Fokus Baru Intel Amerika

Barack Obama membuat pernyataan mengejutkan ketika berpidato di Universitas Pertahanan Nasional, Washington, Kamis tiga pekan lalu. Sejumlah kalangan menduga Presiden Amerika Serikat itu akan berbicara soal tiga skandal yang sedang mengguncang pemerintahannya. Namun, ia justru membuat keputusan penting menyangkut tugas Central Intelligence Agency (CIA). Ia mengembalikan agen intelijen Abang Sam itu ke peran tradisionalnya sebagai mata-mata.
Keputusan itu menandai babak baru CIA, yang sebelumnya bertanggung jawab memburu dan membunuh tersangka teroris di seluruh dunia dan mengoperasikan pesawat tanpa awak (drone) di Timur Tengah pasca-tragedi 11 September 2001. Program kontraterorisme akan diserahkan ke Departemen Pertahanan (Pentagon).

Obama mengatakan ancaman teroris terhadap Amerika masih ada meski musuh utama mereka, al-Qaidah, sudah mulai dilemahkan. Ia menyebutkan serangan bom Boston dan serangan di Konsulat Amerika di Benghazi, Libya, pada tahun lalu yang menewaskan empat warga Amerika, termasuk Duta Besar Amerika untuk Libya Christopher Stevens. "Itulah ancaman saat ini," kata Obama.

Ia sama sekali tak membahas panjang lebar soal skandal-skandal yang sedang dia hadapi. Gedung Putih sedang bersitegang dengan Capitol Hill - kantor Kongres dan Senat -- karena kasus serangan di Benghazi, penyadapan telepon wartawan Associated Press berkaitan dengan kebocoran informasi rahasia, serta skandal IRS (Internal Revenue Service) yang mengawasi lebih ketat kelompok konservatif beraliran politik tertentu.

Dalam kesempatan itu, Obama juga mengumumkan rencananya mengalihkan hampir semua program serangan pesawat tanpa awak di Irak, Afganistan, Yaman, dan Somalia kepada Pentagon. Hanya program pesawat tanpa awak di Pakistan yang untuk sementara tetap dikendalikan CIA.

Sejak tragedi 9/11, CIA dan telik sandi negara ini banyak tersedot ke tugas taktis, salah satunya mengoperasikan 'mesin pembunuh' drone untuk memburu anggota al-Qaidah dan kelompok militan lainnya.

Peringatan terhadap pergeseran peran itu sebenarnya sudah disampaikan oleh panel yang terdiri dari dua belas anggota penasihat Gedung Putih sejak tahun lalu. Panel ini memperingatkan pemerintah bahwa badan intelijen Amerika saat ini tak memberi perhatian memadai terhadap Cina, Timur Tengah, dan titik penting kepentingan nasional Amerika lainnya karena terlalu fokus pada operasi militer dan serangan pesawat tanpa awak.

Panel yang dipimpin Menteri Pertahanan Chuck Hagel ini menyimpulkan peran CIA dan agensi penyadapan Amerika, National Security Agency (NSA), dikacaukan oleh satu dekade perang melawan terorisme. Seperti dilansir Washington Post beberapa waktu lalu, dalam dokumen rahasia itu, panel merekomendasikan perubahan kebijakan bagi lembaga-lembaga intelijen Abang Sam.

Wakil Ketua Dewan Penasihat Intelijen Obama, David L. Boren, mengakui sejak 2001 peran CIA terdegradasi hanya sebagai agen pendukung operasi militer. Panelis lainnya, Lee H. Hamilton, mengatakan tugas 'spionase tradisional' CIA terbengkalai karena agen ini menempatkan lebih banyak agennya untuk tugas operasional. "Sudah waktunya kembali ke fungsi tradisional intelijen, yaitu mengumpulkan dan menganalisis informasi," kata Hamilton.

Pangkal pergeseran kebijakan badan intelijen Amerika adalah peristiwa 9/11, serangan yang menggunakan pesawat komersial sebagai senjata ke New York dan Pentagon ,yang menewaskan sekitar 3.000 orang. Untuk mencegah malapetaka serupa, Gedung Putih menggemukkan badan intelijen dan Kongres mengucurkan dana besar.

Matthew M. Aid dalam bukunya Intel Wars: The Secret History of The Fight Against Terror (2012) menyatakan setelah 9/11 badan intelijen Amerika menjadi raksasa mata-mata dunia karena memiliki 208 ribu pegawai sipil dan militer, termasuk 30 ribu kontraktor swasta, yang berkantor di hampir 170 negara. Anggaran tahunannya mencapai US$75 miliar atau setara Rp 735 triliun. Dana itu jauh lebih besar dibandingkan dengan Inggris, yang mengucurkan dana US$3,5 miliar setahun untuk 11 ribu mata-mata dan staf pendukung.

Amerika memiliki 17 badan intelijen dengan dibentuknya Kementerian Keamanan Dalam Negeri dan Kantor Direktorat Intelijen Nasional setelah 9/11. Sejak itu, jumlah agennya pun bertambah pesat. Pegawai CIA bertambah dari 17 ribu pada 2001 menjadi 25 ribu pada 2009. Pada periode yang sama, jumlah agen yang berada di bawah Dinas Klandestin Nasional, organ penting CIA yang bertanggung jawab terhadap operasi terselubung, naik dari 2.500 menjadi 5.000. Mereka beroperasi di 250 kedutaan besar dan konsulat Amerika di sekitar 170 negara.

Jumlah pesawat tanpa awak juga meningkat drastis, dari 167 unit pada 2002 menjadi enam ribu unit pada 2009, dua ribu unit di antaranya disebar di Irak dan Afganistan. Namun, operasi drone ini mengundang kontroversi. Selain karena jatuhnya korban sipil, juga soal keabsahan hukumnya. Penyelidik khusus Dewan HAM PBB Ben Emmerson bakal menyelidiki serangan drone di beberapa negara.

Berdasarkan data New America Foundation, Amerika melancarkan sekitar 69 serangan drone di Yaman selama pada 2002-2013. Korban tewas setidaknya 586 orang, 548 di antaranya dari kelompok militan. Di Pakistan, ada sekitar 356 serangan drone yang menewaskan setidaknya 258 sipil dan 1.560 anggota kelompok militan.

Tuntutan perubahan kebijakan CIA ini juga dipicu oleh sejumlah perkembangan baru, salah satunya fenomena Musim Semi Arab, ancaman spionase dunia maya Cina, dan fragmentasi kelompok militan di Afrika Utara. Menurut Matthew, intelijen Amerika salah memprediksi Musim Semi Arab dan tak menyangka unjuk rasa jalanan akhirnya menjatuhkan Presiden Tunisia Zine a-Abidine Ben Ali pada 14 Januari 2011, disusul Presiden Mesir Husni Mubarak pada 11 Februari. Keduanya merupakan sekutu Amerika.

Dia mengatakan CIA menuai sejumlah sukses dalam peran lamanya, yakni menggagalkan rencana pengeboman oleh Faisal Shahzad di Time Square, Kota New York, pada 1 Mei 2010; penangkapan Anna Chapman bersama sembilan jaringan mata-mata Rusia di Amerika pada Juni 2010; pembunuhan pemimpin al-Qaidah Usamah bin Ladin di Abbotabad, Pakistan, pada 2 Mei 2013.

Perubahan peran ini dinilai tidak akan mudah dijalankan. Sebab, hampir separuh pegawai CIA masuk setelah tahun 2001 dan sebagian besar agen baru ini menghabiskan bertahun-tahun waktunya hanya untuk memburu dan membunuh musuh Amerika. Insiden terbaru yang mencoreng intelijen Amerika terjadi pada 13 Mei lalu ketika diplomat Amerika di Moskow, Ryan Fogle, ditangkap dinas rahasia Rusia, FSB. "Ada masalah besar budaya dan generasi yang dipertaruhkan di sini," kata bekas pejabat senior CIA, Mark Lowenthal.

CIA menyatakan siap menerima tantangan baru itu. Juru Bicara CIA, Preston Golson, mengatakan setelah tahun 2001 lembaganya diminta mengambil banyak tanggung jawab, dan  itu sudah dilaksanakannya. "Kami akan terus memenuhi peran dan tantangan tradisional atau baru dunia intelijen," kata Golson.

Abdul Manan (New York Times, Washington Post, Reuters)

MAJALAH TEMPO | 10 Juni 2013 (File dalam format .pdf)

Comments

Popular posts from this blog

Metamorfosa Dua Badan Intelijen Inggris, MI5 dan MI6

Kronologis Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO