyen Markov dengan nada kesal.

Sebuah film dokumenter terbaru oleh sutradara Jerman Klaus Dexel berhasil melacak Gullino ke kediamannya saat ini di kota Wels, Austria.

"Maafkan saya. Saya berharap saya bisa memberikan jawaban langsung, tapi ...pikirkan sejenak: Kalau saya, jika saya pembunuhnya, Anda pikir saya harus, saya menyatakannya begitu saja?" kata Gullino di program dokumenter itu.

Globalpost.com | Abdul Manan

TEMPO.CO | JUM'AT, 13 SEPTEMBER 2013 | 16:39 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.