Skip to main content

Direktur CIA di Balik Tewasnya Michael Hastings?

Los Angeles - Wartawan Michael Hastings, yang tewas dalam kecelakaan mobil Juni 2013 lalu, dilaporkan sedang menulis cerita soal Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA) John Brennan, sebelum kematiannya.
San Diego 6 News melaporkan bahwa Hastings sedang fokus pada proyek tulisan tentang Brennan, mantan penasihat kontraterorisme Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan kini menjadi direktur CIA.

Istri Hastings, Elise Jordan juga mengatakan kepada CNN (Central News Network) bahwa sepotong cerita soal Brennan dari suaminya akan segera diterbitkan di majalah Rolling Stone.

San Diego 6 News juga melaporkan ada email yang diklaim dari seorang kontraktor CIA yang mengatakan bahwa Brennan berada di belakang "perburuan jurnalis investigatif" dan seseorang dari Gedung Putih menargetkan siapapun yang menerbitkan bahan "negatif terhadap agenda Obama."

Namun indikasi ini dibantah. Juru bicara CIA mengatakan kepada San Diego 6 News bahwa "setiap tudingan yang menyatakan Direktur Brennan pernah mencoba untuk melanggar kebebasan pers konstitusional yang dilindungi, adalah sebuah serangan yang tidak berdasar." Juru bicara lain mengatakan, CIA memiliki hubungan baik dengan Hastings.

Kecelakaan yang menimpa Hasting itu terjadi 18 Juni 2010. Saat itu Hastings mengendarai Mercedes C250 ketika ia kehilangan kendali di kawasan Hancock Park Los Angeles, menyebabkan mobilnya menabrak pohon dan menewaskan pria 33 tahun itu.

Teori konspirasi seputar kematian Hastings mulai beredar segera.

Di Twitter dan beberapa sejumlah situs web, spekulasi merajalela bahwa kematian Hastings bukanlah kecelakaan. Artikel Hasting di majalah Rolling Stone tahun 2010 menyebabkan Jenderal Stanley McChrystal, yang kemudian memimpin operasi militer AS di Afganistan, mundur.

FOX NEWS | ABDUL MANAN

TEMPO.CO | KAMIS, 15 AGUSTUS 2013 | 22:59 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.